Wakaf Daarut Tauhiid

Juli 2025

Dari Gedung Wakaf ke Jaringan Global

Di balik megah dan teduhnya gedung Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Daarut Tauhiid di kawasan Gegerkalong, Bandung, tersimpan kisah panjang tentang dedikasi, ilmu, dan sebuah cita-cita yang terus bertumbuh dari tanah wakaf. Gedung ini menjadi saksi diam dari semangat kolaborasi dan keilmuan yang kini menjangkau lintas batas negara.

Beberapa waktu lalu, gedung STAI Daarut Tauhiid menjadi tuan rumah bagi konferensi internasional yang diikuti oleh para akademisi dari berbagai belahan dunia. Di sinilah Ahmad Yusdi Gozaly, dosen Hukum Ekonomi Syariah STAI Daarut Tauhiid, membagikan pemikirannya tentang integrasi teknologi dalam pendidikan Islam dan tantangan global yang terus berubah. Melalui sesi paralel dan diskusi akademik, ia tak hanya menyerap ilmu baru, tetapi juga meneguhkan pandangannya bahwa Islam perlu hadir sebagai solusi yang inklusif di era digital dan globalisasi.

“Pengalaman ini membuka cakrawala baru bagi saya. Kita tidak bisa hanya bicara Islam di ruang lokal, kita harus hadir di forum global dengan pemikiran yang adaptif dan berbasis nilai,” ujarnya.

Tak lama berselang, suasana hangat kembali terasa di ruang-ruang diskusi gedung yang sama saat Focus Group Discussion (FGD) digelar bersama University Kebangsaan Malaysia (UKM). Mahasiswa dan dosen dari dua negara itu duduk berdampingan, berbagi kisah dan sistem pengajaran yang mereka jalani. Perbedaan budaya bukan menjadi jarak, tapi justru jembatan yang mempererat kolaborasi.

Irwina, salah satu mahasiswa STAI DT yang ikut dalam FGD itu, masih mengingat betul perasaan saat pertemuan berlangsung. “Rasanya seperti bertemu sahabat lama. Hangat, terbuka, dan penuh semangat untuk saling belajar. Ini lebih dari diskusi ilmiah, ini membangun persahabatan lintas budaya,” ungkapnya.

Gedung STAI Daarut Tauhiid yang dibangun atas dasar wakaf kini tak hanya menjadi pusat pembelajaran formal, tetapi juga ruang terbuka untuk dialog, jejaring, dan pertukaran ide antarbangsa. Aset wakaf ini hidup bukan hanya karena fisiknya yang terus dirawat, tetapi karena ruh keilmuan dan dakwah yang terus mengalir di dalamnya.

Di sinilah makna wakaf menemukan bentuknya yang paling utuh—bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang untuk peradaban. Gedung ini bukan hanya milik STAI Daarut Tauhiid, tapi milik umat yang percaya bahwa ilmu, jika dibagikan, akan menembus batas ruang dan waktu. (wakafdt)

Dari Gedung Wakaf ke Jaringan Global Read More »

Setengah Jam Satu Juz: Mushaf yang Menyentuh Jiwa

“Setengah jam buka medsos itu sama dengan satu juz baca Quran. Kalau kita manteng medsos terus dicabut nyawa, manteng Quran terus dicabut nyawa, mana yang bagus?” Suara khas KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym terdengar mengalun dari atas mimbar.

Beliau tak berteriak. Tapi kalimat itu menampar halus hati siapa saja yang mendengarnya. Jemaah tersenyum simpul, tertunduk, atau menatap hampa ke arah sajadah. Kalimat itu, seperti doa yang tak selesai, menggantung dalam benak.

Dalam tausiyah tersebut, Aa Gym tak hanya mengingatkan, tetapi juga mengajak. “Tes saja, setengah jam itu sudah satu juz. Nggak kerasa kalau lihat medsos,” ujar beliau lagi, kali ini dengan nada yang lebih ringan namun tetap menyimpan pukulan makna.

Lalu Aa Gym mengutip ayat yang terasa seperti sindiran bagi zaman: “Wa qalar rasulu ya rabbi inna qawmittakhadzu hadzal-qur`ana mahjuraDan berkatalah Rasul: “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqan [25]: 30)

Namun dari keprihatinan itu, lahirlah aksi nyata. Daarut Tauhiid merancang sebuah mushaf Al-Quran yang tidak hanya indah secara visual, tapi juga fungsional dalam menumbuhkan kecintaan dan pemahaman terhadap ayat-ayat suci. Program Wakaf Mushaf Al-Quran Daarut Tauhiid hadir sebagai bentuk dakwah yang membumi, menyentuh langsung kebutuhan umat.

Mushaf ini bukan mushaf biasa. Ia dirancang dengan tajwid berwarna yang memudahkan pembaca dalam melafalkan ayat dengan benar dan tartil. Ada pula blok warna khusus untuk mempermudah proses menghafal ayat demi ayat, disertai terjemah dan tafsir ringkas yang membantu memahami makna secara utuh. Tak ketinggalan, sentuhan khas Aa Gym hadir dalam bentuk hikmah-hikmah inspiratif yang tersebar di sela halaman, menjadi teman sejiwa bagi para pembaca yang haus makna.

Program wakaf ini menjadi upaya Daarut Tauhiid untuk menyebarluaskan mushaf tersebut ke berbagai penjuru negeri. Dari pesantren kecil di lereng gunung, hingga majelis taklim di tengah padatnya perkotaan, mushaf ini dihadirkan sebagai obor. Ia bukan sekadar alat baca, melainkan jembatan antara umat dan firman-Nya. Bagi sebagian orang yang baru mengenal huruf hijaiyah, mushaf ini menjadi cahaya pertama. Bagi yang sudah lama menjauh, ia menjadi pelukan yang menenangkan.

“Kalau waktu kita datang (meninggal-red), enak mana? Lagi nonton video lucu atau lagi baca Al-Quran?” ujar Aa Gym di akhir ceramahnya. Bukan sekadar pertanyaan, tetapi sebuah undangan. Untuk kembali. Untuk memperbaiki. Untuk berbagi.

Program wakaf mushaf ini masih terus berjalan, membuka ruang bagi siapa pun yang ingin beramal jariyah. Satu mushaf mungkin terlihat kecil. Tapi bagi yang menerima, bisa jadi itulah awal dari hidup yang berubah. Sebab tidak semua dakwah disampaikan lewat ceramah. Sebagian lagi hadir dalam bentuk mushaf, diserahkan dengan ikhlas, dibaca dengan air mata, dan mengalirkan pahala tanpa putus. (wakafdt)

Setengah Jam Satu Juz: Mushaf yang Menyentuh Jiwa Read More »

Menyusuri Progres RKB Eco Pesantren 2

Di tengah udara pagi yang sejuk di kawasan Eco Pesantren 2 Daarut Tauhiid, dentuman ringan alat berat terdengar bersahutan. Di sana, sekelompok pekerja mengenakan helm proyek dan rompi keselamatan tampak fokus—mengangkat, menyusun, dan menegakkan struktur demi struktur. Mereka bukan sekadar membangun gedung. Mereka sedang membangun harapan.

Ruang Kelas dan Asrama (RKB) PDF Daarut Tauhiid menjadi salah satu proyek penting dalam ikhtiar melahirkan generasi Qurani: para calon ulama dan penghafal Al-Quran. Proyek ini telah berjalan selama satu bulan dan kini telah mencapai progres sekitar 32–35 persen.

“Alhamdulillah, fondasi sudah selesai, termasuk strap foundation, pile cap, dan tie beam,” jelas Sofian, Project Manager pembangunan RKB. Ia ditemani oleh Gunawan, selaku Site Manager, saat memberikan laporan langsung dari lokasi. Selanjutnya, pembangunan akan masuk ke tahap struktur vertikal seperti kolom dan dinding penahan tanah, yang akan menopang lantai satu gedung.

RKB ini dirancang satu lantai dengan total 6 ruang kelas, 1 ruang tangga, dan toilet. Pada tahap awal, 3 kelas akan dibangun lebih dahulu, lengkap dengan area tangga dan fasilitas dasar. Menariknya, bagian rooftop direncanakan menjadi ruang terbuka untuk aktivitas belajar dan pembinaan.

Namun proyek ini bukan sekadar konstruksi bangunan. Ia adalah bagian dari cita-cita besar Daarut Tauhiid: mencetak generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga kuat secara spiritual. Generasi yang menjadikan Al-Quran sebagai kompas hidupnya.

“Target kami, insya Allah, rampung di bulan September. Mohon doanya dari semua pihak,” tutur Sofian sambil menatap struktur yang mulai menjulang. Ia menyadari, pembangunan fisik ini hanya bisa selesai dengan kekuatan spiritual yang menyertainya—doa dan dukungan umat.

Seiring bata demi bata disusun, RKB ini kelak akan menjadi saksi lahirnya para penjaga Kalamullah. Di ruang-ruang kelas yang kini masih berupa kerangka, kelak akan terdengar lantunan ayat-ayat suci, tadarus pagi, dan diskusi ilmu yang menumbuhkan iman.

Wakaf yang disalurkan untuk proyek ini bukan hanya mengalir ke semen dan besi, tapi menjelma menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Jika manusia mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR Muslim)

Dan di sinilah wakaf itu hidup—dalam bentuk ruang, ilmu, dan harapan. (wakafdt)

Menyusuri Progres RKB Eco Pesantren 2 Read More »

Menyemai Keberkahan, Menata Amanah: Pelantikan Empat Yayasan Baru di Daarut Tauhiid

Langit cerah menyambut langkah sejarah baru di kawasan Pesantren Daarut Tauhiid yang kini berusia 34 tahun. Di tengah deru pembangunan fisik yang semakin pesat dan berkembang, pesantren yang didirikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym ini kembali mencatat babak baru dalam penguatan struktur organisasinya.

Melalui pelantikan pengurus empat yayasan pada Jumat (4/7/2025), Daarut Tauhiid mempertegas semangat optimalisasi lahan wakaf dan keberkahan kepemimpinan berbasis amanah. Empat yayasan tersebut adalah: Yayasan Daarut Tauhiid, Yayasan Daarut Tauhiid Peduli, Yayasan Daarut Tauhiid Rahmatan Lil ’Alamin, dan yang terbaru, Yayasan Pesantren Daarut Tauhiid.

Langkah ini bukan hanya perubahan administratif, melainkan representasi dari visi yang terus tumbuh: memaksimalkan potensi wakaf dan sumber daya umat demi kemaslahatan bersama. Pemekaran yayasan menandakan bahwa Daarut Tauhiid tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dinamis, menyesuaikan tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai pesantren tauhid.

Dalam sambutannya, Aa Gym menegaskan bahwa jabatan adalah amanah besar, bukan sekadar kedudukan. “Bagi pengurus yang tidak bisa menjalankan amanah dengan baik, silakan mundur. Menjadi pemimpin bukanlah perkara ringan. Pemimpin sejati adalah yang mampu memimpin dirinya sendiri—terutama hatinya,” pesan Aa Gym penuh ketegasan sekaligus kelembutan.

Lebih dari sekadar pelantikan, momen ini adalah peneguhan nilai. Pesantren Daarut Tauhiid sejak awal berdiri memang dibangun di atas semangat wakaf produktif—menjadikan tanah, bangunan, dan manusia sebagai bagian dari ekosistem amal jariyah. Setiap lahan yang dikelola, setiap struktur yang dibangun, dan setiap ide yang dijalankan adalah upaya menghidupkan nilai keberkahan dalam kehidupan umat.

Dengan adanya struktur empat yayasan, diharapkan pengelolaan pesantren dan seluruh aset wakaf dapat lebih fokus, optimal, dan terintegrasi. Yayasan DT Peduli, misalnya, berperan dalam penguatan aksi sosial dan kemanusiaan. Yayasan DT Rahmatan Lil ’Alamin membidik penguatan dakwah dan pendidikan global. Sementara Yayasan Pesantren Daarut Tauhiid kini difokuskan untuk membina proses kaderisasi dan pendidikan formal dalam lingkungan pesantren.

Pelantikan hari ini bukan akhir, tetapi awal dari tanggung jawab besar. Di penghujung acara, seluruh santri karya—sebutan bagi karyawan di lingkungan Daarut Tauhiid—diajak untuk mendoakan para pemimpin yang baru. Sebuah isyarat bahwa keberhasilan kepemimpinan bukan hanya bergantung pada kecakapan manajerial, tetapi juga keberkahan spiritual.

Dalam usia 34 tahun, Daarut Tauhiid telah tumbuh dari satu langkah kecil menjadi jejaring kontribusi besar. Dengan fondasi wakaf yang terus diperluas dan diperkuat, Daarut Tauhiid tak sekadar membangun bangunan, tapi juga membangun peradaban. Semoga pelantikan ini menjadi titik awal arah baru menuju Daarut Tauhiid yang semakin kuat, amanah, dan penuh keberkahan. (wakafdt)

Menyemai Keberkahan, Menata Amanah: Pelantikan Empat Yayasan Baru di Daarut Tauhiid Read More »

Perjalanan Wakaf Mewujudkan Harapan Muslim Perth

Tahukah jika saat ini lebih dari 800.000 muslim tinggal di Australia? Sekitar 8% dari jumlah tersebut menetap di kota Perth, Australia Barat. Seiring pertumbuhan komunitas muslim yang kian pesat, kebutuhan akan tempat ibadah pun tak terelakkan. Di tengah tantangan dan keterbatasan, semangat gotong royong dan nilai wakaf menjadi kunci dalam membangun peradaban Islam di negeri minoritas ini.

Salah satu bukti nyata hadirnya peran wakaf dalam mendukung dakwah di Australia adalah Masjid Al-Latif Daarut Tauhiid di Longford, Perth. Masjid ini berdiri di atas bangunan bekas gereja yang dibebaskan pada akhir tahun 2018. Dengan izin resmi yang keluar tahun ini, Masjid Al-Latif kini resmi beroperasi sebagai rumah ibadah yang legal, tempat muslim setempat bisa menjalankan salat lima waktu dan salat Jumat dengan tenang dan damai.

Perjalanan transformasi ini bukanlah sesuatu yang mudah. Diperlukan waktu tujuh tahun sejak proses pembebasan hingga akhirnya izin resmi dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Namun, perjuangan itu kini membuahkan hasil yang sangat berarti bagi muslim di Perth.

KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid dan pembina spiritual yang turut mendorong gerakan wakaf global, menyampaikan apresiasinya. “Terima kasih dari jemaah di Perth, Australia. Sesudah tujuh tahun membeli sebuah gereja tahun 2018, dan pada tahun ini izin masjidnya keluar. Tidak mudah dari gereja menjadi masjid. Alhamdulillah, mudah-mudahan yang pernah ikut berwakaf, pahalanya mengalirkan di sana,” ujarnya.

 Aa Gym juga menegaskan betapa berharganya kehadiran masjid di negeri minoritas. “Tidak mudah untuk salat Jumat seperti ini. Sekarang sudah legal, bisa lima kali sehari. Mudah-mudahan yang dekat dengan masjid, sangat mensyukuri adanya masjid, karena di luar negeri itu perlu perjuangan untuk salat dan untuk jumatan,” tambahnya.

Dengan berdirinya Masjid Al-Latif, bukan hanya kebutuhan ibadah yang terpenuhi, tetapi juga hadir ruang aman bagi tumbuhnya spiritualitas, edukasi, dan solidaritas umat. “Semoga masjid ini bisa menjadi bekal kita menghadap Allah nanti, husnul khatimah,” tutup Aa Gym dengan harap. (wakafdt)

Perjalanan Wakaf Mewujudkan Harapan Muslim Perth Read More »

Rumah Sederhana yang Menjadi Sumber Cahaya

Di tengah hiruk-pikuk sejarah Kairo, Mesir—yang penuh dengan nama-nama raja dan panglima perang—terselip kisah tentang seorang perempuan salehah yang tak tercatat dalam riwayat kekuasaan, namun abadi dalam catatan langit. Namanya Sayyidah Nafisah, keturunan Rasulullah saw. Bukan pemimpin negeri, bukan pemilik istana, tapi pemilik ketulusan yang mewariskan keberkahan.

Sayyidah Nafisah tidak mengejar dunia. Ia menjadikan rumahnya sebagai tempat ilmu, zikir, dan ibadah. Di ruang sederhana itu, ia mengajarkan tafsir, fiqih, dan hikmah. Para ulama datang untuk belajar darinya. Para faqir datang untuk mendapat ketenangan. Rumah itu menjadi pelita, menerangi jalan mereka yang mencari Allah. Hingga kini, rumah tersebut menjadi tempat ziarah, menyimpan jejak cahaya dari seorang perempuan yang memilih abadi dalam kebaikan.

Apa yang dilakukan Sayyidah Nafisah bukanlah sesuatu yang mencolok di mata dunia. Tapi ia memberi, mewakafkan, dan menghidupkan ilmunya tanpa pamrih. Dan karena itu, namanya tetap harum, meski tak pernah duduk di singgasana atau memimpin pasukan.

Wakaf: Jalan Sunyi Menuju Keabadian

Wakaf bukan soal jumlah, bukan pula soal pengakuan. Wakaf adalah amal yang tak selalu terlihat gemerlap di dunia, tapi bersinar terang di akhirat. Sayyidah Nafisah adalah bukti bahwa seseorang bisa mewariskan manfaat abadi meski dari tempat yang paling sederhana.

Pahala wakafnya terus mengalir, bahkan berabad setelah kepergiannya. Rumah yang dulu ia wakafkan menjadi tempat berkumpulnya ilmu dan zikir, menjadi jalan datangnya hidayah bagi banyak jiwa. Inilah kekuatan wakaf: memberi jejak panjang tanpa harus dikenal dunia.

“Ingin dikenang oleh bumi, berbuatlah besar. Ingin dikenal oleh langit, berwakaflah dengan ikhlas.” Sebab langit tidak mencatat kemewahan, tapi keikhlasan. Dunia boleh lupa, tapi Allah tidak pernah lalai mencatat setiap amal, sekecil apa pun itu, jika lahir dari hati yang tulus.

Beramal dalam Diam, Dikenal oleh Langit

Di zaman ini, banyak orang berlomba-lomba meninggalkan jejak dalam bentuk pengaruh, jabatan, atau prestasi duniawi. Namun Sayyidah Nafisah mengajarkan bahwa amal yang paling langgeng justru bisa lahir dalam kesunyian. Ia tak bersuara keras, tapi ilmunya didengar lintas generasi. Ia tak membangun monumen, tapi rumahnya menjadi mercusuar ilmu.

Inilah nilai amal yang ikhlas—yang dilakukan bukan untuk disorot, tapi untuk memberi manfaat. Amal seperti inilah yang paling dicintai Allah. Sebab hakikatnya, yang kekal bukan apa yang terlihat, tapi apa yang tulus dan mengalirkan kebaikan bagi banyak orang, dalam jangka waktu yang sangat panjang. (wakafdt)

Rumah Sederhana yang Menjadi Sumber Cahaya Read More »

Syukur Membuka Pintu Kelapangan Hidup

Jika kita menafakuri hidup ini, banyak orang merasa kekurangan bukan karena mereka benar-benar kekurangan nikmat, tapi karena kurangnya rasa syukur. Padahal, nikmat Allah itu luas tak terhingga: dari udara yang kita hirup, waktu yang kita punya, hingga kasih sayang dari orang-orang terdekat. Hanya saja, ketika hati tak dibiasakan untuk melihat dan mengakui nikmat itu, hidup pun terasa sempit.

Rasa syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, tapi sebuah kesadaran mendalam yang membuat seseorang melihat kebaikan dalam setiap keadaan. Orang yang bersyukur tidak akan sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain, melainkan sibuk menghitung dan memaknai apa yang telah Allah karuniakan. Dan dari sanalah datang kebahagiaan yang sejati—bukan dari jumlah harta, tapi dari kelapangan hati.

Allah sendiri menjanjikan dalam Al-Quran, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS Ibrahim [14]: 7). Artinya, syukur adalah magnet yang menarik nikmat lebih banyak. Bukan hanya berupa materi, tapi juga ketenangan, kesehatan, bahkan rezeki yang tak disangka-sangka.

Wakaf: Wujud Syukur yang Mengalirkan Manfaat

Salah satu bentuk tertinggi dari rasa syukur adalah kemampuan untuk berbagi. Tidak semua orang bisa memberi, tapi orang yang bersyukur pasti terdorong untuk memberi. Dan salah satu amal yang paling mulia untuk mewujudkan syukur itu adalah wakaf.

Berwakaf bukan semata memberi harta, tapi menyerahkan sebagian nikmat yang kita miliki untuk kemaslahatan umat. Wakaf bukan hanya bermanfaat untuk yang menerima, tapi juga menjadi aliran pahala jangka panjang bagi yang memberi. Ia adalah sedekah yang tak putus, bahkan ketika kita telah tiada.

Ketika seseorang berwakaf karena rasa syukur, maka nikmat yang ia miliki akan terus bertambah. Tidak hanya di dunia berupa keberkahan dan ketenangan hidup, tetapi juga di akhirat sebagai investasi abadi. Dengan begitu, syukur bukan hanya menjadikan hidup lebih lapang, tapi juga mengantarkan kita pada keberlimpahan yang hakiki.

Hati yang Bersyukur Selalu Lapang

Aa Gym pernah mengungkapkan, “Orang yang bersyukur itu bukan berarti hidupnya tanpa masalah. Tapi ia tahu, di balik setiap masalah, pasti ada nikmat yang bisa dipetik.” Kalimat ini mengajarkan kita bahwa syukur bukan hanya hadir saat senang, tapi juga saat sulit. Justru dalam kesulitanlah syukur diuji—apakah kita tetap percaya bahwa Allah sedang memberi kebaikan tersembunyi.

Dengan hati yang bersyukur, seseorang akan mampu menjalani hidup dengan tenang. Ia tidak merasa kekurangan meskipun sedikit, dan tidak sombong meskipun berlimpah. Sebab ia tahu, semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Maka, mari kita biasakan syukur dalam lisan, hati, dan tindakan—termasuk melalui wakaf—agar hidup kita benar-benar berlimpah nikmat dunia dan akhirat. (wakafdt)

Syukur Membuka Pintu Kelapangan Hidup Read More »

Dari Tanah Wakaf Menuju Fondasi Peradaban

Di tengah aktivitas para santri dan jemaah di kawasan Daarut Tauhiid, suara mesin dan pekerja konstruksi mulai terdengar menggema. Dua pekan setelah seremoni peletakan batu pertama pada 18 Juni 2025 lalu, pembangunan Gedung Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari rencana.

Berdiri di atas lahan wakaf yang terletak tak jauh dari pusat aktivitas pesantren, Gedung SSG ini disiapkan untuk menjadi pusat pembinaan karakter, spiritualitas, dan kepemimpinan. Sebuah bangunan yang kelak bukan hanya menaungi para santri, tetapi juga menjadi simbol komitmen Daarut Tauhiid dalam menyiapkan generasi pelopor yang mandiri dan siap berkhidmat.

“Alhamdulillah, saat ini progres realisasi sudah mencapai 7,63%, sementara rencana kumulatif kita baru 5,16%. Artinya ada deviasi positif sebesar 2,47%,” ungkap Nanda, penanggung jawab program pembangunan. Ia menyampaikan rasa syukurnya atas lancarnya tahapan awal pembangunan ini.

Sejumlah pekerjaan utama telah berhasil diselesaikan dalam dua pekan pertama, di antaranya:

– Galian pilecap dan tie beam.

– Pemasangan bata hebel reject sebagai bekisting.

– Pabrikasi serta perakitan besi struktur.

– Galian sumur resapan.

– Dan pengangkutan tanah hasil galian.

Pembangunan ini ditargetkan rampung pada Desember 2025 dengan kebutuhan dana mencapai Rp3,02 miliar. Dana tersebut sepenuhnya bersumber dari wakaf umat, menjadikan setiap proses pembangunan sarat makna dan harapan.

Bagi Daarut Tauhiid, SSG adalah wajah paling nyata dari filosofi “berkah dalam khidmat.” Santri yang tergabung dalam program ini dibentuk untuk tangguh, siap terjun ke masyarakat, dan berpegang pada nilai-nilai tauhid dalam tiap langkahnya. Pembangunan gedung ini adalah upaya menyelaraskan fisik dengan visi pembinaan karakter.

Melihat antusiasme dan dukungan masyarakat yang terus mengalir, harapan itu tidak lagi sekadar angan. Dari tanah yang diwakafkan, kini mulai tumbuh fondasi peradaban. Dan dari fondasi yang mulai terbangun itu, akan lahir langkah-langkah perubahan. (wakafdt)

Dari Tanah Wakaf Menuju Fondasi Peradaban Read More »

Dua Pekan Pembangunan Gedung SSG di Atas Tanah Berkah

Dua pekan telah berlalu sejak peletakan batu pertama pembangunan Gedung SSG (Santri Siap Guna) Daarut Tauhiid pada Rabu, 18 Juni 2025. Gedung ini berdiri di atas tanah wakaf, menjadi simbol nyata bagaimana keberkahan wakaf dapat melahirkan sarana pembinaan karakter dan spiritual yang berkelanjutan.

Di tengah berbagai tantangan, pembangunan Gedung SSG bukan sekadar proyek fisik, melainkan cerminan dari semangat pantang menyerah. “Dulu program SSG ini sempat nyaris ditutup karena minus,” ungkap Dr. Muhammad Iskandar, S.I.P., M.M., Ketua Yayasan Daarut Tauhiid Peduli. “Tapi alhamdulillah, sekarang sudah surplus. Pelatihan yang tidak diambil oleh lembaga lain di Daarut Tauhiid, kita ambil dan jalankan. Dan ternyata berhasil.”

Anggaran pembangunan yang menyentuh angka Rp3,02 miliar bukan jumlah kecil. Namun, bagi Dr. Iskandar, ini bukan halangan. “Harus selesai, tidak boleh berhenti. Penerimaan harus mengejar pembangunan, bukan sebaliknya,” tegasnya. Semangat ini tercermin dalam strategi penggalangan dana wakaf, yang kini difokuskan pada potensi kontribusi dari 17.000 muwakif.

Dengan pendekatan yang sistematis, Dr. Iskandar telah menghitung dan yakin target pembangunan bisa tercapai. “Cukup dengan niat jariyah, kita bisa ikut ambil bagian dalam amal yang terus mengalir,” ujar Dr. Iskandar.

Gedung SSG sendiri akan menjadi pusat penguatan nilai-nilai karakter bagi para alumni dan jemaah Daarut Tauhiid. Bukan sekadar gedung bertingkat, tetapi rumah untuk menyemai nilai, memperkuat spiritualitas, dan merawat akhlak umat. Dalam dua pekan ini, pondasi awal telah dimulai, dan semangat gotong royong pun terus digaungkan.

Tak hanya angka, pembangunan ini adalah kisah tentang sinergi, keikhlasan, dan keyakinan. “Kita jalani saja,” kata Dr. Iskandar. “Karena setiap wakaf yang disalurkan, insya Allah menjadi bekal abadi.”

Kini, semua pihak diajak turut serta. Sebab pembangunan Gedung SSG bukan hanya soal batu dan semen, tetapi tentang harapan yang dibangun dari keikhlasan umat—di atas tanah yang telah diwakafkan untuk kemaslahatan bersama. (wakafdt)

Dua Pekan Pembangunan Gedung SSG di Atas Tanah Berkah Read More »

Keberkahan yang Mengalir dari Baitul Quran

Sabtu pagi, 28 Juni 2025, udara di lingkungan Pesantren Daarut Tauhiid terasa lebih syahdu dari biasanya. Di bawah langit cerah dan suasana khidmat, prosesi wisuda tahfidz Baitul Quran digelar di Dome Sentral 5. Santri-santri yang telah menapaki jalan panjang penghafalan Al-Quran satu per satu memasuki aula, diiringi kirab dan lantunan hadroh yang menggugah hati.

Salah satu di antaranya adalah Noviana Rohma Susilowati. Santri yang telah melewati fase mahasiswa dan karyawan ini tampil anggun dalam balutan jubah wisuda, membawa serta rasa haru yang dalam. “Terharu karena Allah karuniakan lingkungan yang baik, dibersamakan dengan orang-orang baik, dan dibiasakan dengan kebaikan di pesantren,” ungkap Noviana.

Di Daarut Tauhiid, program Baitul Quran tak sekadar mencetak hafidz dan hafidzah, tapi juga menanamkan karakter dan akhlak mulia. Bagi para santri, waktu di asrama tak hanya diisi dengan hafalan, tetapi juga dengan pembiasaan hidup sederhana dan penuh makna. Ini menjadi wujud nyata dari keberkahan wakaf yang menjadi fondasi berdirinya fasilitas-fasilitas pendidikan di pesantren ini.

“Quran adalah anugerah terindah,” lanjut Noviana. Ia berharap hafalan yang telah dititipkan Allah padanya kelak menjadi syafaat di akhirat. Harapan yang diamini oleh para ustadz dan ustadzah yang dengan sabar membimbing para santri dalam tiap ayat yang dihafal.

Wisuda ini merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan, mencakup santri dengan hafalan dari 7 hingga 30 juz. Prosesi dimulai sejak pukul 07.00 hingga menjelang Dzuhur. Selain prosesi sungkeman dan penyematan medali, acara juga diisi dengan sambutan dan tausiah dari Pembina Pesantren, KH. Abdullah Gymnastiar, dan Pembina Baitul Quran, Ustadz Suherman Al-Hafiz.

Momen paling mengharukan terjadi saat santri 30 juz bersimpuh di hadapan orang tua mereka. Air mata haru mengalir tak terbendung, menjadi saksi cinta yang terajut antara ilmu, pengorbanan, dan doa-doa panjang di sepertiga malam.

Semua keberkahan ini lahir dari niat yang ikhlas dan dukungan dari para pewakaf. Wakaf yang menjadi napas bagi Baitul Quran terus menghadirkan manfaat yang tak putus, membangun generasi cinta Quran, dan insya Allah mengalirkan pahala jariyah hingga akhir zaman.

Ingin menjadi bagian dari keberkahan ini? Mari bersinergi melalui wakaf di Daarut Tauhiid—karena setiap ayat yang dihafal adalah ladang amal tanpa batas. (wakafdt)

Keberkahan yang Mengalir dari Baitul Quran Read More »