Wakaf Daarut Tauhiid

Juni 2025

Dari Wakaf Umat, Lahir Generasi Pelopor

Rabu pagi, 18 Juni 2025, udara Sukasari terasa lebih khidmat. Di halaman yang akan menjadi saksi tegaknya Gedung Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid, ratusan mata menyimak dan hati tergetar mendengar sambutan hangat dari pendiri Daarut Tauhiid, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).

Dengan suara yang tenang namun penuh getaran makna, Aa Gym membuka sejarah panjang lahirnya program Santri Siap Guna. Sebuah gagasan yang tercetus di tengah kesunyian Mina, di antara tenda-tenda i’tikaf para jemaah haji. “SSG ini bukan sekadar pelatihan fisik, tapi pembentukan karakter. Karakter pelopor, mandiri, dan khidmat,” tutur beliau.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, SSG telah melahirkan 17.037 alumni dari 50 angkatan, tersebar di berbagai penjuru dunia. Mulai dari yang menjadi pejabat hingga pemilik usaha. Namun, yang terpenting, kata Aa Gym, “Mereka adalah pelopor kebaikan, siap menjadi yang pertama menolong dan berbuat, bukan menunggu diperintah.”

Dalam sambutannya, Aa Gym menegaskan bahwa karakter SSG dibangun dalam dua pilar besar: Baik dan Kuat. Santri diajarkan untuk memiliki karakter Baik, yakni ikhlas seperti gula yang tetap manis meski disebut “penyakit,” jujur dan tepercaya, serta tawadu’ agar siap belajar dan bertumbuh. “Yang suka menonjolkan diri itu, maaf ya, ambeien,” ujarnya, memancing tawa hadirin sambil mengingatkan agar tetap rendah hati.

Sementara karakter Kuat diwujudkan melalui keberanian mengambil keputusan, disiplin tinggi, dan ketangguhan menghadapi ujian hidup. “Tidak ada kekuatan tanpa disiplin. Air menetes saja bisa melubangi batu, karena konsistensi,” tegasnya.

Dalam momen penuh makna itu, Aa Gym juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada sosok yang turut membidani perkembangan Daarut Tauhiid: alm. Nur Hadi Al-Masri. Seorang prajurit yang pertama kali dikenalnya di Singapura, lalu memilih mengabdi di lingkungan pesantren. “Beliau ini bukan hanya hadir, tapi membesarkan Daarut Tauhiid dalam diam dan kerja nyata,” ungkap Aa Gym dengan mata berkaca.

Sebagai bentuk penghormatan, salah satu ruangan dalam Gedung SSG yang baru akan diberi nama Ruang Nur Hadi Al-Masri. “Pahalanya insya Allah terus mengalir, karena setiap kebaikan yang lahir dari tempat ini akan menyambung kepada beliau,” ucap Aa Gym.

Gedung Santri Siap Guna ini dibangun di atas tanah wakaf dan dibiayai sepenuhnya dari dana wakaf umat, sebagai wujud nyata partisipasi masyarakat dalam mencetak generasi pelopor kebaikan. Dalam sambutannya, Aa Gym mengajak seluruh alumni dan jemaah untuk terus berkontribusi, karena sedekah dan wakaf adalah investasi abadi yang takkan pernah merugikan.

“Tidak akan berkurang harta karena bersedekah. Jariyah itu artinya mengalir, dan setiap amal kebaikan yang terjadi di tempat ini akan terus mengalirkan pahala bagi para muwakif,” ujarnya.

Gedung ini ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun. Dengan semangat kebersamaan, prosesi peletakan batu pertama ditutup dengan doa yang menggema ke langit Sukasari. Sebuah langkah awal dari perjalanan panjang yang telah dirintis sejak tahun 1999, untuk melahirkan insan pelopor, mandiri, khidmat, dan berjiwa tangguh. Dari Mina ke Sukasari, dari satu ide ke ribuan aksi nyata. Itulah Santri Siap Guna. (wakafdt)

Dari Wakaf Umat, Lahir Generasi Pelopor Read More »

Gedung SSG Mulai Dibangun: Wakaf Umat untuk Pendidikan dan Solusi Kawasan

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi bagian terbangunnya Gedung SSG ini. Semoga kebaikan yang ada di gedung ini, pahala jariyah mengalir kepada kita semua,” ujar Dr. Muhammad Iskandar, S.I.P., M.M., Ketua Yayasan Daarut Tauhiid Peduli, dalam sambutannya saat peletakan batu pertama Gedung Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid pada Rabu pagi, 18 Juni 2025.

Gedung ini dibangun atas dasar semangat wakaf kolektif, menjadi simbol nyata dari partisipasi umat dalam menghadirkan fasilitas pendidikan yang bermanfaat jangka panjang. Dana sebesar Rp3,02 miliar dialokasikan dari wakaf untuk mewujudkan bangunan empat lantai seluas total 532 meter persegi. Lantai pertama akan difungsikan sebagai area parkir, lantai kedua sebagai ruang perkantoran, sementara lantai ketiga dan keempat akan menjadi aula, ruang kelas, dan pusat aktivitas santri.

Pelaksana Tugas Camat Sukasari, Suharyanto, juga menyampaikan apresiasinya atas pembangunan ini. “Tentunya hari ini sangat berbahagia diundang dalam acara peletakan batu pertama untuk pembangunan Gedung SSG yang berada di lingkungan Pesantren Daarut Tauhiid,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran SSG tidak hanya akan membawa manfaat bagi para santri, tetapi juga memiliki dampak luas bagi masyarakat.

“Kami berharap kehadiran SSG ini dapat mencerdaskan bangsa dan menyejahterakan masyarakat. Salah satu yang kami apresiasi adalah adanya area parkir di gedung ini yang sangat berselaras dengan kebutuhan wilayah kami. Jalan Gegerkalong Girang ini volume kendaraannya luar biasa, dan lahan parkir sangat terbatas. Pembangunan ini membantu secara kolaboratif menata kepadatan lalu lintas yang selama ini jadi tantangan,” jelasnya.

Prosesi peletakan batu pertama ini bukan hanya momentum simbolik, tetapi juga awal dari realisasi harapan besar. Diharapkan, proses pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun. Dr. Iskandar juga menegaskan komitmen Daarut Tauhiid untuk mengelola dana wakaf secara profesional dan transparan. “Insya Allah semuanya akan diaudit,” ujarnya menutup sambutan.

Gedung SSG bukan sekadar struktur bangunan, tapi juga wadah tumbuhnya generasi berakhlak dan berilmu, sekaligus solusi lingkungan yang konkret. Melalui wakaf, Daarut Tauhiid kembali menegaskan bahwa membangun fisik adalah jalan membangun peradaban. (wakafdt)

Gedung SSG Mulai Dibangun: Wakaf Umat untuk Pendidikan dan Solusi Kawasan Read More »

Keberkahan di Atas Lahan Wakaf: Semangat Yati dalam Tasyakuran Qurban Santri Karya

Mentari pagi belum tinggi saat langkah-langkah penuh semangat mengarah ke Dome Central V Daarut Tauhiid. Di antara para santri karya yang hadir, tampak Yati—salah seorang santri akhwat—berjalan cepat dengan wajah berseri. Hari ini bukan hari biasa, karena tausiyah rutin yang biasa ia ikuti setiap Jumat pagi terasa lebih istimewa: diikuti dengan tasyakuran dan makan bersama daging qurban.

Acara Tausiyah dan Tasyakuran Qurban Santri Karya ini digelar pada Jumat, 13 Juni 2025, pukul 07.30 WIB di Dome Central V, salah satu pusat kegiatan Daarut Tauhiid yang berdiri kokoh di atas lahan wakaf. Lahan yang tidak hanya menjadi tempat berkumpul, namun juga menjadi sumber keberkahan dalam membentuk karakter dan kebersamaan para santri karya.

Tausiyah pagi itu disampaikan oleh Ustadz Budi Prayitno, menggantikan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang sedang menunaikan ibadah haji. Meski sempat merasa rindu mendengar suara khas Aa Gym, Yati justru menemukan makna mendalam dari materi yang disampaikan Ustadz Budi, yakni tentang Esensi Spiritual Ibadah Haji dalam Membangun Kinerja dan Loyalitas.

“Rasanya seperti diingatkan kembali, kalau kerja keras kita di sini juga bisa menjadi ladang ibadah kalau niatnya benar,” ujar Yati usai acara. “Dan ketika disampaikan di tempat seperti Dome Central V ini, saya merasa doa-doa itu lebih mudah naik ke langit,” tambahnya sambil tersenyum.

