Di Balik Dinding Triplek Alue Kuta: Mimpi Sederhana Nazwa yang Terkubur Lumpur
WAKAFDT.OR.ID | BIREUEN – Jemari kecil Nazwa (10) bergerak pelan, menyentuh sisa-sisa kayu yang kini berselimut lumpur kering. Di pesisir Desa Kuala Ceurape, pemandangan yang tersisa hanyalah puing.
Matanya yang bulat sesekali melirik malu, seolah menyimpan trauma yang belum sepenuhnya tuntas ia ceritakan.
Bagi siswi kelas empat SD ini, “rumah” bukan lagi bangunan kokoh tempat ia berlindung dari panas, melainkan bilik triplek tipis di pengungsian Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka. Di sinilah ia kini merajut hari, mengakrabkan diri dengan dingin yang menembus dinding sementara.
Malam Saat “Semua” Menjadi Tiada
Ingatan Nazwa masih terpaku pada satu malam di bulan Februari 2026. Saat itu, air bah datang tanpa ketukan pintu. “Malam masuk air,” kenangnya lirih.
Tak ada waktu untuk menyelamatkan boneka atau buku cerita. Sang ibu membangunkannya dengan kepanikan yang luar biasa. “Langsung lari,” tambahnya singkat.
Ketika ditanya apa yang tersisa, Nazwa hanya menjawab satu kata yang menyesakkan dada: “Semua.”

Bagi orang dewasa, “semua” mungkin berarti harta benda. Namun bagi Nazwa, “semua” adalah dunianya: tas sekolah yang setiap pagi menemaninya, buku tulis tempat ia menggoreskan cita-cita, hingga seragam putih-merah yang kini entah terkubur di mana.
Dari tiga rumah yang dulu berjejer di lingkungannya, kini rata dengan tanah. Hanya lumpur yang menjadi saksi bisu betapa ganasnya banjir bandang Aceh kala itu.
Cahaya W-RUN di Bulan Suci
Di tengah keterbatasan, Nazwa tak sendiri. Harapan-harapan kecilnya tentang rumah baru, buku tulis, dan baju lebaran kini menemukan jalan melalui program Wakaf Ramadhan Untuk Negeri (W-RUN) yang diinisiasi oleh Wakaf DT.
Program W-RUN hadir sebagai jembatan kepedulian masyarakat untuk membantu saudara-saudara kita yang terhimpit bencana, khususnya di wilayah Sumatera dan Aceh yang terdampak hebat.

Melalui instrumen wakaf, bantuan yang diberikan bukan sekadar karitatif sesaat, melainkan solusi jangka panjang bagi para penyintas seperti Nazwa.
“Mau rumah lagi. Terus ada buku tulis, tas, baju sekolah… mau baju lebaran,” bisik Nazwa saat ditanya harapannya menjelang Idul Fitri.
Membangun Kembali Harapan yang Hanyut
DT Peduli dan Wakaf DT memahami bahwa bantuan pangan saja tidak cukup. Untuk mengembalikan martabat dan keamanan para penyintas, saat ini tengah diikhtiarkan pembangunan 45 unit Hunian Tetap (Huntap) dan juga Masjid secara bertahap di Bireuen.
Melalui program W-RUN, dana wakaf dari para muwakif (pewakaf) di seluruh negeri dikonversikan menjadi tiang-tiang rumah yang kokoh bagi Nazwa dan puluhan keluarga lainnya.
Ini bukan sekadar bangunan, melainkan “ruang aman” bagi anak-anak untuk kembali belajar dan bermimpi tanpa takut terjangkau air pasang.
Seiring datangnya bulan suci, semangat W-RUN mengajak kita semua untuk memastikan bahwa Lebaran tahun ini, Nazwa tidak hanya memiliki baju baru, tapi juga memiliki kepastian akan tempat tinggal yang layak.
Wakaf yang Anda titipkan menjadi bukti nyata bahwa persaudaraan kita jauh lebih kuat daripada terjangan banjir bandang.
Di balik dinding triplek yang rentan tertiup angin itu, ada doa yang terus dipanjatkan. Dan melalui Wakaf Ramadhan, kita adalah jawaban dari doa-doa tersebut. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
Di Balik Dinding Triplek Alue Kuta: Mimpi Sederhana Nazwa yang Terkubur Lumpur Read More »










