Wakaf Daarut Tauhiid

Wakaf

buku hutan wakaf

Buku Hutan Wakaf Diluncurkan di Bandung

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Buku Hutan Wakaf: Teori dan Praktik karangan Ketua Yayasan Hutan Wakaf Bogor Khalifah Muhammad Ali resmi diluncurkan di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/9/2024). Buku tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dalam tentang hutan wakaf.

“Acara ini adalah acara peluncuran buku hutan wakaf, jadi hutan wakaf satu hal yang relatif baru di tengah masyarakat,” ucap penulis buku Khalifah Muhammad Ali saat diseminasi riset dan peluncuran buku hutan wakaf di Hotel Aston Tropicana, Kota Bandung, Rabu (25/9/2024).

Khalifah menyebut buku tersebut berisi tentang konsep hutan wakaf, penerapan dan implementasi pengelolaan hutan wakaf. Tidak hanya itu, materi buku ditulis berdasarkan pengalaman mengelola hutan wakaf seluas 2,5 hektar di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor sejak tahun 2018 hingga saat ini.

Ia menyebut materi buku tersebut pun telah dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah. Dengan adanya buku tersebut, ia berharap dapat tersampaikan mengenai hutan wakaf kepada masyarakat.

“Semakin ke sini, banyak yang meneliti hutan wakaf dari Malaysia sehingga membutuhkan sebuah buku kumpulan informasi data tentang hutan wakaf. Dari semua itu dikompilasikan dalam sebuah buku,” kata dia.

Khalifah menyebut pengelolaan hutan wakaf di Indonesia sudah mulai dilakukan di beberapa daerah. Seperti di Provinsi Aceh, Mojokerto, Jawa Tengah dan Bogor, Jawa Barat.

Di tengah perubahan iklim yang terjadi dan diprediksi semakin parah, ia menyebut hutan wakaf dapat dilakukan oleh masyarakat. Berbagai kelebihan ada dalam pengelolaan hutan wakaf yang dapat dilakukan.

Dia menjelaskan, kelebihan pengelolaan hutan wakaf yakni dari sustainibility atau keberlanjutan, produktivitas serta dapat dikembangkan dengan luas.

Ke depan, ia menyebut tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan hutan wakaf yaitu dari sisi internal terkait ketersediaan sumber daya manusia dan keberlanjutan finansial. Sementara itu, dari sisi eksternal, literasi masyarakat tentang konsep hutan wakaf.

Oleh karena itu, pihaknya meluncurkan buku yang diharapkan memudahkan masyarakat mencari rujukan tentang hutan wakaf.

Wakil Sekretaris Badan Wakaf Indonesia (BWI) Emmy Hamidiyah mengapresiasi peluncuran buku Hutan Wakaf: Teori dan Praktik yang menambah khazanah tentang hutan wakaf. Ia menyebut buku tersebut menjadi referensi dalam pengelolaan hutan wakaf.”Kami menyambut gembira buku ini,” ungkap dia.

Emmy mengatakan dari total 57 hektar wakaf, mayoritas dalam bentuk masjid, mushola. Selanjutnya, digunakan pesantren, sekolah, makam serta sosial ekonomi.

Steering Commitee Muslim for Shared Action on Climate Impact (Mosaic) Nur Hasan Murtiaji mengatakan kesadaran umat muslim di Indonesia khususnya generasi muda terhadap isu perubahan iklim sangat tinggi. Selain itu, memiliki peran penting dalam isu tersebut.

“Umat Islam sebagai mayoritas penduduk terbanyak punya peran penting,” ungkap Hasan yang juga merupakan Direktur PT Republika Media Mandiri. 

Sumber: Republika

Buku Hutan Wakaf Diluncurkan di Bandung Read More »

sambutan wapres dalam global waqf confrence

Wapres: Wakaf Dapat Jadi Katalis Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA – Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan sektor wakaf nasional dapat menjadi katalis bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan mobilisasi dan pengelolaan yang tepat.

Hal itu disampaikan Wapres dalam sambutannya secara daring pada acara 12th Global Waqf Conference 2024 yang diadakan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Selasa, sebagaimana disaksikan di Jakarta, pada Selasa (24/9/2024).

“Sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim, sektor wakaf Indonesia berpotensi menjadi katalis bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui mobilisasi pengumpulan dan pengelolaan yang tepat, wakaf dapat membuahkan kemaslahatan berlipat,” ujar Wapres mengawali sambutannya.

Wares menyampaikan pemerintah telah menaruh perhatian pada pengembangan sektor wakaf di Indonesia sejak pertama kali regulasi tentang perwakafan tanah milik diterbitkan.

Sejak tahun 2004, pemerintah menegaskan bahwa bentuk wakaf tidak hanya sebatas tanah, tetapi juga harta benda lainnya, termasuk uang.

“Seiring dengan perkembangan wujud wakaf, pemanfaatannya juga makin meluas. Jika dahulu wakaf berbentuk bantuan sosial, sekarang wakaf justru diarahkan agar bersifat produktif dan mendukung pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Dia menjelaskan, konsep wakaf baik yang bersifat sosial maupun produktif, sangat relevan dengan strategi besar pemerintah dalam penurunan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem.

Namun menurut Wapres, dibandingkan dengan dana sosial lainnya, seperti zakat, infak, dan sedekah, kesadaran dan literasi masyarakat untuk berwakaf masih relatif terbatas. Untuk itu, ia berpesan kepada semua pihak terkait untuk bisa mengoptimalkan potensi wakaf nasional.

Pertama, Wapres meminta seluruh unsur pemerintah agar memperkuat kerja sama guna merumuskan mekanisme pengembangan wakaf yang efektif dan inklusif.

Dia mengatakan penguatan landasan hukum dan pengawasan perlu didukung guna memastikan wakaf dikelola secara amanah dan sesuai dengan ketentuan syariah demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga wakaf.

“Kesadaran berwakaf juga hendaknya tumbuh hingga mencakup lintas generasi dan lintas profesi, termasuk pelaku ekonomi dan akademisi,” tuturnya.

Kedua, Wapres meminta lembaga keuangan syariah, termasuk perbankan dan asuransi syariah terus berkolaborasi dengan lembaga wakaf dengan mengembangkan produk keuangan wakaf, seperti tabungan wakaf, sukuk wakaf, dan asuransi wakaf. Dia menilai hadirnya berbagai pilihan instrumen tersebut akan semakin memperkaya opsi investasi dan donasi berbasis wakaf.

Ketiga, Wapres menilai di era digital saat ini pengembangan digitalisasi wakaf hendaknya menjadi fokus utama untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas yang lebih baik.

Dia meminta pihak terkait mengembangkan platform digital yang memudahkan masyarakat berwakaf dan sistem yang efektif memantau pengelolaan aset wakaf. Selain itu, kata dia, perlu ada integrasi data wakaf yang bisa menunjukkan perkembangan kinerja wakaf secara keseluruhan di Indonesia.

Keempat, Wapres meminta wakaf dikelola secara produktif agar manfaatnya dapat memberikan dampak dalam rangka pengentasan kemiskinan.

“Wakaf produktif perlu terus didorong guna memperluas cakupan program pemberdayaan, misalnya pemberian modal kerja, pendampingan usaha, atau pembukaan lapangan kerja,” jelasnya.

Wapres juga berharap dana wakaf dapat ditempatkan pada sektor-sektor khusus yang melibatkan masyarakat banyak, seperti wakaf untuk rumah sakit, properti, perkebunan, dan sebagainya.

“Penyaluran manfaat wakaf harus tepat sasaran dengan memprioritaskan kantong kemiskinan dan kelompok rentan, seperti lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan kepala keluarga,” kata Wapres.

Kelima, ia mengajak semua pihak untuk terus meningkatkan kerja sama pengembangan wakaf, baik bilateral maupun multilateral, serta kerja sama pertukaran pengetahuan, pengembangan kebijakan, dan implementasi proyek wakaf lintas negara demi memperkuat peran wakaf dalam pembangunan global.

Dia berharap komitmen, keseriusan, dan langkah optimalisasi potensi wakaf global semakin terwujud nyata.

Sumber: Antara

Wapres: Wakaf Dapat Jadi Katalis Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Read More »

Wakaf Go green

Wakaf DT Gulirkan Program Wakaf Go Green, Wakaf Pohon untuk Lestarikan Lingkungan

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Wakaf Daarut Tauhiid (DT) menggulirkan program baru Wakaf Go Green, yakni wakaf Pohon untuk penghijauan dengan fokus kegiatan pada tata kelola penanaman berbasis pola asuh sebagai aksi pelestarian lingkungan, meminimalisir berkurangnya lahan serta mengembalikan keseimbangan sumber air.

“Sebagai langkah awal, Wakaf Go Green akan disalurkan di Kawasan Wakaf Terpadu DT Eco Pesantren 2. setiap pohon wakaf nilainya Rp. 150.000. Insya Allah, pohon yang ditanam akan menjadi sedekah berkelanjutan yang pahalanya akan terus mengalir abadi.” kata Wahyudi, Kepala Bagian Digital Marketing Wakaf DT, Senin (23/9/2024).

Bhekti Triwahyuningtyas, Ketua Tim Monitoring Pembanguan (Monpen) DT menjelaskan untuk reforestasi, lahan seluas 10.600 m2 terseebut akan ditanami pohon bambu, suren, dan jabon, serta pohon peneduh kawasan berupa tanaman buah-buahan, ketapang kencana, tabebuya, kerai payung, pohon kaliandra, matoa, dan akar wangi.

“Untuk reforesting seluas 10.600 meter persegi untuk ditanami bambu, suren atau jabon, untuk mengamankan sumber mata air dan mencegah longsor. Penanaman pohon kaliandra , matoa, akar wangi, kebun buah sekitar 1 ha juga. Selebihnya pohon untuk penenduh kawasan berupa tanaman buah-buahan, Ketapang Kencana, Tabebuya, dan Kiara Payung,” jelas Bhekti saat dihubungi pada Senin (23/9/2024)

Wakaf Go Green bisa langsung antar ke kantor Wakaf DT di Jalan Gegerkalong Girang No.67 Bandung. Wakaf juga bisa ditransfer ke Bank Danamon Syariah 8800299516 atau BSI 8200 123 124 atas nama Yayasan Daarut Tauhiid. Untuk informasi dan konfirmasi, bisa menghubungi call center Wakaf DT; 085 200 123 123. (AID)

Wakaf DT Gulirkan Program Wakaf Go Green, Wakaf Pohon untuk Lestarikan Lingkungan Read More »

wakaf hutan

Hutan Wakaf Dinilai Prospek Strategis Indonesia Jawab Tantangan Iklim

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA – Organisasi Muslim Indonesia untuk Aksi Bersama Mengatasi Perubahan Iklim (MOSAIC) memandang optimistis program Hutan Wakaf yang diinisiasi pemerintah menjadi prospek strategis Indonesia dalam menjawab tantangan perubahan iklim global.

Pimpinan Proyek MOSAIC Aldy Permana dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (17/9/2024), mengatakan bahwa jumlah luas hutan wakaf di Indonesia saat ini terus berkembang menjadi mencapai 10 hektare. Dari luas tersebut diketahui 2,5 hektarenya berada di Bogor, Jawa Barat.

“Program tersebut dapat terus berjalan karena adanya partisipasi holistik, termasuk swasta, dalam mendukung pemerintah untuk memenuhi target Net Zero dalam Paris Agreement,” katanya pada acara ESG Summit 2024 bertema ‘Sehati untuk Bumi’ di Gedung Bursa Efek Jakarta itu.

Berdasarkan data dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan, sampai dengan 2023 didapati lonjakan suhu permukaan bumi hingga 1,45 derajat Celsius atau hanya terpaut 0,05 derajat dari ambang batas peningkatan suhu permukaan yang disepakati negara-negara dunia, termasuk Indonesia, dalam konferensi Paris Agreement pada 2015 yakni setinggi 1,5 derajat Celsius.

Karena itu, Aldy memastikan, sebagai organisasi masyarakat madani pihaknya siap berkolaborasi membantu meningkatkan pengetahuan dan kapasitas masyarakat dalam pemanfaatan hutan wakaf untuk menjawab tantangan perubahan iklim yang kian memprihatinkan.

Hal tersebut sebagaimana yang sedang dilakukan pada hutan wakaf di Desa Cibunian, Bogor. Dia menjelaskan, upaya ini berfokus pada ekstensifikasi berupa perluasan lahan dan intensifikasi penanaman pohon dan program lainnya yang juga akan bermanfaat secara ekologi, ekonomi, dan sosial masyarakat setempat.

Selain itu, pihaknya juga melaksanakan berbagai inisiatif sedekah energi, yakni dengan membantu penyediaan panel surya sebagai pembangkit listrik pada masjid di Sembalun Nusa Tenggara Barat dan Bantul, Yogyakarta.

Ia menyebutkan, inisiatif ini diharapkan bisa mendorong lebih banyak partisipasi masyarakat untuk mendukung rumah ibadah Indonesia terlibat dalam aksi iklim karena dapat mengakses listrik dari sumber energi terbarukan secara mandiri.

Sementara itu, Co-Founder Purpose Climate Lab Indonesia Rika Novayanti mengatakan, hutan wakaf bukan hanya inisiatif yang strategis untuk mengatasi perubahan iklim tapi potensi monetasi karbon bersama pihak swasta di Indonesia.

“Ketika pemerintah menghitung NDC, kontribusi dari pihak swasta tidak dimasukkan dalam kalkulasi tersebut, sehingga memberikan peluang pihak swasta untuk monetizing karbon,” katanya.

Maka dari itu, ia berharap, program ini dapat melakukan valuasi nilai karbon dari hutan wakaf yang dikembangkan sehingga menjangkau banyak pihak swasta untuk turut berkontribusi pada aksi menghadapi krisis iklim secara berkelanjutan.

Sumber: Antara

Hutan Wakaf Dinilai Prospek Strategis Indonesia Jawab Tantangan Iklim Read More »

forum-wakaf-produktif-fwp-menyelenggarakan-musyawarah-nasional-munas-iii

Transformasi Wakaf Nasional untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Forum Wakaf Produktif (FWP) menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) III FWP yang melibatkan 56 nazir wakaf tingkat nasional, bertempat di Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung, pada 5-7 September 2024.

Munas III FWP yang merupakan agenda empat tahunan ini adalah ajang pertemuan strategis bagi para nazir, praktisi wakaf, akademisi, pemerintah, dan stakeholder lainnya. Munas yang mengusung tema “Transformasi Wakaf Nasional: Inovasi, Kolaborasi, dan Digitalisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” ini juga diproyeksikan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi berbagai pihak, serta mendorong inovasi dalam pengelolaan wakaf.

Ketua FWP periode 2018–2023 serta 2021–2024, Bobby Manulang, menjelaskan agenda Munas FWP merupakan agenda strategis yang diperlukan untuk mengembangkan gagasan dan membangun soliditas dalam penguatan ekosistem nazir dan perwakafan di Indonesia.

“Munas FWP yang ketiga ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk membahas berbagai isu aktual perwakafan, termasuk beberapa isu terkait kompetensi nazir di era digital, penguatan regulasi wakaf, peran dan kolaborasi stakeholder di sektor wakaf, penguatan literasi wakaf, serta kolaborasi dengan ekosistem keuangan syariah nasional,” tutur Bobby.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Prof. Dr. H. Waryono A. Ghofur menjelaskan dalam kesempatan Munas FWP ini, bahwa masyarakat Muslim Indonesia memiliki wilayah yang bisa dikembangkan untuk menjadi sentral terpadu sebagai destinasi percontohan pengembangan aset wakaf yang berdampak secara luas pada ekonomi.

“Saya membayangkan kita memiliki wilayah yang luas sebagai destinasi percontohan wakaf, di situ ada pasar, sekolah, masjid, ada lembaga kajian dan penelitian, dan sebagainya. Di sana kita bisa mengkaji, tidak hanya persoalan agama, tapi persoalan dunia (sosial, ekonomi, dan masyarakat),” ujarnya.

“Di sini pentingnya kolaborasi nazir. Kita berembuk untuk menyiapkan lokasi proyek strategis wakaf. Satu daerah atau satu pulau kita jadikan pusat pengembangan wakaf,” ungkapnya.

Seluruh nazir yang menghadiri Munas FWP III ini pun bersepakat dan menandatangani Piagam Wakaf Bandung yang berisikan pernyataan sebagai berikut:

1. Komitmen Bersama, untuk bekerja sama dalam mengelola wakaf secara produktif dan berkelanjutan

2. Pemberdayaan Masyarakat, memberdayakan Masyarakat melalui program-program wakaf yang memberikan manfaat nyata

3. Transparansi dan Akuntabilitas, mengelola wakaf dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas

4. Kolaborasi Sinergis, membangun jaringan kolaborasi antara nazir, pemerintah, dan pihak terkait lainnya

5. Pengembangan Berkelanjutan, berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas nazir melalui pelatihan dan kegiatan lainnya.

Salah satu agenda Munas FWP III tahun 2024 ini pun melingkupi pemilihan Pengurus FWP periode 2024-2027 dengan susunan sebagai berikut:

– Rayan Asa Luminaries, selaku Ketua

– Dr. Alla Asmara, selaku Sekretaris

– Herri Setiawan, selaku Bendahara.

Seluruh rangkaian Munas FWP III telah terselenggara atas dukungan berbagai mitra serta sponsor strategis kegiatan ini, sebagai berikut:

1. Daarut Tauhiid

2. Bank BSI

3. Rumah Wakaf

4. Dompet Dhuafa

5. DokterHub

6. CV. Zagu Jaya Utama

7. Wakaf Al Azhar

8. BPRS HIK Parahyangan

9. Fundex

10. OCBC Syariah

11. ESQ (Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa)

12. Inisiatif Wakaf

13. Syamil Qur’an Group

14. Baitul Wakaf

15. Sinergi Foundation

16. Bank Muamalat

17. Yayasan Amal Produktif Indonesia

18. Wakaf Mandiri

19. Wakaf Salman

20. Torch

Sumber: Republika.co.id

Transformasi Wakaf Nasional untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan Read More »

DT tuan rumah munas fwp III

Role Model Wakaf Produktif, DT Menjadi Tuan Rumah Munas FWP III

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Musyawarah Nasional Forum Wakaf Produktif (Munas FWP) III tahun 2024 terselenggara di Daarut Tauhiid (DT), Bandung. Munas ini merupakan event empat tahunan yang digelar FWP. Acara tersebut menjadi ajang pertemuan strategis bagi para nazhir, praktisi wakaf, akademisi, pemerintah, dan stakeholder lainnya untuk berdiskusi, mengevaluasi, memperkuat sinergi antar berbagai pihak, serta mendorong inovasi dalam pengelolaan wakaf.

Pada tahun ini, Munas FWP ke-3 bertajuk “Transformasi Wakaf Nasional: Inovasi, Kolaborasi, dan Digitalisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045”. Dihadiri sebanyak 56 nazhir serta ratusan pegiat wakaf. Kegiatan munas berlangsung selama tiga hari, Kamis-Sabtu (5-7/9/2024).

Ditemui tim Swadaya pada Kamis (5/9) di Gedung Serba Guna Daarul Hajj DT, Rama selaku Sekretaris Panitia Munas FWP ke-3 mengatakan alasan Pesantren DT terpilih sebagai tuan rumah pada kegiatan tersebut. Menurut Rama, Pesantren DT berhasil menjadi role model yang sangat baik dalam pengelolaan aset wakaf dan berhasil memproduktifkannya.

“Tempat yang kita jadikan lokasi munas ini adalah aset wakaf, masjidnya wakaf, bahkan sepanjang jalan menuju masjid, kanan kirinya memuat literasi wakaf. Nah, ini salah satu nilai positif yang kita ingin sampaikan ke teman-teman nazhir yang lain, ada contoh yang bisa kita lihat sebagai sarana untuk mengembangkan aset wakaf,” tutur Rama.

“Lalu, dukungan dari Aa Gym yang membicarakan wakaf, ada lembaga wakafnya, dan supporting pengembangan sarana berbasis wakaf. Ini semua kiranya menjadi role model bagi perwakafan di Indonesia,” lanjutnya.

Tahun ke tahun Lembaga Wakaf DT terus bertransformasi dalam mengembangkan aset wakafnya. Wakaf Produktif DT merupakan salah satu program unggulan yang gencar dikampanyekan. 

Hingga saat ini, Wakaf DT memiliki beragam aset yang sukses diproduktifkan dan mampu menebarkan manfaat kepada ribuan mauquf’alaih. Riyadi selaku Manajer Program Wakaf Produktif menyebutkan beragam aset wakaf yang berhasil diproduktifkan.

“Untuk saat ini program Wakaf Produktif yang sudah eksis adalah penginapan Cottage Daarul Jannah, mini market, properti berupa gedung-gedung di Daarut Tauhiid yang meliputi perkantoran, asrama, dan ruang sekolah. Ada pun kontribusinya, salah satunya bisa membiayai sekolah SMP hingga SMA secara gratis, termasuk Baitul Qur’an,” ujar Riyadi pada Kamis (5/9/2024).

Selain itu, program Wakaf Produktif sedang mencanangkan program 1000 pintu kontrakan di wilayah Geger Kalong, Bandung. Sejauh ini telah ada 30 kamar yang berhasil dibebaskan. Pengelolaan aset wakaf yang diproduktifkan juga merambah ke sektor peternakan dan pertanian. Semua perkembangan itu semakin menambah kemakmuran aset wakaf yang dititipkan kepada Lembaga Wakaf DT. Memperluas jangkauan penerima manfaat dari aset wakaf yang berhasil dikelola dan diproduktifkan dengan baik.

Sumber: Swadaya

Role Model Wakaf Produktif, DT Menjadi Tuan Rumah Munas FWP III Read More »

BEI raih penghargaan di munas fwp III

BEI Raih Penghargaan Pengembangan Wakaf Saham

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meraih penghargaan kategori “Inovasi Pengembangan Wakaf” dari Forum Wakaf Produktif (FWP) dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) FWP III di Pondok Pesantren Daarut Tauhid Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/9/2024)

Penghargaan diberikan atas inovasi BEI dalam mengembangkan wakaf saham di Indonesia, yang diterima Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI Irwan Abdalloh.

“Sebelumnya, selama empat tahun berturut-turut dari 2019 sampai 2022, BEI mendapatkan penghargaan sebagai ‘The Best Islamic Capital Market’ dari Global Islamic Finance Award,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad di Jakarta, Selasa (10/9/2024).

Kautsar menjelaskan terdapat 639 saham syariah di BEI yang merupakan 68 persen dari total saham tercatat per 9 September 2024.

Untuk efek syariah selain saham per Juli 2024, lanjutnya, sudah terdapat 251 reksa dana syariah dan 2 ETF syariah, sedangkan untuk sukuk terdapat 240 sukuk korporasi dan per 29 Agustus 2024 terdapat 93 sukuk negara.

Dari sisi transaksi, per 9 September 2024, secara year to date (ytd) rata-rata harian volume transaksi dari saham yang masuk ke dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) sebesar 76 persen dari total volume transaksi di BEI.

Kemudian, rata-rata harian nilai transaksi dari saham syariah sebesar 58 persen dari total nilai transaksi di BEI, dan rata-rata harian frekuensi transaksi dari saham syariah sebesar 71 persen.

“Sementara itu, kapitalisasi pasar dari saham yang masuk ke dalam ISSI mencapai 54 persen dari total kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI,” ujar Kautsar.

Melansir data Anggota Bursa Sharia Online Trading System (AB-SOTS), jumlah investor saham syariah meningkat 240 persen dari tahun 2018 yang sebanyak 44.536 investor, menjadi sebanyak 151.560 investor pada Juli 2024.

Sampai saat ini, BEI telah mendapatkan tiga penghargaan berbasis syariah di tingkat nasional, di antaranya IAEI Award 2019 dalam kategori “Pengembangan Pasar Modal Syariah” pada 2019, Anugerah Syariah Republika Award dalam kategori “Lembaga Penggerak Investasi Syariah” pada 2023, serta award dari Forum Wakaf Produktif dalam kategori “Inovasi Pengembang Wakaf” pada 2024.

Sebagai lembaga yang resmi mengelola wakaf, para Nazhir selalu dilibatkan dalam pembekalan kompetensi pasar modal syariah, terutama terkait wakaf saham.

Kautsar menyebut BEI juga membantu memfasilitasi hubungan antara Nazhir, seperti Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dompet Dhuafa, Rumah Wakaf, Wakaf Warrior, dan Sinergi Foundation, dengan AB-SOTS agar sosialisasi terkait pasar modal syariah terus dilakukan secara berkesinambungan dengan stakeholders terkait.

Sumber: Antara

BEI Raih Penghargaan Pengembangan Wakaf Saham Read More »

Munas FWP Sambutan Kemenag 2

Kemenag Harap Nazir Wakaf Bisa Berkecimpung dalam Ekonomi Indonesia

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) RI mengharapkan kepada para nazir wakaf untuk bisa turut berkecimpung dalam perekonomian negara, karena terdapat banyak harta benda wakaf yang bisa diproduktifkan dan dikapitalisasi untuk mengembangkan perekonomian umat.

“Saya juga setuju dengan cita-cita dengan target dimana perekonomian Indonesia dikuasai oleh sembilan nazir,” kata Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI Waryono Abdul Ghafur dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (7/9/2024).

Waryono menjelaskan, masyarakat Muslim Indonesia memiliki wilayah yang bisa dikembangkan untuk menjadi sentral terpadu sebagai destinasi percontohan pengembangan aset wakaf yang berdampak secara luas pada ekonomi.

“Saya membayangkan kita memiliki wilayah yang luas sebagai destinasi percontohan wakaf, di situ ada pasar, sekolah, masjid, ada lembaga kajian dan penelitian, dan sebagainya. Di sana kita bisa mengkaji, tidak hanya persoalan agama, tapi persoalan dunia (sosial, ekonomi, dan masyarakat),” ujarnya.

Untuk mewujudkan target tersebut, Waryono menekankan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan di bidang wakaf.

“Di sini pentingnya kolaborasi nazir. Kita berembuk untuk menyiapkan lokasi proyek strategis wakaf. Satu daerah atau satu pulau kita jadikan pusat pengembangan wakaf,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mengajak kepada para nazir wakaf untuk membangun kebersamaan kesepakatan agar bisa mengwujudkan cita-cita tersebut.

Salah satunya, kata Waryono, diawali melalui gelaran Musyawarah Nasional Forum Wakaf Produktif (Munas FWP) III yang digelar di Bandung pada Jumat (6/9/2024) hingga Sabtu (7/9/2024), di mana para peserta forum dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan terbaru yang berkaitan dengan wakaf, memberikan dukungan bagi para nazir dan wakif, serta mendukung efektivitas manajemen program wakaf.

Kegiatan yang mengangkat tema “Transformasi Wakaf Nasional: Inovasi, Kolaborasi, dan Digitalisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” ini merupakan gelaran rutin empat tahunan yang mempertemukan para nazir, praktisi wakaf, akademisi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk berdiskusi, mengevaluasi, memperkuat sinergi antar berbagai pihak, serta mendorong inovasi dalam pengelolaan wakaf.

Ketua Forum Wakaf Produktif Bobby Manulang menjelaskan agenda Munas FWP III ini merupakan agenda strategis yang diperlukan untuk mengembangkan gagasan dan membangun soliditas dalam penguatan ekosistem nazir dan perwakafan di Indonesia.

“Munas FWP yang ke-III ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk membahas berbagai isu aktual per-wakafan, termasuk beberapa isu terkait kompetensi nazhir di era digital, penguatan regulasi wakaf, peran dan kolaborasi stakeholder di sektor wakaf, penguatan literasi wakaf, serta kolaborasi dengan ekosistem keuangan syariah nasional,” tutur Bobby.

Sumber: Antara

Kemenag Harap Nazir Wakaf Bisa Berkecimpung dalam Ekonomi Indonesia Read More »

Munas FWP Sambutan Kemenag 2

Resmikan Munas FWP III, Kemenag: Sinergi Antar Nazhir Penting

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag meresmikan Musyawarah Nasional (Munas) Forum Wakaf Produktif (FWP) III di Daarut Tauhiid Bandung, pada hari pertama Munas, Kamis (5/9/2024). Dengan mengucapkan bismillah, Waryono meresmikan acara empat tahunan FPW tersebut.

Waryono mengapresiasi hadirnya Forum Wakaf Produktif sebagai wadah strategis bagi nazhir untuk bersinergi dan mengembangkan perwakafan di Indonesia, terutama pengelolaan wakaf secara produktif.

“Mudah-mudahan Forum Wakaf Produktif menghasilkan pikiran-pikiran brilian, perencanaan perencanaan yang bagus untuk bagaimana pengembangan hasil wakaf ke depan sehingga kemudian banyak mauquf alaih yang merasakan manfaatnya,” ucapnya.

Menurutnya, sinergi antar nazhir itu penting. Ia menjelaskan, dengan bersinerginya nazhi, wakaf akan semakin berkembang memberikan dampak kebaikan lebih besar, salah satunya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai mauquf alaih.

“Jangan hanya berjamaah di Masjid, kita harus berjamaah secara sosial. Insya Allah meskipun misalnya imamnya itu berbeda fikihnya dengan Makmum ketika jadi makmum pasti taat kepada imam.  Kita sudah harus betul-betul mengimplementasikan berjamaah secara sosial. Karena apa? ini adalah implikasi dari tauhid,” tegasnya.

Dia bercita-cita wakaf bisa memberikan dampak luar biasa dengan ekosistem wakaf yang terdiri dari lembaga pendidikan, pusat ekonomi, seperti pasar, lembaga riset, dan lembaga lainnya yang memberikan banyak hal positif bagi masyarakat. Bahkan, dia membayangkan nazhir bersinergi mengelola tanah wakaf sebesar pulau yang di dalamnya terdapat ekosistem lengkap.

Menurutnya, jika masyarakat sudah menjadi mauquf alain yang mendapatkan manfaat wakaf, mereka bisa menjadi marketing gratis yang mengkampanyekan wakaf, sehingga makin banyak masyarakat yang memahami sekaligus terlibat dalam berwakaf.

“Insya Allah ketika banyak mauquf alaih yang merasakan manfaatnya, maka maka kampanye kita tidak kuat pun mereka akan menjadi marketing kita dengan tanpa biaya karena mereka akan berbicara kepada tetangganya,” jelasnya.

Sebagai perwakilan dari Kemenag yang merupakan regulator, Waryono juga mengajak para nazhir, peserta Munas FWP III untuk aktif mengusulkan atau meminta peraturan perwakafan baru jika diperlukan.

“Kami sebagai regulator, jika masih ada hal yang belum lengkap misalnya, silahkan bagi ibu kami dengan tangan terbuka untuk mengingatkan. Bagi bapak Ibu juga yang membutuhkan regulasi, Insya Allah kami bersama BWI dan elemen-elemen wakaf untuk kita rumuskan bersama-sama,” ajaknya.

Di akhir sambutannya, dia berharap, Munas FWP III bisa menghasilkan keputusan-keputusan dan rencana-rencana produktif yang bisa mengembangkan wakaf  Indonesia.

“Mudah-mudahan berjalan dengan lancar, sekali lagi menghasilkan keputusan-keputusan, dan rencana-rencana yang produktif sesuai dengan namanya forum wakaf produktif,” pungkasnya.

Sumber: daaruttauhiid.org

Resmikan Munas FWP III, Kemenag: Sinergi Antar Nazhir Penting Read More »

Munas FWP III Hadirkan 55 Nazhir

Sebanyak 55 Nazhir Wakaf Ikuti Munas FWP III

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Sebanyak 55 Nazhir wakaf tingkat Nasional bersiap mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) Forum Wakaf Produktif (FWP) III yang berlangsung dari Kamis (5/9/2024) hingga Sabtu (7/9/2024) di Daarut Tauhiid (DT) Bandung. Berikut 55 nazhir wakaf tingkat nasional yang telah berizin sebagai nazhir wakaf uang dari Badan Wakaf Indonesia yang mengikuti Munas FWP III :

  1. Yayasan Dompet Dhuafa Republika
  2. Lembaga Kenazhiran (LK) BWI PUSAT
  3. Sinergi Foundation
  4. Rumah Wakaf Indonesia
  5. Wakaf Al Azhar
  6. Baitul Wakaf
  7. Yayasan Daarut Tauhiid
  8. YPM Salman ITB
  9. Inisiatif Wakaf
  10. Darul Qur’an Nusantara
  11. Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa ESQ
  12. BSI Maslahat
  13. LAZNAS MANDIRI AMAL INSANI
  14. YAKESMA
  15. Yayasan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
  16. Harapan Amal Mulia
  17. Baitul Maal Unisba
  18. LAZ Solopeduli
  19. Lazis Al Hilal Rancapanggung
  20. LAZISMU TRENSAINS
  21. LAZNAS Rumah Yatim Arrohman Indonesia
  22. Lembaga Wakaf Doa Bangsa
  23. Lembaga Wakaf JSIT Indonesia
  24. Lembaga Wakaf Persis (LWP)
  25. LMI
  26. Nazhir Yayasan Bina Tsaqofah (SEBI Social Fund)
  27. Peduli Fajar Imani
  28. Perkumpulan Hasmi
  29. Unit Wakaf dan Dana Sosial IPB University
  30. Wakaf Bina Nun Bina Muda Indonesia
  31. Wakaf Mulia Institute
  32. Wakaf Orbit
  33. Wakaf Warior
  34. Yayasan Amal Produktif Indonesia
  35. Yayasan Amanah Kemanusiaan Global (AMAL)
  36. Yayasan Amanah Utama Tazkia
  37. Yayasan Badan Wakaf Assyifa
  38. Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung Semarang
  39. Yayasan Baitul Maal PLN
  40. Yayasan Bakrie Amanah
  41. Yayasan Dana Sosial Al Falah
  42. Yayasan Dompet Sosial Madani Bali
  43. Yayasan Harapan Dhuafa Banten
  44. Yayasan Islam alhuda bogor Indonesia
  45. Yayasan Marwah Wakaf Indonesia
  46. Yayasan Masjid Raya Bintaro Jaya Tangerang Selatan
  47. Yayasan Mitra Mikro
  48. Yayasan Nurul Taqwa
  49. Yayasan Rumah Itqon Zakat dan Infak
  50. Yayasan Wakaf Indonesia Bersatu (Wahdah Islamiyah)
  51. Yayasan Wakaf Nurul Hidayah Sukatani
  52. Yayasan Waqaf Ar Risalah
  53. Yayasan Yatim Mandiri (Wakaf Mandiri)
  54. Yayasan Yuk Peduli
  55. Aman Palestine

Munas yang mengangkat tema “Transformasi Wakaf Nasional: Inovasi, Kolaborasi, dan Digitalisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” merupakan event empat tahunan yang digelar FWP. Acara ini merupakan ajang pertemuan strategis bagi para nazhir, praktisi wakaf, akademisi, pemerintah, dan stakeholder lainnya untuk berdiskusi, mengevaluasi, memperkuat sinergi antar berbagai pihak, serta mendorong inovasi dalam pengelolaan wakaf.

Ketua FWP Bobby Manulang menjelaskan, agenda MUNAS adalah agenda strategis yang diperlukan untuk mengembangkan gagasan dan membangun soliditas dalam penguatan ekosistem nazhir dan perwakafan di Indonesia.

“MUNAS FWP ini diharapkan menjadi media yang tepat untuk membahas berbagai isu aktual perwakafan, termasuk beberapa isu strategis terkait kompetensi nazhir di era digital, penguatan regulasi wakaf, peran dan kolaborasi stakeholder di sektor wakaf, penguatan literasi wakaf, serta kolaborasi dengan ekosistem keuangan syariah nasional,” jelasnya.

Bobby menambahkan seluruh stakeholder memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pengembangan ekosistem wakaf di Indonesia. Melalui Musyawarah Nasional Forum Wakaf Produktif, para peserta forum dapat menyampaikan kebijakan-kebijakan terbaru yang berkaitan dengan wakaf, memberikan dukungan bagi para nazir dan wakif, serta mendukung efektivitas manajemen program wakaf.

“Melalui gagasan inovasi, inisiasi kolaborasi, serta pengembangan digitalisasi forum ini dapat menjadi penguat tercapainya pertumbuhan ekonomi berkelanjutan serta Visi Indonesia Emas 2045, “ tambahnya.

Acara Munas FWP III ini dihadiri oleh Dirjen Zakat Wakaf Kemenag RI, Prof. Dr. H. Waryono, Ketua Badan Wakaf Indonesia Prof. Dr. Phil. H. Kamarudin Amin, MA, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Imam Hartono, dan CEO Waqf An Nur Corporation Berhad Malaysia Moh Daud Bahrin Bin Bakri, serta tokoh lainnya. (RW)

Sebanyak 55 Nazhir Wakaf Ikuti Munas FWP III Read More »