Wakaf Daarut Tauhiid

Ketulusan di Balik Gerimis Cigugur: Jejak Santri di Masjid Al-Amin

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Sore itu, Kamis (11/12/2025), langit di atas Kampung Kebon Hui, Desa Cigugur Girang, tampak melankolis. Rintik hujan yang jatuh membasahi halaman Masjid Al-Amin tak menyurutkan kehangatan yang tercipta di dalamnya.

Di sela-sela hawa sejuk pegunungan, suara riuh rendah anak-anak mengeja huruf hijaiyah memecah keheningan. Mereka tidak sendirian. Ada wajah-wajah baru yang mendampingi—para santri kelas 9B SMP DTBS Putra.

Kehadiran mereka di sana bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari Program Khidmat Masyarakat (PKM) yang kini telah memasuki hari keempat.

Di dalam TPA yang bersahaja itu, para santri bertransformasi menjadi sosok kakak sekaligus guru. Dengan penuh kesabaran, mereka menuntun jemari mungil anak-anak warga sekitar menunjukkan alif, ba, dan ta. Tak ada jarak yang terasa; yang ada hanyalah transfer ilmu dan kasih sayang.

Bagi M. Razan Narendra, salah satu santri peserta PKM, momen ini adalah ajang pembuktian atas apa yang selama ini ia serap di dinding pesantren.

“Rasanya bahagia sekali bisa berbagi apa yang kami pelajari di pondok langsung kepada adik-adik di sini,” ungkap Razan dengan binar mata yang antusias.

Pengabdian para santri ternyata melampaui papan tulis dan buku Iqra. Saat jam mengajar usai, mereka tak segan menyingsingkan lengan baju.

Menyapu sudut-sudut masjid hingga bahu-membahu bersama warga menjaga kebersihan lingkungan menjadi rutinitas yang mereka jalani dengan ikhlas.

Bagi mereka, PKM adalah sekolah kehidupan yang sesungguhnya. Pelajaran tentang gotong royong dan ketulusan tidak ditemukan dalam lembar ujian, melainkan dalam interaksi nyata dengan masyarakat.

Empat hari berlalu, namun jejak yang ditinggalkan terasa begitu dalam. Razan berharap, semangat menebar manfaat ini tidak berhenti saat program PKM berakhir. Ia memandang kegiatan ini sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.

“Harapanku, semoga aku bisa terus menjadi pribadi yang lebih baik dan konsisten mengajarkan ilmu di mana pun aku berada. Semoga ini menjadi ibadah yang diterima,” pungkasnya penuh harap.

Di bawah langit Cigugur yang masih menyisakan rintik, para santri ini telah membuktikan satu hal: bahwa ilmu akan jauh lebih bercahaya saat ia dibagikan dengan hati yang tulus. (NOV/WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID