Keajaiban di Hari Guru: Kisah Esti Siregar Menembus Banjir Bandang Tapanuli
WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI SELATAN – Bagi Esti Siregar, seorang guru SD muda di Tapanuli Selatan, 25 November seharusnya menjadi hari penuh bunga dan ucapan terima kasih. Namun, Hari Guru tahun ini akan selamanya tertanam dalam ingatannya sebagai hari di mana batas antara tugas dan nyawa menjadi begitu tipis.
Pagi itu, rintik hujan turun seperti biasa. Esti sudah mendengar kabar bahwa beberapa desa mulai tergenang. Baginya dan warga sekitar, air setinggi mata kaki adalah “tamu rutin” setiap hujan lebat. Tak ada firasat bahwa alam sedang menyiapkan skenario yang jauh lebih kelam.
Saat “Rutin” Berubah Menjadi Horor
Keadaan berubah drastis dalam hitungan menit. Esti yang sedang berada di sekolah terperangah melihat air naik dengan kecepatan yang tidak wajar. Dari hanya setinggi mata kaki, tiba-tiba air sudah menyentuh perut.
Ketakutannya memuncak saat ia menoleh ke arah belakang sekolah. Di sana, pemandangan mengerikan tersaji: gelondongan kayu raksasa meluncur deras terbawa arus, menghantam apa saja yang menghalangi jalannya. Sekolah yang biasanya menjadi tempat aman bagi anak-anak didiknya kini berada di jalur maut.
“Saya tidak berpikir panjang lagi. Dalam pikiran saya hanya bagaimana caranya bisa keluar dari sini,” kenang Esti.
Mukjizat Motor Tanpa Bensin
Esti segera berlari menuju motornya. Kondisinya memprihatinkan; motor itu sudah terendam setengah badan dan yang lebih parah, tangki bensinnya hampir kosong melompong. Secara logika, sangat mustahil menghidupkan mesin yang sudah kemasukan air, apalagi tanpa bahan bakar.
Namun, di tengah kepungan banjir, sebuah keajaiban terjadi. Sekali tekan, mesin motor itu menderu hidup. Seolah mengerti nyawa pemiliknya dalam bahaya, motor itu menembus terjangan air, membawa Esti menjauh dari sekolah menuju dataran yang lebih tinggi di desa sebelah.
“Saya tahu bensinnya habis, saya tahu motornya terendam. Tapi saat itu mesinnya menyala. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, mungkin saya sudah ikut terseret kayu-kayu itu,” ujarnya lirih.
Tiga Hari dalam Ketidaktahuan
Selamat dari kejaran arus bukan berarti penderitaan berakhir. Sesampainya di tempat yang aman, kecemasan baru muncul: Ayah dan ibunya. Orang tua Esti sedang berada di rumah saat banjir bandang menghantam desa mereka.
Tanpa sinyal telepon dan akses jalan yang terputus, Esti terjebak dalam kesunyian yang menyiksa. Selama tiga hari, ia hanya bisa memandang ke arah desanya yang porak-poranda dari kejauhan, tidak tahu apakah orang tuanya masih selamat atau telah menjadi korban seperti keluarga di mobil hijau yang diceritakan warga lainnya.
Baru pada hari ketiga, penantian itu berujung syukur. Esti akhirnya bertemu kembali dengan ayah, ibu, dan adiknya di pengungsian. Mereka selamat, meski rumah dan harta benda mereka kini tinggal kenangan.
Menumpang di Rumah Tetangga
Kini, Esti bersama keluarganya menumpang di rumah seorang tetangga di desa sebelah yang tidak terdampak banjir. Tidak ada lagi papan tulis atau buku-buku pelajaran yang bisa ia pegang untuk sementara waktu. Namun, sebagai seorang guru muda, semangatnya belum padam.
Di balik duka dan trauma melihat sekolahnya hancur diterpa kayu, Esti bersyukur atas “kado” kehidupan yang ia terima di Hari Guru tersebut. Bagi Esti, bisa berkumpul kembali dengan keluarga adalah kurikulum kehidupan paling berharga yang pernah ia pelajari. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
Keajaiban di Hari Guru: Kisah Esti Siregar Menembus Banjir Bandang Tapanuli Read More »
















