Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Di Bawah Hujan Cipancer: Semangat Dua Santri Pelosok Menghidupkan Cahaya Al-Qur’an

WAKAFDT.OR.ID | SUKABUMI — (3/12/2025), Rabu malam itu ,hujan deras mengguyur Kampung Cipancer, Kabupaten Sukabumi. Di tengah guyuran yang tak berhenti, tim wakaf melangkah perlahan menuju sebuah madrasah terpencil untuk menyalurkan Wakaf Mushaf Al-Qur’an.

Tanpa banyak kata, perjalanan licin dan berbatu itu langsung terbayar ketika melihat wajah-wajah yang tetap duduk rapi mengaji meski basah oleh hujan.

Di antara mereka, ada Sintia, 15 tahun, siswa kelas 9 yang memilih tetap hadir meski jarak rumahnya jauh dan harus melewati jalan yang nyaris tak bisa dilalui ketika hujan turun deras.

Ia mengaku tidak pernah mencari alasan untuk absen, karena baginya setiap huruf Al-Qur’an adalah cahaya yang selalu ia tunggu. Dengan suara tenang, ia berkata ingin menjadi penerus bapaknya yang sejak dulu mengajar dan mencintai Al-Qur’an.

Semangat Sintia bukan sekadar ucapan. Ia sudah menghafal lebih dari satu juz. Di usia yang sering digambarkan mudah bosan, ia justru menjadikan hafalan sebagai pijakan hidup.

“Bapak, masih terus belajar sampai sekarang, jadi aku juga harus terus belajar,” ungkapnya dengan mata berbinar. Cerita sederhana itu membuat siapa pun tersentuh: cinta Qur’an bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tengah keterbatasan.

Tidak jauh dari Sintia, ada Mutia, 12 tahun, kelas 7. Ia sudah menghafal satu setengah juz. Setiap hari ia berjalan cukup jauh dengan sandal yang basah, tapi tidak sekalipun terdengar keluhan.

Mutia punya satu harapan: ingin seperti Teh Ratih, kakak penghafal Qur’an yang menjadi inspirasinya. Mushaf lamanya sudah hampir lepas, namun semangatnya justru semakin kuat seperti akar yang kokoh di tanah hujan.

Ketika tim wakaf menyerahkan mushaf baru, suasana yang awalnya sunyi berubah menjadi senyum penuh syukur. Sintia memeluk mushafnya dengan hati-hati, sementara Mutia langsung membuka halaman awal seolah ingin memulai dari awal.

Hujan di luar semakin deras, tapi di dalam ruangan kecil itu terasa hangat, seolah Allah sedang menguatkan langkah kecil mereka menuju jalan panjang hafalan.

Kisah dua anak di pelosok Cipancer ini menjadi pengingat bagi kita—khususnya generasi Z dan generasi alfa—bahwa Al-Qur’an bukan sekedar bacaan, melainkan perjalanan yang harus diperjuangkan setiap hari.

Banyak yang tumbuh dengan kemudahan fasilitas, namun semangat justru lahir dari tempat yang jauh dari perhatian. Melalui Wakaf Mushaf Al-Qur’an, perjalanan cahaya ini terus mengalir, dari tangan yang memberi kepada tangan yang menjaga, hingga nanti menjadi amal yang tak pernah berhenti. (SSP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Di Bawah Hujan Cipancer: Semangat Dua Santri Pelosok Menghidupkan Cahaya Al-Qur’an Read More »

Meriah! Daarut Tauhiid Gelar Milad ke-35 dengan Nuansa Kebersamaan dan Ukhuwah

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Yayasan Daarut Tauhiid (DT) sukses menggelar perayaan Milad ke-35 dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan.

Acara yang berlangsung selama dua hari, pada tanggal 6-7 Desember 2025, ini dipusatkan di kawasan Eco Pesantren DT 1, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Milad ke-35 DT tahun ini mengusung tema penguatan ukhuwah (persaudaraan) dan semangat kekeluargaan di antara seluruh elemen lembaga.

Rangkaian kegiatan utama diikuti secara antusias oleh seluruh santri karya (karyawan) dari berbagai lembaga di bawah naungan DT.

Rangkaian Kegiatan: Kombinasi Spiritual dan Rekreatif

Kegiatan Milad dirancang secara komprehensif, memadukan sisi spiritual, intelektual, dan rekreatif.

Mabit dan Kajian Intensif: Acara diawali pada malam hari tanggal 6 Desember dengan kegiatan Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa), dilanjutkan dengan kajian intensif yang bertujuan memperkuat nilai-nilai tauhiid dan akhlaqul karimah di kalangan santri karya.

Camping Kebersamaan: Untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan kedekatan dengan alam, seluruh peserta juga mengikuti sesi camping di lingkungan Eco Pesantren DT 1 yang asri.

Perlombaan Penuh Semangat: Puncak acara pada tanggal 7 Desember dimeriahkan dengan berbagai perlombaan seru yang diikuti oleh perwakilan dari seluruh lembaga DT. Perlombaan ini tidak hanya menguji ketangkasan, tetapi juga kekompakan dan sinergi tim antar lembaga.

“Milad ini bukan sekadar perayaan usia, tetapi momentum untuk merefleksikan kembali visi dan misi DT, serta mempererat tali silaturahmi. Semangat ‘satukan hati, satukan langkah’ harus menjadi energi baru bagi seluruh santri karya untuk berkhidmat lebih baik lagi,” ujar salah satu panitia dalam sambutannya.

Kehadiran seluruh santri karya dari berbagai divisi dan lembaga menjadikan Milad ke-35 ini sebagai ajang konsolidasi internal yang sangat efektif.

Diharapkan, dengan semangat baru dan kekompakan yang terjalin, Daarut Tauhiid dapat terus istiqomah dalam melahirkan generasi berakhlak mulia dan menjadi lembaga yang bermanfaat bagi umat. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Meriah! Daarut Tauhiid Gelar Milad ke-35 dengan Nuansa Kebersamaan dan Ukhuwah Read More »

Dari Santri Hingga Pengajar: Kisah Hesti Fauziyah di Rumah Tahfidz Qur’an Sukabumi

WAKAFDT.OR.ID | SUKABUMI – (4/12/2025) Rumah Tahfidz Qur’an (TPQ) Daarut Tauhiid Sukabumi tak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai tempat lahirnya kader-kader pendidik Al-Qur’an.

Salah satunya adalah Hesti Fauziyah (24), alumni angkatan pertama yang kini kembali mengabdikan diri sebagai pengajar di tempat ia dahulu menimba ilmu.

Hesti, yang telah belajar intensif di TPQ selama tiga tahun, membagikan kisah inspiratif tentang motivasi dan harapannya di Rumah Tahfidz yang terletak di atas aset wakaf tersebut.

Menjadi penghafal Al-Qur’an bukanlah perjalanan yang mudah, namun Hesti memiliki pendorong kuat yang menjadi kompasnya selama masa pendidikan:

  1. Mendekatkan Diri kepada Allah: Hesti meyakini bahwa menjadi Ahlullah (keluarga Allah) adalah kemuliaan tertinggi, dan jalan tersebut ditempuh melalui Al-Qur’an.
  • Membentuk Pribadi BAKU: Selain menghafal, TPQ Sukabumi sangat menekankan pendidikan karakter BAKU (Baik dan Kuat). “Di sini, tidak hanya belajar Qur’an, tetapi juga ditempa menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
  • Mahkota untuk Orang Tua: Harapan mulia untuk memberikan mahkota kemuliaan kepada kedua orang tua di hari kiamat menjadi motivasi yang tak pernah padam.

Selama masa belajarnya, Hesti mengungkapkan bahwa faktor lingkungan menjadi kunci keberhasilan menghafal.

“Kesan saya selama belajar di sini, lingkungannya sangat kondusif sehingga menghafal menjadi lebih efektif. Suasananya juga asri, dan yang paling penting, sahabat-sahabat di sini sangat ramah dan saling support satu sama lain,” kenang Hesti.

