Wakaf Daarut Tauhiid

Saat Mimpi dan Manfaat Bertemu: Kisah Nasibah Hidup di Tanah Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Siang itu, Kamis (26/11/2025), matahari menyinari halaman Kantor Pelayanan Wakaf dengan teduh. Nasibah (22) tahun, datang dengan semangat yang terasa sejak ia duduk berbincang.

Mahasiswi semester 5 STAI Daarut Tauhiid itu bercerita tentang harinya yang penuh aktivitas: mengajar di MDTA DT sejak 2024, membimbing anak-anak di Yayasan Yatim-Duafa selama tiga tahun, dan tetap hadir di kegiatan pesantren. Baginya, setiap langkah pengabdian adalah caranya bersyukur atas nikmat Allah.

“Aku bersyukur bisa jadi santri DT, dan kuliah lewat beasiswa yang dulu cuma bisa aku impikan,” ucapnya lembut.

Mimpi itu ia kejar selama satu tahun penuh, menunggu, berjuang, dan tidak menyerah hingga akhirnya pintu beasiswa terbuka. Kini, sambil menuntaskan semester lima, ia mengajar kelas 5 MDTA DT dan mendampingi anak yatim-duafa.

Aktivitas yang padat itu justru membuat hidupnya terasa lebih berarti, seolah produktif adalah cara terbaiknya menjaga rasa syukur.

Ketika bercerita tentang yayasan, suaranya berubah pelan. Ada haru yang tidak ia sembunyikan saat mengenang perjuangan anak-anak yang ia dampingi. Mereka, para guru, dan suasana pesantren menjadi alasan ia ingin terus belajar.

Ilmu yang ia dapat di bangku kuliah, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk diamalkan di mana pun ia berada. Di sela kesibukan, ia tetap aktif di organisasi daerah Rongga. Itu membuktikan bahwa ruang kebaikan selalu ada selama seseorang mau hadir.

Lelah tentu pernah datang, begitu pula malas yang sesekali muncul. Perjalanan Pulang Pergi (PP) setiap hari, kendaraan yang kadang bermasalah, hingga hujan yang turun mendadak, semuanya pernah ia hadapi. Namun niat awalnya selalu menjadi penguat: ingin bermanfaat bagi banyak orang, meski langkahnya sederhana.

“Motivasi terbesar itu dari diri sendiri,” katanya sambil tersenyum. Terlahir bukan dari keluarga berada justru membuat tekadnya tumbuh lebih kuat.

Hidup di tanah wakaf membuat Nasibah memahami bahwa keberkahan hadir ketika seseorang menjadikan kebaikan sebagai tujuan. Dari mimpi yang dulu terasa jauh, kini ia melangkah di jalan yang Allah mudahkan.

Dari kelas kecil MDTA, dari wajah-wajah anak yatim, dari suasana pesantren yang hangat. Ia belajar bahwa perjuangan anak muda bukan sekadar mengejar mimpi, tetapi memastikan mimpi itu membawa manfaat bagi sesama, dan di sini, di tanah wakaf, mimpi itu menemukan tempat untuk tumbuh. (SSP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID