Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Kemandirian Pesantren melalui Optimalisasi Wakaf

WAKAFDT.OR.IDDewasa ini, pesantren bukan hanya sekadar lembaga pendidikan, melainkan local genius Indonesia yang memiliki akar sejarah perlawanan dan pemberdayaan masyarakat.

Kunci keberlangsungan pesantren terletak pada kemandirian, yang dibangun di atas fondasi nilai keikhlasan, modal sosial, dan kepemimpinan kiai. Strategi utama untuk memperkuat kemandirian ini meliputi:

  • Menjaga Ruh Al-Ma’had: Mempertahankan nilai keikhlasan sebagai sumber keberkahan.
  • Merawat Modal Sosial: Menjaga kedekatan dengan masyarakat sekitar.
  • Optimalisasi Modal Kapital & Operasional: Mengelola aset tetap (tanah wakaf) secara produktif dan menginisiasi gerakan wakaf uang sebagai endowment fund (dana abadi).
  • Transformasi Ekosistem: Mengubah ekosistem sosial menjadi ekosistem bisnis yang tetap berbasis etis untuk meningkatkan posisi tawar dan kesejahteraan umat.

Implementasi dan Korelasi pada Aset Wakaf Daarut Tauhiid (DT)

Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, yang didirikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), merupakan contoh nyata (benchmark) dari apa yang dibahas dalam poin diatas. Berikut adalah keterkaitannya:

1. Wakaf sebagai Pilar Kemandirian (Modal Kapital)

Pesantren yang tidak memiliki modal kapital tetap akan rentan goyah. DT mengimplementasikan hal ini dengan sangat kuat melalui slogan “Wakaf Menjadi Jalan Kemandirian Umat.”

Aset Produktif: DT tidak hanya memiliki wakaf dalam bentuk masjid atau asrama, tetapi juga wakaf produktif seperti swalayan (SMM), Cottage, hingga gedung perkantoran.

Hasil dari aset produktif inilah yang membiayai operasional pesantren sehingga tidak bergantung pada bantuan eksternal yang tidak menentu.

2. Transformasi Ekosistem Sosial ke Ekosistem Bisnis

Sangat disarankan pesantren melengkapi diri dengan business ecosystem. DT telah lama menjalankan konsep ini melalui Lembaga Strategis DT yang saat ini disatukan dalam konsep Wakaf Produktif.

Konektivitas: Kebutuhan santri (pangan, pakaian, jasa keuangan) dipenuhi oleh unit bisnis milik wakaf. Hal ini menciptakan perputaran ekonomi di dalam ekosistem pesantren yang keuntungannya kembali lagi untuk membiayai dakwah dan pendidikan.

3. Inovasi Wakaf Uang dan Wakaf Melalui Uang

Sesuai dengan gagasan mengenai “Dana Abadi”, DT melalui Wakaf DT telah memelopori berbagai program wakaf yang memudahkan jamaah:

Wakaf Berjangka & Wakaf Tunai: DT memfasilitasi jamaah untuk berwakaf mulai dari nominal kecil. Dana ini kemudian dikelola untuk pembangunan infrastruktur maupun investasi produktif yang hasilnya dirasakan oleh ribuan santri (seperti beasiswa santri tahfidz).

4. Menjaga Marwah dan Kepercayaan (Modal Sosial)

Akuntabilitas: Dengan pengelolaan yang profesional dan dilaporkan secara berkala, DT berhasil membangun kepercayaan publik (trust) yang luar biasa. Inilah “modal sosial” yang dimaksud, di mana masyarakat merasa memiliki dan terus mendukung pertumbuhan pesantren.

5. Local Genius dan Pemberdayaan “Wong Cilik”

Program-program seperti Desa Ternak Mandiri (DT Peduli) atau pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar pesantren di Gegerkalong adalah bukti bahwa aset wakaf DT benar-benar menjadi lokomotif kesejahteraan sebagaimana visi yang diharapkan.

Pesantren Daarut Tauhiid membuktikan bahwa dengan manajemen wakaf yang produktif, transparan, dan visioner, sebuah pesantren dapat bertransformasi dari sekadar institusi pendidikan menjadi kekuatan ekonomi umat yang mandiri dan bermartabat. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan

Referensi: Dr. KH. Tatang Astarudin, M.Si (BWI)


WAKAFDT.OR.ID

Kemandirian Pesantren melalui Optimalisasi Wakaf Read More »

Krisis Kesehatan Mental di Israel: Ancaman Ekonomi Rp 2 Kuadriliun Akibat Trauma Perang

WAKAFDT.OR.ID | TEL AVIV — Kerugian akibat konflik bersenjata ternyata jauh melampaui kerusakan bangunan dan biaya alutsista. Laporan terbaru dari Pusat Natal Israel mengungkap adanya “bom waktu” berupa trauma psikologis massal yang mengancam stabilitas ekonomi dan sosial dalam jangka panjang.

Dikutip dari Aljazeera (24/12/2025), serangan 7 Oktober 2023 dan rangkaian perang yang mengikutinya telah memicu gelombang stres pascatrauma (PTSD) yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut.

Beban Ekonomi yang Tersembunyi

Jurnalis Mayan Hoffman melalui laporan di The Media Line memproyeksikan bahwa Israel harus menanggung beban biaya hingga 500 miliar shekel (sekitar Rp 2 kuadriliun) dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Biaya fantastis ini muncul bukan hanya dari pengobatan langsung, melainkan dari dampak tidak langsung seperti:

  • Penurunan Produktivitas: Banyak pekerja profesional (seperti insinyur) kehilangan kemampuan bekerja secara efisien akibat kelelahan mental.
  • Krisis Modal Manusia: Generasi produktif usia 25–38 tahun mulai meninggalkan bidang keahlian mereka karena trauma.
  • Beban Kesehatan Masyarakat: Lonjakan penyakit jantung, stroke yang dipicu stres, hingga ketergantungan obat-obatan terlarang dan opioid.

Lonjakan Gangguan Psikologis (PTSD) Hingga 30%

Laporan tersebut memperingatkan bahwa tingkat gangguan stres pascatrauma di Israel diprediksi akan mencapai 30% dari total populasi. Angka ini jauh melampaui rata-rata global.

Sekitar 600 ribu warga diperkirakan akan mengalami gangguan fungsi dalam belajar dan bekerja, dengan puluhan ribu di antaranya membutuhkan intervensi medis kronis. Dampak sosial lainnya yang mulai terlihat meliputi:

  • Peningkatan tajam kecelakaan lalu lintas fatal.
  • Eskalasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
  • Meningkatnya tren penggunaan obat penenang.

Menariknya, laporan ini memberikan sudut pandang alternatif: Investasi dini pada kesehatan mental adalah langkah ekonomi yang rasional.

Mengacu pada studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap $1 yang diinvestasikan untuk pengobatan depresi dan kecemasan dapat menghasilkan keuntungan $4 dalam bentuk produktivitas yang meningkat.

Pusat Natal mendesak pemerintah untuk melakukan reformasi struktural, termasuk integrasi layanan psikologis di tempat kerja dan sekolah.

Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Militer

Pakar studi prediktif, Dr. Walid Abdul Hayi, dalam kajiannya di Pusat Zaytuna, menyoroti konsekuensi fatal dari gangguan psikologis ini, yakni meningkatnya angka bunuh diri.

Data menunjukkan adanya tren kenaikan kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel pasca-serangan Hamas. Hal ini menjadi perhatian serius para psikolog mengingat posisi Israel yang sebelumnya sudah memiliki tingkat bunuh diri yang signifikan di kawasan tersebut. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Krisis Kesehatan Mental di Israel: Ancaman Ekonomi Rp 2 Kuadriliun Akibat Trauma Perang Read More »

Membentuk Karakter Peduli Sejak Dini: Siswa TK & SD DT Bandung Gelar Charity untuk Bencana Aceh

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Menanamkan rasa empati dan kepedulian sosial merupakan investasi karakter terbaik bagi anak usia dini.

Semangat inilah yang ditunjukkan oleh para siswa TK dan SD Daarut Tauhiid (DT) Kota Bandung melalui aksi nyata bertajuk Market Day and Charity.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana alam di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat.

Melalui acara ini, sekolah tidak hanya mengasah kreativitas siswa, tetapi juga menyuburkan fitrah nurani untuk saling membantu sesama.

Kegiatan Market Day ini merupakan bagian dari implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Di sini, para siswa diajak untuk mempraktikkan langsung nilai-nilai luhur dalam keseharian, seperti:

  1. Kejujuran dan Amanah: Menjaga integritas dalam proses jual beli.
  2. Kerja Sama: Berkolaborasi antar teman dalam menyiapkan dagangan.
  3. Karakter Rasulullah: Meneladani akhlak mulia dalam berinteraksi dengan pembeli.

Seluruh keuntungan dan penggalangan dana dari kegiatan ini berhasil menghimpun donasi sebesar Rp1.160.000. Dana tersebut telah disalurkan melalui lembaga amil zakat nasional, DT Peduli, untuk segera didistribusikan kepada para penyintas bencana di Aceh.

Belajar di Atas Tanah Keberkahan: Aset Wakaf Daarut Tauhiid

Penting untuk diketahui bahwa proses belajar mengajar dan pembentukan karakter para siswa ini berlangsung di lingkungan yang penuh keberkahan.

Gedung dan fasilitas sekolah yang digunakan oleh siswa TK dan SD DT merupakan aset wakaf produktif Daarut Tauhiid.

Tanah wakaf ini menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya secara spiritual.

Dengan belajar di atas aset wakaf, setiap aktivitas pendidikan di dalamnya diharapkan mengalirkan pahala jariyah bagi para muwakif (pewakaf) sekaligus menjadi wasilah keberkahan bagi para siswa.

Harapan dan Sinergi Sekolah-Orang Tua

Humas TK SD DT Kota Bandung, Abdurrahman, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari guru, komite sekolah, hingga wali murid.

“Kami berharap donasi ini menjadi amal jariyah dan pemberat timbangan kebaikan bagi seluruh keluarga besar Ayah Bunda yang telah mendukung. Semoga nilai empati ini terus tumbuh dalam diri siswa sebagai bekal kehidupan mereka di masa depan,” ujar Abdurrahman.

Melalui sinergi antara pendidikan karakter, praktik ekonomi kreatif, dan dukungan fasilitas berbasis wakaf, sekolah berharap dapat mencetak generasi “Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar” yang bermanfaat bagi bangsa. (WIN/NOV)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Membentuk Karakter Peduli Sejak Dini: Siswa TK & SD DT Bandung Gelar Charity untuk Bencana Aceh Read More »

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah

WAKAFDT.OR.IDPerdebatan mengenai hukum mengucapkan Selamat Natal bagi umat Islam sering kali muncul menjelang akhir tahun.

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan isu ini adalah Buya Hamka, Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Benarkah beliau melarang ucapan tersebut?

Putra kandung Buya Hamka, Irfan Hamka, memberikan klarifikasi mendalam mengenai pandangan sang ayah terkait toleransi beragama dan batas-batas akidah dalam Islam.

Klarifikasi Fatwa MUI 1981: Bukan Larangan Ucapan

Banyak orang salah kaprah menganggap Fatwa MUI tahun 1981 yang diterbitkan di masa kepemimpinan Buya Hamka mengharamkan ucapan Selamat Natal.

Irfan Hamka menegaskan bahwa poin utama fatwa tersebut bukan pada ucapannya, melainkan pada partisipasi dalam ritual ibadah.

“Yang diharamkan oleh Buya Hamka adalah jika umat Muslim mengikuti prosesi ibadah Natal, seperti menyanyi di gereja atau menyalakan lilin ritual,” jelas Irfan.

Praktik Toleransi Buya Hamka kepada Tetangga

Jauh dari kesan kaku, Buya Hamka dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi nilai kerukunan.

Saat menetap di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beliau memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan tetangganya yang beragama Kristen, yakni keluarga Ong Liong Sikh dan Reneker.

Bentuk toleransi yang ditunjukkan Buya Hamka meliputi:

  • Saling Memberi Ucapan: Saat Idulfitri, tetangga non-Muslim memberikan ucapan kepada Buya. Sebaliknya, pada 25 Desember, Buya Hamka membalas dengan ucapan selamat kepada mereka.
  • Berbagi Makanan: Buya sering meminta istrinya mengantarkan rendang kepada tetangga sebagai bentuk silaturahmi, biasanya dilakukan pada momen malam tahun baru.

Rahasia Dibalik Kalimat “Selamat Natal Kalian”

Irfan Hamka mengenang cara unik ayahnya dalam berucap. Buya Hamka sering menggunakan kalimat: “Selamat, telah merayakan Natal kalian.”

Penggunaan kata “kalian” atau “bagi kaum Kristiani” memiliki makna teologis yang dalam. Menurut Buya, tambahan kata tersebut berfungsi sebagai pembatas akidah sesuai prinsip Al-Qur’an surah Al-Kafirun: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

Dengan kata lain, ucapan tersebut adalah bentuk penghormatan atas kegembiraan orang lain tanpa harus membenarkan keyakinan agama tersebut.

Etika Mengucapkan Selamat dalam Islam

Selain masalah diksi, Irfan menyebutkan ada etika waktu yang diperhatikan oleh ayahnya. Beliau menyarankan agar ucapan selamat disampaikan setelah umat Kristen menyelesaikan ibadah mereka. Hal ini dikarenakan esensi kata “selamat” adalah apresiasi atas suatu peristiwa yang telah atau sedang berlangsung.

Pandangan Buya Hamka mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan toleran. Menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas) bisa dilakukan tanpa harus mencampuradukkan ritual ibadah (akidah). (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah Read More »

Wujudkan Amanah, Wakaf DT Kembali Kirim 7.000 Mushaf Al-Qur’an ke Wilayah Sumatera

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Wakaf Daarut Tauhiid (DT) terus menunjukkan komitmennya dalam memberantas buta huruf Al-Qur’an dan membantu penyintas bencana di tanah air.

Pada Senin (22/12/2025), Wakaf DT kembali melepas pengiriman sebanyak 7.000 eksemplar mushaf Al-Qur’an untuk didistribusikan ke wilayah Sumatera, meliputi Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Pengiriman dalam jumlah besar ini merupakan tahap lanjutan dari aksi serupa. Pada pekan sebelumnya, Wakaf DT tercatat telah mengirimkan sebanyak 3.000 eksemplar mushaf ke wilayah yang sama.

Dengan demikian, total sudah ada 10.000 mushaf Al-Qur’an yang bergerak menuju tangan masyarakat dan anak-anak di serambi Mekkah dan sekitarnya.

Menunaikan Amanah Muwakif

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen Wakaf DT yang bersinergi dengan DT Peduli dalam mengelola dan menyalurkan titipan dari para muwakif (pewakaf) serta donatur.

“Pengiriman hari ini adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk menunaikan amanah yang telah dititipkan oleh para muwakif dan donatur melalui Wakaf DT dan DT Peduli. Kami ingin memastikan setiap rupiah yang diwakafkan segera berubah menjadi keberkahan dalam bentuk mushaf yang dibaca dan dipelajari,” ujar perwakilan manajemen Wakaf DT di sela-sela pelepasan armada pengiriman.

Fokus Distribusi: Sumbar, Sumut, dan Aceh

Pemilihan wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh bukan tanpa alasan. Selain karena kebutuhan rutin akan mushaf yang tinggi di pesantren dan masjid, wilayah-wilayah ini juga tengah dalam masa pemulihan pascabencana yang sempat menghanyutkan banyak harta benda, termasuk Al-Qur’an.

Kehadiran 7.000 mushaf baru ini diharapkan dapat menghidupkan kembali semangat mengaji di pelosok Sumatera, memperkuat dakwah Islam, serta menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi para pewakaf.

Sinergi antara Wakaf DT dan DT Peduli akan terus berlanjut guna memastikan distribusi berjalan tepat sasaran, menjangkau wilayah terpencil yang selama ini kesulitan mendapatkan mushaf Al-Qur’an yang layak. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Wujudkan Amanah, Wakaf DT Kembali Kirim 7.000 Mushaf Al-Qur’an ke Wilayah Sumatera Read More »

Momen Hari Ibu, Aa Gym Kirim Pesan untuk Para Anak

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Momentum Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember menjadi saat yang tepat untuk merenungi kembali makna bakti kepada orang tua.

Dalam video singkatnya, KH. Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym, memberikan pesan menyentuh tentang kedudukan seorang ibu yang begitu mulia dalam pandangan Islam.

Ibu Sebagai Perantara Nikmat Penciptaan

Aa Gym mengingatkan bahwa nikmat pertama yang dirasakan setiap manusia adalah nikmat penciptaan. Dari yang sebelumnya tiada, Allah Ta’ala menciptakan kita melalui perantara orang tua.

“Kita disimpan di rahim ibu: mengandung dalam berat, melahirkan dengan sakit yang tak terkira, hingga menyusui dengan ketulusan. Itulah mengapa Rasulullah SAW menekankan hingga tiga kali sebutan ‘Ibumu, ibumu, ibumu,’ baru kemudian ayahmu,” tutur Aa Gym.

Jalan Terdekat Menuju Surga

Dalam pesannya, Aa Gym menekankan bahwa kemuliaan hidup tidak hanya diraih melalui banyaknya amal ibadah ritual, melainkan juga melalui kualitas bakti kepada orang tua.

]Meskipun secara manusiawi tidak ada ibu yang sempurna, namun Allah Ta’ala telah menetapkan rida-Nya ada pada rida orang tua.

“Tidak ada ibu yang sempurna, tapi surga tidak salah memilih pintunya,” tegas Aa Gym.

Bakti kepada ibu merupakan jalan tol menuju kemuliaan dunia dan akhirat. Walaupun seorang anak tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tua sepenuhnya, Islam memberikan panduan sederhana namun mendalam untuk memuliakan mereka.

Langkah Sederhana Memuliakan Ibu

Aa Gym mengajak setiap Muslim untuk mulai mempraktikkan “Adab Mulia” kepada ibu melalui empat hal sederhana:

  1. Senyum Paling Cerah: Memberikan ekspresi wajah yang menyejukkan hati orang tua.
  2. Qaulan Karima: Menggunakan kata-kata yang santun dan nada bicara yang terbaik (lemah lembut).
  3. Adab Mendengarkan: Tidak memotong pembicaraan mereka dan mendengarkan dengan penuh hormat.
  4. Amal Ikhlas: Melayani dan membantu orang tua tanpa pamrih, sebagaimana mereka mengurus kita sewaktu kecil tanpa pernah menuntut balasan.

Momentum Hari Ibu ini diharapkan bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi titik balik bagi setiap anak untuk semakin tulus bersimpuh dan berbakti kepada ibundanya masing-masing. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Momen Hari Ibu, Aa Gym Kirim Pesan untuk Para Anak Read More »

Lantunan yang Terhenti: Anak-Anak Penyintas Banjir Sumatera Rindukan Al-Qur’an

WAKAFDT.OR.ID | SUMATERA – Di tengah kepungan air dan lumpur yang merendam pemukiman, sebuah pemandangan menyentuh hati terlihat di posko-posko pengungsian di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Anak-anak penyintas banjir bukan hanya menanyakan kapan mereka bisa pulang, tetapi juga menanyakan keberadaan mushaf Al-Qur’an dan Iqra mereka yang hilang diterjang arus.

Bagi mereka, mengaji bukan sekadar rutinitas, melainkan “obat” penenang di tengah trauma bencana. Namun, realita di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan:

  • Mushaf Rusak & Hanyut: Ribuan mushaf di rumah warga, masjid, dan madrasah terendam air berlumpur, sobek, bahkan hilang terbawa banjir bandang.
  • Aktivitas Mengaji Terhenti: Tanpa adanya mushaf yang layak, kegiatan belajar mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) darurat menjadi terhambat.
  • Kebutuhan Spiritual: Di masa pemulihan trauma (trauma healing), kehadiran Al-Qur’an sangat mendesak sebagai sarana penguatan mental dan spiritual bagi para pengungsi, khususnya generasi muda.

Seorang anak di salah satu posko pengungsian mengungkapkan, “Al-Qur’an saya basah kena lumpur, tidak bisa dibaca lagi. Saya rindu mau mengaji sama teman-teman supaya tidak takut lagi.”

Wakaf DT Kirim 10.000 Mushaf untuk Terangi Sumatera

Merespons kondisi darurat tersebut, Wakaf Daarut Tauhiid (DT) bergerak cepat melalui program Wakaf Mushaf Al-Qur’an.

Sebagai langkah nyata untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Wakaf DT mengirimkan sebanyak 10.000 eksemplar mushaf Al-Qur’an ke tiga provinsi terdampak paling parah.

Penyaluran ini difokuskan untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses namun memiliki kebutuhan tinggi, antara lain:

  • Sumatera Barat: Distribusi ke wilayah Padang dan sekitarnya yang terdampak banjir bandang dan longsor.
  • Sumatera Utara: Pengiriman menuju Medan, Langkat, dan daerah pesisir yang terendam banjir cukup lama.
  • Aceh: Fokus pada wilayah Aceh Utara dan Aceh Timur yang mengalami kerusakan fasilitas ibadah cukup signifikan.

Misi Pemulihan Spiritual

Program ini tidak hanya sekadar membagikan Al-Qur’an, tetapi merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali syiar Islam di lokasi bencana.

“Kami berharap dengan hadirnya 10.000 mushaf ini, anak-anak dan warga kembali memiliki harapan. Al-Qur’an adalah sumber kekuatan utama bagi seorang mukmin dalam menghadapi ujian,” ujar perwakilan dari Wakaf DT.

Pengiriman dilakukan menggunakan jalur kargo cepat agar mushaf-mushaf tersebut dapat segera digunakan di masjid-masjid darurat dan sekolah-sekolah di wilayah pengungsian.

Melalui kolaborasi dengan DT Peduli di tiap cabang daerah, dipastikan bantuan ini jatuh ke tangan mereka yang benar-benar membutuhkan. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Lantunan yang Terhenti: Anak-Anak Penyintas Banjir Sumatera Rindukan Al-Qur’an Read More »

Memasuki Bulan Rajab: Bulan Mulia Menuju Ramadhan

WAKAFDT.OR.IDBerdasarkan kalender Hijriyah 2025 dari Ditjen Bimas Islam Kemenag, umat Muslim menyambut kehadiran bulan Rajab yang dimulai pada Ahad, 21 Desember 2025.

Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram (bulan yang suci dan dimuliakan), di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan nilainya oleh Allah Ta’ala.

Keutamaan Bulan Rajab

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits menekankan pentingnya bulan ini sebagai jembatan menuju bulan suci Ramadhan:

“Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulannya umatku.” (HR. Jami’ul Ahadits).

Oleh karena itu, setiap Muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah seperti zikir, puasa sunah, dan doa sejak hari pertama memasuki bulan ini.

Doa yang Dianjurkan

Salah satu doa yang populer dipanjatkan agar kita diberi keberkahan hingga sampai ke bulan Ramadhan adalah: “Allahuma baarik lana fi rajaba wa syabaana wa balighna ramadhana”

Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah usia kami hingga bulan Ramadhan.”

Dalam kitab Al Ghunyah, Syekh Abdul Qadir al Jilani mengisahkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib secara khusus meluangkan waktu sepenuhnya untuk beribadah pada empat malam istimewa dalam setahun, salah satunya adalah malam pertama bulan Rajab.

Berikut adalah inti dari doa yang dipanjatkan oleh Sayyidina Ali saat memasuki bulan Rajab:

  • Memohon Perlindungan: Meminta agar dijaga dari segala keburukan dan tidak diwafatkan dalam keadaan lalai atau penuh penyesalan.
  • Pengakuan Dosa: Menyadari diri sebagai hamba yang zalim dan memohon ampunan Allah yang Maha Luas rahmat-Nya.
  • Meminta Kesejahteraan: Memohon kelapangan rezeki, ketenteraman hati, kesehatan, rasa syukur, serta ketakwaan.
  • Doa untuk Sesama: Meminta kemudahan, kesabaran, dan kejujuran tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang tua, keluarga, anak-anak, serta seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.

Momentum Rajab tahun ini merupakan kesempatan emas bagi kita untuk membersihkan hati dan memperkuat iman sebagai bekal menyambut bulan Sya’ban dan puncaknya di bulan Ramadhan nanti. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Memasuki Bulan Rajab: Bulan Mulia Menuju Ramadhan Read More »

Membawa Anak ke Masjid, Bolehkah?

WAKAFDT.OR.IDMasjid merupakan rumah Allah Ta’ala sekaligus pusat ibadah umat Islam yang harus dijaga dan dimakmurkan. Memakmurkan masjid memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah…” (QS. At-Taubah: 18)

Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa mereka yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi oleh para malaikat (HR. Abu Daud).

Bolehkah Anak-Anak Ikut ke Masjid?

Muncul pertanyaan di tengah masyarakat mengenai hukum membawa anak kecil ke dalam masjid. Berdasarkan penjelasan Hafidz Muftisany dalam buku Fikih Keseharian, pada dasarnya tidak ada larangan untuk membawa anak-anak ke masjid.

Berikut adalah beberapa poin penting terkait hal ini:

  • Usia Mumayyiz: Sangat dianjurkan membawa anak yang telah mencapai usia mumayyiz (usia di mana anak sudah bisa membedakan hal baik dan buruk).
  • Pendidikan Sejak Dini: Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa meski belum wajib, orang tua perlu memperkenalkan dan mengajarkan shalat kepada anak sejak dini.
  • Anjuran di Usia 7 Tahun: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan sholat saat usia mereka tujuh tahun…” (HR. Ahmad).

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil diperbolehkannya anak-anak ikut shalat berjamaah di masjid sebagai sarana pembiasaan.

Meski diperbolehkan, ada tanggung jawab besar yang harus dipikul oleh orang tua agar kemuliaan masjid tetap terjaga:

  • Pengawasan Melekat: Orang tua wajib mendampingi dan mengawasi anak secara ketat selama berada di lingkungan masjid.
  •  Menjaga Kekhusyukan: Pastikan kehadiran anak tidak mengganggu ketenangan jamaah lain yang sedang beribadah.
  • Memberi Pengertian: Ajarkan anak mengenai adab-adab di dalam masjid sebelum membawanya.

Membawa anak ke masjid adalah langkah positif untuk membentuk karakter religius sejak dini. Dengan pendampingan yang tepat, diharapkan anak-anak akan lebih termotivasi untuk mencintai masjid dan konsisten menunaikan shalat berjamaah hingga mereka dewasa. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Membawa Anak ke Masjid, Bolehkah? Read More »

Aa Gym: Inilah Hal yang Membuat Kita Menderita

WAKAFDT.OR.IDSetiap orang tentu menginginkan hidup yang bahagia. Bahkan, kita menginginkan kebahagiaan itu tetap hadir dalam situasi apapun terhadap kehidupan kita.

Namun, selalu ada saja pintu untuk kita merasa menderita. Ada beberapa sebab yang memicu timbulnya penderitaan, di antaranya ialah:

Pertama, tidak menerima takdir yang telah terjadi. Tidak ada seorang pun yang mampu menolak takdir Alloh Ta’ala sekuat apapun manusia itu. Jika Alloh sudah berkehendak maka pasti terjadi.

Ketika kotoran seekor burung jatuh keatas rambut kita, mungkin kita akan mengeluh, menggerutu, dan tidak terima atas kejadian yang telah terjadi.

Padahal terima atau tidak terima, peristiwanya telah terjadi. Maka, sikap yang terbaik adalah menerima apa yang telah terjadi. Ikhlas dan ikhtiar untuk membersihkan kotoran burung.

Rasullullah Shallallohu ‘alaihi wasalam bersabda dalam sebuah hadits: “..Maka barangsiapa yang ridho (pada Alloh), maka baginya keridhoan (dari Alloh).” (HR. Tirmidzi)

Kedua, berprasangka buruk. Penderitaan muncul karena berprasangka buruk kepada Alloh Ta’ala. Ia mengira bahwa Alloh tidak menyayanginya, tidak memperdulikannya, tidak mendengar doa-doanya.

Kejadian yang tidak sesuai dengan keinginannya ia jadikan alasan untuk menduga bahwa Alloh tidak menolongnya. Ingatlah, setiap ujian hidup yang kita hadapi adalah bukti bahwa Alloh masih menyanyangi kita.

Dalam sebuah hadits qudsi Alloh Ta’ala berfirman: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.” (HR. Muslim)

Imam Hasan Al Bashri pernah menyampaikan, “Ketahuilah bahwa perbuatan manusia tergantung pada prasangka mereka kepada Robb-nya. Adapun orang mukmin dia akan membaguskan amalnya. Adapun orang kafir dan munafik, dia berprasangka buruk kepada Robb-nya, maka mereka buruk dalam amalnya.”

Ketiga, kurang bersyukur. Masih ingat perumpamaan jerawat dan hidung? Ada orang yang muncul jerawat di hidungnya, kemudian dia mengeluhkan jerawatnya.

Padahal, jika ia mau melihat lebih luas, mestinya bersyukur bahwa jerawatnya tidak sebesar hidungnya, masih banyak bagian mukanya yang bersih dari jerawat. Ia hanya akan menderita jika hanya fokus pada satu jerawatnya saja.

Oleh karena itu, setiap kali ada kejadian yang tidak sesuai dengan harapan kita, cobalah untuk melihat dari sisi lain atau dari sisi yang lebih luas, agar terlihat oleh kita betapa lebih banyak karunia Alloh yang kita terima.

Dengan cara itu, insyaAlloh kita akan jauh dari penderitaan dan akan senantiasa merasa bahagia dalam setiap keadaan. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Inilah Hal yang Membuat Kita Menderita Read More »