Yayasan Daarut Tauhiid

Search
Close this search box.

Lunturnya Tradisi Membaca Dari Umat Islam

WAKAFDT.OR.IDTanpa disadari ada tradisi yang hilang dari umat Islam, yaitu tradisi membaca untuk memperkaya pengetahuan.

Membaca merupakan salah satu jalan untuk memberantas kebodohan agar menjadi berpengetahuan. Hal tersebut dipertegas dengan turunnya ayat Al-Qur’an:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,” (QS. Al Alaq: 1)

Meskipun pada hari ini teknologi semakin maju dan canggih, namun tidak menjamin kualitas manusia memiliki ilmu yang tinggi dan mendalam.

Padahal dalam Islam orang-orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah Ta’ala. Karena ilmu adalah sesuatu hal yang mahal untuk diperoleh, baik mahal secara waktu maupun mahal secara biaya.

Apa yang kita lihat dari peradaban Islam pada masa lalu merupakan wujud dari kayanya pengetahuan dengan lahirnya ilmuwan-ilmuwan yang cerdas dan pembangunan beberapa perpustakaan Islam.

Bahkan saat itu, Islam menyebar sampai ke Eropa, Rusia, Afrika hingga Asia, dan dikenal tak hanya ilmu agama saja, akan tapi juga ilmu lain seperti kedokteran, astronomi, dan lain sebagainya.

Di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, para shahabat bukan saja hanya mendengarkan wahyu atau pelajaran-pelajaran hidup yang disampaikan Nabi.

Bagi para sahabat yang tidak ikut dalam majelis Rasulullah, maka akan membaca wahyu yang ditulis dari sahabat yang lain, selain juga bertanya dan mendengar secara langsung dari sahabat yang ikut dalam majelis.

Di situ kandungan wahyu dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara efektif dikaji.

Inilah tonggak awal tradisi intelektual dan gambaran terbaik sebuah lembaga belajar mengajar dalam Islam.

Ribuan hadits berhasil dipelajari dan dicatat oleh mereka yang belajar kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Maka jangan heran, bila sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lahirlah para tokoh-tokoh besar yang hafal ribuan hadits seperti Abu Hurairah, Abu Dzar Al-Ghifari, Salman Al-Farisi, ‘Abdullah ibn Umar, ‘Abdullah ibn Mas’ud dan lainnya ridwanullah ta’ala anhum ajmain.

Satu fakta yang tidak bisa terbantahkan bahwa anak-anak Indonesia hanya ada 1 dari 10 anak yang memiliki minat baca, dan 9 dari 10 anak Indonesia lebih menyukai untuk menonton televisi.

Ada perasaan miris, kecewa, dan sedih, terlebih lagi masyarakat Indonesia mayoritas menganut agama Islam. Di mana seharusnya umat Islam memiliki semangat membaca yang tinggi.

Hal ini tentu menjadi tugas kita semua, karena boleh jadi kita juga termasuk orang yang malas untuk membaca.

Bagaimana mungkin anak-anak akan suka membaca jika orangtuanya dan lingkungan sekitarnya tidak suka membaca juga.

Islam bisa tersebar luas salah satunya adalah melalui ilmu pengetahuan yang disusun oleh para pendahulu kita yang memiliki semangat belajar dan membaca tinggi. (Wahid/Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *