Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Berkah Wakaf, Berkah Jumat di Masjid Daarut Tauhiid Bandung

Setiap hari Jumat, selepas gema salam terakhir salat Jumat berkumandang di Masjid Daarut Tauhiid Bandung, suasana berbeda segera terasa. Bukan hanya kekhusyukan yang menyelimuti jemaah, tetapi juga hadirnya kehangatan berupa kotak makan siang yang dibagikan secara cuma-cuma kepada para jemaah. Inilah wajah dari program Jumat Berkah, sebuah inisiatif sosial yang menjadi bagian dari dakwah berbasis amal nyata di lingkungan Daarut Tauhiid.

Sejak pagi, para relawan dan pengurus masjid telah bersiap menyusun dan menyiapkan ratusan boks makan siang. Makan siang ini didistribusikan setiap pekannya, dibagikan langsung kepada para jemaah yang telah menunaikan salat Jumat.

“Alhamdulillah, setiap Jumat disalurkan makan siang gratis sekitar 455 box melalui program Jumat Berkah Masjid Daarut Tauhiid Bandung. Kami ucapkan jazaakumullah khairan kepada para donatur yang telah berkontribusi pada program ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melipat gandakan amal dan kebaikannya,” ujar salah seorang pengurus DKM Masjid Daarut Tauhiid penuh syukur.

Program ini tak berdiri sendiri. Ia tumbuh dan berkembang dari akar kebaikan yang lebih dalam—yaitu keberkahan aset wakaf yang menghidupi aktivitas dakwah dan sosial di Daarut Tauhiid. Masjid Daarut Tauhiid sendiri merupakan salah satu contoh nyata dari manfaat wakaf produktif. Ia tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kebermanfaatan yang menyentuh kebutuhan nyata umat.

Melalui pengelolaan wakaf yang amanah dan profesional, Masjid Daarut Tauhiid dan program-program di sekitarnya menjadi bukti bahwa harta yang dititipkan di jalan Allah tak pernah sia-sia. Dari batu bata yang diwakafkan, tumbuh dinding yang melindungi ibadah. Dari tanah yang diserahkan, tumbuh ladang pahala yang tak terputus.

Program Jumat Berkah pun hadir sebagai salah satu buah dari pohon wakaf itu. Ia memberi bukan hanya kepada perut yang lapar, tetapi juga hati yang mendambakan kehangatan ukhuwah dan keberkahan. 

Seperti sabda Rasulullah saw, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Maka, di setiap kotak makan siang yang dibagikan, terselip doa, cinta, dan jejak wakaf yang terus mengalirkan pahala. (wakafdt)

Berkah Wakaf, Berkah Jumat di Masjid Daarut Tauhiid Bandung Read More »

Safari Dakwah Aa Gym dan Dukungan Umat untuk Masjid DT Batam

Ahad pagi, 22 Juni 2025, Masjid Darussalam – KDA, Belian, Batam Kota, menjadi pusat perhatian ratusan jemaah yang hadir dalam rangkaian Safari Dakwah Kota Batam bersama KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Mengangkat tema “Hijrahku Karena Allah”, kajian ini mengajak jemaah untuk merefleksikan kembali makna hijrah sebagai perjalanan hati menuju Allah. Bukan sekadar perubahan fisik atau rutinitas.

Dalam ceramahnya yang hangat dan penuh hikmah, Aa Gym mengingatkan, “Hijrah itu tentang memperbaiki niat dan istiqamah dalam kebaikan. Bila karena Allah, maka setiap langkah jadi keberkahan.”

Momen ini pun dimanfaatkan sebagai ajang penggalangan dana untuk pembangunan Masjid Daarut Tauhiid (DT) Batam—yang juga dikenal sebagai Masjid Rahmatan Lil ‘Alamiin. Masjid ini terletak di Jalan Trans Barelang, Tembesi, Sagulung, tepat di jantung Kawasan Wakaf Terpadu Pesantren Daarut Tauhiid Indonesia (PDTI) Batam.

Dibangun di atas lahan wakaf seluas 2.374,7 m² dan dirancang tiga lantai, masjid ini memiliki kapasitas hingga 2.000 jemaah. Walaupun masih dalam proses pembangunan, Masjid DT Batam sudah difungsikan untuk salat Jumat, kajian, dan pembinaan santri maupun masyarakat. 