Suasana yang penuh dukungan dan lingkungan yang tenang memang menjadi nilai tambah bagi para santri dalam fokus mereka menghafal dan mendalami ilmu agama.

Harapan untuk Mengamalkan dan Mengenalkan Qur’an

Kini, dengan peran barunya sebagai pengajar, harapan Hesti semakin meluas. Ia ingin bisa mengamalkan seluruh ilmu dan karakter yang telah ia pelajari, sehingga kebermanfaatannya bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

“Harapan saya ke depan, semoga bisa mengamalkan apa yang sudah dipelajari, dan masyarakat luas dapat lebih mengenal dan mendekat kepada Al-Qur’an,” tutur Hesti penuh harap.

Pesan Tulus untuk Pewakaf

Di akhir perbincangan, Hesti menyampaikan pesan tulus kepada Ibu Meta dan Bapak Dede Suhada, pasangan dermawan yang telah mewakafkan rumah mereka untuk dijadikan Rumah Tahfidz.

“Kepada Ibu Meta dan Bapak Dede Suhada yang telah mewakafkan rumahnya untuk menjadi tempat belajar para santri, kami berharap semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalas kebaikan Bapak dan Ibu dengan pahala yang berlipat ganda, dan semoga ke depan lebih banyak lagi orang yang bisa belajar Qur’an di tempat ini,” tutupnya.

Kisah Hesti menjadi cerminan nyata bahwa wakaf tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun sumber daya manusia yang kelak akan menjadi penerus perjuangan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Dari Santri Hingga Pengajar: Kisah Hesti Fauziyah di Rumah Tahfidz Qur’an Sukabumi Read More »

Menembus Medan Terjal, Wakaf DT Salurkan Mushaf Al-Qur’an ke Pelosok Sukabumi

WAKAFDT.OR.ID | SUKABUMI – (3/12/2025) Tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) kembali menunjukkan komitmennya dalam menyebarkan syiar Al-Qur’an hingga ke pelosok desa.

Kali ini, distribusi wakaf mushaf Al-Qur’an dilakukan di Kampung Cipancer, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, sebuah wilayah yang dikenal memiliki akses jalan yang sangat menantang.

Distribusi mushaf ini bukanlah pekerjaan mudah. Lokasi Kampung Cipanceur berada cukup jauh dari pusat kota dan hanya bisa diakses melalui jalur yang terjal dan sulit.

Terlebih lagi, kondisi jalan yang masih berupa tanah dan bebatuan, serta cuaca yang menyebabkan jalan menjadi berlumpur, membutuhkan perjuangan ekstra bagi tim relawan.

Meski demikian, kesulitan akses tersebut tidak menyurutkan semangat tim Wakaf DT untuk menyampaikan amanah wakaf dari para muwakif.

Di balik aksesnya yang sulit, Kampung Cipanceur memiliki semangat belajar agama yang tinggi.

Di sana, terdapat sebuah rumah belajar Al-Qur’an sederhana yang dijalankan secara mandiri oleh salah satu alumni Baitul Qur’an DT Sukabumi. Rumah belajar ini menjadi pusat kegiatan bagi anak-anak sekitar untuk mendalami ilmu Al-Qur’an.

Namun, semangat belajar tersebut terkendala oleh minimnya sarana prasarana. Salah satu kebutuhan mendesak yang dilaporkan adalah kekurangan mushaf Al-Qur’an.

“Kebutuhan mushaf baru sangat terasa di sini. Dengan jumlah santri yang terus bertambah, ketersediaan mushaf yang layak pakai sangat penting untuk menunjang proses belajar mereka,” jelas salah satu tim di lokasi.

Penyaluran wakaf mushaf Al-Qur’an ini diharapkan tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga bertujuan menjaga api semangat para santri di Cipanceur untuk terus tekun belajar dan menghafal Al-Qur’an.

