WAKAFDT.OR.ID | SUKABUMI – Rabu (3/12/2025) malam itu, hujan deras menyelimuti pelosok Kampung Cipancer, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi.
Di balik derasnya suara hujan, berdiri sosok muda bernama Ratih seorang pejuang ilmu yang menetap di kampung kecil ini. Keterbatasan fisik tak pernah membuat gerak hatinya berhenti.
Ia memegang erat satu mimpi besar: menjadi seseorang yang bermanfaat bagi banyak orang. Dari rumah sederhana, ia melanjutkan perjuangan ayahnya yang sudah hampir 35 tahun mengajar Al-Qur’an dan Iqra bagi warga sekitar.
Malam itu, tim Wakaf DT menempuh perjalanan panjang dan berliku untuk sampai ke rumah Ratih. Jalanan licin, pandangan kabur oleh kabut, dan derasnya hujan menjadi bagian dari cerita yang tak akan dilupakan.
Namun setibanya di sana, segala lelah seolah luruh. Rumah kecil yang jauh dari kata mewah menyambut dengan kehangatan menjadi saksi bagaimana keluarga ini menjaga cahaya Al-Qur’an tetap hidup di kampung Cipancer.
Ratih bercerita bagaimana ia dulu berjuang menghafal Al-Qur’an di tanah wakaf Baitul Quran Sukabumi.

Dari perjuangan panjang itu, ia lulus sebagai santri berprestasi. Semangatnya tak pernah surut, justru tumbuh semakin besar. Kini, ia mengajar 37 santri dari berbagai usia mulai dari TK hingga SMP.
“Saya sangat senang bisa membantu anak-anak di kampung ini. Mereka motivasi saya untuk terus semangat,” ucapnya lirih dan haru.
Tak hanya mengajar di rumahnya, Ratih juga membagikan ilmu Al-Qur’an di salah satu SD dan SMP di daerahnya.
Perjuangannya tak pernah ia jalani sendirian. Ayah dan ibunya selalu setia mendampingi, memberikan dorongan, dan terus mengajarkan ilmu yang mereka wariskan sejak puluhan tahun lalu. Kehangatan keluarga ini menjadi alasan mengapa kampung kecil itu tak pernah kehabisan cahaya.
Melihat mushaf yang mulai rusak dimakan usia, tim wakaf menyerahkan beberapa Al-Qur’an baru untuk para santri. Biasanya, kegiatan mengaji dilakukan setelah Magrib hingga pukul sembilan malam.
Suasana sederhana itu justru membuat semuanya terasa lebih bermakna. Dari kampung terpencil ini, Ratih membuktikan bahwa mimpi besar tak harus lahir dari tempat besar, cukup dari hati yang kuat, perjuangan yang tulus, dan secercah cahaya yang dijaga dengan penuh cinta. Semoga semakin banyak hati yang tergerak untuk berwakaf, agar cahaya Al-Qur’an terus hidup di pelosok negeri. (SSP)
Redaktur: Wahid Ikhwan