Kajian Tauhid di Masjid Darussalam hari itu pun bukan hanya menyuburkan hati, tetapi juga menggerakkan semangat kolektif untuk bersama-sama menuntaskan pembangunan masjid yang akan menjadi pelita dakwah di Kepulauan Riau. Semakin banyak yang terlibat, semakin terasa keberkahan hijrah yang dilakukan bukan hanya secara pribadi, tetapi juga secara berjemaah demi tegaknya tauhid di bumi Melayu ini. (wakafdt)

Safari Dakwah Aa Gym dan Dukungan Umat untuk Masjid DT Batam Read More »

Pujasera Cilimus Tancap Gas Menuju Grand Opening

Sebuah inovasi ruang publik tengah menampakkan wajah barunya di Jalan Raya Kuningan–Cirebon. Di atas tanah wakaf seluas 960 meter persegi milik Daarut Tauhiid, kini sedang dibangun Pujasera Cilimus. Sebuah pusat kuliner dan ruang kreatif yang memadukan semangat kewirausahaan dengan nilai-nilai sosial dan spiritual khas pesantren.

Memasuki pertengahan Juni 2025, progres pembangunan proyek ini telah mencapai 50 persen. “Saat ini kami sedang pada tahap perbaikan konstruksi bangunan eksisting, pengurusan perizinan sambil jalan, perekrutan SDM, hingga promosi online. Target kami grand opening pada bulan Agustus mendatang,” ujar Riyadi Suryana, Manajer Wakaf Produktif Daarut Tauhiid.

Namun, Riyadi juga menambahkan bahwa proyek ini masih menghadapi tantangan pembiayaan. “Masih ada kekurangan dana sekitar 200 juta rupiah. Kami membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin turut berwakaf dalam proyek ini,” jelasnya.

Proyek Pujasera Cilimus sendiri telah resmi dimulai sejak pertengahan Mei 2025 dengan diawali proses pembersihan lahan, pembongkaran struktur lama, serta pengangkutan material bekas bangunan. Kini, konstruksi baru sedang dipersiapkan untuk menyambut konsep yang lebih segar dan relevan bagi masyarakat modern.

Inisiatif ini bukanlah proyek biasa. Ia merupakan hasil kolaborasi antara nazhir wakaf Daarut Tauhiid sebagai pemilik tanah, manajemen Alunea yang akan menjadi operator utama, serta sejumlah mitra strategis seperti Adira Syariah dan para investor umum. Bersama-sama, mereka menggagas model pemanfaatan aset wakaf yang produktif, berkelanjutan, dan berdampak langsung pada pemberdayaan masyarakat.

Kafe Alunea IDs akan menjadi wajah utama dari kompleks ini. Menargetkan generasi muda dan para profesional, Alunea membawa nuansa modern dan fungsional. Bukan hanya untuk bersantai atau makan, tetapi juga untuk berdiskusi, bekerja, dan berkolaborasi. Di sinilah tempat ide-ide besar dari tugas akhir, bisnis rintisan, hingga inovasi digital akan lahir dalam suasana yang nyaman dan inspiratif.

Lebih dari itu, Pujasera Cilimus akan menjadi rumah baru bagi pelaku UMKM lokal. Puluhan tenant telah disiapkan untuk menampung usaha-usaha kecil dan menengah yang aktif di sektor kuliner maupun produk rumahan. Dengan demikian, proyek ini menjadi ekosistem yang mendukung geliat ekonomi lokal sekaligus memperkaya pilihan kuliner khas Kuningan.

Melalui proyek ini, Daarut Tauhiid menunjukkan bahwa wakaf bukan hanya untuk membangun masjid atau sekolah, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif yang berdaya guna bagi umat. (wakafdt)

Pujasera Cilimus Tancap Gas Menuju Grand Opening Read More »

Joging Bersama Aa Gym: Menyusuri Keberkahan di Kawasan Wakaf Terpadu Daarut Tauhiid

Udara pagi masih sejuk saat langit Bandung mulai terang perlahan, Jumat (20/6/2025). Namun suasana di kawasan Pesantren Daarut Tauhiid sudah tampak lebih hidup. Hari ini, kebersamaan pekanan santri karya Daarut Tauhiid bersama KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) berlangsung berbeda. Jika biasanya dimulai pukul 07.30 pagi di Masjid Daarut Tauhiid, kali ini kegiatan istimewa itu diawali sejak pukul 06.30 dengan aktivitas fisik yang sederhana namun penuh makna: slow jogging keliling kawasan pesantren.

Aa Gym, pendiri dan pembina Daarut Tauhiid, langsung memimpin aktivitas tersebut. Dengan pakaian olahraga santai, beliau mengajak seluruh santri karya menyusuri jalan-jalan di sekitar pesantren yang merupakan aset wakaf. “Kita sehatkan jasmani, kita kuatkan ruhani, dan kita syukuri nikmat Allah dengan bergerak bersama,” ujar Aa Gym sambil tersenyum hangat.

Slow jogging ini berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Dimulai dari halaman depan Kantor Humas Daarut Tauhiid, rombongan menyusuri jalan-jalan yang melintasi Dome Central V dan Central VII. Raut wajah para santri karya menunjukkan semangat dan antusiasme.

“Kegiatan ini benar-benar menyegarkan. Bukan cuma badan yang terasa lebih segar, hati juga jadi lebih tenang,” ungkap Rudi, salah seorang santri karya dari bagian pendidikan. Menurutnya, momen kebersamaan sambil bergerak ringan seperti ini menjadi bentuk silaturahim yang tak biasa namun sangat efektif dalam membangun kekompakan.

Hal senada diungkapkan oleh Dita, santri karya dari bagian pesantren. “Baru pertama kali ikut olahraga slow jogging seperti ini, alhamdulillah semoga berkah,” katanya sambil menahan senyum.

Setelah jogging usai, para santri melanjutkan kebersamaan dengan kajian ringan yang disampaikan oleh Aa Gym di Dome Central V yang juga merupakan aset wakaf. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik sebagai bagian dari amanah kepada Allah.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama secara tekstual, tetapi juga ruang hidup yang utuh. Menjaga jasmani, menguatkan ruhani, dan menanamkan nilai keberkahan wakaf dalam keseharian. (wakafdt)

Joging Bersama Aa Gym: Menyusuri Keberkahan di Kawasan Wakaf Terpadu Daarut Tauhiid Read More »

Doa, Ketundukan, dan Masjid Wakaf: Renungan dari Kajian Al-Hikam Bersama Aa Gym

Kamis sore, 19 Juni 2025. Cahaya matahari mulai merunduk perlahan di ufuk barat saat lantunan zikir menggema di Masjid Daarut Tauhiid. Seusai salat Ashar, jemaah mulai memenuhi ruang utama masjid untuk mengikuti kajian Al-Hikam yang disampaikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, dari pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.

Dengan gaya penyampaian yang lembut namun dalam, Aa Gym membuka perenungan tentang doa yang belum dikabulkan. Banyak orang merasa patah harapan ketika permintaannya belum terjawab, padahal sudah merasa beribadah, taat, dan menjauhi maksiat. Menurut Aa Gym, inilah ujian keyakinan dan keikhlasan.

“Selama ini kita sedikit sekali berdoa, tapi Allah terus memberi,” ucapnya. “Kita tidak pernah minta paru-paru bekerja, tidak pernah minta mata tetap bisa melihat setiap hari, tapi semua itu terus Allah berikan.”

Doa, kata Aa Gym, bukanlah upaya untuk memberitahu Allah. Allah Maha Mengetahui segala isi hati, bahkan sebelum lisan ini berbicara. Hakikat dari doa adalah penghambaan. Maka yang paling penting bukan seberapa fasih seseorang berbicara dalam doanya, tapi bagaimana hati berserah dengan prasangka baik kepada-Nya.

Aa Gym menekankan bahwa dalam berdoa, seseorang tidak boleh merasa berjasa karena telah melakukan amal ibadah. Sebaliknya, ia harus merasa fakir, lemah, dan tak memiliki daya apa pun kecuali yang Allah izinkan. Dalam kalimat la hawla wa la quwwata illa billah, terkandung makna kepasrahan total seorang hamba. Kita tidak bisa menggerakkan jari pun jika bukan karena izin-Nya.

“Kalau dalam doa kita masih berkata, ‘Saya sudah tahajud, saya sudah sedekah,’ maka kita belum sepenuhnya menjadi hamba,” lanjut Aa Gym. “Itu artinya masih ada rasa memiliki, padahal semua amal itu pun Allah yang memampukan.”

Masjid Daarut Tauhiid yang menjadi tempat berlangsungnya kajian ini sendiri merupakan bukti nyata makmurnya aset wakaf. Masjid ini bukan hanya berdiri megah, tapi juga hidup dan penuh fungsi. Di sinilah wakaf bukan sekadar harta yang ditinggalkan, melainkan amal jariyah yang terus mengalirkan manfaat. Setiap hari, dari masjid ini lahir semangat perbaikan diri, pemurnian tauhid, dan penguatan adab sebagai hamba Allah.

Suasana sore itu begitu syahdu. Suara Aa Gym yang menyampaikan dengan ketenangan, seolah menuntun para jemaah untuk menggali ulang niat dalam beribadah. Ia pun menutup kajian dengan pengingat: jika dalam tausiyah ini ada manfaat yang sampai, itu karena Allah menghendakinya. Namun jika niatnya untuk mencari pengakuan manusia, maka bisa jadi justru menjadi sebab dosa.

Masjid wakaf seperti Daarut Tauhiid telah menjadi saksi jutaan doa yang terucap dalam sunyi. Ia adalah tempat di mana ketundukan dilatih, dan keyakinan dipupuk. Dan di sinilah doa menemukan bentuk sejatinya—bukan tentang permintaan yang dijawab, tapi tentang seberapa dalam kita mengenal posisi kita sebagai hamba. (wakafdt)

Doa, Ketundukan, dan Masjid Wakaf: Renungan dari Kajian Al-Hikam Bersama Aa Gym Read More »

Kembalikan Cahaya Peradaban dari Masjid Melalui Wakaf

Menilik sejarah Islam, masjid bukan hanya tempat sujud, tapi pusat peradaban. Dari masjid, ilmu menyebar, ekonomi tumbuh, keadilan ditegakkan, dan masyarakat dibina. Masjid Nabawi di Madinah bukan hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga pusat pemerintahan, tempat belajar, rumah musyawarah, bahkan markas sosial yang menggerakkan kepedulian umat.

Inilah cahaya peradaban yang terpancar dari masjid. Terang yang menuntun manusia pada kemuliaan dan kemajuan.

Masjid Bukan Sekadar Tempat Sujud

Namun kini, tidak sedikit masjid yang hanya menjadi bangunan sunyi. Megah, tapi minim fungsi. Ramai saat Ramadhan, sepi saat waktu biasa. Padahal di tengah krisis moral, kegersangan spiritual, dan meredupnya semangat kolektif umat, kita butuh lebih dari sekadar tempat salat. Kita butuh masjid yang kembali menyala sebagai pusat kehidupan.

Masjid harus hadir sebagai pusat aktivitas umat, tempat bertemunya nilai ibadah dan kepedulian sosial. Masjid yang ideal bukan hanya tempat untuk mengkhatamkan bacaan Al-Quran, tapi juga tempat mengentaskan buta huruf. Bukan hanya tempat berbuka puasa, tapi juga tempat menghapus lapar sepanjang tahun. Inilah masjid yang hidup, masjid yang berdampak.

Wakaf: Energi Abadi untuk Menghidupkan Masjid

Untuk itulah wakaf hadir. Wakaf bukan sekadar ibadah, tapi solusi jangka panjang yang berdampak luas. Ketika seseorang berwakaf untuk masjid, ia tidak hanya membangun fisik, tapi juga menghidupkan ruh peradaban. Wakaf bisa mewujudkan masjid yang berfungsi sebagai pusat edukasi dengan perpustakaan, taman baca, bahkan kelas tahfiz. Wakaf bisa menjadikan masjid sebagai pusat ekonomi dengan koperasi syariah, kantin umat, atau pelatihan keterampilan. Bahkan, wakaf bisa menyokong layanan kesehatan dan sosial yang berpijak dari masjid.

Di sinilah letak kekuatan wakaf: asetnya tetap, manfaatnya terus mengalir. Sebuah tanah wakaf yang dibangun menjadi masjid akan terus mendatangkan pahala dan manfaat selama masjid itu digunakan. Dan ketika masjid itu menjadi titik bangkit masyarakat—mengentaskan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan—maka wakaf itu sejatinya telah menyalakan obor peradaban.

Saatnya Umat Bergerak Bersama

Gerakan menghidupkan kembali cahaya peradaban dari masjid tidak perlu menunggu kita menjadi orang kaya. Wakaf hari ini bisa dimulai dengan wakaf uang, meski hanya senilai satu gelas kopi. Jika berjemaah, potensi umat luar biasa. Bayangkan, jika satu juta muslim menyisihkan Rp10.000 per bulan untuk wakaf masjid, dalam setahun kita bisa membangun ratusan pusat peradaban.

Di antara contoh nyata pengelolaan wakaf masjid yang produktif adalah di Daarut Tauhiid, Bandung. Melalui Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid, dana wakaf dikelola secara profesional untuk mendukung berbagai program berbasis masjid. Masjid Daarut Tauhiid tidak hanya digunakan untuk ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pembinaan karakter, pelatihan kewirausahaan, hingga layanan sosial bagi masyarakat. Program seperti pesantren tahfiz, klinik wakaf, dan pemberdayaan UMKM, semuanya berpijak dari semangat wakaf.

Inilah bukti bahwa wakaf bisa menjadikan masjid sebagai rumah pembentukan akhlak, keilmuan, dan kepedulian sosial yang berkelanjutan. Menghidupkan kembali peradaban dari masjid bukanlah romantisme masa lalu. Tapi merupakan keniscayaan hari ini dan harapan untuk masa depan. Dan wakaf adalah kuncinya.

Mari berwakaf. Mari kembalikan cahaya peradaban—dari masjid, untuk umat, sepanjang zaman. (wakafdt)

Kembalikan Cahaya Peradaban dari Masjid Melalui Wakaf Read More »

Menanam Kebaikan, Menuai Keabadian: Inspirasi Wakaf dari Empat Tokoh Besar

Wakaf sering dipahami sebatas sumbangan harta, seperti tanah atau bangunan. Padahal, esensinya jauh lebih dalam. Wakaf adalah wujud pengabdian dan dedikasi untuk meninggalkan jejak kebaikan yang terus mengalir bagi umat dan peradaban.

Tulisan ini merangkum kisah empat tokoh inspiratif yang memaknai wakaf secara luas. Dari wakaf hati Aa Gym, warisan ilmu Buya Hamka, perjuangan KH. Hasyim Asy’ari, hingga inisiatif pendidikan Tun Dr. Mahathir. Mereka membuktikan bahwa wakaf bisa dilakukan siapa saja, dengan apa pun yang dimiliki asal diniatkan untuk maslahat yang berkelanjutan.

Aa Gym: Membangun Peradaban dengan Wakaf Hati

KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym adalah salah satu tokoh wakaf yang memberi contoh nyata bagaimana wakaf bisa menjadi fondasi peradaban. Melalui Daarut Tauhiid, Aa Gym menggagas wakaf bukan hanya sebagai amal harta, tapi sebagai wujud pengabdian hidup.

Sejak awal berdirinya, banyak sarana pendidikan, pesantren, hingga layanan sosial di lingkungan Daarut Tauhiid yang dibangun dan dikembangkan lewat semangat wakaf. Bukan dari satu-dua orang kaya, melainkan dari jemaah yang menyisihkan sebagian rezekinya dengan niat jariyah.

Bahkan konsep “wakaf hati” yang sering disampaikan Aa Gym mengajarkan bahwa setiap orang bisa menjadi wakif, bukan hanya dengan uang, tetapi juga dengan waktu, pikiran, tenaga, bahkan kesabaran dalam berdakwah. Dari sinilah Daarut Tauhiid tumbuh menjadi lembaga wakaf produktif yang menghidupkan nilai-nilai tauhid dan pemberdayaan.

Wakaf versi Aa Gym bukan sekadar donasi, tapi jalan untuk mendekat kepada Allah sembari meninggalkan jejak kebaikan yang terus mengalir meski jasad telah tiada.

Buya Hamka: Wakaf Ilmu yang Mengalir Tanpa Henti

Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), ulama dan sastrawan besar Indonesia, mungkin tidak mewakafkan tanah atau bangunan dalam jumlah besar. Namun, warisan wakafnya tertuang dalam bentuk ilmu dan tulisan yang ia dedikasikan sepenuh hati untuk umat.

Lewat karya-karyanya seperti Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka mewakafkan pengetahuannya untuk generasi sepanjang masa. Bahkan dalam kondisi sulit—seperti saat dipenjara tanpa pengadilan oleh rezim Orde Lama—ia tetap menulis dan menyebarkan hikmah. Ia pernah berkata, “Penjara telah memerdekakan jiwaku, dan tafsir ini adalah buahnya.”

Bagi Buya, ilmu adalah wakaf terbaik. Dan hari ini, jutaan umat Islam masih mendapat manfaat dari pemikiran dan keteladanannya.

KH. Hasyim Asy’ari: Wakaf Pesantren sebagai Benteng Umat

Pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari, dikenal sebagai ulama pejuang yang mewakafkan hidupnya untuk pendidikan dan kemandirian umat. Pada tahun 1899, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Tanah, waktu, dan seluruh perjuangannya ia wakafkan untuk mencetak ulama, pemimpin, dan pejuang bangsa.

Pesantren ini tumbuh menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Indonesia, dan telah melahirkan tokoh-tokoh penting seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Apa yang beliau wakafkan lebih dari sekadar bangunan. KH. Hasyim Asy’ari mewakafkan visi besar: membangun umat yang kuat secara ruhani dan intelektual.

Tun Dr. Mahathir dan Wakaf Pendidikan

Di Malaysia, wakaf tak hanya digunakan untuk membangun masjid dan pemakaman. Salah satu contoh paling menginspirasi datang dari inisiatif wakaf pendidikan yang didukung oleh tokoh nasional, Tun Dr. Mahathir Mohamad.

Ketika menjabat sebagai Perdana Menteri, beliau mendorong pendirian Wakaf Ilmu melalui Yayasan Wakaf Malaysia. Tujuannya sederhana tapi sangat bermakna: agar setiap rakyat, termasuk yang kurang mampu, bisa mendapatkan akses pendidikan berkualitas dari dana wakaf yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

Program ini memungkinkan masyarakat menyumbang mulai dari jumlah kecil—bahkan hanya 10 ringgit Malaysia—untuk mendanai beasiswa, pembangunan fasilitas sekolah, dan pembelian perlengkapan belajar. Hasilnya? Ribuan anak-anak di daerah tertinggal kini bisa mengenyam pendidikan tanpa beban biaya.

Kisah ini menunjukkan bahwa siapa pun bisa ikut dalam kebaikan wakaf. Tak harus kaya raya, yang penting adalah niat, ketulusan, dan komitmen untuk memberi manfaat jangka panjang. Karena wakaf bukan hanya tentang harta, tapi tentang dedikasi untuk maslahat umat. (wakafdt)

Menanam Kebaikan, Menuai Keabadian: Inspirasi Wakaf dari Empat Tokoh Besar Read More »

Dari Wakaf Umat, Lahir Generasi Pelopor

Rabu pagi, 18 Juni 2025, udara Sukasari terasa lebih khidmat. Di halaman yang akan menjadi saksi tegaknya Gedung Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid, ratusan mata menyimak dan hati tergetar mendengar sambutan hangat dari pendiri Daarut Tauhiid, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).

Dengan suara yang tenang namun penuh getaran makna, Aa Gym membuka sejarah panjang lahirnya program Santri Siap Guna. Sebuah gagasan yang tercetus di tengah kesunyian Mina, di antara tenda-tenda i’tikaf para jemaah haji. “SSG ini bukan sekadar pelatihan fisik, tapi pembentukan karakter. Karakter pelopor, mandiri, dan khidmat,” tutur beliau.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, SSG telah melahirkan 17.037 alumni dari 50 angkatan, tersebar di berbagai penjuru dunia. Mulai dari yang menjadi pejabat hingga pemilik usaha. Namun, yang terpenting, kata Aa Gym, “Mereka adalah pelopor kebaikan, siap menjadi yang pertama menolong dan berbuat, bukan menunggu diperintah.”

Dalam sambutannya, Aa Gym menegaskan bahwa karakter SSG dibangun dalam dua pilar besar: Baik dan Kuat. Santri diajarkan untuk memiliki karakter Baik, yakni ikhlas seperti gula yang tetap manis meski disebut “penyakit,” jujur dan tepercaya, serta tawadu’ agar siap belajar dan bertumbuh. “Yang suka menonjolkan diri itu, maaf ya, ambeien,” ujarnya, memancing tawa hadirin sambil mengingatkan agar tetap rendah hati.

Sementara karakter Kuat diwujudkan melalui keberanian mengambil keputusan, disiplin tinggi, dan ketangguhan menghadapi ujian hidup. “Tidak ada kekuatan tanpa disiplin. Air menetes saja bisa melubangi batu, karena konsistensi,” tegasnya.

Dalam momen penuh makna itu, Aa Gym juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada sosok yang turut membidani perkembangan Daarut Tauhiid: alm. Nur Hadi Al-Masri. Seorang prajurit yang pertama kali dikenalnya di Singapura, lalu memilih mengabdi di lingkungan pesantren. “Beliau ini bukan hanya hadir, tapi membesarkan Daarut Tauhiid dalam diam dan kerja nyata,” ungkap Aa Gym dengan mata berkaca.

Sebagai bentuk penghormatan, salah satu ruangan dalam Gedung SSG yang baru akan diberi nama Ruang Nur Hadi Al-Masri. “Pahalanya insya Allah terus mengalir, karena setiap kebaikan yang lahir dari tempat ini akan menyambung kepada beliau,” ucap Aa Gym.

Gedung Santri Siap Guna ini dibangun di atas tanah wakaf dan dibiayai sepenuhnya dari dana wakaf umat, sebagai wujud nyata partisipasi masyarakat dalam mencetak generasi pelopor kebaikan. Dalam sambutannya, Aa Gym mengajak seluruh alumni dan jemaah untuk terus berkontribusi, karena sedekah dan wakaf adalah investasi abadi yang takkan pernah merugikan.

“Tidak akan berkurang harta karena bersedekah. Jariyah itu artinya mengalir, dan setiap amal kebaikan yang terjadi di tempat ini akan terus mengalirkan pahala bagi para muwakif,” ujarnya.

Gedung ini ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun. Dengan semangat kebersamaan, prosesi peletakan batu pertama ditutup dengan doa yang menggema ke langit Sukasari. Sebuah langkah awal dari perjalanan panjang yang telah dirintis sejak tahun 1999, untuk melahirkan insan pelopor, mandiri, khidmat, dan berjiwa tangguh. Dari Mina ke Sukasari, dari satu ide ke ribuan aksi nyata. Itulah Santri Siap Guna. (wakafdt)

Dari Wakaf Umat, Lahir Generasi Pelopor Read More »

Gedung SSG Mulai Dibangun: Wakaf Umat untuk Pendidikan dan Solusi Kawasan

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi bagian terbangunnya Gedung SSG ini. Semoga kebaikan yang ada di gedung ini, pahala jariyah mengalir kepada kita semua,” ujar Dr. Muhammad Iskandar, S.I.P., M.M., Ketua Yayasan Daarut Tauhiid Peduli, dalam sambutannya saat peletakan batu pertama Gedung Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid pada Rabu pagi, 18 Juni 2025.

Gedung ini dibangun atas dasar semangat wakaf kolektif, menjadi simbol nyata dari partisipasi umat dalam menghadirkan fasilitas pendidikan yang bermanfaat jangka panjang. Dana sebesar Rp3,02 miliar dialokasikan dari wakaf untuk mewujudkan bangunan empat lantai seluas total 532 meter persegi. Lantai pertama akan difungsikan sebagai area parkir, lantai kedua sebagai ruang perkantoran, sementara lantai ketiga dan keempat akan menjadi aula, ruang kelas, dan pusat aktivitas santri.

Pelaksana Tugas Camat Sukasari, Suharyanto, juga menyampaikan apresiasinya atas pembangunan ini. “Tentunya hari ini sangat berbahagia diundang dalam acara peletakan batu pertama untuk pembangunan Gedung SSG yang berada di lingkungan Pesantren Daarut Tauhiid,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran SSG tidak hanya akan membawa manfaat bagi para santri, tetapi juga memiliki dampak luas bagi masyarakat.

