Wakaf Daarut Tauhiid

Doa, Ketundukan, dan Masjid Wakaf: Renungan dari Kajian Al-Hikam Bersama Aa Gym

Kamis sore, 19 Juni 2025. Cahaya matahari mulai merunduk perlahan di ufuk barat saat lantunan zikir menggema di Masjid Daarut Tauhiid. Seusai salat Ashar, jemaah mulai memenuhi ruang utama masjid untuk mengikuti kajian Al-Hikam yang disampaikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, dari pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.

Dengan gaya penyampaian yang lembut namun dalam, Aa Gym membuka perenungan tentang doa yang belum dikabulkan. Banyak orang merasa patah harapan ketika permintaannya belum terjawab, padahal sudah merasa beribadah, taat, dan menjauhi maksiat. Menurut Aa Gym, inilah ujian keyakinan dan keikhlasan.

“Selama ini kita sedikit sekali berdoa, tapi Allah terus memberi,” ucapnya. “Kita tidak pernah minta paru-paru bekerja, tidak pernah minta mata tetap bisa melihat setiap hari, tapi semua itu terus Allah berikan.”

Doa, kata Aa Gym, bukanlah upaya untuk memberitahu Allah. Allah Maha Mengetahui segala isi hati, bahkan sebelum lisan ini berbicara. Hakikat dari doa adalah penghambaan. Maka yang paling penting bukan seberapa fasih seseorang berbicara dalam doanya, tapi bagaimana hati berserah dengan prasangka baik kepada-Nya.

Aa Gym menekankan bahwa dalam berdoa, seseorang tidak boleh merasa berjasa karena telah melakukan amal ibadah. Sebaliknya, ia harus merasa fakir, lemah, dan tak memiliki daya apa pun kecuali yang Allah izinkan. Dalam kalimat la hawla wa la quwwata illa billah, terkandung makna kepasrahan total seorang hamba. Kita tidak bisa menggerakkan jari pun jika bukan karena izin-Nya.

“Kalau dalam doa kita masih berkata, ‘Saya sudah tahajud, saya sudah sedekah,’ maka kita belum sepenuhnya menjadi hamba,” lanjut Aa Gym. “Itu artinya masih ada rasa memiliki, padahal semua amal itu pun Allah yang memampukan.”

Masjid Daarut Tauhiid yang menjadi tempat berlangsungnya kajian ini sendiri merupakan bukti nyata makmurnya aset wakaf. Masjid ini bukan hanya berdiri megah, tapi juga hidup dan penuh fungsi. Di sinilah wakaf bukan sekadar harta yang ditinggalkan, melainkan amal jariyah yang terus mengalirkan manfaat. Setiap hari, dari masjid ini lahir semangat perbaikan diri, pemurnian tauhid, dan penguatan adab sebagai hamba Allah.

Suasana sore itu begitu syahdu. Suara Aa Gym yang menyampaikan dengan ketenangan, seolah menuntun para jemaah untuk menggali ulang niat dalam beribadah. Ia pun menutup kajian dengan pengingat: jika dalam tausiyah ini ada manfaat yang sampai, itu karena Allah menghendakinya. Namun jika niatnya untuk mencari pengakuan manusia, maka bisa jadi justru menjadi sebab dosa.

Masjid wakaf seperti Daarut Tauhiid telah menjadi saksi jutaan doa yang terucap dalam sunyi. Ia adalah tempat di mana ketundukan dilatih, dan keyakinan dipupuk. Dan di sinilah doa menemukan bentuk sejatinya—bukan tentang permintaan yang dijawab, tapi tentang seberapa dalam kita mengenal posisi kita sebagai hamba. (wakafdt)