Tasyakuran yang menyusul selepas tausiyah menambah kehangatan pagi itu. Potongan-potongan daging qurban yang telah disembelih beberapa hari lalu kini tersaji dalam bentuk hidangan sederhana tapi penuh makna. Bagi Yati, bukan hanya rasa syukurnya yang bertambah, tapi juga rasa kebersamaan dengan sesama santri karya.

“Dome ini bukan hanya bangunan, tapi saksi semangat kami. Dulu mungkin lahan ini kosong, sekarang jadi tempat belajar, beribadah, dan berbagi,” kata Yati sambil menatap langit-langit Dome yang tinggi. Lahan wakaf yang menjadi tempat berdirinya Dome Central V, menurutnya adalah simbol nyata bahwa kebaikan yang ditanam akan tumbuh dan berbuah, seperti pagi ini.

Dalam suasana hangat, senyum dan obrolan santri karya saling bersahutan. Di tengah aroma hidangan qurban dan gema tausiyah yang masih membekas, Yati tahu, kebersamaan di atas lahan wakaf ini adalah nikmat yang tak semua orang rasakan. Sebuah keberkahan yang patut dijaga dengan kerja, doa, dan loyalitas. (wakafdt)

Keberkahan di Atas Lahan Wakaf: Semangat Yati dalam Tasyakuran Qurban Santri Karya Read More »

Tanpa Kehadiran Aa Gym, Kajian di Masjid Daarut Tauhiid Tetap Ramai

Masjid Daarut Tauhiid Bandung kembali dipenuhi jemaah pada Kamis malam, 12 Juni 2025, dalam kajian rutin Ma’rifatullah yang diselenggarakan selepas salat Isya. Meskipun KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) selaku pengisi tetap belum kembali dari Tanah Suci Mekkah, kajian tetap berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Menandai komitmen Masjid Daarut Tauhiid sebagai masjid wakaf yang hidup dan terus menyala dalam ilmu.

Kajian malam itu disampaikan secara daring oleh Aa Gym melalui platform Zoom, menyapa para jemaah dari kejauhan. Setelahnya, tausiyah dilanjutkan secara langsung oleh Ustadz Dr. H. Mulyadi Al Fadhil, S.Sos.I, M.Pd., Ketua STAI Daarut Tauhiid Bandung. Kombinasi antara tausiyah daring dan luring ini tak menyurutkan semangat para jemaah, termasuk para santri karya untuk hadir dan menyimak.

“Setiap ikut kajian di Masjid Daarut Tauhiid, rasanya selalu beda. Meski Aa Gym tidak hadir secara langsung malam ini, suasananya tetap hangat dan membawa ketenangan,” ujar Asep, salah satu santri karya yang mengikuti kajian.

Antusiasme terlihat sejak selepas Magrib. Karpet masjid yang luas perlahan terisi oleh para jemaah dari berbagai kalangan—warga sekitar, santri, mahasiswa, hingga para pegiat dakwah. Banyak yang datang khusus untuk mendalami hakikat marifatullah, mengenal Allah lebih dekat yang menjadi inti dari dakwah Aa Gym selama ini.

Masjid Daarut Tauhiid sendiri merupakan masjid wakaf yang tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat penyebaran ilmu dan nilai-nilai tauhid. Setiap hari, berbagai kajian keislaman diadakan rutin, mulai dari tafsir, fikih, adab, hingga motivasi spiritual. Keberkahan masjid ini terasa dari semangat para jemaah yang terus hadir, meski dalam kondisi terbatas sekalipun.

Dan kehadiran santri karya serta jemaah umum yang tetap membludak meski tanpa kehadiran fisik Aa Gym, seakan menjadi cerminan bahwa dakwah dan ilmu telah menancap kuat di hati umat. Semangat yang tak padam itu adalah buah dari keberkahan wakaf ketika dikelola secara amanah dan produktif. (wakafdt)

Tanpa Kehadiran Aa Gym, Kajian di Masjid Daarut Tauhiid Tetap Ramai Read More »

Mendorong Profesionalisme Nadzhir Wakaf: Sertifikasi Kompetensi Jadi Langkah Nyata

Profesi nadzhir wakaf kini tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Di tengah meningkatnya potensi wakaf sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat, kebutuhan akan nadzhir yang kompeten dan profesional menjadi hal mendesak. Menjawab tantangan tersebut, Lembaga Sertifikasi Profesi Badan Wakaf Indonesia (LSP BWI) menggelar Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Nadzhir Wakaf yang diselenggarakan pada 11–13 Juni 2025 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Jalan Braga No. 108, Kota Bandung.

Acara ini diikuti oleh 45 peserta dari tujuh lembaga pengelola wakaf, termasuk Wakaf Daarut Tauhiid, Dompet Dhuafa Jawa Barat, Wakaf Salman, Lembaga Wakaf Persis, Majelis Pemberdayaan Wakaf Muhammadiyah Jawa Barat, Lazisnu PWNU, serta Yayasan Daarut Tauhiid. Mereka mengikuti pelatihan intensif selama dua hari dengan materi seputar pelaksanaan, pengelolaan, hingga pengembangan harta benda wakaf yang kemudian dilanjutkan dengan uji kompetensi pada hari ketiga.

Pelatihan ini dibuka secara resmi dengan kehadiran perwakilan dari Badan Wakaf Indonesia Jawa Barat, Bidang Zakat Wakaf Kanwil Kemenag Jawa Barat, serta pimpinan Bank Indonesia Jawa Barat. Kehadiran para pemateri dan asesor profesional turut menegaskan keseriusan pelaksanaan sertifikasi ini sebagai langkah menuju standarisasi nadzhir wakaf di Indonesia.

Menurut Wahyudi, Kepala Bagian Marketing Communication Wakaf Daarut Tauhiid, pelatihan ini memberikan manfaat besar bagi para nadzhir. “Alhamdulillah sangat bermanfaat acara tersebut dan menjadi standarisasi bagi kami, terutama di Wakaf Daarut Tauhiid, dan juga di semua nadzhir di seluruh Indonesia. Semoga dengan adanya nadzhir yang telah tersertifikasi, ini menjadi peningkatan bagi semua nadzhir dan lebih profesional dalam mengelola harta benda wakaf secara lebih bermanfaat dan produktif,” ujarnya.

Uji kompetensi yang dijalankan pun dirancang untuk mengukur kemampuan peserta secara menyeluruh, mulai dari penulisan esai tentang wakaf, penyusunan model pengelolaan harta benda wakaf melalui perangkat digital, hingga sesi wawancara langsung dengan asesor.

Langkah standarisasi ini menjadi harapan baru bagi pengelolaan wakaf di tanah air. Dengan nadzhir yang tersertifikasi dan profesional, wakaf tak lagi hanya menjadi aset yang pasif, tetapi dapat dikembangkan secara produktif untuk kemaslahatan umat. Pelatihan ini bukan hanya soal meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga membangun ekosistem wakaf yang lebih kokoh dan tepercaya. (wakafdt)

Mendorong Profesionalisme Nadzhir Wakaf: Sertifikasi Kompetensi Jadi Langkah Nyata Read More »

Langit Pahala di Atas Rumah Sakit Sultan Qalawun

Pernahkah membayangkan ada sebuah rumah sakit yang sejak 700 tahun lalu melayani pasien tanpa memungut biaya sepeser pun, dan hingga kini masih dikenang sebagai simbol wakaf yang hidup?

Inilah kisah inspiratif dari Rumah Sakit Wakaf Sultan Qalawun di Kairo, Mesir. Warisan peradaban Islam yang tak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menebar kasih sayang dan pahala tanpa batas.

Dibangun dengan Wakaf, Dihidupkan oleh Cinta

Pada abad ke-13, Sultan Qalawun mewakafkan sebagian besar kekayaannya untuk membangun sebuah rumah sakit yang terbuka untuk siapa saja: orang miskin, musafir, bahkan mereka yang tak punya identitas. Rumah sakit ini tidak hanya menyediakan layanan medis, tetapi juga memberi hadiah kepada pasien yang sembuh. Bayangkan, di masa di mana akses kesehatan sangat terbatas, Sultan Qalawun menjawabnya dengan wakaf.

Bagi Sultan, rumah sakit bukan semata tempat perawatan, tetapi wakaf kemanusiaan. Amal jariyah yang terus mengalir sepanjang zaman.

