Wakaf Daarut Tauhiid

Palestina

Selama Ramadan, Masuk Kawasan Al Aqso Diperketat

WAKAFDT.OR.ID | YERUSALEM – Memasuki bulan suci Ramadan yang dimulai pada Rabu (18/2/2026), pemerintah Israel mengeluarkan kebijakan baru terkait akses ibadah di Masjid Al-Aqsa. Otoritas setempat mengumumkan hanya akan memberikan izin kepada 10.000 warga Palestina untuk melaksanakan sholat Jumat di masjid suci tersebut.

Keputusan ini disampaikan oleh COGAT, badan kementerian pertahanan Israel yang mengurusi wilayah pendudukan. Namun, kuota tersebut tidak bersifat terbuka. Setiap jamaah wajib mengantongi izin harian khusus dan memenuhi kriteria usia yang sangat ketat.

Berdasarkan aturan yang dirilis, akses menuju kompleks Al-Aqsa hanya dibuka bagi:

  • Pria: Usia 55 tahun ke atas.
  • Wanita: Usia 50 tahun ke atas.
  • Anak-anak: Maksimal usia 12 tahun.

Kebijakan ini memicu kekhawatiran besar mengingat secara tradisional, ratusan ribu umat Muslim biasanya memadati Al-Aqsa selama Ramadan.

Selain pembatasan jamaah, Departemen Wakaf Islam—lembaga yang dikelola Yordania—dikabarkan mendapat hambatan dalam mempersiapkan fasilitas Ramadan, seperti pemasangan tenda peneduh dan pendirian posko medis darurat.

Bahkan, tekanan menyasar tokoh agama. Syekh Muhammad Al-Abbasi, seorang imam senior Al-Aqsa, mengaku dilarang memasuki area masjid tanpa alasan yang jelas. “Larangan ini berlaku sejak Senin dan bisa saja diperpanjang,” ungkapnya.

Kondisi di lapangan menunjukkan peningkatan aktivitas militer yang signifikan. Otoritas keamanan Israel mempertebal pasukan di gerbang Kota Tua dan wilayah Tepi Barat. Mengutip laporan Al Jazeera, langkah-langkah ini dibarengi dengan:

  • Operasi Penangkapan: Menyasar warga yang dianggap melakukan penghasutan.
  • Surveilans Ketat: Pemantauan media sosial secara sistematis dan pengoperasian ruang kontrol canggih.
  • Blokade Jalan: Penutupan akses di sekitar tembok pemisah untuk mencegah warga masuk tanpa izin resmi.

Di Hebron, situasi juga memanas seiring dengan penghancuran kompleks perumahan warga Palestina oleh otoritas pendudukan di tengah penguatan unit militer khusus.

Kecaman dari Otoritas Palestina

Departemen Urusan Yerusalem PLO mengecam keras langkah-langkah tersebut dan menyebutnya sebagai intervensi terang-terangan terhadap hak kebebasan beragama yang dijamin hukum internasional.

“Israel tidak memiliki legitimasi untuk mengatur siapa yang boleh beribadah di Al-Aqsa. Masjid ini adalah hak mutlak umat Islam,” tulis pernyataan resmi pemerintah Provinsi Yerusalem. Mereka juga mencatat adanya lebih dari 250 perintah deportasi yang dikeluarkan terhadap jamaah sebagai upaya mengubah status quo sejarah.

Sekilas Sejarah Al-Aqsa

Masjid Al-Aqsa memiliki akar sejarah yang sangat dalam dalam tradisi Islam. Mayoritas ulama meyakini bahwa Nabi Adam AS adalah yang pertama kali meletakkan fondasinya, yang kemudian direnovasi oleh Nabi Ibrahim AS. Bangunan ini diperkokoh dan diperindah pada masa Nabi Sulaiman AS sekitar tahun 950 SM.

Sepanjang perjalanannya, kompleks ini melewati berbagai fase kehancuran dan pembangunan kembali, mulai dari serangan bangsa Babilonia di bawah Nebukadnezar pada 586 SM, hingga masa kekuasaan Persia, Yunani, dan Romawi, sebelum akhirnya kembali ke pangkuan umat Islam dan terus dijaga sebagai situs tersuci ketiga hingga hari ini. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Selama Ramadan, Masuk Kawasan Al Aqso Diperketat Read More »

Awal Ramadan di Gaza, Tentara Zionis Tembaki Warga di Tepi Barat

WAKAFDT.OR.ID | GAZA – Harapan akan ketenangan di awal bulan suci Ramadan sirna bagi warga Palestina. Pada Rabu (18/2/2026), eskalasi kekerasan militer Israel di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa dalam dua insiden terpisah.

Di tengah suasana duka, ribuan warga yang membutuhkan bantuan medis darurat masih tertahan akibat blokade di gerbang perbatasan Rafah.

Laporan dari Al Jazeera menyebutkan sebuah pesawat nirawak (drone) Israel menyasar seorang anak di wilayah utara Gaza. Tragisnya, bocah tersebut sedang dalam perjalanan untuk meninjau kondisi rumah keluarganya yang telah hancur.

Di lokasi lain, kantor berita WAFA melaporkan gugurnya Muhand Jamal al-Najjar (20). Pemuda tersebut tewas diterjang peluru tajam pasukan penjajah di kawasan bundaran Bani Suheila, timur Kota Khan Younis.

Tak hanya korban jiwa, sejumlah warga di Al-Mughraqa dan Rafah juga dilaporkan menderita luka-luka akibat serangan serupa.

Sejak periode yang diklaim sebagai “gencatan senjata” dimulai pada pertengahan Oktober lalu, kekerasan terus berulang. Data terbaru Kementerian Kesehatan Palestina mencatat lebih dari 600 warga tewas dan 1.600 lainnya luka-luka akibat pelanggaran komitmen damai oleh pihak Israel.

Kondisi kemanusiaan semakin mencekik karena akses pengobatan di luar Gaza sangat terbatas. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengungkapkan bahwa hanya sekitar 260 pasien yang diizinkan melintasi perbatasan Rafah menuju Mesir dalam kurun waktu dua setengah minggu terakhir.

Angka ini dianggap sangat tidak memadai mengingat ada sekitar 18.500 orang yang kondisinya kritis dan membutuhkan evakuasi segera.

Komitmen awal otoritas perbatasan untuk mengizinkan setidaknya 50 orang menyeberang setiap hari pun jauh dari kenyataan; faktanya, terkadang hanya lima pasien yang diperbolehkan lewat.

Eskalasi di Tepi Barat dan Yerusalem

Ketegangan tidak hanya terpusat di Gaza. Di Tepi Barat, pasukan pendudukan melakukan penggerebekan di kamp pengungsi Fawwar, Hebron. Dalam aksi tersebut, militer menggunakan peluru tajam dan gas air mata yang mengakibatkan seorang anak terluka di bagian kaki.

Sementara itu, di desa Mukhmas, Yerusalem Timur, terjadi serangan terpadu antara kelompok pemukim Yahudi dan militer Israel. Menurut laporan Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), empat warga sipil terluka—satu di antaranya dalam kondisi kritis. Selain kekerasan fisik, para pemukim juga dilaporkan menjarah puluhan ternak domba milik penduduk setempat.

Keteguhan Ibadah di Tengah Puing

Meski dikepung kesulitan dan ancaman nyawa, semangat spiritual warga Gaza tetap menyala. Pada Selasa malam (17/2/2026), jamaah tetap memadati Masjid Al-Kinz untuk melaksanakan salat Tarawih perdana.

Suasana khidmat terasa menyayat hati saat warga bersujud di antara reruntuhan bangunan, membuktikan bahwa iman mereka tak goyah meski fisik kota mereka luluh lantak. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Awal Ramadan di Gaza, Tentara Zionis Tembaki Warga di Tepi Barat Read More »

Biadab, Zionis Israel De Facto Kuasai Tepi Barat Palestina

WAKAFDT.OR.ID | YERUSALEM – Di tengah ambisi Israel untuk memperluas kedaulatannya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan penolakannya terhadap rencana aneksasi Tepi Barat.

Mengutip laporan koresponden Axios, Barak Ravid, pada Senin (10/2/2026), Gedung Putih memandang bahwa stabilitas di wilayah tersebut merupakan kunci utama bagi keamanan Israel dan perdamaian regional.

Meskipun Trump sebelumnya dikenal memiliki kedekatan dengan Israel, ia menegaskan tidak akan memberikan lampu hijau bagi pencaplokan wilayah pendudukan tersebut. Namun, di lapangan, pemerintah Israel justru menunjukkan langkah-langkah yang berlawanan.

Perubahan Hukum: Aneksasi Terselubung lewat Administrasi

Pada awal Februari 2026, kabinet keamanan Israel melakukan langkah radikal dengan menghapus aturan yang sebelumnya melarang penjualan tanah Palestina kepada warga Yahudi di Tepi Barat. Tak hanya itu, otoritas Israel mulai mengambil alih fungsi administratif yang selama ini menjadi wewenang Otoritas Palestina (OP).

Beberapa perubahan fundamental yang terjadi antara lain:

  • Pengalihan Izin Bangunan: Di wilayah strategis seperti Hebron, kewenangan penerbitan izin bangunan dialihkan dari pemerintah kota Palestina ke administrasi sipil Israel.
  • Intervensi di Wilayah A dan B: Mengabaikan Perjanjian Oslo, Israel memperluas pengawasan hukum hingga ke Area A dan B yang seharusnya berada di bawah kendali keamanan dan sipil Palestina.
  • Penyitaan Lahan Massal: Selama tiga tahun terakhir, rencana pembangunan 50 ribu unit permukiman terus berjalan beriringan dengan penyitaan lahan seluas 14.826 hektar.

Kematian Perjanjian Oslo?

Para pengamat internasional dan pakar diplomasi menilai langkah ini sebagai “aneksasi de facto”. Profesor Dalal Erekat dan jurnalis senior Walid al-Omari sepakat bahwa ini adalah situasi paling berbahaya sejak 1967. Dengan mengalihkan kendali tanah dan infrastruktur dari militer ke lembaga sipil Israel, Tel Aviv secara praktis menghapus batas-batas yurisdiksi Palestina.

“Ini bukan lagi sekadar pemaksaan fakta di lapangan, melainkan penyerapan Tepi Barat ke dalam sistem hukum Israel secara institusional,” ungkap para analis melalui laporan Aljazeera.

Respons Dunia Internasional

Meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) telah menyatakan pendudukan Israel ilegal sejak Juli 2024, Israel tampak tidak bergeming. James Moran, mantan penasihat Departemen Luar Negeri Uni Eropa, memperingatkan bahwa tindakan ini secara efektif telah mematikan solusi dua negara (two-state solution).

Kini, komunitas internasional dituntut untuk melakukan tindakan nyata, melampaui sekadar kecaman. Beberapa langkah yang diusulkan para pakar meliputi penangguhan perjanjian dagang hingga perluasan sanksi terhadap pejabat yang terlibat langsung dalam perluasan permukiman ilegal.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Biadab, Zionis Israel De Facto Kuasai Tepi Barat Palestina Read More »

Genjatan Senjata, Tapi Israel Kembali Bunuh 23 Warga Gaza

WAKAFDT.OR.ID | GAZA – Gelombang serangan udara besar-besaran kembali menghantam Jalur Gaza sejak Rabu dini hari (4/2/2026). Insiden tragis ini dilaporkan telah merenggut nyawa sedikitnya 23 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya.

Serangan ini menjadi sorotan tajam karena merupakan eskalasi besar kedua sejak badan perdamaian Board of Peace (BoP) diresmikan dua pekan lalu.

Pelanggaran di Zona Aman

Militer Israel dilaporkan menyasar sejumlah wilayah seperti lingkungan Tuffah dan Zeitoun di Kota Gaza, serta kawasan selatan Khan Younis dan al-Mawasi. Ironisnya, lokasi-lokasi tersebut sebelumnya telah ditetapkan sebagai zona aman bagi pengungsi.

Berdasarkan data medis, korban jiwa mencakup enam anak-anak dan enam perempuan. Selain itu, seorang petugas medis dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), Hussein Hasan Hussein al-Sumairy, gugur saat sedang mengevakuasi korban luka di al-Mawasi.

PRCS mengecam keras insiden ini dan menyebutnya sebagai penargetan sengaja terhadap personel kemanusiaan.

Rincian Serangan di Berbagai Titik

Deir al-Balah: Serangan udara menghantam tenda pengungsi, menewaskan seorang gadis berusia 11 tahun bernama Ghada al-Razayna dan ayahnya, Ali al-Razayna.

Khan Younis: Helikopter dan drone Israel menyasar tenda-tenda di wilayah barat. Tim medis yang datang untuk menolong korban justru kembali diserang oleh pesawat tak berawak.

Kota Gaza: Di lingkungan Al-Tuffah, serangan artileri menghantam pemukiman keluarga Haboush dan tenda-tenda di Taman Al-Mahatta, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil.

Gencatan Senjata yang Dipertanyakan

Kantor Media Pemerintah Gaza mengungkapkan bahwa sejak gencatan senjata disepakati pada 10 Oktober tahun lalu, Israel tercatat telah melakukan pelanggaran sebanyak 1.520 kali.

Total korban jiwa sejak periode tersebut mencapai 556 orang, di mana mayoritas adalah kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.

Mantan anggota komite eksekutif PLO, Hanan Ashrawi, melontarkan kritik pedas melalui platform X. Ia mempertanyakan efektivitas gencatan senjata yang dimediasi AS tersebut.

“Gencatan senjata macam apa ini jika pemboman terus berlanjut?” tulisnya.

Ia juga menyoroti kondisi memprihatinkan di perbatasan Rafah, di mana warga Gaza yang kembali harus menghadapi interogasi panjang dan penyitaan barang, sementara pasien yang membutuhkan perawatan darurat justru terhambat.

Dalih Militer dan Respons Hamas

Pihak Hamas menilai peningkatan intensitas serangan ini sebagai upaya sistematis Israel untuk menggagalkan fase kedua gencatan senjata.

Mereka membantah klaim Israel mengenai penembakan terhadap tentaranya, dan menyebut hal tersebut hanyalah dalih untuk melegitimasi agresi militer terhadap warga sipil. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Genjatan Senjata, Tapi Israel Kembali Bunuh 23 Warga Gaza Read More »

Di Tengah Reruntuhan, Ratusan Mahasiswa Kedokteran Gaza Rayakan Wisuda sebagai Simbol Perjuangan

WAKAFDT.OR.ID | GAZA — Langit Gaza sore itu tampak kelabu. Di halaman Rumah Sakit Al-Shifa, bangunan yang sebagian dindingnya runtuh dan lantainya dipenuhi puing, berdiri barisan mahasiswa kedokteran mengenakan toga.

Awal Januari 2026, di tempat yang biasanya dipenuhi suara ambulan dan jeritan korban, terdengar tepuk tangan pelan. Sebanyak 230 mahasiswa dan mahasiswi kedokteran resmi diwisuda—bukan di aula kampus, melainkan di tengah sisa-sisa kehancuran perang.

Momen ini dibagikan oleh jurnalis Gaza melalui akun Instagram @m.saed.gaza. Kamera menangkap wajah-wajah muda yang menahan haru: senyum yang rapuh, mata yang berkaca-kaca, dan langkah kaki yang mantap meski tanah di bawahnya retak.

Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada panggung tinggi. Hanya deretan kursi sederhana dan kain seadanya, namun suasananya penuh makna.

Para lulusan ini berasal dari berbagai perguruan tinggi di Jalur Gaza. Selama masa studi, mereka tidak hanya belajar teori medis, tetapi juga menjadi relawan di rumah sakit, merawat korban luka, dan menyaksikan kehilangan setiap hari.

Wisuda ini digelar sebagai bentuk penghormatan atas keteguhan mereka—bahwa di tengah perang dan keterbatasan, pendidikan tetap dijaga, dan pengabdian tetap berjalan.

Saat satu per satu naik ke panggung darurat, para mahasiswa mengibarkan bendera Palestina. Di balik toga yang dikenakan, ada kisah tentang malam-malam tanpa listrik, ruang kelas yang hancur, dan keluarga yang hidup dalam kecemasan.

Namun hari itu, semua luka sejenak disimpan. Yang terlihat hanyalah tekad untuk menjadi dokter—penjaga kehidupan di tanah yang terus diuji.

Acara wisuda di Al-Shifa ini bukan sekedar seremoni kelulusan. Ia menjadi simbol ketahanan dan kemanusiaan, sekaligus pengingat bahwa Gaza tidak hanya tentang kehancuran, tetapi juga tentang harapan yang terus diperjuangkan.

Dukungan kemanusiaan, termasuk melalui Cash for Humanity, sebuah program wakaf yang digagas oleh Wakaf DT menjadi bagian penting dalam perjuangan saudara di Palestina.

Program ini bisa menjadi upaya menjaga layanan kesehatan dan pendidikan tetap berjalan—agar mimpi para calon dokter ini tidak berhenti di tengah reruntuhan. (SSP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Di Tengah Reruntuhan, Ratusan Mahasiswa Kedokteran Gaza Rayakan Wisuda sebagai Simbol Perjuangan Read More »

Kabar Syahidnya Abu Ubaidah: Warisan Perjuangan yang Tak Padam di Tanah Palestina

WAKAFDT.OR.ID | GAZA Dunia Islam dan jagat maya hari ini diguncang oleh kabar duka yang mendalam. Tagar mengenai kesyahidan Abu Ubaidah, juru bicara legendaris Brigade Al-Qassam, menjadi pusat perhatian di seantero dunia Arab.

Setelah spekulasi panjang mengenai kondisinya, pada (29/12/2025) Al-Qassam secara resmi mengumumkan bahwa sang pembawa pesan perjuangan tersebut telah gugur sebagai syahid.

Menyingkap Tabir Sang Ikon Perlawanan

Selama dua dekade, sosok di balik kafiyeh merah tersebut dikenal sebagai “Menteri Kebahagiaan” bagi umat Islam karena pidato-pidatonya yang membangkitkan harapan di tengah blokade Gaza.

Dalam pengumuman beberapa hari lalu, identitas aslinya pun terungkap ke publik: Hudzaifah Samir Abdullah Al-Kahlut Abu Ibrahim.

Kabar yang lebih menyedihkan menyebutkan bahwa ia gugur bersama istri dan anak-anaknya dalam sebuah serangan. Hanya putra sulungnya, Ibrahim, yang dilaporkan selamat meski dalam kondisi luka kritis.

Gugurnya Para Panglima Tertinggi

Pengumuman duka ini ternyata mencakup jajaran elit militer Al-Qassam lainnya yang selama ini menjadi otak di balik ketangguhan Gaza:

  • Muhammad Sinwar (Abu Ibrahim): Saudara kandung mendiang Yahya Sinwar. Ia adalah Panglima Tertinggi Al-Qassam yang menggantikan Muhammad Dheif. Sosoknya dikenal sebagai arsitek utama jaringan terowongan bawah tanah Gaza yang legendaris.
  • Muhammad Syabanah (Abu Anas): Panglima Brigade Rafah yang gugur saat menjalankan tugas militer di wilayah selatan.
  • Hakam Al-Isa (Abu Umar): Pakar strategi dan penanggung jawab pelatihan militer.
  • Raid Saad (Abu Muadz): Kepala departemen produksi dan pengembangan persenjataan yang berhasil menciptakan drone dan roket mandiri di tengah kepungan musuh.

Estafet Perjuangan: “Abu Ubaidah” Sebagai Simbol, Bukan Sekadar Nama

Momen yang paling menggetarkan adalah kemunculan Juru Bicara baru yang mengumumkan kesyahidan para pendahulunya.

Dengan penampilan, suara, dan aura ketegasan yang nyaris serupa dengan pendahulunya, ia menegaskan bahwa “Abu Ubaidah” bukanlah sekadar nama individu, melainkan identitas jihad media Al-Qassam.

“Kami mewarisi panggilan Abu Ubaidah dari Hudzaifah Al-Kahlut, dan kami berjanji akan melanjutkan pergerakan ini!” tegas sang jubir baru.

Pelajaran tentang Kaderisasi dan Kerahasiaan

Kesyahidan para pemimpin ini memberikan pelajaran berharga bagi dunia mengenai manajemen perjuangan:

  • Kaderisasi yang Matang: Gugurnya satu pemimpin tidak membuat pergerakan lumpuh. Munculnya sosok-sosok baru dengan kualitas yang setara membuktikan bahwa sistem kaderisasi mereka berjalan dengan sempurna di balik layar.
  • Keikhlasan dalam Kerahasiaan: Hingga akhir hayatnya, publik tidak mengetahui nama asli para panglima ini. Mereka membuktikan bahwa pengabdian tidak membutuhkan panggung popularitas, melainkan hasil nyata di lapangan.

Kini, meski dunia berduka atas perginya Hudzaifah Al-Kahlut dan para panglima lainnya, semangat yang mereka tanamkan justru semakin berkobar.

Mereka telah menunaikan janji kepada Allah, meninggalkan warisan keberanian yang kini diteruskan oleh generasi berikutnya.

Semoga Allah SWT menempatkan mereka di derajat mulia dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang kita cintai di surga-Nya kelak. Aamiin. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Kabar Syahidnya Abu Ubaidah: Warisan Perjuangan yang Tak Padam di Tanah Palestina Read More »

Cahaya di Tengah Genosida: Ratusan Yatim Piatu Gaza Rayakan Kelulusan Hafidz Al-Qur’an

WAKAFDT.OR.ID | GAZA – Di balik reruntuhan bangunan dan pekatnya kabut peperangan, sebuah pemandangan mengharukan menyelimuti Kamp Pengungsi Al-Shati, Gaza Barat, pada Kamis (25/12/2025).

Sebanyak 500 pemuda dan pemudi Palestina merayakan keberhasilan mereka mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an.

Acara ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan simbol perlawanan spiritual dan keteguhan bangsa yang menolak menyerah meski ditekan agresi militer selama dua tahun terakhir.

Generasi Cahaya dari Balik Tenda

Perayaan yang diinisiasi oleh Yayasan Amal Alia Kuwait dan Yayasan Ayadi Al-Khair ini berlangsung khidmat. Mustafa Abu Threya, pengawas proyek tersebut, menyebut para wisudawan sebagai “Generasi Cahaya”.

Menurutnya, di saat masjid-masjid dan lembaga pendidikan dihancurkan oleh serangan Israel, semangat warga Gaza untuk memuliakan Al-Qur’an justru semakin membara.

“Masyarakat Gaza membuktikan bahwa keyakinan dan warisan budaya mereka tidak bisa dihancurkan oleh pengepungan. Mereka membawa pesan Islam di hati sebagai harapan bagi masa depan umat,” tegas Mustafa dalam pidatonya yang menggetarkan.

Ketangguhan Anak-Anak Yatim di Al-Mawasi

Kisah serupa juga datang dari kawasan Al-Mawasi, Khan Younis. Di kamp pengungsian khusus yatim piatu, Al-Baraka, sekitar 600 anak yang kehilangan ayah mereka akibat genosida turut merayakan pencapaian menghafal kalam Ilahi.

Nidaa Shalayel, salah satu pengawas program, berbagi kisah pilu sekaligus inspiratif. Meski kehilangan suami, dua putra, dan tiga cucunya dalam perang, ia tetap konsisten mendirikan halaqah (lingkaran) Al-Qur’an di tenda-tenda pengungsian.

“Menghafal Al-Qur’an adalah cara terbaik kami untuk meneguhkan keberadaan dan identitas di tanah ini,” ujar Nidaa. Baginya, Al-Qur’an adalah sumber martabat dan kekuatan bagi anak-anak yang telah kehilangan segala-galanya.

Salah satu wisudawan, Shahd Sbeita, seorang gadis kecil yang ayahnya gugur dalam serangan Israel, mengungkapkan tekadnya. Meski proses hafalannya sempat terhenti akibat pecahnya perang, ia kembali ke lingkaran hafalan di tengah pengungsian.

“Insya Allah, saya akan menyelesaikan seluruh hafalan saya,” ucapnya lirih namun penuh keyakinan. Ia juga menyelipkan pesan kepada dunia: “Selamatkan Gaza. Jangan lupakan kami.”

Data dari Kementerian Pembangunan Sosial di Gaza menunjukkan kenyataan pahit bahwa sekitar 40.000 anak Palestina kini telah menjadi yatim atau piatu akibat agresi yang tak kunjung usai.

Namun, melalui program hafalan ini, Gaza mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa di tengah derita yang tak terbayangkan, iman dan ketangguhan mereka tetap berdenyut kencang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Cahaya di Tengah Genosida: Ratusan Yatim Piatu Gaza Rayakan Kelulusan Hafidz Al-Qur’an Read More »

Krisis Kesehatan Mental di Israel: Ancaman Ekonomi Rp 2 Kuadriliun Akibat Trauma Perang

WAKAFDT.OR.ID | TEL AVIV — Kerugian akibat konflik bersenjata ternyata jauh melampaui kerusakan bangunan dan biaya alutsista. Laporan terbaru dari Pusat Natal Israel mengungkap adanya “bom waktu” berupa trauma psikologis massal yang mengancam stabilitas ekonomi dan sosial dalam jangka panjang.

Dikutip dari Aljazeera (24/12/2025), serangan 7 Oktober 2023 dan rangkaian perang yang mengikutinya telah memicu gelombang stres pascatrauma (PTSD) yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut.

Beban Ekonomi yang Tersembunyi

Jurnalis Mayan Hoffman melalui laporan di The Media Line memproyeksikan bahwa Israel harus menanggung beban biaya hingga 500 miliar shekel (sekitar Rp 2 kuadriliun) dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Biaya fantastis ini muncul bukan hanya dari pengobatan langsung, melainkan dari dampak tidak langsung seperti:

  • Penurunan Produktivitas: Banyak pekerja profesional (seperti insinyur) kehilangan kemampuan bekerja secara efisien akibat kelelahan mental.
  • Krisis Modal Manusia: Generasi produktif usia 25–38 tahun mulai meninggalkan bidang keahlian mereka karena trauma.
  • Beban Kesehatan Masyarakat: Lonjakan penyakit jantung, stroke yang dipicu stres, hingga ketergantungan obat-obatan terlarang dan opioid.