“Kami berharap kehadiran SSG ini dapat mencerdaskan bangsa dan menyejahterakan masyarakat. Salah satu yang kami apresiasi adalah adanya area parkir di gedung ini yang sangat berselaras dengan kebutuhan wilayah kami. Jalan Gegerkalong Girang ini volume kendaraannya luar biasa, dan lahan parkir sangat terbatas. Pembangunan ini membantu secara kolaboratif menata kepadatan lalu lintas yang selama ini jadi tantangan,” jelasnya.

Prosesi peletakan batu pertama ini bukan hanya momentum simbolik, tetapi juga awal dari realisasi harapan besar. Diharapkan, proses pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun. Dr. Iskandar juga menegaskan komitmen Daarut Tauhiid untuk mengelola dana wakaf secara profesional dan transparan. “Insya Allah semuanya akan diaudit,” ujarnya menutup sambutan.

Gedung SSG bukan sekadar struktur bangunan, tapi juga wadah tumbuhnya generasi berakhlak dan berilmu, sekaligus solusi lingkungan yang konkret. Melalui wakaf, Daarut Tauhiid kembali menegaskan bahwa membangun fisik adalah jalan membangun peradaban. (wakafdt)

Gedung SSG Mulai Dibangun: Wakaf Umat untuk Pendidikan dan Solusi Kawasan Read More »

Keberkahan di Atas Lahan Wakaf: Semangat Yati dalam Tasyakuran Qurban Santri Karya

Mentari pagi belum tinggi saat langkah-langkah penuh semangat mengarah ke Dome Central V Daarut Tauhiid. Di antara para santri karya yang hadir, tampak Yati—salah seorang santri akhwat—berjalan cepat dengan wajah berseri. Hari ini bukan hari biasa, karena tausiyah rutin yang biasa ia ikuti setiap Jumat pagi terasa lebih istimewa: diikuti dengan tasyakuran dan makan bersama daging qurban.

Acara Tausiyah dan Tasyakuran Qurban Santri Karya ini digelar pada Jumat, 13 Juni 2025, pukul 07.30 WIB di Dome Central V, salah satu pusat kegiatan Daarut Tauhiid yang berdiri kokoh di atas lahan wakaf. Lahan yang tidak hanya menjadi tempat berkumpul, namun juga menjadi sumber keberkahan dalam membentuk karakter dan kebersamaan para santri karya.

Tausiyah pagi itu disampaikan oleh Ustadz Budi Prayitno, menggantikan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang sedang menunaikan ibadah haji. Meski sempat merasa rindu mendengar suara khas Aa Gym, Yati justru menemukan makna mendalam dari materi yang disampaikan Ustadz Budi, yakni tentang Esensi Spiritual Ibadah Haji dalam Membangun Kinerja dan Loyalitas.

“Rasanya seperti diingatkan kembali, kalau kerja keras kita di sini juga bisa menjadi ladang ibadah kalau niatnya benar,” ujar Yati usai acara. “Dan ketika disampaikan di tempat seperti Dome Central V ini, saya merasa doa-doa itu lebih mudah naik ke langit,” tambahnya sambil tersenyum.

Tasyakuran yang menyusul selepas tausiyah menambah kehangatan pagi itu. Potongan-potongan daging qurban yang telah disembelih beberapa hari lalu kini tersaji dalam bentuk hidangan sederhana tapi penuh makna. Bagi Yati, bukan hanya rasa syukurnya yang bertambah, tapi juga rasa kebersamaan dengan sesama santri karya.

“Dome ini bukan hanya bangunan, tapi saksi semangat kami. Dulu mungkin lahan ini kosong, sekarang jadi tempat belajar, beribadah, dan berbagi,” kata Yati sambil menatap langit-langit Dome yang tinggi. Lahan wakaf yang menjadi tempat berdirinya Dome Central V, menurutnya adalah simbol nyata bahwa kebaikan yang ditanam akan tumbuh dan berbuah, seperti pagi ini.

Dalam suasana hangat, senyum dan obrolan santri karya saling bersahutan. Di tengah aroma hidangan qurban dan gema tausiyah yang masih membekas, Yati tahu, kebersamaan di atas lahan wakaf ini adalah nikmat yang tak semua orang rasakan. Sebuah keberkahan yang patut dijaga dengan kerja, doa, dan loyalitas. (wakafdt)

Keberkahan di Atas Lahan Wakaf: Semangat Yati dalam Tasyakuran Qurban Santri Karya Read More »