Wakaf Daarut Tauhiid

Panggilan di Senja Usia: Saat Daarut Tauhiid Menjadi Pelabuhan Abadi Bunda Eka

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Senja di Kota Bandung seringkali membawa nuansa sendu, namun pada Senin sore (24/11/2025) itu, kehangatan justru menyelimuti lorong-lorong sekitar Pesantren Daarut Tauhiid (DT).

Tim Wakaf DT hadir membawa salam takzim ke sebuah kamar kos sederhana, tempat tinggal Bunda Eka (77 tahun), seorang santri senior dan alumni angkatan ke-8 PMK DT.

Belasan tahun silam, tepatnya tahun 2008, Bunda Eka bertolak dari Palembang. Ia datang bukan untuk mencari kemewahan dunia, melainkan demi mengejar bekal abadi.

Di usia yang lazimnya dihabiskan untuk bersantai di pangkuan keluarga, Bunda Eka justru memantapkan hati memilih jalan berbeda: ia memilih untuk tidak pulang.

Keputusan besar itu lahir dari sebuah pertanyaan jujur yang menghunjam relung jiwanya: “Aku nanti ‘pulang’ (menghadap Ilahi) bawa apa?”

Keberkahan di Balik Kesederhanaan

Kami duduk di kamar kosnya yang jauh dari kata megah. Tidak ada pernak-pernik mewah di sana, hanya kesederhanaan yang memancarkan ketenangan luar biasa. Radio MQ FM, yang siarannya tak pernah absen terdengar, menjadi teman setia Bunda Eka dalam kesehariannya.

Dinding-dinding kamar itu seolah menjadi saksi bisu perjuangan seorang hamba yang menolak menyerah pada waktu. Meski pernah didera sakit kaki yang cukup parah, semangat Bunda Eka untuk terus ta’lim (belajar) dan berkhidmat tak pernah padam.

Demi memantapkan ilmu dan niat, ia bahkan mengulang program BM2K di DT hingga dua kali. Di kamar inilah kami merasakan getaran ketulusan yang sesungguhnya; bahwa usia senja adalah musim panen terbaik bagi amal saleh.

Dari “Biasa Saja” Menjadi Luar Biasa

Dengan rendah hati, Bunda Eka bercerita bahwa latar belakang agamanya dahulu “biasa-biasa saja.” Justru kesadaran akan kekosongan itulah yang mendorongnya mencari lingkungan yang kondusif, hingga ia melabuhkan hati di Daarut Tauhiid.

Perjuangannya tak berhenti untuk diri sendiri. Ia aktif mengajak orang lain dan turut mengembangkan pesantren. Hidupnya didedikasikan agar bermanfaat bagi sesama—sebuah khidmat yang membuatnya kini dikenal dan disayangi banyak jamaah.

“Tetap luruskan niat saja,” pesannya singkat, namun maknanya begitu mendalam.

Baginya, kebahagiaan sejati bukan diukur dari tumpukan harta, melainkan seberapa sering ia berada di lingkungan yang terus mengingatkannya pada “Hari Kepulangan”.

Pelabuhan Terakhir Bernama Kebaikan

Saat kami bertanya tentang harapan di usianya yang telah lanjut ini, mata Bunda Eka berbinar haru. Ia merasa sangat dekat dengan Allah. Melihat program-program besar pesantren, seperti Daarut Tauhiid Memorial Park (DTMP), baginya adalah mimpi yang terwujud di senja usia.

Kisah Bunda Eka adalah cermin nyata bahwa kekuatan niat tulus mampu melampaui segala keterbatasan fisik dan usia.

Ia mengajarkan kita bahwa kamar sederhana di sudut DT adalah gambaran sejati dari sebuah ‘masa keemasan’, di mana produktivitas diukur dari keberkahan, bukan kekayaan materi.

Keputusan Bunda Eka untuk tetap bermukim, didampingi ilmu yang tak henti ia simak, adalah pengingat yang mengharukan bagi kita semua.

Ia telah memilih rumah abadi di dunia yang fana ini. Seolah ia berbisik: dunia hanyalah persinggahan sementara, dan persiapan untuk kepulangan adalah panggilan jiwa yang tak boleh ditunda.

Pertemuan sore itu ditutup dengan sebuah janji yang menenteramkan: selama niat itu lurus, hati akan selalu menemukan kedamaian, bahkan di senja usia. (SSP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID