Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Keajaiban di Hari Guru: Kisah Esti Siregar Menembus Banjir Bandang Tapanuli

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI SELATAN – Bagi Esti Siregar, seorang guru SD muda di Tapanuli Selatan, 25 November seharusnya menjadi hari penuh bunga dan ucapan terima kasih. Namun, Hari Guru tahun ini akan selamanya tertanam dalam ingatannya sebagai hari di mana batas antara tugas dan nyawa menjadi begitu tipis.

Pagi itu, rintik hujan turun seperti biasa. Esti sudah mendengar kabar bahwa beberapa desa mulai tergenang. Baginya dan warga sekitar, air setinggi mata kaki adalah “tamu rutin” setiap hujan lebat. Tak ada firasat bahwa alam sedang menyiapkan skenario yang jauh lebih kelam.

Saat “Rutin” Berubah Menjadi Horor

Keadaan berubah drastis dalam hitungan menit. Esti yang sedang berada di sekolah terperangah melihat air naik dengan kecepatan yang tidak wajar. Dari hanya setinggi mata kaki, tiba-tiba air sudah menyentuh perut.

Ketakutannya memuncak saat ia menoleh ke arah belakang sekolah. Di sana, pemandangan mengerikan tersaji: gelondongan kayu raksasa meluncur deras terbawa arus, menghantam apa saja yang menghalangi jalannya. Sekolah yang biasanya menjadi tempat aman bagi anak-anak didiknya kini berada di jalur maut.

“Saya tidak berpikir panjang lagi. Dalam pikiran saya hanya bagaimana caranya bisa keluar dari sini,” kenang Esti.

Mukjizat Motor Tanpa Bensin

Esti segera berlari menuju motornya. Kondisinya memprihatinkan; motor itu sudah terendam setengah badan dan yang lebih parah, tangki bensinnya hampir kosong melompong. Secara logika, sangat mustahil menghidupkan mesin yang sudah kemasukan air, apalagi tanpa bahan bakar.

Namun, di tengah kepungan banjir, sebuah keajaiban terjadi. Sekali tekan, mesin motor itu menderu hidup. Seolah mengerti nyawa pemiliknya dalam bahaya, motor itu menembus terjangan air, membawa Esti menjauh dari sekolah menuju dataran yang lebih tinggi di desa sebelah.

“Saya tahu bensinnya habis, saya tahu motornya terendam. Tapi saat itu mesinnya menyala. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, mungkin saya sudah ikut terseret kayu-kayu itu,” ujarnya lirih.

Tiga Hari dalam Ketidaktahuan

Selamat dari kejaran arus bukan berarti penderitaan berakhir. Sesampainya di tempat yang aman, kecemasan baru muncul: Ayah dan ibunya. Orang tua Esti sedang berada di rumah saat banjir bandang menghantam desa mereka.

Tanpa sinyal telepon dan akses jalan yang terputus, Esti terjebak dalam kesunyian yang menyiksa. Selama tiga hari, ia hanya bisa memandang ke arah desanya yang porak-poranda dari kejauhan, tidak tahu apakah orang tuanya masih selamat atau telah menjadi korban seperti keluarga di mobil hijau yang diceritakan warga lainnya.

Baru pada hari ketiga, penantian itu berujung syukur. Esti akhirnya bertemu kembali dengan ayah, ibu, dan adiknya di pengungsian. Mereka selamat, meski rumah dan harta benda mereka kini tinggal kenangan.

Menumpang di Rumah Tetangga

Kini, Esti bersama keluarganya menumpang di rumah seorang tetangga di desa sebelah yang tidak terdampak banjir. Tidak ada lagi papan tulis atau buku-buku pelajaran yang bisa ia pegang untuk sementara waktu. Namun, sebagai seorang guru muda, semangatnya belum padam.

Di balik duka dan trauma melihat sekolahnya hancur diterpa kayu, Esti bersyukur atas “kado” kehidupan yang ia terima di Hari Guru tersebut. Bagi Esti, bisa berkumpul kembali dengan keluarga adalah kurikulum kehidupan paling berharga yang pernah ia pelajari. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Keajaiban di Hari Guru: Kisah Esti Siregar Menembus Banjir Bandang Tapanuli Read More »

Bayang-Bayang Mobil Hijau di Huta Godang: Kesaksian Memilukan dari Balik Banjir Bandang

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI SELATAN – (24/1/2026) Bagi seorang pria paruh baya di Desa Huta Godang, Tapanuli Selatan, hujan bukan lagi sekadar fenomena alam. Setiap tetesnya kini membawa kembali memori kelam tentang suara gemuruh, hantaman kayu, dan satu teriakan yang terus terngiang di telinganya.

Sebut saja namanya Pak Usman. Sambil menatap reruntuhan desanya yang kini rata dengan tanah, ia menceritakan kengerian banjir bandang yang melanda wilayah dekat Sibolga, Sumatera Utara tersebut. Namun, ada satu fragmen kejadian yang menurutnya tidak akan pernah bisa ia hapus dari ingatan seumur hidupnya.

Tragedi Mobil Hijau yang Terhapus

Sore itu, air sungai meluap dengan kecepatan yang tak masuk akal. Di tengah kekacauan, Pak Usman melihat sebuah mobil berwarna hijau melaju ke arahnya. Mobil itu tampak berusaha keras menerjang arus yang mulai meninggi, mencari jalan keluar dari kepungan maut.

“Mobil itu sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi dari posisi saya,” kenang Pak Usman dengan suara bergetar. “Tapi tiba-tiba, dari arah hulu, gelondongan kayu raksasa menghantam sisi mobil itu. Seketika, mobil itu terseret, hanyut, dan hilang ditelan arus.”

Detik-detik sebelum mobil itu hilang dari pandangan, Pak Usman mendengar suara yang menyayat hati. Suara teriakan minta tolong dari dalam mobil—suara satu keluarga yang tak berdaya melawan kekuatan alam.

“Sampai sekarang, suara itu masih sering muncul kalau suasana sepi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kayu-kayu itu seperti peluru yang menghancurkan apa saja,” lirihnya.

Tiga Hari Mencari Nyawa

Bencana tersebut tidak hanya menyisakan trauma visual. Huta Godang luluh lantak; rumah-rumah warga rata dengan tanah. Di tengah duka melihat desanya hancur, Pak Usman harus menghadapi kenyataan pahit lainnya: ia kehilangan kontak dengan anak dan istrinya.

Selama tiga hari, ia hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa. Putrinya, seorang guru honorer yang bertugas di desa sebelah, ikut terjebak karena akses jalan yang terputus total akibat longsor dan banjir. Tanpa sinyal telepon dan tanpa akses jalan, Pak Usman hanya bisa berdoa di tengah puing-puing rumahnya.

“Tiga hari itu rasanya seperti bertahun-tahun. Saya hanya memikirkan, apakah mereka juga terseret kayu seperti keluarga di mobil hijau itu?” ungkapnya.

Keajaiban di Pengungsian

Takdir berkata lain bagi keluarga Pak Usman. Pada hari ketiga, saat tim evakuasi mulai berhasil menembus desa sebelah, ia akhirnya dipertemukan kembali dengan anak dan istrinya di sebuah posko pengungsian darurat.

Tangis haru pecah saat ia melihat wajah anak perempuannya yang selamat meski sempat terjebak di tengah kepungan banjir saat pulang mengajar. Meski harta benda mereka habis tak bersisa, kehadiran keluarga dalam kondisi selamat menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah duka kolektif warga Huta Godang.

Kini, Pak Usman dan ratusan warga lainnya harus memulai hidup dari nol di tenda-tenda pengungsian dan rumah saudaranya di desa sebelah yang tidak terdampak. Namun, trauma tentang mobil hijau dan hantaman kayu raksasa tetap menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara hidup dan mati dalam sebuah tragedi. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Bayang-Bayang Mobil Hijau di Huta Godang: Kesaksian Memilukan dari Balik Banjir Bandang Read More »

Kegilaan Daim Terhadap Pelestarian Alam Berbuah Manis

WAKAFDT.OR.ID | LUMAJANG – Di lereng Gunung Lemongan, Lumajang, Jawa Timur, nama Daim (64) pernah menjadi buah bibir—bukan karena prestasinya, melainkan karena ia dianggap telah kehilangan akal sehat. Selama hampir tiga dekade, pria lanjut usia ini mendaki terjalnya lereng hanya untuk menanam pohon pinang, sebuah pilihan yang dianggap konyol oleh warga saat itu.

Namun kini, sejarah membuktikan bahwa “kegilaan” Daim adalah sebuah visi visioner yang menyelamatkan desanya dari kepungan bencana.

Penyintas yang Melawan Trauma

Perjuangan Daim dimulai pada tahun 1996. Bukan tanpa alasan ia begitu terobsesi pada penghijauan. Masa kecilnya dihantui kenangan pahit saat rumahnya hanyut diterjang banjir bandang—sebuah dampak nyata dari hutan Lemongan yang gundul akibat pembalakan liar dan kebakaran yang terus berulang.

Berbekal cangkul, ember, dan bibit pohon, ia memulai misinya. Daim sempat bereksperimen dengan nangka, alpukat, hingga kopi. Sayangnya, tanaman tersebut habis dimakan hewan liar seperti kijang dan babi hutan. Akhirnya, ia menemukan “senjata” yang tepat: Pinang. Tanaman ini tidak disukai hewan liar, namun memiliki akar yang sangat kuat untuk mencengkeram tanah dan menyerap air hujan.

Menanam di Tengah Cemoohan

Tahun-tahun awal adalah masa terberat. Saat tetangganya berlomba menanam jati atau sengon demi nilai ekonomi cepat, Daim tetap setia pada pinang yang saat itu harganya jauh di bawah harga beras satu kilogram.

“Saya dianggap gila karena membawa bibit pinang ke hutan saat tanaman itu tidak laku. Tapi saya tidak peduli, karena yang saya cari bukan harga, tapi kembalinya warna hijau di gunung ini,” kenang Daim.

Ia bahkan membawa batu satu per satu untuk membangun jalan setapak demi memudahkan akses ke hutan produksi dan hutan lindung. Kini, dedikasinya telah membuahkan hasil berupa 14 hektare hutan pinang yang rimbun, yang berfungsi sebagai “sabuk hijau” penahan erosi.

Efek Domino: Dari Ekologi ke Ekonomi

Keajaiban terjadi pada tahun 2014. Harga pinang di pasar melonjak drastis. Para tetangga yang dulunya mengejek kini justru mengikuti jejak Daim. Namun, Daim tidak merasa tersaingi; ia justru bangga karena semakin banyak tangan yang menjaga hutan.

Keberadaan “Hutan Pinang Daim” kini menghidupi banyak orang:

  • Penyerap Bencana: Desa kini aman dari ancaman banjir dan longsor.
  • Lapangan Kerja: Daim mempekerjakan setidaknya 10 orang warga untuk proses panen.
  • Manfaat Sampingan: Warga sekitar bisa mengambil pelepah pinang (untuk bungkus dodol) dan tanaman pakis di bawahnya secara gratis untuk dijual kembali.

Perjalanan Daim tidak selalu mulus. Ia sempat bersitegang dengan birokrasi perhutanan yang mempertanyakan legalitas aktivitas menanamnya di lahan negara. Namun, dengan keberanian seorang pejuang lingkungan, Daim tetap teguh pada prinsipnya: ia menanam untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk merusak.

Ketulusan tersebut akhirnya diakui negara. Pada tahun 2022, Daim dianugerahi Penghargaan Kalpataru sebagai Perintis Lingkungan. Sebuah pengakuan tertinggi yang membayar tuntas setiap peluh dan ejekan yang diterimanya selama 29 tahun.

Di usia senjanya, Daim hanya punya satu keinginan: adanya penerus. Bagi Daim, menanam pohon adalah bentuk “sedia payung sebelum hujan” di wilayah rawan bencana.

“Tidak perlu cari bibit yang sulit, yang penting tanam saja. Semakin banyak anak muda yang ikut, hutan kita akan tetap lestari,” pesannya penuh harap. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Kegilaan Daim Terhadap Pelestarian Alam Berbuah Manis Read More »

Aa Gym: Bekerja sebagai Jalan Menuju Surga

WAKAFDT.O.IDIslam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah sistem hidup yang sempurna. Di dalamnya terdapat panduan lengkap bagi siapa saja yang ingin meraih keselamatan dan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat. Salah satu kunci kebahagiaan tersebut adalah dengan bersikap istiqamah dalam menjalankan setiap petunjuk-Nya.

Sering kali kita keliru memahami konsep ibadah, seolah ia hanya terbatas pada salat, puasa, zakat, atau haji. Padahal, setiap jengkal aktivitas hidup kita—termasuk bekerja—bisa bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala. Syaratnya sederhana namun mendalam: dilakukan dengan niat ikhlas demi mencari rida Allah serta tetap berada dalam koridor sunnah Rasulullah ﷺ.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, di mana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk giat bekerja (QS. At-Taubah: 105) dan segera bertebaran mencari karunia-Nya sesudah menunaikan kewajiban salat (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Rasulullah ﷺ adalah sosok manusia paling agung, namun beliau tidak pernah berpangku tangan. Sejarah mencatat kemandirian beliau sejak usia dini, mulai dari menjadi penggembala ternak hingga menjadi pedagang profesional. Kejujuran beliau dalam berbisnis pulalah yang membuatnya dijuluki “Al-Amin” (orang yang terpercaya).

Beliau bersabda:

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia menggembalakan kambing.” (HR. Bukhari).

Jejak kemandirian ini juga diikuti oleh para nabi terdahulu yang menjadikan pekerjaan mereka sebagai ladang ibadah:

  • Nabi Adam as: Bertani.
  • Nabi Nuh as: Tukang kayu terampil.
  • Nabi Ibrahim as: Berkebun.
  • Nabi Yusuf as: Birokrat/pegawai negara.
  • Nabi Daud as: Pandai besi yang perkasa.

Dalam Di zaman sekarang, banyak orang mengukur kualitas pekerjaan hanya dari besarnya gaji, omzet, atau gengsi jabatan. Namun, standar Islam jauh melampaui angka-angka tersebut. Saat ditanya mengenai pekerjaan terbaik, Rasulullah ﷺ menjawab bahwa itu adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangan sendiri dan perniagaan yang mabrur (diberkahi).

Poin pentingnya bukan pada seberapa banyak materi yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar keberkahan (thayyib) yang ada di dalamnya. Hasil kerja keras sendiri merupakan makanan terbaik yang bisa dikonsumsi oleh seorang mukmin, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Daud as.

Beruntunglah kita yang masih diberikan potensi dan kesempatan untuk bekerja. Jadikanlah setiap keringat yang menetes sebagai bentuk ikhtiar menjemput rezeki Allah. Dengan meniatkan pekerjaan sebagai ibadah, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan perut di dunia, tetapi juga sedang membangun istana di akhirat. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.O.ID

Aa Gym: Bekerja sebagai Jalan Menuju Surga Read More »

Alhamdulillah, Dosen STAI DT Lulus Uji Kompetensi Dosen

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA — Rasa syukur dan kebanggaan menyelimuti keluarga besar Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Daarut Tauhiid. Sepanjang tahun 2025, sejumlah dosen STAI Daarut Tauhiid dinyatakan lulus Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) serta Sertifikasi Dosen yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Capaian ini menjadi penanda penting dalam perjalanan akademik para dosen. Program PKDP dan Sertifikasi Dosen tidak hanya mengukur kelayakan profesional, tetapi juga meneguhkan tanggung jawab dosen dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi secara utuh yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Keberhasilan tersebut merupakan kabar baik bagi seluruh civitas akademika STAI Daarut Tauhiid. Di balik proses panjang yang dijalani, tersimpan ikhtiar untuk terus memperbaiki kualitas pembelajaran dan memperkuat budaya akademik kampus.

Adapun dosen yang berhasil menyelesaikan program PKDP dan Sertifikasi Dosen Kementerian Agama RI Tahun 2025 antara lain: Dr. Agus Kurniawan, S.Pd., M.Pd., Ketua STAI Daarut Tauhiid sekaligus Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam; Dr. Muhammad Iskandar, S.IP., M.M., Dosen Hukum Ekonomi Syariah; Dr. Yunus, S.Pd., M.Pd., Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam; Suherman, S.Ud., M.Ag., Dosen Hukum Ekonomi Syariah; Agung Wildan Azizi, S.H., M.H., Dosen Hukum Syariah; serta Sri Rastita Praniti, S.Kom.I., M.Sos., Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Mamat Rohimat, Kasubag Biro Humas dan Rumah Tangga STAI Daarut Tauhiid, menyampaikan harapannya agar capaian ini menjadi wasilah kebaikan bagi institusi.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rida-Nya, menjadikan ilmu yang diperoleh bermanfaat, serta membawa keberkahan bagi pengembangan pendidikan dan dakwah keilmuan di STAI Daarut Tauhiid. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin,” tuturnya pada (8/1/2026) melalui media daring.

Pencapaian ini diharapkan semakin menguatkan komitmen STAI Daarut Tauhiid dalam meningkatkan mutu pendidikan, membangun tradisi akademik yang unggul, serta melahirkan kontribusi keilmuan yang berdampak luas bagi masyarakat. (Nov)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Alhamdulillah, Dosen STAI DT Lulus Uji Kompetensi Dosen Read More »

Alur Jambu: Desa yang Hanyut dan Perjuangan Menjemput Harapan di Tengah Debu

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Desa Alur Jambu kini hanyalah sebuah nama di atas peta. Saat tim Wakaf DT dan relawan kemanusiaan tiba untuk melakukan asesmen pada Kamis (22/1/2026), kesunyian yang mencekam langsung menyambut.

Tak ada lagi suara anak-anak berlarian atau kepul asap dari dapur warga. Desa ini telah dikosongkan, menjadi “desa mati” atas saran pemerintah setempat demi keselamatan jiwa.

Jejak 10 Meter yang Menghancurkan

Sulit membayangkan bahwa beberapa waktu lalu, lokasi tempat berdiri ini tenggelam dalam amukan air sedalam 10 meter. Ketinggian itu setara dengan gedung tiga lantai. Banjir bandang tidak hanya membawa air, tapi juga membawa kehancuran total. Seluruh rumah tinggal, fasilitas umum, hingga masjid, rata dengan tanah atau rusak hingga tak mungkin lagi ditinggali.

Pemerintah setempat telah menetapkan wilayah ini sebagai zona merah yang tidak layak huni. Kenangan warga Alur Jambu kini terkubur di bawah sisa-sisa reruntuhan dan lapisan lumpur yang mulai mengeras.

Dari Banjir Menuju Kekeringan yang Berdebu

Kini, warga Alur Jambu bertahan hidup di desa tetangga. Mereka menempati tenda-tenda darurat dan hunian sementara (Huntara) yang dibangun seadanya. Ironisnya, setelah dihantam air yang melimpah, kini mereka harus berhadapan dengan ekstremnya musim kemarau.

Panas terik yang menyengat membuat tanah-tanah bekas banjir pecah dan berdebu. Setiap embusan angin membawa partikel debu yang menyesakkan napas. Kondisi semakin sulit dengan terbatasnya akses air bersih dan hilangnya sinyal komunikasi sama sekali. Di sini, dunia terasa begitu jauh.

“Dulu kami hanyut karena air, sekarang kami kehausan dan sesak karena debu. Tapi kami harus bertahan,” ujar salah satu warga di sana sambil mencari puing-puing barang dari bekas rumahnya.

“Melihat Alur Jambu yang kini kosong adalah pemandangan yang menyedihkan. Namun, melihat warga yang masih memiliki semangat untuk bangkit di tenda-tenda ini adalah alasan mengapa kami di sini,” ungkap salah satu relawan Wakaf DT di lokasi.

Di tengah keterbatasan sinyal dan kepungan debu, tim terus mendata setiap kebutuhan. Kehadiran tim bukan sekadar membawa bantuan logistik, tetapi membawa pesan bahwa warga Alur Jambu tidak berjuang sendirian.

Perjalanan menuju pemulihan memang masih panjang dan terjal seperti jalanan menuju Aceh Tamiang, namun melalui sinergi wakaf, sebuah “Alur Jambu yang baru” diharapkan dapat segera tegak kembali, membawa kehidupan yang lebih aman dan berkah bagi para penyintasnya. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Alur Jambu: Desa yang Hanyut dan Perjuangan Menjemput Harapan di Tengah Debu Read More »

Senyum di Balik Lumpur: Asa Rara dan Mushaf Baru di Desa Sekumur Aceh Tamiang

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Di antara sisa-sisa lumpur kering yang masih melapisi dinding rumah-rumah di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, terdengar gelak tawa yang memecah keheningan. Kamis siang (22/1/2026), sekelompok anak kecil berlarian mendekati sebuah truk logistik dengan logo Wakaf DT.

Di barisan paling depan, seorang gadis kecil bernama Rara tampak tak sabar. Matanya berbinar saat tim relawan mulai membuka kardus-kardus berisi Mushaf Al-Qur’an yang masih terbungkus plastik rapi. Bagi Rara dan teman-temannya, itu bukan sekadar buku; itu adalah harta karun yang sempat hilang ditelan banjir bandang beberapa waktu lalu.

“Al-Qur’an Kami Sudah Jadi Lumpur”

Sambil mendekap erat mushaf barunya, Rara bercerita dengan nada polos namun menyayat hati. Ia mengenang sore mencekam saat air bah datang menerjang desa mereka.

“Masjid tempat kami mengaji terendam tinggi sekali. Mushaf yang biasa Rara pakai sudah hancur, lengket semua kena lumpur pekat. Sudah tidak bisa dibaca lagi,” kenangnya lirih.

TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang menjadi ruang ceria bagi mereka setiap sore kini masih dalam tahap pembersihan. Selama berminggu-minggu, aktivitas mengaji terhenti. Bukan karena mereka tak mau, tapi karena tak ada lagi lembaran wahyu yang bisa mereka pegang.

Merajut Mimpi di Tengah Duka

Namun, duka akibat bencana tak sanggup memadamkan api cita-cita di hati anak-anak Desa Sekumur. Saat ditanya tentang masa depannya, Rara menjawab dengan tegas.

“Rara ingin jadi Guru,” ucapnya sambil tersenyum lebar. “Supaya Rara bisa mengajar anak-anak di sini lagi. Biar mereka pintar dan bisa mengaji walau habis ada banjir.”

Tak mau kalah, teman-teman Rara yang berada di sampingnya pun ikut menyahut dengan semangat. “Kalau aku ingin jadi Dokter!” seru salah satu temannya. “Biar kalau ada yang sakit karena banjir, bisa aku obati. Aku mau bantu banyak orang kelak.”

Wakaf: Jembatan Harapan

Penyaluran yang berlangsung selama dua hari (21-22 Januari 2026) ini menjadi momen krusial bagi pemulihan psikologis anak-anak. Kehadiran Mushaf Al-Qur’an baru dari para pewakaf melalui Wakaf DT memberikan kepastian bahwa pendidikan agama mereka tidak akan mati meski diterjang badai.

Relawan yang bertugas pun merasa haru melihat respon anak-anak tersebut. “Melihat mereka langsung duduk berkelompok dan mencoba membuka halaman demi halaman mushaf baru itu adalah bayaran terbaik bagi perjalanan jauh kami menuju desa ini,” ujar salah satu tim distribusi.

Kini, di Desa Sekumur, harapan mulai kembali bersemi. Melalui selembar Mushaf Al-Qur’an, mimpi Rara untuk menjadi guru dan cita-cita teman-temannya menjadi dokter terasa selangkah lebih dekat. Banjir boleh saja menghanyutkan bangunan, namun ia tak pernah bisa menghanyutkan semangat dan iman yang tertanam di dada anak-anak Aceh Tamiang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Senyum di Balik Lumpur: Asa Rara dan Mushaf Baru di Desa Sekumur Aceh Tamiang Read More »

Menembus “Lautan Kayu”: Perjuangan Tim Wakaf DT Mengantar Kalam Ilahi ke Jantung Sekumur

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Angin kencang berembus membawa aroma kayu basah dan lumpur yang menyengat. Di hadapan tim Wakaf DT, daratan yang dulunya merupakan akses jalan aspal kini telah berganti menjadi medan terjal yang dipenuhi lubang dan bebatuan besar. Perjalanan menuju Desa Sekumur, Aceh Tamiang, pada Rabu-Kamis (21-22/1/2026) bukan sekadar distribusi bantuan biasa; ini adalah sebuah misi menembus isolasi.

Jembatan Putus dan Arus Deras

Langkah tim terhenti di tepian sungai yang meluap. Jembatan permanen yang selama ini menjadi urat nadi penghubung antar-desa kini tinggal menyisakan puing-puing beton yang hancur dihantam banjir bandang. Tak ada pilihan lain, tim harus memindahkan puluhan dus berisi Mushaf Al-Qur’an dan logistik pangan ke atas perahu kecil milik warga.

Dengan penuh kehati-hatian, para relawan menjaga agar muatan tidak terkena percikan air. “Satu dus ini sangat berharga, isinya harapan untuk anak-anak di seberang sana,” ujar salah satu relawan saat berpegangan erat pada sisi perahu yang bergoyang melawan arus sungai yang masih deras.

Menyaksikan “Desa yang Hilang”

Setelah berhasil menyeberangi sungai, pemandangan memilukan menyambut tim di Desa Sekumur. Desa ini sempat viral di media sosial melalui rekaman video amatir yang memperlihatkan “lautan kayu.” Saat tim tiba, kenyataannya jauh lebih mengerikan daripada yang terlihat di layar ponsel.

Gelondongan pohon-pohon raksasa berserakan tak beraturan, menimpa rumah-rumah, dan menutupi lahan pertanian. Desa Sekumur seolah “hilang” dari peta pemukiman, berganti menjadi hamparan kayu hutan yang terseret dari hulu. Di sini, sinyal internet adalah kemewahan yang lenyap bersama tiang-tiang listrik yang tumbang. Warga hidup dalam kesunyian, terputus dari informasi dunia luar.

Membawa Cahaya di Tengah Kegelapan

Kehadiran tim Wakaf DT menjadi “sinyal” harapan bagi warga yang merasa dilupakan. Karena ketiadaan akses informasi, warga tidak tahu kapan bantuan akan tiba. Saat dus-dus Al-Qur’an mulai dibuka di bawah tenda darurat, keharuan pecah.

“Kami mengira tidak akan ada yang sampai ke sini karena jalannya sudah tidak ada lagi. Al-Qur’an kami semua tertimbun di bawah kayu-kayu besar itu,” ungkap seorang tokoh masyarakat setempat dengan suara bergetar.

Membawa Mushaf Al-Qur’an ke Desa Sekumur bukan sekadar mengganti buku yang rusak. Di tengah desa yang porak-poranda oleh kayu dan lumpur, ayat-ayat suci ini adalah pondasi pertama untuk membangun kembali mental dan spiritual warga.

Perjalanan pulang tim mungkin akan kembali menemui jalan terjal dan sungai yang dalam, namun senyum anak-anak Sekumur yang memeluk Mushaf baru mereka menjadi bahan bakar semangat yang takkan habis. Meski Desa Sekumur sempat disebut sebagai “desa yang hilang”, hari itu tim memastikan bahwa harapan mereka tidak ikut hilang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menembus “Lautan Kayu”: Perjuangan Tim Wakaf DT Mengantar Kalam Ilahi ke Jantung Sekumur Read More »

Sentuh Tiga Desa Terpencil, Wakaf DT Salurkan Al-Qur’an bagi Penyintas Banjir Aceh Tamiang

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Melanjutkan misi kemanusiaan yang dimulai dari Kota Medan, tim kolaborasi Wakaf DT dan DT Peduli secara resmi menyalurkan bantuan logistik bagi para penyintas banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Pendistribusian bantuan berlangsung selama dua hari, yakni Rabu hingga Kamis (21-22/1/2026).

Bantuan ini menyasar warga di tiga desa yang terdampak cukup parah, yaitu Desa Alur Jambu, Desa Batang Ara, dan Desa Sekumur. Akses menuju wilayah ini sempat terkendala akibat sisa-sisa material banjir, namun tim relawan berhasil menjangkau warga guna memastikan bantuan diterima secara langsung.

Mengganti Mushaf yang Terendam Lumpur

Selain menyalurkan kebutuhan pokok seperti bahan pangan dan pakaian layak pakai, tim juga membawa misi khusus berupa pengadaan Mushaf Al-Qur’an baru. Di lokasi pengungsian dan rumah-rumah warga, pemandangan menyedihkan terlihat dari tumpukan kitab suci yang rusak total akibat terendam lumpur pekat.

“Kondisi Mushaf Al-Qur’an di sini sudah tidak layak lagi digunakan karena terkena air dan lumpur saat banjir menerjang. Padahal, bagi warga, mengaji dan berdoa adalah penguat utama mereka di tengah ujian ini,” ujar perwakilan tim pendistribusian di Desa Sekumur.

Kehadiran Al-Qur’an baru ini disambut haru oleh warga. Kini, anak-anak dan orang dewasa di Desa Alur Jambu, Batang Ara, serta Sekumur bisa kembali menjalankan aktivitas ibadah dan pengajian dengan mushaf yang bersih.

Kolaborasi untuk Pemulihan

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari proses pengemasan bantuan yang dilakukan di kantor DT Peduli Medan sehari sebelumnya. Sinergi antara lembaga wakaf, lembaga zakat, dan relawan lokal ini menunjukkan betapa krusialnya kolaborasi dalam percepatan penanganan pascabencana.