Amal yang Tak Pernah Mati

Wakaf bukan sekadar pemberian. Ia adalah komitmen jangka panjang, sebuah warisan kebaikan yang tidak mengenal batas usia. Seperti Rumah Sakit Sultan Qalawun yang walau pendirinya telah lama wafat, namun pahalanya terus mengalir.

Bayangkan, setiap pasien yang ditangani, setiap luka yang disembuhkan, setiap air mata yang berubah menjadi senyum—semuanya menjadi catatan amal di sisi Allah.

Semangat wakaf seperti inilah yang juga ingin terus dihidupkan oleh Daarut Tauhiid melalui berbagai program wakaf produktif dan wakaf sosial. Mulai dari pesantren, fasilitas pendidikan, hingga layanan kesehatan—semuanya diniatkan sebagai amal jariyah untuk umat, dan jalan pahala abadi bagi para muwakif.

Mari Sembuhkan Dunia

Kita mungkin tidak hidup di abad ke-13 seperti Sultan Qalawun. Tapi hari ini, kita punya kesempatan serupa untuk menanam kebaikan yang terus tumbuh.

Melalui wakaf, kita bisa menjadi bagian dari solusi. Menolong sesama. Menyembuhkan luka. Dan mewariskan kebaikan yang tak akan terputus, bahkan setelah kita tiada.

Langit pahala itu masih terbuka luas. Saatnya kita mengirimkan amal terbaik ke atas sana, lewat wakaf yang menyehatkan dan memberdayakan. (wakafdt)

Langit Pahala di Atas Rumah Sakit Sultan Qalawun Read More »

Haji Wada: Warisan Spiritualitas dan Sosial Rasulullah

Haji Wada bukan sekadar perjalanan haji terakhir Rasulullah saw, tapi juga puncak penyampaian risalah Islam yang lengkap dan penuh hikmah. Di tengah lautan manusia yang berhimpun di Arafah, Rasulullah menyampaikan khutbah monumental yang berisi pesan abadi: tentang kesucian darah, pentingnya menjaga amanah, menghapus riba, memperlakukan perempuan dengan mulia, dan persatuan umat Islam.

Rasulullah menekankan bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dan bahwa seluruh umat memiliki tanggung jawab sosial terhadap satu sama lain. Khutbah ini menjadi panduan hidup, bukan hanya bagi para sahabat waktu itu, tapi juga bagi umat Islam hingga akhir zaman.

Momen Haji Wada adalah seruan agar umat Islam tidak hanya beribadah secara ritual, tapi juga membangun peradaban berlandaskan nilai keadilan, kasih sayang, dan kebermanfaatan. Inilah semangat yang harus terus digaungkan hingga kini—bahwa spiritualitas sejati selalu berujung pada kontribusi nyata untuk umat.

Dzulhijjah: Momentum Menanam Amal yang Terus Mengalir

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari bulan-bulan mulia dalam Islam. Ia tak hanya menjadi saksi puncak ibadah haji, tetapi juga ladang subur untuk memperbanyak amal kebajikan. Rasulullah saw bersabda bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah selain pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Namun semangat beramal tidak berhenti di sana.

Setelah hari-hari tasyrik berlalu, umat justru diajak untuk merenungi makna dari semua ibadah besar yang telah dilakukan. Apa yang bisa kita wariskan setelah qurban? Apa langkah nyata setelah kita menyimak khutbah penuh hikmah dalam Haji Wada?

Jawabannya: menanam amal jariyah yang terus mengalir, salah satunya lewat wakaf.

Dzulhijjah adalah waktu yang tepat untuk berkomitmen pada amal yang bernilai panjang. Di sinilah wakaf hadir bukan hanya sebagai instrumen ibadah, tapi juga sebagai wujud kepedulian sosial yang terus menghidupkan semangat pengorbanan, keteladanan, dan visi dakwah Rasulullah.

Jalan Menghidupkan Pesan Haji Wada dalam Kehidupan Modern

Di antara amal jariyah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah, wakaf menempati tempat istimewa. Beliau mewakafkan sumur, tanah, bahkan kebun untuk kepentingan umat. Para sahabat pun mengikuti jejak ini—Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, dan sahabat lainnya berlomba dalam wakaf yang manfaatnya masih terasa hingga kini.

Mengapa wakaf begitu kuat kaitannya dengan semangat Haji Wada?

Karena wakaf adalah bentuk pengabdian sosial yang berkelanjutan. Ia bukan hanya amal ibadah, tapi juga sarana membangun kesejahteraan umat dalam jangka panjang—baik lewat pendidikan, ekonomi, kesehatan, maupun dakwah. Inilah bentuk nyata dari pesan Rasulullah: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Daarut Tauhiid melalui berbagai program wakaf produktif mengajak umat untuk meneladani warisan Nabi. Menjadikan harta sebagai jalan menuju keberkahan dan kemuliaan. Pada bulan Dzulhijjah ini, saat gema ibadah haji masih terasa, mari kita hidupkan kembali pesan Rasulullah melalui aksi nyata: wakaf untuk umat, wakaf untuk akhirat. (wakafdt)

Haji Wada: Warisan Spiritualitas dan Sosial Rasulullah Read More »

Belajar dari Kandang Mitra, Menebar Manfaat Hingga Pelosok Jawa

Sekitar sepekan pasca gemuruh takbir menggetarkan langit Idul Adha, cerita dari balik layar penyembelihan dan distribusi hewan qurban menyisakan jejak pembelajaran dan semangat kolaborasi yang tak kalah menggugah. Rabu, 4 Juni 2025, dua hari jelang Idul Adha, sebuah tim kecil dari Peternakan Wakaf Daarut Tauhiid di Cijanggel, Kabupaten Bandung Barat, menapaki kandang mitra di Magelang dalam misi ganda, yakni belajar dan melayani.

Dengan mengenakan pakaian lapangan yang berdebu dan semangat yang tak kalah membara, tim ini menyatu dengan aktivitas kandang. Memeriksa kesehatan domba, mengatur penempatan, dan memastikan kesiapan proses distribusi. Di kandang mitra itu, sekitar 250 hingga 300 ekor domba titipan Wakaf Daarut Tauhiid siap untuk disalurkan sebagai hewan qurban ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Namun bukan hanya itu tujuannya. Ada harapan lebih besar, yaitu menimba ilmu langsung dari lapangan.

“Alhamdulillah, saya bertugas belajar di kandang domba di Magelang,” ujar Muklis, salah seorang anggota tim kandang dari Cijanggel. “Banyak sekali ilmu yang saya pelajari, walaupun belum bertemu langsung dengan pemilik kandangnya. Tapi dari penempatan domba saja, sudah banyak hal yang saya pikirkan untuk diterapkan di Cijanggel. Insya Allah, pulang dari sini saya akan terapkan. Mudah-mudahan berkah dan menguntungkan tentunya.”

Perjalanan ke Magelang menjadi titik temu antara pengalaman teknis dan nilai-nilai pelayanan. Para anggota tim bukan hanya mempersiapkan hewan qurban agar layak dan sehat untuk disalurkan, tetapi juga menyerap ilmu peternakan modern yang lebih efektif. Sebuah investasi jangka panjang untuk pengembangan kandang Wakaf Daarut Tauhiid di Bandung Barat.

Kini, setelah gema Idul Adha mereda dan jejak dari daging qurban sudah menyentuh banyak penerima manfaat di penjuru Jawa, semangat dari kandang mitra itu tetap hangat di benak para pegiat wakaf. Misi yang dijalani bukan hanya tentang memotong hewan, tetapi memelihara nilai untuk belajar, berbagi, dan terus tumbuh bersama. (wakafdt)

Belajar dari Kandang Mitra, Menebar Manfaat Hingga Pelosok Jawa Read More »

Hidroponik di Lahan Wakaf: Solusi Kreatif yang Berbuah Berkah

Di bawah terik mentari pagi, barisan rak-rak berwarna putih berjejer rapi di salah satu sudut lahan wakaf Pesantren Daarut Tauhiid Batam. Siapa sangka, kawasan yang semula hanya berupa tanah lapang ini, kini telah berubah menjadi lahan hidroponik produktif.

“Sejak 2021, Daarut Tauhiid Batam berinovasi memanfaatkan lahan wakaf di lingkungan pesantren untuk budidaya hidroponik,” ujar Heru Widodo, Kepala Bagian Operasional dan Fundraising Daarut Tauhiid Batam, pada Selasa (10/6/2025).

Metode hidroponik dipilih karena efisiensi ruang, kebutuhan air yang lebih sedikit, serta potensi produksi yang lebih tinggi dibanding penanaman konvensional.

Dua jenis sayuran yang paling sering dipanen adalah pakcoy dan selada. Hasilnya mendukung kegiatan santri, guru, hingga masyarakat sekitar, sekaligus turut membiayai pembangunan masjid.

Tak berhenti pada produksi, Daarut Tauhiid Batam membuka peluang bagi siswa SMP dari pesantren untuk praktik langsung menanam hidroponik. “Mereka mulai dari menyemai biji, merawat nutrisi, memanen, hingga manajemen penjualan.” kata Heru.

Keberhasilan Daarut Tauhiid Batam menjadi inspirasi bagi lembaga wakaf lain di Indonesia. Para pengelola optimis, pendekatan wakaf produktif ini akan semakin memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan ketahanan pangan.

Dengan komitmen dan inovasi, Pesantren Daarut Tauhiid Batam membuktikan lahan wakaf bisa memberikan berkah berkelanjutan. Bukan sekadar ‘wakaf diam’, melainkan lahan hidup yang terus memberi manfaat untuk santri, guru, warga sekitar, dan menumbuhkan kemandirian umat. (wakafdt)

Hidroponik di Lahan Wakaf: Solusi Kreatif yang Berbuah Berkah Read More »

Pengalaman Reza, Mahasiswa UPI yang Turut Berkhidmat di Persiapan Salat Idul Adha

Kamis malam yang sejuk di kawasan Pesantren Daarut Tauhiid Bandung menjadi saksi khidmatnya seorang mahasiswa muda dalam menebar kebermanfaatan. Reza, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dengan penuh antusias membantu persiapan pelaksanaan Salat Idul Adha 1446 H yang digelar keesokan harinya, Jumat (6/6/2025).

Reza tidak datang sebagai bagian dari panitia resmi, pun bukan tenaga profesional yang dibayar. Ia hadir sebagai seorang relawan, yang diajak oleh temannya—seorang santri karya yang bertugas di Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Daarut Tauhiid. Tanpa ragu, Reza menerima ajakan tersebut. Baginya, kesempatan untuk turut serta dalam amal jama’i di lingkungan pesantren bukan sekadar pengalaman, melainkan juga sebuah keberkahan.

“Yang membuat saya semangat itu karena semua tempat di Daarut Tauhiid ini adalah tanah wakaf. Saya percaya tempat ini penuh keberkahan. Bisa bantu meski cuma pasang karpet dan bersihin area salat, rasanya beda,” ujar Reza dengan mata berbinar.

Beberapa area strategis dipersiapkan untuk menampung jemaah Salat Id, termasuk Dome Sentral V, area parkir di bawahnya, serta Gedung Daarul Hajj. Bersama para santri karya dan relawan lainnya, Reza ikut serta memindahkan karpet, mengatur shaf, membersihkan lokasi, dan memastikan semuanya siap digunakan menjelang fajar tiba.

Tahun ini, pelaksanaan Salat Idul Adha di Daarut Tauhiid terbagi menjadi dua lokasi. Di kawasan Pesantren Daarut Tauhiid Bandung, Salat Id dipimpin oleh Ustaz Dr. H. Mulyadi Al Fadhil, S.Sos.I, M.Pd. Sementara itu, lokasi kedua berada di Daarut Tauhiid Eco Pesantren 1, yang menghadirkan Ustaz Ir. Budi Faisal, M.A.UD, MLA, Ph.D. sebagai khatib.

Keterlibatan Reza malam itu bukan hanya tentang membantu secara fisik. Ia mengaku merasakan atmosfer spiritual yang hangat dan syahdu.

“Di kampus saya biasa sibuk dengan tugas dan organisasi. Tapi di sini, saya merasa lebih dekat dengan makna pengorbanan dan pelayanan. Ini Idul Adha yang beda buat saya,” ungkapnya pelan.

Langkah kecil Reza adalah cerminan semangat muda yang tidak hanya berpikir tentang diri sendiri, tetapi juga tentang kontribusi bagi umat. Sebuah pengingat bahwa keberkahan tidak selalu datang dari hal besar, tetapi dari niat yang tulus dan keikhlasan dalam memberi. (wakafdt)

Pengalaman Reza, Mahasiswa UPI yang Turut Berkhidmat di Persiapan Salat Idul Adha Read More »