Wakaf Daarut Tauhiid

Berita Terbaru

Merekam Jejak Hari Buruh dari Sudut Pesantren: BR3T Santri BQ

Di luar lingkungan Pesantren Daarut Tauhiid, pada Kamis pagi, 1 Mei 2025, hiruk-pikuk peringatan Hari Buruh menggema di berbagai penjuru kota. Spanduk-spanduk tuntutan berkibar, suara pengeras memenuhi jalanan, dan massa bergerak menyuarakan aspirasi. Namun, di dalam kawasan pesantren, suasana justru tenang namun penuh semangat. Para santri Baitul Qur’an (BQ) Daarut Tauhiid—dari asrama DN, Daim, Damukh, hingga Damus—melangkah ke luar kamar mereka bukan untuk berorasi, melainkan untuk berkontribusi.

Pagi itu, selepas salat Dhuha, para santri memulai kegiatan BR3T (Bersih, Rapi, Tertib, Teratur, dan Terpelihara). Dengan sapu, serok, dan semangat, mereka membersihkan asrama dan lingkungan sekitar. Jalan setapak yang biasa dilalui jemaah, taman-taman kecil di dekat masjid, hingga sudut-sudut area wakaf yang kadang luput dari pandangan, menjadi ladang amal yang mereka rawat dengan hati.

Di saat sebagian besar buruh turun ke jalan untuk memperjuangkan hak mereka, para santri ini memilih memperjuangkan kebersihan dan keteraturan tempat tinggal mereka. Sebuah bentuk pengabdian sunyi yang tak kalah bermakna. Bagi mereka, memakmurkan aset wakaf Daarut Tauhiid bukan sekadar tugas, tetapi bagian dari cita-cita besar membumikan Al-Qur’an di bumi wakaf ini.

“Mudah-mudahan ini menjadi jalan semakin berkah unit BQ dan Lembaga Dakwah & Tarbiyah, serta menjadi wasilah dibukakan jalan keluar atas segala urusan kita semua,” tutur Naila, salah seorang pengajar tahsin dan tahfizh di BQ Daarut Tauhiid.

Kegiatan BR3T ini bukan hanya rutinitas, tapi pembiasaan tanggung jawab. Mereka menyapu bukan hanya debu di lantai, tapi juga rasa malas yang kerap datang. Mereka menata bukan hanya sandal di rak, tapi juga niat yang perlu diluruskan setiap hari. Di balik kerja-kerja fisik itu, ada kerja batin yang lebih dalam.

Usai kegiatan BR3T, para santri kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti KBM Qur’ani, yang saat ini memasuki pekan ujian Ulumuddin dan sesi remedial. Meski lelah, mereka tetap antusias. Mereka tahu, ilmu yang mereka gali hari ini bisa menjadi penerang jalan di masa depan. Sementara di luar sana, banyak yang berjuang keras demi keadilan ekonomi, para santri ini berjuang dalam diam, menata diri, menata lingkungan, dan menata hati. Semua demi keberkahan hidup dan keberlangsungan aset wakaf di Daarut Tauhiid.

Tak ada sorotan media besar, tak ada gemuruh yel-yel, tapi dari sudut asrama yang bersih dan tertib, sebuah gerakan perubahan sedang tumbuh. Perlahan namun pasti. (Cahya)

Merekam Jejak Hari Buruh dari Sudut Pesantren: BR3T Santri BQ Read More »

Santri PDF Wustho Belajar Bertani: Tanam Shorgum dan Tumpang Sari di Lahan Wakaf Produktif

Sebanyak 21 santri Program Dakwah dan Tahfidz (PDF) Wustho kelas 7 dan 8 mengikuti kegiatan pembelajaran pertanian di lahan wakaf produktif Daarut Tauhiid. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin dan berkala dengan fokus pada penanaman tanaman pangan shorgum serta sistem tumpang sari, yakni penanaman dua atau lebih jenis tanaman dalam satu lahan secara bersamaan.

Pada pelaksanaan terbaru yang berlangsung Rabu, 30 April 2025, para santri tampak antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Mulai dari pengolahan lahan hingga penanaman bibit secara langsung di bawah bimbingan tim Agribisnis Daarut Tauhiid.

Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Unit Agribisnis Daarut Tauhiid, khususnya bagian Pertanian dan Bunga Hias, sebagai bagian dari Program Wakaf Produktif yang dikelola oleh Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid.

Menurut Zaenal, Kepala Subbagian Agribisnis, kegiatan ini memiliki peran penting dalam pendidikan karakter dan pembentukan kesadaran santri terhadap sektor pertanian.

“Tujuannya untuk menumbuhkan minat santri tentang pertanian, mengenal proses pertanian, menghargai setiap makanan yang didapatkan dengan praktek langsung bertani. Mudah-mudahan langkah kecil ini berarti bagi kemajuan bersama,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa lokasi kegiatan ini dilakukan di lahan wakaf milik Daarut Tauhiid Eco 2, yang kini terus dikembangkan untuk pendidikan dan pemberdayaan.

“Kegiatan dilakukan di lahan wakaf DT Eco 2. Mudah-mudahan menjadi wasilah jalan kebaikan, khususnya untuk para muwakif DT, dan umumnya untuk semuanya agar semakin makmur dan produktif,” tambahnya.

Selain sebagai sarana edukasi, kegiatan ini juga akan diintegrasikan secara resmi dalam kurikulum PDF Daarut Tauhiid pada tahun ajaran 2025–2026. Kurikulum ini menggabungkan nilai-nilai spiritual, kemandirian, dan produktivitas, sesuai dengan visi Daarut Tauhiid dalam membentuk karakter insan bertauhid yang mandiri dan kontributif.

Meski hasil panen shorgum belum bersifat komersial, lahan wakaf ini telah memberikan manfaat nyata. Setiap panen sayuran dibagikan secara gratis kepada jemaah Daarut Tauhiid setiap pagi usai salat berjemaah. Ini menjadi bukti bahwa wakaf produktif tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga nilai sosial dan spiritual yang tinggi.

Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid terus berkomitmen mengembangkan program-program wakaf produktif yang memberikan manfaat berkelanjutan, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun pemberdayaan ekonomi umat. (Cahya)

Santri PDF Wustho Belajar Bertani: Tanam Shorgum dan Tumpang Sari di Lahan Wakaf Produktif Read More »

Daycare Daarut Tauhiid: Oase Bagi Orang Tua Sibuk, Berkah dari Tanah Wakaf

Bagaimana rasanya menjadi orang tua yang harus bekerja seharian, namun tetap ingin memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, islami, dan penuh kasih sayang? Apakah mungkin menemukan tempat penitipan anak yang tak hanya profesional tapi juga bernilai ibadah? Di sinilah Daycare Daarut Tauhiid hadir sebagai jawaban.

Berlokasi di lingkungan Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung, daycare ini bukan sekadar tempat menitipkan anak. Ia berdiri di atas tanah wakaf dan tumbuh dalam naungan nilai-nilai tauhid, menjadikannya lebih dari sekadar lembaga pengasuhan—melainkan ladang keberkahan.

Setiap harinya, anak-anak menjalani aktivitas yang terarah—mulai dari bermain edukatif, pembiasaan ibadah, hingga pengenalan adab dan doa harian. Pendekatan pengasuhan yang dilakukan menggabungkan aspek kognitif, motorik, dan spiritual dalam satu kesatuan yang harmonis.

Salah seorang orang tua yang juga merupakan santri karya Daarut Tauhiid, Yusuf, membagikan pengalamannya. “Saya kerja di area pesantren, jadi setiap pagi saya titipkan anak di daycare ini. Begitu selesai kerja, langsung jemput. Praktis banget, dan yang paling penting, saya tenang karena anak saya ada di lingkungan yang baik dan penuh nilai-nilai agama,” ungkapnya.

Yusuf juga mengaku merasa lebih tenang dan produktif saat bekerja karena mengetahui anaknya berada dalam pengasuhan yang aman, hangat, dan penuh kasih sayang. “Di rumah, dia sering nyanyi lagu-lagu islami dan hafal doa-doa pendek. Itu bikin hati kami sebagai orang tua jadi tenang dan bahagia,” tambahnya.

Daycare Daarut Tauhiid tidak hanya menjadi tempat penitipan anak, tapi juga bagian dari ikhtiar membangun generasi soleh dan solehah sejak usia dini. Kehadirannya sangat membantu para orang tua, terutama santri karya dan pekerja di sekitar Daarut Tauhiid yang ingin menyeimbangkan peran kerja dan keluarga tanpa kehilangan sentuhan nilai-nilai Islam.

Dengan berdiri di atas tanah wakaf dan mengusung semangat pelayanan umat, Daycare Daarut Tauhiid menjadi simbol nyata dari pengasuhan yang tidak hanya membesarkan anak secara fisik, tetapi juga membentuk jiwanya dalam nuansa keberkahan. (Cahya)

Daycare Daarut Tauhiid: Oase Bagi Orang Tua Sibuk, Berkah dari Tanah Wakaf Read More »

Wakaf Lewat QRIS, Solusi Praktis Beramal Jariyah

Siapa sangka, sebuah konten Instagram bisa menjadi jalan hidayah untuk berwakaf? Inilah yang dialami oleh Dwi (34), salah seorang jemaah Daarut Tauhiid yang rutin berwakaf melalui platform digital. Terbaru, ia tergerak berwakaf setelah melihat unggahan tentang wakaf untuk Palestina di akun Instagram resmi Wakaf Daarut Tauhiid.

“Awalnya iseng scroll IG, terus lihat konten tentang kondisi saudara-saudara kita di Palestina dan ajakan wakaf. Di situ ada QRIS, langsung saya scan dari HP,” cerita Dwi. “Gak butuh waktu lima menit. Tapi rasanya luar biasa karena bisa ikut berkontribusi,” tambahnya.

Dwi bukan satu-satunya. Semakin banyak jemaah DT dan masyarakat umum yang memanfaatkan kemudahan teknologi digital untuk menunaikan wakaf, salah satunya melalui QRIS. Tanpa harus datang langsung ke lembaga, cukup dengan ponsel, niat baik pun langsung tersalurkan.

Fenomena ini diamini oleh Wahyudi, Kepala Bagian Marketing Communication Wakaf Daarut Tauhiid. Menurutnya, tren wakaf digital terus meningkat secara signifikan dalam dua tahun terakhir.

“Sejak awal 2023 hingga sekarang, kami sudah bermitra dengan 9 platform digital yang memudahkan masyarakat untuk berwakaf,” ungkap Wahyudi. “Dan alhamdulillah, kontribusinya sudah mencapai 20 persen dari total penerimaan wakaf di lembaga,” lanjutnya.

Wahyudi menjelaskan bahwa wakaf melalui QRIS dan platform digital memiliki sejumlah keunggulan. Selain lebih cepat dan praktis, sistem ini juga sudah terintegrasi secara langsung dengan database lembaga sehingga pencatatan wakaf lebih rapi, transparan, dan muwakif (pewakaf) pun mendapat laporan secara otomatis.

“Kelebihannya: mudah, bisa kapan pun dan di mana pun, database langsung masuk sistem, terkelola dengan baik, dan ada laporan otomatis ke muwakif. Ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik,” jelasnya.

Ke depan, Wakaf Daarut Tauhiid menargetkan peningkatan kerja sama dengan bank-bank yang telah menjadi bagian dari Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS PWU), agar jangkauan dan kemudahan berwakaf digital bisa lebih luas lagi. (Cahya)

Wakaf Lewat QRIS, Solusi Praktis Beramal Jariyah Read More »

SMM Daarut Tauhiid, Mini Market Kecil dengan Dampak yang Besar

Di antara hiruk-pikuk aktivitas pesantren dan ramainya jemaah yang datang dan pergi di kawasan Masjid Daarut Tauhiid, ada satu tempat yang tak pernah sepi dari lalu-lalang: SMM (Super Mini Market) Daarut Tauhiid. Meski ukurannya tak sebesar swalayan di pusat kota, mini market yang terletak tepat di depan Masjid Daarut Tauhiid ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar tempat berbelanja.

Para pembelinya pun sangat beragam. Mulai dari santri karya yang mampir sepulang kerja, santri mukim yang membeli kebutuhan harian, siswa Daarut Tauhiid yang ingin camilan setelah sekolah, mahasiswa dari kampus sekitar, hingga warga setempat dan jemaah umum yang singgah setelah mengikuti kajian atau salat berjemaah.

Namun yang menjadikan SMM begitu istimewa bukan hanya soal harga yang terjangkau atau produk yang lengkap, melainkan karena lokasinya berdiri di atas tanah wakaf. Inilah yang menghadirkan nilai spiritual dan keberkahan tersendiri bagi setiap transaksi yang terjadi.

“Belanja di sini tuh rasanya beda. Walaupun tempatnya kecil, tiap belanja kayak ikut nyumbang buat kebaikan,” ujar Anton, salah satu jemaah tetap Masjid Daarut Tauhiid yang rutin berbelanja di SMM.

Bagi santri karya, SMM adalah bagian dari kehidupan sehari-hari — tempat untuk membeli kebutuhan tanpa harus jauh-jauh keluar lingkungan. Bagi siswa dan mahasiswa, ini adalah tempat praktis yang tetap menjaga suasana islami. Dan bagi masyarakat umum, SMM bukan hanya toko, tapi juga bagian dari ekosistem ekonomi berbasis wakaf yang mereka banggakan.

“Setiap kali belanja di SMM, rasanya tuh tenang banget. Soalnya saya tahu, hasil keuntungannya bakal dipakai lagi buat dakwah dan pendidikan,” ujar Leny, warga sekitar Gegerkalong.

SMM mungkin tak memiliki rak-rak tinggi atau lorong yang luas. Tapi di balik keterbatasan fisiknya, mini market ini menghadirkan ruang kontribusi nyata bagi siapa saja yang ingin memakmurkan tanah wakaf lewat ekonomi yang penuh nilai. Setiap produk yang dibeli, setiap rupiah yang dibelanjakan, menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir.

Inilah yang menjadikan SMM Daarut Tauhiid begitu istimewa. Ia adalah toko kecil dengan dampak besar. Memadukan kebutuhan harian dengan semangat berbagi dan keberkahan yang tak terputus. (Cahya)

SMM Daarut Tauhiid, Mini Market Kecil dengan Dampak yang Besar Read More »

Sepatu Rapi, Hati Lebih Tertata: Budaya Kecil Penuh Makna di Masjid Daarut Tauhiid

Lazimnya di banyak tempat ibadah, tumpukan sandal dan sepatu yang berserakan sering jadi pemandangan lumrah. Tapi tidak di Masjid Daarut Tauhiid, Gegerkalong, Bandung. Di sini, sepatu dan sandal bukan hanya benda lepas kaki. Mereka mencerminkan budaya, ketertiban, dan cerminan akhlak umat yang mencintai kerapian.

Ketika jemaah berdatangan untuk salat atau mengikuti kajian, mereka akan disambut dengan pemandangan yang unik. Deretan sandal dan sepatu yang tersusun rapi, berjajar seperti barisan prajurit. Tidak ada yang tercecer, tidak ada yang menutupi jalan, semuanya tertata di tempatnya. Sekilas tampak sepele, tapi dari kerapian itulah, budaya disiplin Daarut Tauhiid terpancar.

“Di Daarut Tauhiid, kami belajar bahwa hal kecil seperti meletakkan sandal dengan rapi itu bagian dari adab. Bukan cuma soal estetika, tapi ini tentang melatih hati untuk tertib dan menghargai hak orang lain,” ujar salah seorang relawan yang bertugas setiap hari di area depan masjid.

Relawan-relawan inilah yang diam-diam berperan besar menjaga tradisi ini tetap hidup. Mereka tak hanya memindahkan sandal yang berserakan, tapi juga mengedukasi dengan keteladanan. Bahkan saat jemaah belum sempat merapikan, mereka dengan sigap menatanya kembali tanpa keluhan.

“Kami percaya, menjaga kerapian sandal ini bagian dari upaya memuliakan masjid yang dibangun dari wakaf umat. Setiap tindakan yang tampak kecil, bila dilakukan dengan niat ikhlas, insya Allah menjadi jalan keberkahan,” lanjutnya dengan senyum tenang.

Budaya tersebut lahir dari prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Daarut Tauhiid, dikenal dengan singkatan BEBASKOMIBA. Jika melihat sesuatu yang BERANTAKAN segera RAPIKAN, BASAH segera KERINGKAN, KOTOR segera BERSIHKAN, MIRING segera LURUSKAN, dan jika melihat BAHAYA segera AMANKAN.

Prinsip hidup ini diajarkan oleh KH Abdullah Gymnastiar untuk menumbuhkan inisiatif para santri agar peka melihat lingkungan sekitar. Bukan hanya tertulis di papan pengumuman, tapi hidup dalam laku harian—dimulai dari hal sederhana, seperti cara menaruh sandal.

Banyak jemaah yang datang dari luar kota pun dibuat kagum. Salah satunya, Hendra dari Tasikmalaya. Ia mengaku baru pertama kali melihat budaya seperti ini. “Saya datang ke sini karena ingin ikut kajian, tapi begitu masuk area masjid dan melihat sandal rapi begini, hati saya langsung adem. Kayaknya ini bukan cuma tempat belajar ilmu, tapi juga adab,” ujarnya.

Tak hanya itu, Hendra juga mengungkapkan kekagumannya pada bagaimana Masjid Daarut Tauhiid dikelola dari hasil wakaf umat secara profesional.

“Masjid ini luar biasa. Dari tempat wudunya, tata letak ruangannya, hingga program-program kajiannya terasa penuh keberkahan. Saya percaya, ini karena Daarut Tauhiid benar-benar mengoptimalkan potensi wakaf dari umat. Bukan hanya dibangun dengan wakaf, tapi juga dikelola untuk kebermanfaatan yang luas dan berkelanjutan,” tuturnya penuh kagum.

Tidak sedikit pula jemaah yang akhirnya ikut tergerak. Mereka mulai membiasakan diri merapikan sandalnya sendiri, bahkan menegur dengan santun jemaah lain yang mungkin lupa. Tanpa paksaan, budaya ini menyebar dan mengakar.

Bagi Daarut Tauhiid, keberkahan masjid bukan hanya dari kajian yang ramai atau fasilitas yang megah. Tapi dari nilai-nilai Islam yang dihidupkan dengan konsisten, bahkan dari hal sekecil menata sandal. Karena dari situlah, terbentuk pribadi yang lebih sadar, lebih bersih, dan lebih bertanggung jawab—baik kepada sesama, maupun kepada Allah.

Di Masjid Daarut Tauhiid, kerapian sandal bukan sekadar kebiasaan. Ia adalah cermin dari jiwa yang terlatih untuk mencintai keteraturan, menghormati rumah Allah, dan memuliakan sesama makhluk. Sebuah budaya kecil, tapi mengajarkan nilai yang sangat besar. (Cahya)

Sepatu Rapi, Hati Lebih Tertata: Budaya Kecil Penuh Makna di Masjid Daarut Tauhiid Read More »

Videotron Daarut Tauhiid Gegerkalong, Lentera di Tengah Kota

Siapa sangka, di antara lalu lintas padat dan hiruk pikuk Jalan Gegerkalong, sebuah papan raksasa berdiri anggun di depan Masjid Daarut Tauhiid. Tapi ini bukan sekadar papan iklan. Ini adalah videotron — layar digital raksasa yang menyala setiap hari, menyampaikan pesan-pesan dakwah, edukasi wakaf, dan program-program kemanusiaan. Dan yang lebih mencengangkan: ia berdiri di atas tanah wakaf.

Videotron ini bukan sekadar instrumen visual. Ia adalah bentuk nyata inovasi dakwah di era digital. Dikelola langsung oleh Wakaf Daarut Tauhiid sebagai sebuah aset wakaf produktif, layar ini menyampaikan informasi dengan cara yang modern, cepat, dan menjangkau ribuan pasang mata setiap harinya. Mulai dari jemaah masjid hingga warga yang hanya sekadar lewat.

“Setiap hari saya lewat sini, dan jujur, saya baru tahu kalau wakaf bisa berbentuk seperti ini. Dulu saya pikir wakaf cuma tanah buat kuburan atau masjid,” ujar Dian, seorang pegawai swasta yang setiap pagi melewati depan videotron Daarut Tauhiid.

Apa yang dilakukan Daarut Tauhiid melalui layar videotron ini bukan hanya soal penyampaian informasi. Ini adalah transformasi cara berpikir tentang wakaf. Tanah wakaf tak lagi terbatas pada bangunan fisik ibadah, tapi kini menjadi basis inovasi teknologi untuk kebaikan ummat.

“Videotron ini adalah media strategis. Ia bukan hanya menarik secara visual, tapi juga menggugah secara spiritual,” ungkap salah seorang pengurus Yayasan Daarut Tauhiid. “Ini cara DT menjembatani nilai-nilai Islam dan kebutuhan zaman,” lanjutnya.

Setiap konten yang tayang di videotron telah dikurasi: mulai dari info program sosial, edukasi wakaf produktif, hingga kutipan-kutipan hikmah dari KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Tak jarang, orang-orang berhenti sejenak hanya untuk membaca pesan yang sedang ditayangkan.

Yang lebih luar biasa, keberadaan videotron ini sepenuhnya memanfaatkan aset wakaf. Artinya, setiap detik yang berjalan, setiap informasi yang terpancar, semuanya adalah bentuk keberlanjutan dari niat baik para pewakaf terdahulu. Inilah wujud bahwa wakaf bukan warisan yang diam, melainkan investasi pahala yang hidup dan terus berdetak dalam denyut zaman.

Videotron Daarut Tauhiid bukan hanya layar digital — ia adalah jendela kebaikan di tengah kota. Di atas tanah wakaf, berdirilah media masa depan. Menyala terang, bukan sekadar dengan cahaya, tapi juga dengan harapan. (Cahya)

Videotron Daarut Tauhiid Gegerkalong, Lentera di Tengah Kota Read More »

Masjid Daarut Tauhiid Jambi Tumbuh di Atas Wakaf Umat

Di tengah rimbunnya pepohonan dan hembusan angin lembut khas tanah Jambi, berdiri tegak tiang-tiang harapan: bangunan Masjid Daarut Tauhiid Jambi yang kini telah mencapai 35% progres pembangunannya pada pekan terakhir bukan April ini. Belum sempurna, tapi setiap bata dan semen yang tertanam adalah wujud cinta dari umat. Masjid ini bukan sekadar bangunan, tapi nyawa kolektif dari ribuan tangan yang percaya bahwa cahaya bisa lahir dari tanah sendiri.

Walau belum bisa digunakan untuk salat berjemaah secara rutin oleh santri Baitul Qur’an maupun warga sekitar, masjid ini telah membuktikan dirinya lebih dari sekadar proyek fisik. Pada bulan Ramadhan lalu, bangunan yang masih setengah jadi itu menjadi tuan rumah bagi sebuah acara yang menggugah hati: kegiatan pesantren kilat (sanlat) untuk anak-anak yatim dan masyarakat sekitar. Di antara kerangka beton dan bayang-bayang masa depan, gema tawa dan lantunan doa anak-anak menyatu dengan senja Ramadhan — menjadikan tempat itu suci bahkan sebelum ia resmi berdiri.

“Setiap saya berwakaf untuk pembangunan masjid ini, saya merasa sedang ikut menanam pohon yang kelak akan tumbuh rindang dan meneduhkan banyak jiwa,” ujar Sulaiman, salah seorang jemaah Daarut Tauhiid yang rutin berwakaf untuk proyek ini. “Meskipun saya tidak tinggal di Jambi, saya yakin masjid ini akan menjadi cahaya bagi siapa saja yang mendekat padanya,” lanjutnya.

Pembangunan Masjid Daarut Tauhiid Jambi didanai sepenuhnya dari wakaf umat. Rupiah demi rupiah yang dikumpulkan bukan dari kemewahan, tapi dari keikhlasan. Dan dari keikhlasan itu lahirlah harapan besar agar masjid bisa selesai sepenuhnya pada tahun 2025 ini, menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat Jambi dan sekitarnya.

Setiap tiang yang berdiri bukan hanya menyokong atap, tetapi juga mimpi. Setiap lapisan dinding bukan hanya menyusun ruang, tapi menyimpan doa. Dari kota metropolitan hingga pelosok desa, dari donatur besar hingga ibu rumah tangga yang menyisihkan uang belanjanya, semuanya ikut ambil bagian dalam proyek ini. Inilah gotong royong dalam wujud tertinggi: wakaf untuk Allah, manfaat untuk seluruh umat.

Bukan sekadar rumah ibadah, Masjid Daarut Tauhiid Jambi digagas sebagai pusat spiritualitas dan peradaban. Nantinya, masjid ini akan menjadi ruang belajar Al-Qur’an, tempat tumbuhnya kader-kader unggul, dan titik temu antara nilai-nilai tauhid dan realitas sosial.

Kini yang dibutuhkan hanyalah satu hal: konsistensi dan dukungan umat. Karena masjid ini bukan milik satu nama atau lembaga. Masjid Daarut Tauhiid Jambi milik semua yang percaya bahwa kebaikan harus terus dibangun — meski batu pertama baru tertanam, meski hujan dan panas terus menguji.

Dan di tanah Jambi, cahaya itu perlahan tumbuh. Belum terang sepenuhnya, tapi cukup untuk menyalakan semangat ribuan hati yang merindukan masjid sebagai pusat kehidupan. Masjid Daarut Tauhiid Jambi bukan hanya sedang dibangun — ia sedang diperjuangkan. (Cahya)

Masjid Daarut Tauhiid Jambi Tumbuh di Atas Wakaf Umat Read More »

Suara Cinta dari Bandung untuk Palestina

Ahad pagi itu, 20 April 2025, langit Bandung tampak bersahabat. Udara sejuk membalut suasana meski terik mulai beranjak. Namun kehangatan sesungguhnya terasa dari hati-hati yang berkumpul di Masjid Pusdai Bandung. Ratusan santri Daarut Tauhiid membaur dengan jemaah serta masyarakat umum yang bersatu dalam satu suara: solidaritas dan doa untuk Palestina.

Daarut Tauhiid sebagai lembaga yang mendapat penghargaan atas kiprahnya dalam aksi kemanusiaan global, kembali menunjukkan komitmennya. Namun, kegiatan kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar orasi dan doa bersama—tetapi ada seruan dan tekad yang menyatu dalam lantunan zikir serta seruan perdamaian.

Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika KH Abdullah Gyamnastiar (Aa Gym) menyampaikan orasi di depan ribuan peserta. Pendiri dan Pembina Pesantren Daarut Tauhiid itu menyampaikan agar tak pernah lupa kepada penderitaan rakyat Palestina. Aa Gym juga mengingatkan supaya mengambil hikmah dari peristiwa bencana kemanusiaan tersebut.

“Jangan sampai kita peduli kepada saudara kita, tapi kita tidak mencontoh amal-amal mulia mereka. Jangan pernah lepas tahajud agar doa kita kepada mereka diijabah,” ujarnya.   

Kegiatan ini juga menjadi wadah edukasi dan penyebaran program kemanusiaan, salah satunya Cash Wakaf for Humanity. Sebuah inisiatif dari Wakaf Daarut Tauhiid yang bertujuan menggalang wakaf tunai untuk mendukung kebutuhan mendesak rakyat Palestina, mulai dari makanan, air bersih, hingga layanan kesehatan darurat.

Asep, seorang warga Bandung yang baru pertama kali mengikuti kegiatan ini, mengaku tergerak hatinya setelah mendengar penjelasan tentang program tersebut. “Program ini bukan hanya kita berdonasi, setelah itu selesai. Tapi ada nilai empatinya dan berkelanjutan. Semoga ini bisa menjadi solusi mengakhiri krisis kemanusiaan di Palestina,” katanya.

Aksi berlangsung hingga siang hari. Setelah pada pagi harinya massa berkumpul di Masjid Pusdai dan berorasi di depan Gedung Sate, peserta aksi kemudian bergerak menelusuri jalan raya hingga ke Bandung Indah Plaza dan berakhir di Gedung Merdeka. Mendekati waktu djuhur, para peserta membubarkan diri sambil bertekad akan kembali dengan semangat yang tak pernah pupus.  

Di antara segala hiruk pikuk dunia, ada ruang-ruang kecil seperti ini yang menghidupkan kembali harapan. Dari Daarut Tauhiid, Bandung, suara cinta dan solidaritas untuk Palestina kembali digaungkan. Bukan sekadar seremonial atau insidental, tapi aksi nyata yang lahir dari nurani. (Cahya)

Suara Cinta dari Bandung untuk Palestina Read More »

Semangat Solidaritas dari Pesantren: Daarut Tauhiid Pasang Atribut Dukung Palestina

Pesantren Daarut Tauhiid kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Sejak Rabu, 16 April 2025, berbagai atribut pro-Palestina mulai menghiasi area pesantren yang terletak di kawasan Gegerkalong, Bandung ini.

Poster-poster besar yang berisi pesan dukungan terhadap Palestina tampak dipasang di berbagai sudut strategis pesantren, menyampaikan semangat perjuangan dan kemanusiaan kepada para santri/siswa, pengunjung, dan masyarakat umum. Tak hanya itu, bendera Palestina juga dikibarkan berdampingan dengan bendera merah putih, menjadi simbol solidaritas lintas bangsa dan bentuk nyata kepedulian terhadap penderitaan rakyat Palestina.

“Setiap kali melihat bendera Palestina di sini, saya merasa seperti sedang mengirim doa dari kejauhan. Ini jadi pengingat harian bagi kami untuk terus peduli dan berkontribusi,” ujar Fadhil (17), salah seorang santri atau siswa Daarut Tauhiid yang duduk di kelas akhir.

Sosialisasi ini bukan hanya bersifat simbolik, tetapi juga edukatif. Melalui kegiatan ini, para santri/siswa dan jemaah diajak memahami kondisi Palestina dari sisi kemanusiaan serta sejarah perjuangan. Di berbagai forum kajian, topik seputar Palestina juga semakin sering diangkat sebagai refleksi nilai-nilai keadilan dan kepedulian sosial dalam Islam.

Tak hanya melalui edukasi dan atribut visual, bentuk dukungan juga hadir dalam dimensi spiritual. Sejak awal bulan April, pada setiap pelaksanaan salat lima waktu berjemaah di Masjid Daarut Tauhiid, senantiasa dibacakan doa Qunut Nazilah yang ditujukan bagi keselamatan dan kemenangan rakyat Palestina. Doa ini menjadi pengikat batin dan bentuk solidaritas rohani yang mengakar kuat di kalangan jemaah.

“Saya merasa terharu saat datang ke sini dan melihat atribut-atribut itu. Pesantrennya tenang, tapi isinya kuat: kita tidak boleh diam,” ungkap Lilis Nurhasanah, seorang jemaah asal Ciamis yang sedang mengikuti kajian di Daarut Tauhiid.

Tak berhenti pada sisi simbolik dan spiritual, dukungan Daarut Tauhiid juga diwujudkan melalui aksi nyata. Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid sedang menjalankan program Cash Wakaf for Humanity, yaitu penggalangan dana wakaf untuk membantu rakyat Palestina. Dana yang terkumpul akan disalurkan untuk kebutuhan darurat seperti pangan, medis, dan tempat tinggal.

Program ini terbuka untuk umum dan menjadi kesempatan bagi siapa saja untuk turut serta berkontribusi dalam perjuangan kemanusiaan. Bagi para santri dan jemaah, inisiatif ini menjadi wadah nyata untuk mengamalkan ajaran Islam tentang empati, solidaritas, dan ukhuwah islamiyah.

Di tengah konflik yang tak kunjung usai di tanah suci itu, Pesantren Daarut Tauhiid menunjukkan bahwa dari sudut-sudut Indonesia, suara-suara dukungan tetap lantang bergema. Untuk kemerdekaan, untuk keadilan, dan untuk kemanusiaan. (Cahya)

Semangat Solidaritas dari Pesantren: Daarut Tauhiid Pasang Atribut Dukung Palestina Read More »