Lonjakan Gangguan Psikologis (PTSD) Hingga 30%

Laporan tersebut memperingatkan bahwa tingkat gangguan stres pascatrauma di Israel diprediksi akan mencapai 30% dari total populasi. Angka ini jauh melampaui rata-rata global.

Sekitar 600 ribu warga diperkirakan akan mengalami gangguan fungsi dalam belajar dan bekerja, dengan puluhan ribu di antaranya membutuhkan intervensi medis kronis. Dampak sosial lainnya yang mulai terlihat meliputi:

  • Peningkatan tajam kecelakaan lalu lintas fatal.
  • Eskalasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
  • Meningkatnya tren penggunaan obat penenang.

Menariknya, laporan ini memberikan sudut pandang alternatif: Investasi dini pada kesehatan mental adalah langkah ekonomi yang rasional.

Mengacu pada studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap $1 yang diinvestasikan untuk pengobatan depresi dan kecemasan dapat menghasilkan keuntungan $4 dalam bentuk produktivitas yang meningkat.

Pusat Natal mendesak pemerintah untuk melakukan reformasi struktural, termasuk integrasi layanan psikologis di tempat kerja dan sekolah.

Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Militer

Pakar studi prediktif, Dr. Walid Abdul Hayi, dalam kajiannya di Pusat Zaytuna, menyoroti konsekuensi fatal dari gangguan psikologis ini, yakni meningkatnya angka bunuh diri.

Data menunjukkan adanya tren kenaikan kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel pasca-serangan Hamas. Hal ini menjadi perhatian serius para psikolog mengingat posisi Israel yang sebelumnya sudah memiliki tingkat bunuh diri yang signifikan di kawasan tersebut. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Krisis Kesehatan Mental di Israel: Ancaman Ekonomi Rp 2 Kuadriliun Akibat Trauma Perang Read More »

Harta Kecil Kita Bisa Menjadi Harapan Besar di Palestina

WAKAFDT.OR.ID | GAZA- Per-9 Desember 2025, jumlah korban meninggal di Gaza telah mencapai lebih dari 70.450 jiwa, dan lebih dari 171.000 orang luka-luka.

Angka ini seolah tidak lagi menggambarkan jumlah, melainkan derai kehilangan yang tak berhenti. Di setiap nama yang tak sempat diucapkan, ada keluarga yang kini tertinggal dalam sunyi, mencoba menyusun kembali hidup yang sudah patah.

“Gencatan senjata” terdengar seperti janji istirahat. Tetapi di Gaza, setiap malam masih diusik suara ledakan yang entah datang dari mana. Ada ibu yang terbangun karena mimpi buruk yang justru nyata.

Ada anak yang takut memejamkan mata karena setiap tidur bisa menjadi yang terakhir. Seakan dunia hanya menutup mata, berharap semuanya baik-baik saja, padahal Gaza belum pernah benar-benar aman walau satu hari pun.

Gaza mungkin jauh dari kita, tetapi rasa kehilangan yang mereka alami terasa sampai sini. Ada rumah yang sudah tak berbentuk, sekolah yang kini hanya tinggal abu, dan ada doa-doa yang setiap hari dipanjatkan agar esok masih ada kesempatan untuk bangun.

Kapan mereka bisa bernapas lega? Tidak ada yang tahu. Yang mereka tahu hanya satu: hari ini harus dilewati, apa pun keadaanya.

Realitas di Lapangan

Tak ada kata “berhenti” berjuang di Gaza. Di antara reruntuhan, banyak yang masih mencari anggota keluarga yang tak kunjung ditemukan.

Setiap tubuh yang ditemukan bukan sekadar jenazah, itu adalah sisa-sisa cerita, tawa, dan harapan yang tidak lagi punya rumah untuk pulang. Gaza tidak sekedar terluka, Gaza sedang kehilangan generasinya sedikit demi sedikit.

Komitmen Wakaf DT: Bantuan Tak Boleh Putus

Di tengah kenyataan yang begitu pahit, Wakaf DT memutuskan satu hal: bantuan tidak boleh berhenti, sekalipun dunia mulai diam. Karena diam berarti membiarkan luka semakin dalam.

Program Cash Wakaf for Palestine menjadi wujud nyata dari pelukan kita untuk mereka yang hidup di bawah puing-puing dan ketakutan. Wakaf kita menjelma menjadi obat, makanan, dan secercah rasa aman yang mungkin sudah lama mereka lupa.

Dan hari ini, bantuan kita mungkin tak mengubah seluruh Gaza, tetapi bisa mengubah satu hari bagi satu keluarga. Bisa menghangatkan tubuh seorang anak. Bisa memperpanjang harapan seorang ibu.

Dari uang receh yang mungkin kita remehkan, lahirlah napas tambahan bagi mereka yang sedang berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Karena selama masih ada harapan, Wakaf DT akan terus berdiri bersamaPalestina. (SSP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Harta Kecil Kita Bisa Menjadi Harapan Besar di Palestina Read More »

Gencatan Senjata Hanya “Di Atas Kertas”, Wakaf DT Terus Gencarkan Cash Wakaf for Palestine

WAKAFDT.OR.ID | GAZA – Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat di Jalur Gaza terancam runtuh total. Di lapangan, status “jeda kemanusiaan” ini tampaknya hanya sekadar nama.

Laporan terbaru mencatat bahwa dalam kurun waktu 44 hari sejak perjanjian berlaku (10 Oktober), Israel telah melakukan setidaknya 497 pelanggaran kesepakatan.

Pelanggaran sistematis ini telah merenggut nyawa sekitar 342 warga sipil, di mana mayoritas korban adalah kelompok rentan seperti anak-anak, wanita, dan lansia.

Serangan udara masih terus dilancarkan, termasuk insiden pada hari Sabtu lalu yang menewaskan 24 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya.

Realitas Pahit di Lapangan

Kantor Media Pemerintah Gaza mengecam keras tindakan ini sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional yang mencolok.

Israel dituduh terus membatasi aliran bantuan medis yang krusial, serta memperluas pergerakan militernya melewati “garis kuning” (batas demarkasi yang disepakati) di wilayah Gaza Utara, membuat puluhan keluarga terkepung tanpa jalan keluar.

Kecemasan kian memuncak dengan laporan dari jurnalis Al Jazeera yang menyebut bahwa rasa aman warga telah hancur. Warga Gaza memandang perjanjian ini bukan sebagai komitmen damai, melainkan sekadar penarikan taktis oleh Israel untuk mempersiapkan serangan lanjutan.

Tuduhan saling lempar pun terjadi, di mana Hamas menyebut Israel mengarang alasan untuk melanjutkan “perang pemusnahan,” sementara Israel berdalih serangan mereka adalah respons terhadap ancaman pejuang.

Krisis kemanusiaan makin memilukan dengan ditemukannya jenazah warga Palestina yang dikembalikan Israel dalam kondisi mengenaskan—menunjukkan tanda-tanda penyiksaan dan mutilasi.

Tim forensik Gaza mengaku kewalahan mengidentifikasi ratusan jenazah tersebut karena minimnya peralatan laboratorium yang memadai.

Komitmen Wakaf DT: Bantuan Tak Boleh Terhenti

Melihat kondisi gencatan senjata yang rapuh dan agresi yang faktanya masih terus terjadi, Wakaf Daarut Tauhiid (Wakaf DT) mengambil sikap tegas untuk tidak mengendurkan bantuan.

Wakaf DT menyadari bahwa narasi “gencatan senjata” sering kali membuat dunia luar terlena, padahal penderitaan warga Palestina belum berakhir. Oleh karena itu, Wakaf DT memastikan program Cash Wakaf for Palestine tetap berjalan secara intensif.

“Meskipun statusnya gencatan senjata, fakta menunjukkan saudara kita masih diserang dan hidup dalam kepungan. Ini bukan saatnya berhenti, melainkan saatnya memperkuat dukungan,” ungkap perwakilan Wakaf DT.

Melalui program Cash Wakaf for Palestine, Wakaf DT mengajak masyarakat Indonesia untuk terus menyalurkan kepedulian. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa solidaritas umat tidak akan surut oleh status politik yang tidak menentu.

Dana yang terkumpul difokuskan untuk kebutuhan darurat yang mendesak akibat blokade dan serangan yang masih berlangsung, serta persiapan pemulihan jangka panjang bagi infrastruktur dan masyarakat Gaza. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan

Sumber: Republika


WAKAFDT.OR.ID

Gencatan Senjata Hanya “Di Atas Kertas”, Wakaf DT Terus Gencarkan Cash Wakaf for Palestine Read More »