Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Aa Gym: Apa yang Membuat Orang Lain Menjauhi Kita?

WAKAFDT.OR.IDSahabat-sahabatku yang baik, apa kabar hati hari ini? Mari kita sejenak bertafakur, mengapa ya ada orang yang kalau dekat dengan kita rasanya ingin cepat-cepat pergi? Atau mengapa kita rasanya sulit sekali menyatu dengan orang lain?

Coba cek hati kita. Jangan-jangan, hati kita ini sedang membatu. Mari kita selami mutiara hikmah dari Surah Ali-Imran ayat 159. Di sana Alloh Ta’ala berfirman bahwa Rasulullah SAW itu bisa bersikap lemah lembut itu semata-mata karena rahmat Alloh. Kalau beliau itu kasar, hatinya keras, waah… pasti orang-orang sudah lari menjauh.

Rasulullah itu kalau bertemu orang, bukan cuma fisiknya yang hadir, tapi hati dan pikirannya tulus memperhatikan. Nah, ini dia masalahnya. Kita ini seringkali berdekatan secara fisik, tapi jarak hati kita sejauh langit dan bumi. Mengapa? Karena hati kita kurang dilatih.

Lalu bagaimana kiatnya supaya hati kita lembut dan bening? Mari kita simak 4 Kiat Melembutkan Hati ala Manajemen Qolbu:

1. Sibukkan Diri Mengingat Jasa Orang Lain

Penyakit kita ini adalah sering ingat jasa sendiri, tapi lupa jasa orang lain. Coba deh, pikirkan pengorbanan orang-orang yang jadi jalan kita kenal Alloh. Pikirkan guru-guru kita yang tulus membimbing dari jalan yang gelap ke jalan yang terang.

Dulu mungkin kita ini hamba dunia, sombong, atau bahkan terjebak kemunafikan. Tapi lewat doa dan keringat guru-guru kita, kita jadi kenal akhirat. Ingat-ingatlah nikmat iman dan islam ini. Kalau kita sibuk mengingat jasa orang, hati akan merasa kecil dan malu untuk bersikap kasar.

2. Berlatih Empati, Rasakan Perasaan Orang Lain

Hati-hati, Sahabatku. Jangan sampai kita jadi ahli ibadah tapi hatinya keji. Sholat rajin, tapi lisan tajam menyakiti orang. Ingat Surah Qaaf ayat 16-18, Alloh itu lebih dekat dari urat leher kita! Setiap bisikan hati dan ucapan kita, ada Malaikat Roqib dan Atid yang mencatat.

Coba deh, jangan cuma mementingkan perasaan sendiri. Belajarlah merasakan kepedihan orang lain. Boleh jadi ada orang yang tidak dikenal penduduk bumi, tapi namanya harum di langit karena ketulusan hatinya.

3. Senang Mendoakan Orang Lain

Salah satu cara paling ampuh melembutkan hati adalah dengan menebar salam. Tapi salamnya jangan cuma di lisan, harus pakai hati.

Assalamu’alaikum… (Ya Alloh, selamatkanlah saudara saya ini).

Warohmatulloh… (Ya Alloh, sayangi dia).

Wabarokatuh… (Ya Alloh, berkahi hidupnya). Kalau kita tulus menginginkan kebaikan bagi orang lain, mustahil hati kita bisa keras kepada mereka.

4. Ringan Tangan dalam Silaturahim dan Berbagi

Jangan jadi orang yang hobi mengumpulkan harta tapi pelit berbagi. Silaturahimlah, bawa hadiah. Punya uang jangan cuma ditumpuk, tapi jadikan manfaat. Orang yang hatinya keras itu biasanya egois, yang dipikirkan cuma “saya, saya, dan saya”.

Sahabatku, orang yang paling rugi adalah orang yang merasa dirinya sudah baik, sudah berjasa, dan sudah benar. Hati yang seperti ini tidak akan membuat nyaman siapa pun.

Maka, mari kita sibuk memikirkan dosa sendiri, bukan sibuk menghakimi orang lain. Insya Alloh, kalau hati sudah lembut, hidup akan lebih berkah dan kehadiran kita akan menjadi penyejuk bagi sesama.

Alhamdulillah, semoga bahasan singkat ini menjadi jalan hidayah bagi kita semua. Apakah Sahabat ingin saya buatkan rangkuman “Checklist Evaluasi Diri” berdasarkan poin-poin di atas agar lebih mudah dipraktikkan sehari-hari?

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Apa yang Membuat Orang Lain Menjauhi Kita? Read More »

Malik bin Dinar: Memberi di Tengah Kekurangan

WAKAFDT.OR.IDBagi kebanyakan orang, rasa lapar dan keinginan yang kuat adalah sinyal untuk segera dipuaskan. Namun, bagi Malik bin Dinar, seorang sufi besar sekaligus murid dari Hasan al-Bashri, rasa lapar justru menjadi panggung tempat ia memenangkan pertempuran melawan egonya sendiri.

Puasa Panjang Sang Ahli Kaligrafi

Dalam catatan kitab Tadzkiratul Auliya karya penyair besar Fariduddin Attar, dikisahkan bahwa selama bertahun-tahun lidah Malik bin Dinar tidak pernah mengecap rasa manis maupun asam.

Kesehariannya sangat sederhana: ia hanya berbuka puasa dengan dua potong roti kering yang dibelinya setiap malam. Baginya, kehangatan roti yang baru matang sudah merupakan kemewahan luar biasa yang menghibur hati.

Namun, suatu ketika ujian fisik menerpanya. Di tengah kondisi tubuh yang melemah karena sakit, Malik merasakan keinginan yang amat sangat untuk menyantap daging. Selama sepuluh hari ia mencoba menekan keinginan itu, hingga akhirnya ia tak kuasa lagi menahan gejolak nafsu makannya.

Sepotong Kaki Domba dan Air Mata

Malik kemudian pergi ke pasar dan membeli beberapa potong kaki domba. Karena sifatnya yang sangat menjaga privasi ibadahnya, ia menyembunyikan makanan tersebut di balik lengan bajunya. Pemilik toko yang merasa penasaran lantas mengutus seorang pelayan untuk membuntuti sang ulama.

Pelayan itu kembali dengan wajah sembab dan mata penuh air mata. Ia menceritakan sebuah pemandangan yang menggetarkan jiwa:

Di sebuah tempat tersembunyi, Malik mengeluarkan potongan daging itu. Bukan untuk dimakan, ia hanya mencium aromanya sambil berbisik pada dirinya sendiri, “Wahai diri, lebih dari ini bukanlah hakmu.”

Tanpa ragu, ia menyerahkan daging dan rotinya kepada seorang pengemis yang ia temui. Kepada tubuhnya yang renta, Malik berkata dengan penuh kasih namun tegas, bahwa penahanan diri ini bukan karena ia benci pada fisiknya, melainkan demi menyelamatkan sang jasad dari api neraka kelak, demi sebuah kebahagiaan yang abadi di akhirat.

Kecerdasan di Balik Kesahajaan

Banyak orang beranggapan bahwa tidak mengonsumsi daging dalam waktu lama dapat menurunkan ketajaman berpikir. Namun, Malik bin Dinar mematahkan anggapan tersebut. Beliau pernah berujar bahwa meski ia tidak menyentuh daging selama dua puluh tahun, kecerdasan akalnya justru terus terasah dan meningkat.

Hal ini terbukti dari rekam jejaknya. Putera dari seorang budak asal Persia ini tidak hanya dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi juga sebagai:

  • Perawi Hadis Terpercaya: Beliau merawikan hadis-hadis sahih dari para sahabat besar seperti Anas bin Malik dan tokoh tabiin Ibnu Sirin.
  • Ahli Kaligrafi Al-Qur’an: Tangannya yang terampil menyalin kalam Ilahi dengan estetika yang luar biasa.

Malik bin Dinar wafat sekitar tahun 748 M (130 H), meninggalkan warisan berupa keteladanan tentang bagaimana seharusnya seorang hamba memosisikan nafsu di bawah kendali iman.

Redaktur: Wahid Ikhwan

Sumber: Republika


WAKAFDT.OR.ID

Malik bin Dinar: Memberi di Tengah Kekurangan Read More »

Di Tengah Reruntuhan, Ratusan Mahasiswa Kedokteran Gaza Rayakan Wisuda sebagai Simbol Perjuangan

WAKAFDT.OR.ID | GAZA — Langit Gaza sore itu tampak kelabu. Di halaman Rumah Sakit Al-Shifa, bangunan yang sebagian dindingnya runtuh dan lantainya dipenuhi puing, berdiri barisan mahasiswa kedokteran mengenakan toga.

Awal Januari 2026, di tempat yang biasanya dipenuhi suara ambulan dan jeritan korban, terdengar tepuk tangan pelan. Sebanyak 230 mahasiswa dan mahasiswi kedokteran resmi diwisuda—bukan di aula kampus, melainkan di tengah sisa-sisa kehancuran perang.

Momen ini dibagikan oleh jurnalis Gaza melalui akun Instagram @m.saed.gaza. Kamera menangkap wajah-wajah muda yang menahan haru: senyum yang rapuh, mata yang berkaca-kaca, dan langkah kaki yang mantap meski tanah di bawahnya retak.

Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada panggung tinggi. Hanya deretan kursi sederhana dan kain seadanya, namun suasananya penuh makna.

Para lulusan ini berasal dari berbagai perguruan tinggi di Jalur Gaza. Selama masa studi, mereka tidak hanya belajar teori medis, tetapi juga menjadi relawan di rumah sakit, merawat korban luka, dan menyaksikan kehilangan setiap hari.

Wisuda ini digelar sebagai bentuk penghormatan atas keteguhan mereka—bahwa di tengah perang dan keterbatasan, pendidikan tetap dijaga, dan pengabdian tetap berjalan.

Saat satu per satu naik ke panggung darurat, para mahasiswa mengibarkan bendera Palestina. Di balik toga yang dikenakan, ada kisah tentang malam-malam tanpa listrik, ruang kelas yang hancur, dan keluarga yang hidup dalam kecemasan.

Namun hari itu, semua luka sejenak disimpan. Yang terlihat hanyalah tekad untuk menjadi dokter—penjaga kehidupan di tanah yang terus diuji.

Acara wisuda di Al-Shifa ini bukan sekedar seremoni kelulusan. Ia menjadi simbol ketahanan dan kemanusiaan, sekaligus pengingat bahwa Gaza tidak hanya tentang kehancuran, tetapi juga tentang harapan yang terus diperjuangkan.

Dukungan kemanusiaan, termasuk melalui Cash for Humanity, sebuah program wakaf yang digagas oleh Wakaf DT menjadi bagian penting dalam perjuangan saudara di Palestina.

Program ini bisa menjadi upaya menjaga layanan kesehatan dan pendidikan tetap berjalan—agar mimpi para calon dokter ini tidak berhenti di tengah reruntuhan. (SSP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Di Tengah Reruntuhan, Ratusan Mahasiswa Kedokteran Gaza Rayakan Wisuda sebagai Simbol Perjuangan Read More »

Dekapan Al-Qur’an dan Mimpi Sang “Komandan” Cilik dari Meunasa Mancang

WAKAFDT.OR.ID | PIDIE JAYA — Di sela reruntuhan sisa bencana yang belum sepenuhnya hilang di Kabupaten Pidie Jaya, sebuah pemandangan hangat tersaji pada Ahad (4/1/2026) siang.

Hafis Ramadhan, bocah kelas 3 SD yang duduk di bangku MIN 4 Pidie Jaya, tampak tak berhenti menyunggingkan senyum. Di pelukannya, sebuah mushaf Al-Qur’an baru dari Wakaf DT ia dekap erat-erat.

Bagi Hafis dan kawan-kawannya di Desa Meunasa Mancang, Kecamatan Meurah Dua, kehadiran Al-Qur’an tersebut bukan sekadar tumpukan kertas.

Di tengah keterbatasan hidup di pengungsian pascabencana, kitab suci ini adalah simbol harapan sekaligus pemantik api semangat untuk kembali meramaikan pengajian.

“Siap, Komandan!”

Momen pembagian bantuan tersebut berubah menjadi haru sekaligus mengagumkan saat Hafis berbincang dengan para relawan. Di balik tubuh kecilnya, tersimpan cita-cita yang gagah. Tanpa ragu, ia mengungkapkan impiannya untuk menjaga negeri.

“Cita-cita saya ingin menjadi tentara,” ucap Hafis dengan nada bicara yang tegas dan penuh keyakinan.

Seolah ingin membuktikan keseriusannya, Hafis tiba-tiba berdiri tegak. Dengan tangan kanan, ia memberikan posisi hormat yang sempurna—sebuah gerak sigap layaknya prajurit profesional. Sementara itu, tangan kirinya tetap setia mendekap Al-Qur’an di dada.

“Siap, Komandan!” serunya lantang, memecah suasana sunyi di lokasi pengungsian dan membuat para relawan yang hadir berdecak kagum.

Membangun Mental di Tengah Keterbatasan

Melihat kobaran semangat tersebut, para relawan tak melewatkan kesempatan untuk menitipkan pesan bermakna. Mereka mengingatkan Hafis bahwa menjadi seorang prajurit tak hanya butuh fisik yang kuat, tapi juga landasan spiritual yang kokoh.

“Masya Allah, semoga cita-citanya terwujud ya, Hafis. Kuncinya harus rajin sekolah, jangan tinggal salat, dan yang paling penting, selalu berbakti kepada orang tua,” pesan salah satu relawan dengan lembut.

Program penyaluran Al-Qur’an ini merupakan bagian dari misi pemulihan psikososial yang dijalankan Wakaf DT bersama DT Peduli. Fokusnya bukan hanya pada bantuan fisik, melainkan menjaga kesehatan mental dan optimisme anak-anak di wilayah terdampak bencana.

Melalui lembaran-lembaran mushaf baru ini, diharapkan anak-anak Pidie Jaya seperti Hafis tetap memiliki pegangan teguh. Meski badai bencana sempat mengguncang tanah kelahiran mereka, mimpi-mimpi besar—seperti menjadi tentara yang religius—harus tetap tegak berdiri. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Dekapan Al-Qur’an dan Mimpi Sang “Komandan” Cilik dari Meunasa Mancang Read More »

Banjir Telah Menghanyutkan Harta Benda, Namun Tidak Dengan Iman

WAKAFDT.OR.ID | SUMATERA – Di tengah hamparan sisa lumpur dan dinding rumah yang masih basah akibat terjangan banjir yang melanda beberapa wilayah di Sumatera, ada pemandangan yang menyentuh hati.

Di antara tumpukan bantuan logistik berupa beras dan pakaian, para relawan DT Peduli tampak menggendong kotak-kotak kayu berisi “harta karun” yang sangat dinanti warga: Mushaf Al-Qur’an.

Hingga hari ini, Lembaga Wakaf DT bersama tim relawan lapangan masih terus menyisir titik-titik terdalam pemukiman warga untuk memastikan distribusi Al-Qur’an sampai ke tangan mereka yang membutuhkan.

Bukan Sekadar Pangan, Tapi Ketenangan Jiwa

Seringkali dalam masa darurat bencana, bantuan terfokus pada kebutuhan fisik seperti makanan, obat-obatan, dan pakaian. Namun, temuan tim di lapangan mengungkapkan fakta lain yang tak kalah menyentuh.

Banyak warga yang kehilangan harta bendanya, termasuk kitab suci Al-Qur’an yang rusak terendam air atau hanyut terbawa arus.

“Saat kami datang, banyak warga yang bercerita bahwa mereka ingin mengaji untuk menenangkan diri di pengungsian, tapi Al-Qur’an mereka sudah hancur tertutup lumpur. Ternyata, kebutuhan ruhani sama besarnya dengan kebutuhan jasmani,” ujar salah satu relawan di lokasi distribusi.

Langkah Kaki Relawan di Medan Sulit

Pendistribusian ini bukanlah perkara mudah. Dengan medan yang masih sulit dijangkau akibat akses jalan yang rusak, para relawan harus berjalan kaki melewati genangan air dan tanah licin demi mengantarkan amanah para muwakif.

Setiap mushaf yang dibagikan menjadi simbol harapan baru. Bagi anak-anak di pengungsian, kehadiran Al-Qur’an baru ini berarti mereka bisa kembali belajar mengaji di tengah keterbatasan. Bagi para orang tua, ini adalah teman setia untuk memanjatkan doa-doa kekuatan di masa sulit.

Amanah yang Terus Mengalir

Program pendistribusian ini merupakan bagian dari komitmen Wakaf DT untuk menyalurkan manfaat wakaf secara produktif dan tepat sasaran.

Melalui sinergi dengan DT Peduli, pendistribusian ini dipastikan menjangkau masyarakat (mauquf alaih) yang benar-benar membutuhkan dukungan moral pascabencana.

Banjir mungkin telah menghanyutkan harta benda, namun tidak dengan iman mereka. Dengan mushaf yang baru, semangat untuk bangkit kembali menyala di sanubari warga Sumatera. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Banjir Telah Menghanyutkan Harta Benda, Namun Tidak Dengan Iman Read More »

Transformasi Kemandirian Umat: Wakaf DT Optimalkan Sektor Riil Melalui Wakaf Produktif

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid (DT) terus melakukan terobosan dalam pengelolaan dana umat. Tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik masjid dan madrasah, kini Wakaf DT semakin masif mengembangkan skema Wakaf Produktif.

Program ini menyasar sektor-sektor strategis yang dikelola secara profesional untuk menghasilkan surplus berkelanjutan bagi kemaslahatan masyarakat.

Ekspansi Bisnis dari Hulu ke Hilir

Wakaf produktif yang dikelola oleh Lembaga Wakaf DT saat ini mencakup berbagai sektor ekonomi riil yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Beberapa lini bisnis utama yang tengah dijalankan meliputi:

  • Sektor Peternakan: Pengelolaan ternak ayam, kambing, dan sapi yang dikelola secara modern.
  • Sektor Pertanian & Perkebunan: Pemanfaatan lahan wakaf untuk ketahanan pangan.
  • Food & Beverage (F&B): Unit usaha kuliner yang kompetitif di pasar.
  • Layanan Air Minum Isi Ulang: Penyediaan air bersih berkualitas dengan harga terjangkau.
  • Properti & Perumahan: Pengembangan aset properti yang bernilai ekonomi tinggi.

Mekanisme: Dari Dana Umat Kembali ke Umat

Konsep dasar dari program ini adalah mengalokasikan dana wakaf sebagai modal kerja untuk menjalankan bisnis-bisnis tersebut.

Berbeda dengan wakaf konvensional yang bersifat statis, wakaf produktif diputar dalam roda ekonomi sehingga nilai pokoknya tetap terjaga sementara keuntungan (surplus) darinya terus mengalir.

Hasil dari pengelolaan bisnis produktif ini kemudian disalurkan kembali untuk berbagai kepentingan umat, di antaranya:

  • Pembangunan Fasilitas Umum: Perbaikan jalan, jembatan, dan sarana ibadah.
  • Tanggap Bencana: Bantuan cepat bagi korban bencana alam.
  • Kesejahteraan Mauquf Alaih: Pemberdayaan ekonomi keluarga prasejahtera dan pembiayaan kebutuhan sosial lainnya.