Mushaf baru yang disalurkan akan memberikan kenyamanan dan motivasi tambahan bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan Kalamullah.

Inisiatif Wakaf DT dalam menembus medan terjal ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berbagi dan mendakwahkan Al-Qur’an harus sampai ke setiap sudut negeri, memastikan bahwa tidak ada satu pun anak yang terhalang belajar agama hanya karena ketiadaan mushaf. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menembus Medan Terjal, Wakaf DT Salurkan Mushaf Al-Qur’an ke Pelosok Sukabumi Read More »

Berkah Wakaf di Sukabumi: Dari Rumah Sederhana Menjadi Pusat Pencetak Penghafal Quran

WAKAFDT.OR.ID | SUKABUMI – Sebuah rumah sederhana di Sukabumi kini memiliki peran mulia, tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai lumbung pahala abadi dan pusat pendidikan Al-Qur’an gratis bagi puluhan anak.

Inilah aset wakaf yang dikelola oleh Daarut Tauhiid (DT) Sukabumi, sebuah amanah yang bertransformasi menjadi asrama dan Rumah Tahfiz Qur’an (RTQ) bagi santri Baitul Qur’an (BQ) DT Sukabumi.

Awal Mula Wakaf Penuh Berkah

Kisah inspiratif ini bermula pada tahun 2019, ketika sepasang suami-istri dermawan, Ibu Meta dan Bapak Dede Suhada, mewakafkan aset berharga mereka kepada DT Sukabumi.

Niat tulus keduanya adalah agar properti tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai asrama dan tempat belajar Al-Qur’an bagi santri Daarut Tauhiid.

Amanah tersebut kini diemban dengan sepenuh hati. Tempat ini menjadi lokasi utama kegiatan belajar mengajar santri Baitul Qur’an DT Sukabumi, sebuah program yang fokus pada pembinaan dan pendidikan Al-Qur’an.

Melayani 80 Santri dan Luluskan 4 Angkatan

Sejak awal berdiri, program Baitul Qur’an di lokasi wakaf ini menunjukkan perkembangan signifikan.

Yulia, Penanggung Jawab (PJ) RTQ BQ Sukabumi, saat ditemui tim Wakaf DT (4/12) menjelaskan bahwa santri BQ yang mengawali program ini hanya berjumlah 3 orang dan terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Bahkan, program ini telah berhasil meluluskan 4 angkatan penghafal Al-Qur’an, menjadi bukti nyata keberhasilan wakaf dalam melahirkan generasi qur’ani.

Tidak hanya diperuntukkan bagi santri asrama BQ, tempat ini juga membuka pintu bagi anak-anak di sekitar lingkungan untuk belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an. Total, santri yang aktif belajar di lokasi ini kini mencapai angka 80 santri.

Semua Gratis, Fokus pada Keterbatasan Biaya

Keistimewaan lain dari program di lokasi wakaf ini adalah sifatnya yang gratis. Yulia menuturkan bahwa tujuan utama mereka adalah membantu anak-anak yang memiliki semangat tinggi untuk belajar Al-Qur’an, namun terkendala oleh biaya.

“Tujuan kami ingin membantu adik-adik belajar quran yang terkendala oleh biaya, karena di sini semuanya gratis,” ujar Yulia.

Ini menjadikan aset wakaf tersebut sebagai oase pendidikan gratis yang sangat berharga bagi masyarakat kurang mampu di Sukabumi.

Harapan Perluasan untuk Lebih Banyak Santri

Meski program berjalan lancar dan memberikan dampak besar, ada satu kendala yang menjadi harapan untuk masa depan: keterbatasan ruang.

Saat ini, kapasitas tampung santri yang berasrama di sana hanya sekitar 25 orang karena luas tanah yang terbatas. Hal ini membatasi jumlah santri BQ yang bisa dibina secara intensif.

Oleh karena itu, harapan besar ke depan adalah agar dapat dilakukan perluasan lahan dan bangunan. Perluasan ini bertujuan agar semakin banyak santri yang bisa ditampung dan difasilitasi dalam menuntut ilmu Al-Qur’an.

Wakaf Ibu Meta dan Bapak Dede Suhada telah membuktikan diri sebagai investasi akhirat yang tak ternilai.

Dari sebidang tanah, kini mengalir pahala berkelanjutan yang menerangi puluhan jiwa dengan cahaya Al-Qur’an, menegaskan bahwa kedermawanan adalah kunci bagi terciptanya masyarakat yang berilmu dan berakhlak mulia. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Berkah Wakaf di Sukabumi: Dari Rumah Sederhana Menjadi Pusat Pencetak Penghafal Quran Read More »

Cahaya dari Pelosok Cipancer: Kisah Ratih yang Menjaga Mimpi, Menghidupkan Al-Qur’an

WAKAFDT.OR.ID | SUKABUMI – Rabu (3/12/2025) malam itu, hujan deras menyelimuti pelosok Kampung Cipancer, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi.

Di balik derasnya suara hujan, berdiri sosok muda bernama Ratih seorang pejuang ilmu yang menetap di kampung kecil ini. Keterbatasan fisik tak pernah membuat gerak hatinya berhenti.

Ia memegang erat satu mimpi besar: menjadi seseorang yang bermanfaat bagi banyak orang. Dari rumah sederhana, ia melanjutkan perjuangan ayahnya yang sudah hampir 35 tahun mengajar Al-Qur’an dan Iqra bagi warga sekitar.

Malam itu, tim Wakaf DT menempuh perjalanan panjang dan berliku untuk sampai ke rumah Ratih. Jalanan licin, pandangan kabur oleh kabut, dan derasnya hujan menjadi bagian dari cerita yang tak akan dilupakan.

Namun setibanya di sana, segala lelah seolah luruh. Rumah kecil yang jauh dari kata mewah menyambut dengan kehangatan menjadi saksi bagaimana keluarga ini menjaga cahaya Al-Qur’an tetap hidup di kampung Cipancer.

Ratih bercerita bagaimana ia dulu berjuang menghafal Al-Qur’an di tanah wakaf Baitul Quran Sukabumi.

Dari perjuangan panjang itu, ia lulus sebagai santri berprestasi. Semangatnya tak pernah surut, justru tumbuh semakin besar. Kini, ia mengajar 37 santri dari berbagai usia mulai dari TK hingga SMP.

“Saya sangat senang bisa membantu anak-anak di kampung ini. Mereka motivasi saya untuk terus semangat,” ucapnya lirih dan haru.

Tak hanya mengajar di rumahnya, Ratih juga membagikan ilmu Al-Qur’an di salah satu SD dan SMP di daerahnya.

Perjuangannya tak pernah ia jalani sendirian. Ayah dan ibunya selalu setia mendampingi, memberikan dorongan, dan terus mengajarkan ilmu yang mereka wariskan sejak puluhan tahun lalu. Kehangatan keluarga ini menjadi alasan mengapa kampung kecil itu tak pernah kehabisan cahaya.

Melihat mushaf yang mulai rusak dimakan usia, tim wakaf menyerahkan beberapa Al-Qur’an baru untuk para santri. Biasanya, kegiatan mengaji dilakukan setelah Magrib hingga pukul sembilan malam.

Suasana sederhana itu justru membuat semuanya terasa lebih bermakna. Dari kampung terpencil ini, Ratih membuktikan bahwa mimpi besar tak harus lahir dari tempat besar, cukup dari hati yang kuat, perjuangan yang tulus, dan secercah cahaya yang dijaga dengan penuh cinta. Semoga semakin banyak hati yang tergerak untuk berwakaf, agar cahaya Al-Qur’an terus hidup di pelosok negeri. (SSP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Cahaya dari Pelosok Cipancer: Kisah Ratih yang Menjaga Mimpi, Menghidupkan Al-Qur’an Read More »

Aa Gym: Ada 4 Jenis Orang Pemarah

WAKAFDT.OR.ID — Segala puji milik Alloh, Tuhan semesta alam beserta isinya. Kita berdoa kepada Alloh semoga memasukan kita dalam golongan orang-orang yang istiqomah beribadah kepada Alloh.

Sholawat serta salam semoga tercurah kepada baginda nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Ketahuilah, bahwa amarah adalah sesuatu yang harus bisa kita kendalikan dan kita redam. Jangan sampai marah yang mengendalikan kita, karena itu Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasalam memberikan contoh kepada kita bagaimana cara untuk mengendalikan amarah.

Ada beberapa jenis atau tipe orang marah yang perlu kita pahami, supaya bisa memeriksa diri kita termasuk tipe yang mana? Agar kita lebih terampil untuk mampu mengendalikan amarah.

Pertama, mudah marah dan apabila sudah marah maka membutuhkan waktu yang lama untuk meredanya. Ini merupakan tipe yang paling buruk jika marah.

Kedua, susah marah, namun kalau sudah marah maka akan susah juga redanya. Ini juga termasuk tipe marah yang buruk.

Ketiga, mudah marah tetapi mudah juga redanya. Ini tipe lebih baik dalam urusan marah.

Keempat, susah marah tetapi jika telah marah maka akan mudah redanya dengan cepat. Ini merupakan tipe yang paling baik dalam level marah. Sesungguhnya amarah merupakan bagian dari fitrah manusia yang dilengkapi hawa nafsu.

Namun, setiap manusia dituntut agar bisa atau terampil meredam, mengendalikan, dan menjauhkan rasa marah dari diri sendiri. Karena ada juga yang tidak terampil mengendalikannya.

Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “..dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron: 134)

Ketahuilah bahwa amarah itu adalah sesuatu yang akan membuat kita menyesal. Setelah marah biasanya kita merenung dan berpikir kenapa kita harus? Padahal marah itu menguras energi.

Belum lagi marah itu juga dapat menyakiti perasaan orang lain. Oleh karenanya mari berjuang sekuat tenaga untuk mengontrol marah, jangan biarkan iblis menjadi pemenang dalam menghasut amarah kita.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berjuang keras untuk menjadi pribadi yang kuat dalam mengendalikan amarah.

Orang yang mampu mengendalikan amarah berarti telah mampu mengendalikan hawa nafsunya. Wallahu a’lam bishowab. (KH Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Ada 4 Jenis Orang Pemarah Read More »

Mengapa Kita Harus Berwakaf? Memahami Manfaat Abadi Wakaf di Dunia dan Akhirat

WAKAFDT.OR.IDSetiap Muslim dianjurkan untuk memahami hakikat dan manfaat dari ibadah wakaf. Pemahaman yang mendalam tentang manfaat ini akan menumbuhkan motivasi kuat untuk menunaikan atau mengalokasikan sebagian harta di jalan Allah melalui wakaf.

Wakaf, secara hakikat, adalah mekanisme cerdas dari Allah Ta’ala dalam pengelolaan harta yang bersifat produktif dan berkelanjutan.

Berbeda dengan sedekah biasa, harta yang diwakafkan status kepemilikannya menjadi abadi dan tidak boleh dijual, diwariskan, atau dihabiskan zatnya.

Konsep inilah yang menjadikan wakaf sebagai investasi jangka panjang (amal jariyah), di mana pahalanya akan terus mengalir selama harta wakaf tersebut masih dirasakan dan digunakan manfaatnya oleh penerima (mauquf ‘alaih), bahkan hingga pewakaf (wakif) telah meninggal dunia.

Manfaat wakaf tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat, tetapi juga secara langsung oleh kita sebagai pewakaf, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Pahala yang Terus Mengalir (Amal Jariyah)

Ini adalah manfaat utama wakaf di akhirat. Sebagaimana dijanjikan oleh Allah Ta’ala, harta yang diwakafkan akan terus melimpah pahalanya. Konsep pahala yang berlipat ganda ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:

Sebagaimana perumpamaannya disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 261, yang artinya:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Selama aset wakaf itu berdiri kokoh dan terus memberi manfaat—misalnya sekolah, rumah sakit, atau sumur—maka pahalanya akan terus mengalir kepada pewakaf tanpa terhenti.

Melatih Jiwa Sosial dan Kepedulian

Mengeluarkan harta dalam bentuk wakaf merupakan cara efektif untuk melatih jiwa sosial, menumbuhkan empati untuk membantu sesama yang tengah kesulitan, dan mempererat tali persaudaraan dalam masyarakat. Tindakan ini secara tidak langsung membantu mencegah kesenjangan sosial yang terlalu jauh.

Harta wakaf adalah solusi produktif untuk menunjang berbagai kebutuhan sosial dan kemaslahatan umum.

Dengan adanya wakaf, kegiatan sosial dan fasilitas publik dapat berjalan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada anggaran negara atau donasi insidental.

Tips Menunaikan Wakaf

Anda tidak perlu menunggu memiliki harta yang melimpah untuk berwakaf. Prinsip dalam berwakaf adalah semampu kita (istiṭā’ah) dan yang terpenting adalah keikhlasan.

  • Niatkan dengan Ikhlas: Amalan wakaf hanya akan bernilai di sisi Allah Ta’ala jika niatnya murni hanya mengharap ridha-Nya.
    • Tidak Harus Bernilai Besar: Wakaf dapat ditunaikan dengan nilai yang kecil sekalipun, selama dilakukan secara rutin atau bahkan melalui skema wakaf kolektif atau gotong royong untuk melengkapi kebutuhan aset.
    • Pilih Aset yang Produktif: Pastikan aset yang diwakafkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.

    Semoga dengan memahami manfaat wakaf yang abadi ini, kita memiliki keinginan yang kuat untuk mewakafkan sebagian harta kita di jalan Allah, dengan niat yang tidak lain dan tidak bukan hanya mengharap ridha Allah Ta’ala. (WIN)

    Redaktur: Wahid Ikhwan


    WAKAFDT.OR.ID

    Mengapa Kita Harus Berwakaf? Memahami Manfaat Abadi Wakaf di Dunia dan Akhirat Read More »

    Belajar Dari Dakwah Nabi Saleh

    WAKAFDT.OR.ID — Nabi Saleh ‘Alaihissalam diangkat menjadi Nabi untuk melanjutkan masa kenabian Nabi Hud ‘Alaihissalam. Nabi Saleh diutus Allah Ta’ala untuk berdakwah kepada kaum Tsamud, salah satu keturunan dari Nabi Nuh ‘Alaihissalam.

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kaum Tsamud diberi kelebihan oleh Allah dalam bentuk fisik yang kuat. Kaum Tsamud dapat mengukir dan memahat gunung-gunung berbatu sehingga menjadi bentuk yang sangat indah.

    Selain itu juga diberikan kepandaian untuk mendirikan bangunan kokoh dan tinggi yang dijadikan sebagai tempat tinggal mereka.

    Kaum Tsamud hidup dengan makmur di atas tanah yang subur, dengan tanah yang subur tersebut kaum Tsamud memilih untuk bercocok tanam, memelihara hewan ternak sehingga tidak ada yang merasa kelaparan.

    Namun celakanya! Hidup kaum Tsamud jauh dari petunjuk dan hidayah Allah Ta’ala. Kepandaian yang ada dalam diri kaum Tsamud telah membuat kaum Tsamud sombong, sampai-sampai Kaum Tsamud menganggap diri meraka adalah kaum yang paling hebat dan kuat dibandingkan kaum-kaum lainnya.

    Kaum Tsamud menyembah patung dan berhala yang dibuat oleh mereka sendiri. Senang mabuk-mabukan, membunuh, berzina, merampok, dan segala bentuk perbuatan maksiat dilakukan setiap harinya. Sehingga membuat Allah Ta’ala murka karena lupa pada nikmat dan karunia Allah Ta’ala.

    Allah Ta’ala kemudian mengutus Nabi Saleh ‘Alaihissalam untuk mendakwahkan kaum Tsamud untuk kembali kepada jalan yang benar. Lalu Allah Ta’ala berfirman dalam surat Hud ayat 61 yang artinya:

    Kepada (kaum) Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).”

    Namun, kaum Tsamud mengabaikan ajakan Nabi Saleh. Kaum Tsamud pun menyampaikan sebagaimana yang termaktub dalam surat Hud ayat 62 yang artinya:

    “Mereka (kaum Samud) berkata, “Wahai Saleh, sebelum ini engkau benar-benar merupakan orang yang diharapkan di tengah-tengah kami. Apakah engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.”

    Intinya kaum Tsamud menolak kehadirannya, namun Nabi Saleh ‘Alaihissalam tidak berputus asa dan mundur dari dakwahnya sebagaimana yang perintahkan Allah.

    Nabi Saleh ‘Alaihissalam tetap berusaha untuk menyebarkan agama Allah dan terus mencoba untuk memperbaiki akhlak kaum Tsamud.

    Berkat kesabaran dan keteguhan Nabi Saleh, beberapa kaum Tsamud pun bersedia beriman kepada Allah Ta’ala. Kesabaran dakwah tersebut harus kita contoh dalam menyebarkan agama Allah.

    Redaktur: Wahid Ikhwan


    WAKAFDT.OR.ID

    Belajar Dari Dakwah Nabi Saleh Read More »

    Aa Gym: Hati-Hati Dengan Sifat “Pendendam”

    WAKAFDT.OR.ID — Kita harus bisa menerima kenyataan bahwa sebagai manusia, orang lain pun bisa berbuat dosa atau salah, baik disengaja maupun tidak kepada kita.

    Dalam situasi seperti ini, kita tidak perlu khawatir karena Alloh Ta’ala memberikan arah kemuliaan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34)

    Dendam merupakan efek dari keadaan hati yang kecewa, terluka, dan merasa dizholimi.

    Semakin dominan rasa dendam di dalam diri seseorang, akan semakin besar juga kemungkinan untuk marah, akan muncul perasaan dengki dan melakukan perbuatan buruk, Na’udzubillaahi mindzalik. 

    Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassalam ialah panutan terbaik. Beliau bersih dari rasa dendam, walaupun beliau dihina, diboikot, dicaci, disakiti secara fisik, dan intimidasi lainnya.

    Nabi tidak pernah ada rasa dendam apalagi membalas perbuatan buruk orang lain dengan keburukan yang sama.

    Rasulullah memaafkan dan mendoakan orang yang menyakitinya dengan kebaikan. Ketika penduduk kota Thaif menolak keras dakwah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasalam.

    Kemudian malaikat Jibril alaihi wasalam menawarkan pembalasan terhadap mereka, maka Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasalam menolak tawara tersebut.

    Sahabat, dendam itu selain akan menghancurkan kita, akan menghancurkan akhlak dan pikiran kita juga. Oleh karenanya jauhilah rasa dendam.

    Balaslah perbuatan buruk orang lain dengan perbuatan yang baik, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad.

    Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat baik kepada kita. Tapi, kita bisa memaksa diri kita sendiri untuk tetap berbuat baik kepada orang lain.

    Mari kendalikan hati kita di saat timbulnya rasa dendam. Yakinilah bahwa kebaikan dan kemuliaan tidak akan datang dengan cara melampiaskan dendam.

    Kemuliaan justru datang jika kita mampu memupus dendam dengan kebaikan. Keburukan orang lain tidak bisa membahayakan kita, yang membahayakan kita ialah keburukan kita sendiri.

    Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita untuk memiliki kebeningan dan ketulusan hati.

    Seseorang yang pemaaf dan bukan pendendam bukan berarti itu lemah, justru sebaliknya menunjukkan betapa kuatnya orang tersebut dia kuat. (KH. Abdullah Gymnastiar)

    Redaktur: Wahid Ikhwan


    WAKAFDT.OR.ID

    Aa Gym: Hati-Hati Dengan Sifat “Pendendam” Read More »