Di Bawah Hujan Cipancer: Semangat Dua Santri Pelosok Menghidupkan Cahaya Al-Qur’an
WAKAFDT.OR.ID | SUKABUMI — (3/12/2025), Rabu malam itu ,hujan deras mengguyur Kampung Cipancer, Kabupaten Sukabumi. Di tengah guyuran yang tak berhenti, tim wakaf melangkah perlahan menuju sebuah madrasah terpencil untuk menyalurkan Wakaf Mushaf Al-Qur’an.
Tanpa banyak kata, perjalanan licin dan berbatu itu langsung terbayar ketika melihat wajah-wajah yang tetap duduk rapi mengaji meski basah oleh hujan.
Di antara mereka, ada Sintia, 15 tahun, siswa kelas 9 yang memilih tetap hadir meski jarak rumahnya jauh dan harus melewati jalan yang nyaris tak bisa dilalui ketika hujan turun deras.
Ia mengaku tidak pernah mencari alasan untuk absen, karena baginya setiap huruf Al-Qur’an adalah cahaya yang selalu ia tunggu. Dengan suara tenang, ia berkata ingin menjadi penerus bapaknya yang sejak dulu mengajar dan mencintai Al-Qur’an.
Semangat Sintia bukan sekadar ucapan. Ia sudah menghafal lebih dari satu juz. Di usia yang sering digambarkan mudah bosan, ia justru menjadikan hafalan sebagai pijakan hidup.
“Bapak, masih terus belajar sampai sekarang, jadi aku juga harus terus belajar,” ungkapnya dengan mata berbinar. Cerita sederhana itu membuat siapa pun tersentuh: cinta Qur’an bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tengah keterbatasan.
Tidak jauh dari Sintia, ada Mutia, 12 tahun, kelas 7. Ia sudah menghafal satu setengah juz. Setiap hari ia berjalan cukup jauh dengan sandal yang basah, tapi tidak sekalipun terdengar keluhan.
Mutia punya satu harapan: ingin seperti Teh Ratih, kakak penghafal Qur’an yang menjadi inspirasinya. Mushaf lamanya sudah hampir lepas, namun semangatnya justru semakin kuat seperti akar yang kokoh di tanah hujan.
Ketika tim wakaf menyerahkan mushaf baru, suasana yang awalnya sunyi berubah menjadi senyum penuh syukur. Sintia memeluk mushafnya dengan hati-hati, sementara Mutia langsung membuka halaman awal seolah ingin memulai dari awal.
Hujan di luar semakin deras, tapi di dalam ruangan kecil itu terasa hangat, seolah Allah sedang menguatkan langkah kecil mereka menuju jalan panjang hafalan.
Kisah dua anak di pelosok Cipancer ini menjadi pengingat bagi kita—khususnya generasi Z dan generasi alfa—bahwa Al-Qur’an bukan sekedar bacaan, melainkan perjalanan yang harus diperjuangkan setiap hari.
Banyak yang tumbuh dengan kemudahan fasilitas, namun semangat justru lahir dari tempat yang jauh dari perhatian. Melalui Wakaf Mushaf Al-Qur’an, perjalanan cahaya ini terus mengalir, dari tangan yang memberi kepada tangan yang menjaga, hingga nanti menjadi amal yang tak pernah berhenti. (SSP)
Redaktur: Wahid Ikhwan
Di Bawah Hujan Cipancer: Semangat Dua Santri Pelosok Menghidupkan Cahaya Al-Qur’an Read More »