Bahan pangan yang dibagikan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi warga selama masa pemulihan, sementara bantuan pakaian membantu mereka kembali beraktivitas dengan nyaman.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para muwakif (pewakaf) dan donatur. Bantuan ini bukan sekadar barang fisik, tapi juga suntikan semangat bagi saudara-saudara kita di Aceh Tamiang untuk bangkit kembali,” tambah tim relawan.

Hingga Kamis sore, tim masih berada di lapangan untuk memastikan seluruh titik distribusi di tiga desa tersebut telah terlayani dengan baik sebelum kembali ke posko utama. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Sentuh Tiga Desa Terpencil, Wakaf DT Salurkan Al-Qur’an bagi Penyintas Banjir Aceh Tamiang Read More »

Selaras dengan Visi Eco Pesantren DT, Pemerintah Pulihkan 900 Ribu Hektare Hutan

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA – Pemerintah Indonesia secara resmi mengambil langkah tegas dalam menata ulang tata kelola kehutanan nasional. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengumumkan pengambilalihan sekitar 900 ribu hektare lahan perkebunan sawit yang berada di dalam kawasan hutan untuk dikembalikan fungsinya menjadi hutan konservasi milik negara.

Langkah berani ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari upaya penertiban sumber daya alam. Berdasarkan audit Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) selama setahun terakhir, ditemukan jutaan hektare lahan yang digunakan secara ilegal, termasuk di wilayah sensitif seperti Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.

Darurat Ekologi dan Respons Pemerintah

Kebijakan pengalihan fungsi ini tidak lepas dari rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru-baru ini. Kerusakan hutan di hulu dinilai menjadi pemicu utama banjir bandang yang merugikan masyarakat luas, termasuk kejadian pilu di Aceh Tamiang.

Sebagai bentuk ketegasan, Presiden telah mencabut izin 28 perusahaan yang terbukti melanggar aturan di atas lahan seluas lebih dari satu juta hektare. “Kita ingin memastikan bahwa kekayaan alam dikelola dengan benar, dan kawasan konservasi kembali menjadi paru-paru dunia yang mendukung keanekaragaman hayati,” tegas Prasetyo Hadi dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).

Sinergi dengan Konsep Eco Pesantren Daarut Tauhiid

Langkah besar pemerintah ini mendapat resonansi positif di kalangan lembaga pendidikan berbasis lingkungan, salah satunya Eco Pesantren Daarut Tauhiid (DT). Konsep Eco Pesantren yang diusung oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari ibadah dan amanah sebagai khalifah di bumi.

Di saat pemerintah berjibaku menata hutan di tingkat makro, Eco Pesantren DT secara konsisten melakukan aksi nyata di tingkat mikro melalui:

  • Penghijauan Berkelanjutan: Melakukan penanaman pohon dan pemulihan lahan secara berkala di kawasan pesantren.
  • Pendidikan Berwawasan Lingkungan: Mengedukasi santri dan masyarakat untuk tidak hanya memahami agama secara tekstual, tetapi juga kontekstual dalam menjaga ekosistem (khidmah ekologis).
  • Pemanfaatan Teknologi Ramah Lingkungan: Pengelolaan limbah dan penggunaan energi terbarukan yang menjadi prototipe bagi pembangunan kawasan hijau.

Upaya pemerintah dalam menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui platform Jaga Rimba untuk mendeteksi deforestasi, sangat sejalan dengan semangat digitalisasi dan modernisasi yang tetap berpihak pada alam di Eco Pesantren DT.

Membangun Masa Depan Hijau

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menambahkan bahwa tantangan ke depan masih besar mengingat masih ada jutaan hektare sawit yang berdiri di kawasan hutan lindung dan konservasi. Oleh karena itu, penambahan personel polisi kehutanan dan penggunaan drone pengawas akan terus ditingkatkan.

Kolaborasi antara ketegasan regulasi pemerintah dan gerakan akar rumput seperti yang dilakukan oleh Eco Pesantren DT dan Tim Wakaf DT menjadi kunci utama. Jika pemerintah bergerak dalam penegakan hukum, lembaga seperti DT berperan dalam membangun kesadaran spiritual dan aksi nyata di lapangan. Dengan sinergi ini, pemulihan hutan bukan sekadar wacana, melainkan langkah nyata untuk mewariskan bumi yang lebih hijau bagi generasi mendatang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Selaras dengan Visi Eco Pesantren DT, Pemerintah Pulihkan 900 Ribu Hektare Hutan Read More »