Wakaf Daarut Tauhiid

Pesantren Daarut Tauhiid

Serahkan Bantuan Inkubasi Wakaf, BWI: Wakaf Bisa Entaskan Kemiskinan

WAKAFDT.OR.ID | PANDEGLANG — Badan Wakaf Indonesia (BWI) kembali memperkuat sinergi dalam memberantas kemiskinan melalui skema wakaf produktif.

Pada Kamis (11/12), Dr. Ahmad Zubaidi selaku Wakil Ketua BWI menyerahkan bantuan sebesar Rp60 juta kepada perwakilan PCNU Kabupaten Pandeglang dan Ponpes Syekh Manshur. Dana ini bersumber dari bagi hasil wakaf uang para ASN.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ahmad mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih aktif memajukan ekosistem wakaf. Ia optimis bahwa wakaf uang, jika dikelola secara maksimal, akan menjadi solusi finansial yang kuat bagi masyarakat.

Selain penyerahan bantuan, acara yang dihadiri berbagai kementerian ini juga menyoroti pentingnya kompetensi nazhir lokal dalam mengelola aset produktif.

Sebagai langkah konkret menuju kemandirian ekonomi pesantren, dilakukan penanaman pohon pepaya di lahan Ponpes Syekh Manshur.

Langkah kecil ini diharapkan menjadi awal bagi pesantren di Pandeglang untuk bisa berdikari melalui hasil wakaf yang dikelola dengan baik. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Serahkan Bantuan Inkubasi Wakaf, BWI: Wakaf Bisa Entaskan Kemiskinan Read More »

Aa Gym: Melatih Diri Menjadi Orang Baik

WAKAFDT.OR.IDSegala puji hanya milik Alloh yang melimpahkan hidayah dan kebaikan kepada kita sebagai hamba-hambanya. Alloh Maha Baik, mencintai kebaikan, dan memerintahkan kita untuk senantiasa berbuat kebaikan.

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah: 195)

Sesungguhnya Alloh yang Maha Baik menciptakan alam semesta ini beserta isinya, dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Alloh mencintai kebaikan dan mencintai hamba-hambanya yang berbuat baik. Begitu juga Alloh menciptakan diri kita, secara jasmani maupun rohani dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Oleh karenanya, sebagai orang yang beriman kepada Alloh Ta’ala, alangkah beruntungnya kita jika kehidupan ini kita isi dengan hal-hal yang penuh dengan kebaikan.

Alloh menjadikan atau meciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain.

Kesempurnaan tersebut merupakan salah satu kemampuan kita untuk berpikir dan memilih sesuatu hal yang baik.

Maka dalam hidup ini sudah sepatutnya kita memilih yang baik, membuat Alloh juga juga ridho pada kebaikan yang kita lakukan.

Mau tidak mau, disadari atau tidak, sebenarnya dalam hidup ini kita akan berjumpa dengan berbagai hal-hal yang bisa kita pilih.

Kita bisa memilih lisan kita untuk mengucapkan hal-hal baik yang disukai oleh Alloh, bukan sebaliknya mengucapkan hal-hal yang buruk sesuatu yang dibenci oleh Alloh Ta’ala.

Begitu juga dengan tangan kita, tangan ini bisa dipergunakan dengan pilihan yang baik, tidak melakukan hal-hal mungkar, tetapi digunakan untuk hal-hal yang ma’ruf.

Saudara sekalian, setan tidak akan pernah berhenti dan akan terus berupaya untuk menggoda kita agar terjerumus pada keburukan dan neraka.

Boleh jadi sangat berat rasanya kita membiasakan diri untuk memilih yang Alloh sukai.

Akan tetapi, jangan mudah menyerah, teruslah bermujahadah, karena kesungguhan jika kita memilih hal yang baik-baik maka akan menjadi catatan amal sholeh bagi kita di hadapan Alloh Ta’ala.

Semoga kita dimudahkan dan diistiqomahkan dalam berbuat kebaikan, dengan cara melatih diri secara perlahan atau bertahap. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Melatih Diri Menjadi Orang Baik Read More »

Aa Gym: Memaknai Sifat Alloh Maha Besar

WAKAFDT.OR.IDSegala puji hanya milik Alloh Ta’ala. Semoga Alloh menggolongkan kita sebagai hamba yang selalu istiqomah menjaga kebeningan hati. Sholawat dan salam juga semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Alloh Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Alloh yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al Isro: 111)

Kalau kita menunaikan shalat lima waktu lima kali sehari, maka berapa banyak kita mengucapkan takbir? Tentu dalam sehari saja begitu sering kita mengucapkan takbir, Allohu Akbar, Alloh Maha Besar.

Apalagi di bulan Ramadhan kemarin tentu lebih sering lagi kita menggemakan takbir. Ditambah juga dengan hari raya Idul Fitri dan hari raya idul adha.

Ketika kita bertakbir, misalnya takbir dalam shalat, maka sesungguhnya kita sedang mengakui betapa kecil dan tidak berdayanya diri kita ini, dan Maha Besar Alloh lagi Maha Kuasa Alloh.

Kita ini tiada daya, tiada upaya, tiada kekuatan kecuali Alloh yang memberikan. Setiap helaan nafas kita tidak terjadi kecuali atas izin Alloh.

Jika kita bertakbir sedangkan dalam hati kita masih ada perasaan sombong atau diri ini besar, merasa besar karena pangkat, merasa besar karena jabatan, merasa besar karena gelar atau merasa besar karena harta kekayaan, menganggap besar karena pengalaman, menganggap besar karena popularitas, maka pada saat itu juga lisan dengan hati kita tidak sejalan.

Jika lisan dan hati tidak sejalan atau bersebrangan maka inilah tanda yang bahaya.  Maka, perlu melatih hati kita untuk mengikuti apa yang lisan kita katakan.

Latihlah juga lisan kita untuk mengucapkan apa yang hati niatkan. Jadikanlah keduanya satu kesatuan yang saling menguatkan ketika berdzikir dengan takbir.

Bertakbirlah sambil mengakui di dalam hati bahwa semua yang kita punya hakikatnya hanya titipan dan semua milik Alloh Ta’ala dan akan kembali ke Alloh. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Memaknai Sifat Alloh Maha Besar Read More »

Menjaga Kelembutan Hati: Menghindari Perbuatan yang Menghitamkan Jiwa

WAKAFDT.OR.IDHati adalah pusat kendali diri manusia. Jika dibiarkan kotor karena kemaksiatan, hati perlahan akan mengeras, membatu, bahkan mati. Hati yang keras akan sulit menerima hidayah dan kebenaran.

Agar kita terhindar dari kondisi tersebut, berikut adalah lima perbuatan utama yang harus kita waspadai karena dapat mengeraskan hati:

1. Menumpuk Dosa Tanpa Tobat

Setiap kali seorang mukmin berbuat dosa, muncul noda hitam di hatinya. Jika ia segera bertobat dan memohon ampun, noda tersebut akan terhapus dan hati kembali bersih. Namun, jika dosa terus bertambah tanpa ada penyesalan, titik hitam tersebut akan menutupi seluruh hati. Semakin banyak dosa, semakin keras pula hati seseorang dan semakin sulit baginya untuk berhenti dari keburukan.

2. Tertawa secara Berlebihan

Islam tidak melarang umatnya bercanda atau tertawa, namun menganjurkan agar tetap dalam batas kewajaran. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa banyak tertawa dapat mematikan hati. Candaan yang berlebihan sering kali membuat kita lalai dari realitas kematian dan kehidupan akhirat. Sebagaimana pesan Nabi, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

3. Banyak Bicara Tanpa Mengingat Allah

Lisan yang terlalu sibuk membicarakan hal duniawi atau keburukan orang lain (ghibah) tanpa diselingi zikir akan membuat hati menjauh dari Sang Pencipta. Berdasarkan hadis riwayat At-Tirmidzi, “Orang yang paling jauh dari Allah adalah mereka yang hatinya keras akibat terlalu banyak bicara tanpa mengingat Allah.”

4. Makan Melebihi Kebutuhan

Keserakahan dalam urusan perut bukan hanya buruk bagi kesehatan fisik, tetapi juga bagi ruhani. Saat perut terlalu kenyang, tubuh cenderung malas dan sulit berkonsentrasi untuk ibadah. Rasulullah membedakan pola makan orang beriman yang sederhana dengan orang munafik yang cenderung berlebihan. Makan berlebih adalah cermin kecintaan yang tinggi pada dunia dan pangkal dari berbagai penyakit.

5. Terlalu Mencintai Dunia

Harta dan keluarga adalah anugerah, namun bisa menjadi bumerang jika membuat kita lalai. Dalam Surat Al-Munafiqun ayat 9, Allah mengingatkan agar harta dan anak-anak tidak memalingkan kita dari mengingat Allah. Orang yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan akhirat adalah orang-orang yang paling merugi karena hatinya telah tertutup oleh ambisi duniawi.

Menjaga kelembutan hati adalah perjuangan seumur hidup. Dengan menyadari kelima hal di atas, semoga kita lebih waspada dalam bertindak agar hati tetap jernih dan mudah menerima cahaya petunjuk-Nya. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjaga Kelembutan Hati: Menghindari Perbuatan yang Menghitamkan Jiwa Read More »

Masjid Eco Wakaf Tanam 1.000 Pohon, Cegah Banjir dan Krisis Lingkungan di Bogor

WAKAFDT.OR.ID | BOGOR — Sebagai respons terhadap bencana banjir di Sumatera dan krisis lingkungan, Jamil Azzaini beserta para pendiri Kampoong Ecopreneur meresmikan pembangunan Masjid Eco Wakaf di Leuwisadeng, Bogor pada (21/12/2025).

Proyek di atas lahan wakaf seluas 1,5 hektar ini mengusung konsep Wakaf Produktif Berbasis Lingkungan. Poin-poin utama dari inisiatif ini meliputi:

  • Dakwah Lingkungan: Pembagian 1.000 bibit pohon sebagai aksi nyata mitigasi bencana ekologis.
  • Pemberdayaan Ekonomi: Program budidaya madu klanceng untuk warga sekitar agar mandiri secara finansial.
  • Kesehatan Mental: Pembangunan “Kampoong Hening” sebagai pusat ecotherapy.
  • Wakaf Produktif: Pengelolaan aset bisnis (seperti STIFIn dan Hara Chicken) yang hasilnya digunakan untuk kemaslahatan umat dan lapangan kerja disabilitas.

Konsep Masjid Eco Wakaf ini memiliki benang merah yang sangat kuat dengan pilar-pilar wakaf yang dijalankan oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di Pesantren Daarut Tauhiid. Berikut adalah analisis keterkaitannya:

1. Konsep Eco Pesantren dan Wakaf Lingkungan

Daarut Tauhiid dikenal dengan konsep Eco Pesantren. Sama halnya dengan Masjid Eco Wakaf yang membagikan pohon, DT telah lama mempraktikkan wakaf yang berorientasi pada kelestarian alam.

Di DT, wakaf tidak hanya berbentuk bangunan, tetapi juga pengelolaan sanitasi yang bersih, penanaman pohon, dan menciptakan lingkungan yang asri sebagai sarana dzikir. Keduanya sepakat bahwa menjaga alam adalah bagian dari amanah wakaf.

2. Wakaf Produktif untuk Kemandirian Umat

Kampoong Ecopreneur mengelola unit bisnis untuk mendanai kegiatannya. Hal ini sejalan dengan Wakaf DT yang mengelola berbagai lini usaha (seperti Cottage DT, MQ Grup, dan retail).

Hasil dari wakaf produktif di DT digunakan untuk membiayai operasional pesantren dan beasiswa santri, sehingga wakaf tidak bersifat statis, melainkan terus mengalirkan manfaat ekonomi.

3. Pemberdayaan Masyarakat dan Kelompok Marjinal

DT memiliki semangat serupa melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah dan perhatian khusus pada kaum dhuafa serta disabilitas.

Wakaf di kedua lembaga ini bertujuan untuk mengubah mauquf ‘alaih (penerima manfaat) menjadi muwakif atau setidaknya individu yang mandiri secara ekonomi.

4. Integrasi Spiritualitas dan Kesehatan Mental

Hadirnya “Kampoong Hening” untuk kesehatan mental sangat relevan dengan metode dakwah DT. Melalui manajemen Qolbu (MQ), DT menjadikan aset wakafnya sebagai tempat pelatihan diri (diklat) untuk meraih ketenangan hati.

Baik Masjid Eco Wakaf maupun DT memandang bahwa fungsi masjid harus melampaui tempat shalat, yakni menjadi pusat solusi atas krisis mental masyarakat modern.

Langkah yang diambil oleh Kampoong Ecopreneur merupakan penguatan dari model Wakaf Terpadu yang juga dipraktikkan oleh Daarut Tauhiid.

Keduanya membuktikan bahwa wakaf adalah instrumen Islam yang paling efektif untuk menjawab tantangan zaman—mulai dari krisis ekologi, kemiskinan, hingga kesehatan mental—secara berkelanjutan. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Masjid Eco Wakaf Tanam 1.000 Pohon, Cegah Banjir dan Krisis Lingkungan di Bogor Read More »

Sinergi Wakaf dan Pendidikan: Mencetak Pemimpin Berkarakter Tauhiid

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Prestasi membanggakan datang dari dunia pendidikan pesantren. Wahid Abdullah Hadi Rayyan, Ketua OSIS Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Daarut Tauhiid masa bakti 2025/2026.

Ia terpilih untuk mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Santri (LDKS) yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepesantrenan Kementerian Agama RI.

Acara yang berlangsung pada 17–19 Desember 2025 di Kampung Wisata Gowes ini bertujuan untuk:

  • Mengasah Integritas: Membekali santri dengan kecakapan manajerial dan kepemimpinan yang jujur.
  • Penguatan Karakter: Menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab berlandaskan nilai-nilai Islam.
  • Kaderisasi Umat: Menyiapkan ketua OSIS sebagai penggerak budaya organisasi yang islami dan konstruktif di lingkungan pesantren.

Pemanfaatan Aset Wakaf dalam Pendidikan Santri

Keberhasilan santri seperti Wahid dalam mengakses pendidikan berkualitas hingga ke level nasional tidak lepas dari peran strategis Wakaf Daarut Tauhiid.

Pendidikan Diniyah Formal (PDF) dan berbagai jenjang sekolah di DT berdiri dan berkembang di atas tanah serta bangunan yang merupakan hasil dari kedermawanan para muwakif (pewakaf).

Setiap harinya, ribuan anak sekolah di Daarut Tauhiid merasakan manfaat langsung dari aset wakaf ini melalui:

  • Fasilitas Belajar yang Representatif: Ruang kelas, asrama, hingga laboratorium yang dibangun dari dana wakaf menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya calon pemimpin bangsa. Aset ini memastikan santri dapat belajar dengan nyaman dan fokus pada pendalaman ilmu agama serta sains.
  • Lingkungan yang Kondusif: Pemanfaatan lahan wakaf untuk area olahraga dan ruang terbuka hijau memungkinkan santri seperti Wahid untuk melatih fisik dan mental secara seimbang, sebagaimana filosofi “Kuat Fisik, Bersih Hati” yang diajarkan di DT.
  • Akses Pendidikan bagi Semua: Melalui pengelolaan wakaf produktif, Pesantren DT mampu memberikan subsidi serta beasiswa bagi santri berprestasi maupun yang membutuhkan, sehingga pendidikan berkualitas tinggi tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi menjadi jembatan perbaikan nasib bagi banyak keluarga.

Keikutsertaan santri DT dalam pelatihan kepemimpinan tingkat nasional ini adalah bukti nyata bahwa investasi wakaf tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik bangunan.

Wakaf telah bertransformasi menjadi investasi manusia (human investment) yang melahirkan pemimpin-pemimpin muda berakhlakul karimah, yang siap berkontribusi bagi masyarakat dan agama di masa depan. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Sinergi Wakaf dan Pendidikan: Mencetak Pemimpin Berkarakter Tauhiid Read More »

Kemandirian Pesantren melalui Optimalisasi Wakaf

WAKAFDT.OR.IDDewasa ini, pesantren bukan hanya sekadar lembaga pendidikan, melainkan local genius Indonesia yang memiliki akar sejarah perlawanan dan pemberdayaan masyarakat.

Kunci keberlangsungan pesantren terletak pada kemandirian, yang dibangun di atas fondasi nilai keikhlasan, modal sosial, dan kepemimpinan kiai. Strategi utama untuk memperkuat kemandirian ini meliputi:

  • Menjaga Ruh Al-Ma’had: Mempertahankan nilai keikhlasan sebagai sumber keberkahan.
  • Merawat Modal Sosial: Menjaga kedekatan dengan masyarakat sekitar.
  • Optimalisasi Modal Kapital & Operasional: Mengelola aset tetap (tanah wakaf) secara produktif dan menginisiasi gerakan wakaf uang sebagai endowment fund (dana abadi).
  • Transformasi Ekosistem: Mengubah ekosistem sosial menjadi ekosistem bisnis yang tetap berbasis etis untuk meningkatkan posisi tawar dan kesejahteraan umat.

Implementasi dan Korelasi pada Aset Wakaf Daarut Tauhiid (DT)

Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, yang didirikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), merupakan contoh nyata (benchmark) dari apa yang dibahas dalam poin diatas. Berikut adalah keterkaitannya:

1. Wakaf sebagai Pilar Kemandirian (Modal Kapital)

Pesantren yang tidak memiliki modal kapital tetap akan rentan goyah. DT mengimplementasikan hal ini dengan sangat kuat melalui slogan “Wakaf Menjadi Jalan Kemandirian Umat.”

Aset Produktif: DT tidak hanya memiliki wakaf dalam bentuk masjid atau asrama, tetapi juga wakaf produktif seperti swalayan (SMM), Cottage, hingga gedung perkantoran.

Hasil dari aset produktif inilah yang membiayai operasional pesantren sehingga tidak bergantung pada bantuan eksternal yang tidak menentu.

2. Transformasi Ekosistem Sosial ke Ekosistem Bisnis

Sangat disarankan pesantren melengkapi diri dengan business ecosystem. DT telah lama menjalankan konsep ini melalui Lembaga Strategis DT yang saat ini disatukan dalam konsep Wakaf Produktif.

Konektivitas: Kebutuhan santri (pangan, pakaian, jasa keuangan) dipenuhi oleh unit bisnis milik wakaf. Hal ini menciptakan perputaran ekonomi di dalam ekosistem pesantren yang keuntungannya kembali lagi untuk membiayai dakwah dan pendidikan.

3. Inovasi Wakaf Uang dan Wakaf Melalui Uang

Sesuai dengan gagasan mengenai “Dana Abadi”, DT melalui Wakaf DT telah memelopori berbagai program wakaf yang memudahkan jamaah:

Wakaf Berjangka & Wakaf Tunai: DT memfasilitasi jamaah untuk berwakaf mulai dari nominal kecil. Dana ini kemudian dikelola untuk pembangunan infrastruktur maupun investasi produktif yang hasilnya dirasakan oleh ribuan santri (seperti beasiswa santri tahfidz).

4. Menjaga Marwah dan Kepercayaan (Modal Sosial)

Akuntabilitas: Dengan pengelolaan yang profesional dan dilaporkan secara berkala, DT berhasil membangun kepercayaan publik (trust) yang luar biasa. Inilah “modal sosial” yang dimaksud, di mana masyarakat merasa memiliki dan terus mendukung pertumbuhan pesantren.

5. Local Genius dan Pemberdayaan “Wong Cilik”

Program-program seperti Desa Ternak Mandiri (DT Peduli) atau pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar pesantren di Gegerkalong adalah bukti bahwa aset wakaf DT benar-benar menjadi lokomotif kesejahteraan sebagaimana visi yang diharapkan.

Pesantren Daarut Tauhiid membuktikan bahwa dengan manajemen wakaf yang produktif, transparan, dan visioner, sebuah pesantren dapat bertransformasi dari sekadar institusi pendidikan menjadi kekuatan ekonomi umat yang mandiri dan bermartabat. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan

Referensi: Dr. KH. Tatang Astarudin, M.Si (BWI)


WAKAFDT.OR.ID

Kemandirian Pesantren melalui Optimalisasi Wakaf Read More »

Krisis Kesehatan Mental di Israel: Ancaman Ekonomi Rp 2 Kuadriliun Akibat Trauma Perang

WAKAFDT.OR.ID | TEL AVIV — Kerugian akibat konflik bersenjata ternyata jauh melampaui kerusakan bangunan dan biaya alutsista. Laporan terbaru dari Pusat Natal Israel mengungkap adanya “bom waktu” berupa trauma psikologis massal yang mengancam stabilitas ekonomi dan sosial dalam jangka panjang.

Dikutip dari Aljazeera (24/12/2025), serangan 7 Oktober 2023 dan rangkaian perang yang mengikutinya telah memicu gelombang stres pascatrauma (PTSD) yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut.

Beban Ekonomi yang Tersembunyi

Jurnalis Mayan Hoffman melalui laporan di The Media Line memproyeksikan bahwa Israel harus menanggung beban biaya hingga 500 miliar shekel (sekitar Rp 2 kuadriliun) dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Biaya fantastis ini muncul bukan hanya dari pengobatan langsung, melainkan dari dampak tidak langsung seperti:

  • Penurunan Produktivitas: Banyak pekerja profesional (seperti insinyur) kehilangan kemampuan bekerja secara efisien akibat kelelahan mental.
  • Krisis Modal Manusia: Generasi produktif usia 25–38 tahun mulai meninggalkan bidang keahlian mereka karena trauma.
  • Beban Kesehatan Masyarakat: Lonjakan penyakit jantung, stroke yang dipicu stres, hingga ketergantungan obat-obatan terlarang dan opioid.

Lonjakan Gangguan Psikologis (PTSD) Hingga 30%

Laporan tersebut memperingatkan bahwa tingkat gangguan stres pascatrauma di Israel diprediksi akan mencapai 30% dari total populasi. Angka ini jauh melampaui rata-rata global.

Sekitar 600 ribu warga diperkirakan akan mengalami gangguan fungsi dalam belajar dan bekerja, dengan puluhan ribu di antaranya membutuhkan intervensi medis kronis. Dampak sosial lainnya yang mulai terlihat meliputi:

  • Peningkatan tajam kecelakaan lalu lintas fatal.
  • Eskalasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
  • Meningkatnya tren penggunaan obat penenang.

Menariknya, laporan ini memberikan sudut pandang alternatif: Investasi dini pada kesehatan mental adalah langkah ekonomi yang rasional.

Mengacu pada studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap $1 yang diinvestasikan untuk pengobatan depresi dan kecemasan dapat menghasilkan keuntungan $4 dalam bentuk produktivitas yang meningkat.

Pusat Natal mendesak pemerintah untuk melakukan reformasi struktural, termasuk integrasi layanan psikologis di tempat kerja dan sekolah.

Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Militer

Pakar studi prediktif, Dr. Walid Abdul Hayi, dalam kajiannya di Pusat Zaytuna, menyoroti konsekuensi fatal dari gangguan psikologis ini, yakni meningkatnya angka bunuh diri.

Data menunjukkan adanya tren kenaikan kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel pasca-serangan Hamas. Hal ini menjadi perhatian serius para psikolog mengingat posisi Israel yang sebelumnya sudah memiliki tingkat bunuh diri yang signifikan di kawasan tersebut. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Krisis Kesehatan Mental di Israel: Ancaman Ekonomi Rp 2 Kuadriliun Akibat Trauma Perang Read More »

Membentuk Karakter Peduli Sejak Dini: Siswa TK & SD DT Bandung Gelar Charity untuk Bencana Aceh

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Menanamkan rasa empati dan kepedulian sosial merupakan investasi karakter terbaik bagi anak usia dini.

Semangat inilah yang ditunjukkan oleh para siswa TK dan SD Daarut Tauhiid (DT) Kota Bandung melalui aksi nyata bertajuk Market Day and Charity.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana alam di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat.

Melalui acara ini, sekolah tidak hanya mengasah kreativitas siswa, tetapi juga menyuburkan fitrah nurani untuk saling membantu sesama.

Kegiatan Market Day ini merupakan bagian dari implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Di sini, para siswa diajak untuk mempraktikkan langsung nilai-nilai luhur dalam keseharian, seperti:

  1. Kejujuran dan Amanah: Menjaga integritas dalam proses jual beli.
  2. Kerja Sama: Berkolaborasi antar teman dalam menyiapkan dagangan.
  3. Karakter Rasulullah: Meneladani akhlak mulia dalam berinteraksi dengan pembeli.

Seluruh keuntungan dan penggalangan dana dari kegiatan ini berhasil menghimpun donasi sebesar Rp1.160.000. Dana tersebut telah disalurkan melalui lembaga amil zakat nasional, DT Peduli, untuk segera didistribusikan kepada para penyintas bencana di Aceh.

Belajar di Atas Tanah Keberkahan: Aset Wakaf Daarut Tauhiid

Penting untuk diketahui bahwa proses belajar mengajar dan pembentukan karakter para siswa ini berlangsung di lingkungan yang penuh keberkahan.

Gedung dan fasilitas sekolah yang digunakan oleh siswa TK dan SD DT merupakan aset wakaf produktif Daarut Tauhiid.

Tanah wakaf ini menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya secara spiritual.

Dengan belajar di atas aset wakaf, setiap aktivitas pendidikan di dalamnya diharapkan mengalirkan pahala jariyah bagi para muwakif (pewakaf) sekaligus menjadi wasilah keberkahan bagi para siswa.

Harapan dan Sinergi Sekolah-Orang Tua

Humas TK SD DT Kota Bandung, Abdurrahman, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari guru, komite sekolah, hingga wali murid.

“Kami berharap donasi ini menjadi amal jariyah dan pemberat timbangan kebaikan bagi seluruh keluarga besar Ayah Bunda yang telah mendukung. Semoga nilai empati ini terus tumbuh dalam diri siswa sebagai bekal kehidupan mereka di masa depan,” ujar Abdurrahman.

Melalui sinergi antara pendidikan karakter, praktik ekonomi kreatif, dan dukungan fasilitas berbasis wakaf, sekolah berharap dapat mencetak generasi “Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar” yang bermanfaat bagi bangsa. (WIN/NOV)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Membentuk Karakter Peduli Sejak Dini: Siswa TK & SD DT Bandung Gelar Charity untuk Bencana Aceh Read More »

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah

WAKAFDT.OR.IDPerdebatan mengenai hukum mengucapkan Selamat Natal bagi umat Islam sering kali muncul menjelang akhir tahun.

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan isu ini adalah Buya Hamka, Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Benarkah beliau melarang ucapan tersebut?

Putra kandung Buya Hamka, Irfan Hamka, memberikan klarifikasi mendalam mengenai pandangan sang ayah terkait toleransi beragama dan batas-batas akidah dalam Islam.

Klarifikasi Fatwa MUI 1981: Bukan Larangan Ucapan

Banyak orang salah kaprah menganggap Fatwa MUI tahun 1981 yang diterbitkan di masa kepemimpinan Buya Hamka mengharamkan ucapan Selamat Natal.

Irfan Hamka menegaskan bahwa poin utama fatwa tersebut bukan pada ucapannya, melainkan pada partisipasi dalam ritual ibadah.

“Yang diharamkan oleh Buya Hamka adalah jika umat Muslim mengikuti prosesi ibadah Natal, seperti menyanyi di gereja atau menyalakan lilin ritual,” jelas Irfan.

Praktik Toleransi Buya Hamka kepada Tetangga

Jauh dari kesan kaku, Buya Hamka dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi nilai kerukunan.

Saat menetap di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beliau memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan tetangganya yang beragama Kristen, yakni keluarga Ong Liong Sikh dan Reneker.

Bentuk toleransi yang ditunjukkan Buya Hamka meliputi:

  • Saling Memberi Ucapan: Saat Idulfitri, tetangga non-Muslim memberikan ucapan kepada Buya. Sebaliknya, pada 25 Desember, Buya Hamka membalas dengan ucapan selamat kepada mereka.
  • Berbagi Makanan: Buya sering meminta istrinya mengantarkan rendang kepada tetangga sebagai bentuk silaturahmi, biasanya dilakukan pada momen malam tahun baru.

Rahasia Dibalik Kalimat “Selamat Natal Kalian”

Irfan Hamka mengenang cara unik ayahnya dalam berucap. Buya Hamka sering menggunakan kalimat: “Selamat, telah merayakan Natal kalian.”

Penggunaan kata “kalian” atau “bagi kaum Kristiani” memiliki makna teologis yang dalam. Menurut Buya, tambahan kata tersebut berfungsi sebagai pembatas akidah sesuai prinsip Al-Qur’an surah Al-Kafirun: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

Dengan kata lain, ucapan tersebut adalah bentuk penghormatan atas kegembiraan orang lain tanpa harus membenarkan keyakinan agama tersebut.

Etika Mengucapkan Selamat dalam Islam

Selain masalah diksi, Irfan menyebutkan ada etika waktu yang diperhatikan oleh ayahnya. Beliau menyarankan agar ucapan selamat disampaikan setelah umat Kristen menyelesaikan ibadah mereka. Hal ini dikarenakan esensi kata “selamat” adalah apresiasi atas suatu peristiwa yang telah atau sedang berlangsung.

Pandangan Buya Hamka mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan toleran. Menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas) bisa dilakukan tanpa harus mencampuradukkan ritual ibadah (akidah). (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah Read More »