Membangun Peradaban Melalui Wakaf

Melalui program ini, Lembaga Wakaf DT mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak sekadar berdonasi, tetapi berinvestasi untuk akhirat.

Wakaf produktif dinilai menjadi kunci kemandirian umat di masa depan, di mana aset wakaf mampu membiayai kebutuhan sosial secara mandiri tanpa harus terus bergantung pada donasi baru.

Dengan wakaf produktif, satu rupiah yang diwakafkan hari ini akan terus bekerja menghasilkan manfaat yang tidak terputus bagi mereka yang membutuhkan. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Transformasi Kemandirian Umat: Wakaf DT Optimalkan Sektor Riil Melalui Wakaf Produktif Read More »

Gen Z Memimpin Literasi Al-Qur’an: Wakaf DT Perkuat Momentum Lewat Sebaran Mushaf Nasional

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA – Anggapan bahwa generasi muda mulai menjauh dari nilai-nilai spiritual kini resmi terbantahkan. Berdasarkan Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam 2025 yang dirilis Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Alvara Strategic Research, Generasi Z (Gen Z) justru mencatatkan diri sebagai kelompok dengan tingkat toleransi tertinggi dan kemampuan membaca Al-Qur’an terbaik di Indonesia.

Data tersebut menunjukkan bahwa indeks kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil pada Gen Z mencapai angka 56,29, melampaui generasi Milenial dan Baby Boomers. Temuan ini menjadi angin segar sekaligus sinyal bagi lembaga filantropi Islam seperti Wakaf Daarut Tauhiid (Wakaf DT) untuk terus mengawal tren positif ini melalui program berkelanjutan.

Menjawab Tantangan Buta Aksara Al-Qur’an

Meskipun Gen Z menunjukkan performa literasi yang unggul, tantangan besar masih membentang di berbagai pelosok Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang minim akses terhadap fasilitas pendidikan agama. Menanggapi data Kemenag tersebut, Wakaf DT semakin masif menggulirkan program Wakaf Mushaf Al-Qur’an.

Program ini bukan sekadar membagikan buku, melainkan sebuah upaya sistematis untuk:

– Menghapus Buta Baca Tulis Al-Qur’an: Menyediakan sarana utama belajar bagi masyarakat di daerah terpencil, mualaf, hingga santri yatim.

– Mendukung Budaya Tartil: Sejalan dengan temuan Kemenag, Wakaf DT ingin memastikan kualitas bacaan masyarakat meningkat dengan menyediakan mushaf yang standar dan layak.

– Penguatan Spiritual di Wilayah Bencana: Seperti distribusi 10.000 mushaf di Sumatera baru-baru ini, wakaf ini menjadi instrumen pemulihan batin bagi korban terdampak musibah.

Sinergi Data dan Aksi Nyata

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menekankan bahwa penguatan literasi kitab suci pada generasi muda harus menjadi karakter permanen bangsa. Wakaf DT mengambil peran ini melalui skema wakaf yang memfasilitasi para dermawan untuk berkontribusi secara langsung dalam menyediakan “senjata” literasi bagi generasi mendatang.

“Capaian literasi Al-Qur’an yang tinggi pada Gen Z adalah modal besar. Namun, kita tidak boleh abai terhadap mereka yang belum memiliki akses terhadap mushaf yang layak. Di sinilah program Wakaf Mushaf hadir sebagai jembatan,” ungkap perwakilan tim Wakaf DT.

Investasi Jariyah untuk Peradaban

Melalui program Wakaf Mushaf Al-Qur’an, setiap lembar yang dibaca oleh para penghafal Al-Qur’an dan masyarakat di pelosok akan menjadi pahala jariyah bagi para muwakif. Di tengah optimisme hasil survei tahun 2025 ini, Wakaf DT mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan tidak ada lagi saudara kita yang tertinggal dalam mengenal kalam Ilahi karena ketiadaan fasilitas.

Mari beraksi nyata. Dukung gerakan hapus buta huruf Al-Qur’an bersama Wakaf DT. Setiap mushaf yang sahabatwakafkan adalah investasi untuk masa depan Indonesia yang lebih religius dan toleran. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Gen Z Memimpin Literasi Al-Qur’an: Wakaf DT Perkuat Momentum Lewat Sebaran Mushaf Nasional Read More »

Memulihkan Asa di Tanah Sumatera: Jejak Cahaya Wakaf DT untuk Korban Banjir

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Bencana banjir yang melanda wilayah Sumatera—mulai dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh—bukan sekadar menyisakan duka fisik, melainkan juga tantangan spiritual bagi para penyintas.

Di tengah surutnya air yang menyisakan lumpur, harapan mulai dipupuk kembali melalui aksi nyata Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid (Wakaf DT).

Menghidupkan Spiritual di Tengah Musibah

Sebagai langkah awal pemulihan aspek spiritual, Wakaf DT telah mendistribusikan 10.000 mushaf Al-Qur’an ke titik-titik terdampak di tiga provinsi tersebut.

Berkolaborasi dengan tim lapangan DT Peduli, penyaluran ini bertujuan agar masyarakat tetap memiliki pegangan batin dan cahaya literasi Al-Qur’an meski sedang dalam masa sulit.

Membangun Kembali yang Telah Runtuh

Komitmen Wakaf DT tidak berhenti pada bantuan darurat. Fokus utama justru terletak pada masa pascabencana.

Mengingat banyaknya fasilitas umum yang rusak, Wakaf DT telah merancang program jangka panjang untuk ikut serta dalam pembangunan kembali daerah terdampak.

Target pembangunan difokuskan pada pusat peradaban umat, seperti masjid, guna mengembalikan fungsi tempat ibadah sebagai pusat kekuatan komunitas.

Madrasah Quran, juga menjadi perhatian guna memastikan anak-anak di wilayah bencana tidak kehilangan akses pendidikan agama yang layak.

Inovasi Kemanusiaan: “Cash Wakaf for Humanity”

Untuk memastikan bantuan ini berkelanjutan, Wakaf DT mengandalkan instrumen program “Cash Wakaf for Humanity”.

Ini merupakan sebuah terobosan di mana wakaf tunai yang dihimpun dari para muwakif (pewakaf) tidak langsung habis digunakan, melainkan dioptimalisasikan melalui sektor wakaf produktif.

Hasil atau surplus dari pengelolaan wakaf produktif inilah yang kemudian disalurkan secara konsisten untuk membantu korban banjir di Sumatera, bahkan menjangkau daerah-daerah lain di Indonesia yang membutuhkan bantuan serupa.

Dengan pola ini, satu kali berwakaf bisa memberikan manfaat yang terus mengalir tanpa terputus.

“Melalui wakaf produktif, kita tidak hanya memberikan ‘ikan’ untuk hari ini, tapi membangun ‘kolam’ yang hasilnya bisa terus menghidupi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah secara berkelanjutan.”

Mari Menjadi Bagian dari Solusi

Dukungan sahabat adalah energi bagi mereka untuk bangkit. Melalui program Cash Wakaf for Humanity, setiap rupiah yang sahabat wakafkan akan menjadi bangunan fisik yang kokoh dan pahala yang terus mengalir. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Memulihkan Asa di Tanah Sumatera: Jejak Cahaya Wakaf DT untuk Korban Banjir Read More »

Ketulusan di Balik Gerimis Cigugur: Jejak Santri di Masjid Al-Amin

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Sore itu, Kamis (11/12/2025), langit di atas Kampung Kebon Hui, Desa Cigugur Girang, tampak melankolis. Rintik hujan yang jatuh membasahi halaman Masjid Al-Amin tak menyurutkan kehangatan yang tercipta di dalamnya.

Di sela-sela hawa sejuk pegunungan, suara riuh rendah anak-anak mengeja huruf hijaiyah memecah keheningan. Mereka tidak sendirian. Ada wajah-wajah baru yang mendampingi—para santri kelas 9B SMP DTBS Putra.

Kehadiran mereka di sana bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari Program Khidmat Masyarakat (PKM) yang kini telah memasuki hari keempat.

Di dalam TPA yang bersahaja itu, para santri bertransformasi menjadi sosok kakak sekaligus guru. Dengan penuh kesabaran, mereka menuntun jemari mungil anak-anak warga sekitar menunjukkan alif, ba, dan ta. Tak ada jarak yang terasa; yang ada hanyalah transfer ilmu dan kasih sayang.

Bagi M. Razan Narendra, salah satu santri peserta PKM, momen ini adalah ajang pembuktian atas apa yang selama ini ia serap di dinding pesantren.

“Rasanya bahagia sekali bisa berbagi apa yang kami pelajari di pondok langsung kepada adik-adik di sini,” ungkap Razan dengan binar mata yang antusias.

Pengabdian para santri ternyata melampaui papan tulis dan buku Iqra. Saat jam mengajar usai, mereka tak segan menyingsingkan lengan baju.

Menyapu sudut-sudut masjid hingga bahu-membahu bersama warga menjaga kebersihan lingkungan menjadi rutinitas yang mereka jalani dengan ikhlas.

Bagi mereka, PKM adalah sekolah kehidupan yang sesungguhnya. Pelajaran tentang gotong royong dan ketulusan tidak ditemukan dalam lembar ujian, melainkan dalam interaksi nyata dengan masyarakat.

Empat hari berlalu, namun jejak yang ditinggalkan terasa begitu dalam. Razan berharap, semangat menebar manfaat ini tidak berhenti saat program PKM berakhir. Ia memandang kegiatan ini sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.

“Harapanku, semoga aku bisa terus menjadi pribadi yang lebih baik dan konsisten mengajarkan ilmu di mana pun aku berada. Semoga ini menjadi ibadah yang diterima,” pungkasnya penuh harap.

Di bawah langit Cigugur yang masih menyisakan rintik, para santri ini telah membuktikan satu hal: bahwa ilmu akan jauh lebih bercahaya saat ia dibagikan dengan hati yang tulus. (NOV/WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Ketulusan di Balik Gerimis Cigugur: Jejak Santri di Masjid Al-Amin Read More »

DT Peduli dan Wakaf DT Salurkan Kebutuhan Al-Qur’an untuk Korban Bencana Sumatera

WAKAFDT.OR.ID | ACEH — (5/1/2026), DT Peduli berkolaborasi dengan Wakaf DT menyalurkan 10.000 mushaf Al-Qur’an bagi masyarakat terdampak banjir di wilayah Sumatera, yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Salah satu titik penyaluran dilakukan di Desa Pantan Kemunging, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, wilayah terdampak banjir dan longsor yang turut merusak sarana ibadah serta TPA/TPQ tempat anak-anak belajar Al-Qur’an.

Program “Mushaf Al-Qur’an untuk Wilayah Bencana” ini bertujuan mendukung pemulihan spiritual dan mengaktifkan kembali kegiatan belajar Al-Qur’an di daerah terdampak.

Fikri sebagai Keuchik (Kepala Desa) Pantan Kemuning, menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan dan berharap kegiatan belajar Al-Qur’an di mushala dan TPA/TPQ dapat kembali berjalan.

Di media sosial, sampai hari ini masih kita temukan video warga terdampak yang ternyata membutuhkan mushaf Al-Qur’an.

Hal tersebut menjadi kabar yang menyentuh hati. Dalam kondisi sulitpun mereka masih kuat keimanannya untuk terus bisa membaca Al-Qur’an.

DT Peduli bersama Wakaf DT Peduli terus berkomitmen menghadirkan program kemanusiaan dan keagamaan sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana. (DT Peduli/Wakaf DT)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

DT Peduli dan Wakaf DT Salurkan Kebutuhan Al-Qur’an untuk Korban Bencana Sumatera Read More »