Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel

Wakaf Sebagai Pilar Abadi Peradaban Islam dan Kontribusi Sultan Salahuddin al-Ayyubi

WAKAFDT.OR.IDWakaf memiliki posisi sentral dalam sejarah Islam, melampaui sekadar donasi untuk tempat ibadah. Sepanjang peradaban Islam, wakaf telah menjadi motor penggerak untuk pembangunan beragam fasilitas vital yang menopang kehidupan masyarakat secara luas, termasuk non-Muslim.

Secara keagamaan, peran wakaf tak terbantahkan, karena ia termasuk dalam ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf).

Wakaf (harta yang ditahan pokoknya dan disalurkan hasilnya) berfungsi sebagai salah satu pilar ekonomi yang mampu menopang kesejahteraan umat di dunia dan menjadi pahala berkelanjutan di akhirat.

Meskipun banyak masjid dibangun dan dipelihara berkat harta wakaf, manfaatnya jauh lebih luas. Dalam sejarah, aset wakaf digunakan untuk membangun:

  • Layanan Publik: Sumur, air mancur, kamar mandi umum, dan prasarana kota.
  • Kesehatan dan Ilmu: Perpustakaan, bimaristan (rumah sakit), dan institusi pendidikan.

Inisiatif Pendidikan Sultan Salahuddin al-Ayyubi

Salah satu tokoh bersejarah yang memanfaatkan potensi wakaf secara efektif adalah Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Pada masa Dinasti Ayyubiyah (sekitar pertengahan abad ke-13), Salahuddin secara gencar menggunakan wakaf untuk mendirikan berbagai sekolah (madrasah).

Madrasah yang dibangun melalui wakaf pada masa kepemimpinannya meliputi:

  • Sekolah di Kairo, berdekatan dengan situs yang dihormati sebagai makam cucu Nabi Muhammad, Imam Al Husain bin Ali.
  • Sekolah Zain an-Najjar di Mesir yang didedikasikan untuk mazhab Syafi’i.
  • Sekolah di bekas rumah Abbas bin Sallar, yang mengajarkan mazhab Hanafi.
  • Madrasah Al Qamhiyyah, yang mengajarkan mazhab Maliki.
  • Al Madrasah Ash Shalafiyyah yang terletak di dekat gerbang Asbath, di dalam tembok Al Quds Asy Syarif.

Sekolah-sekolah ini tidak hanya berfokus pada ilmu agama, tetapi juga menawarkan kurikulum yang komprehensif, mencakup bahasa, sejarah, aritmatika, arsitektur, astronomi, dan ekonomi.

Kontribusi Wakaf pada Keberlanjutan Dinasti

Penggunaan wakaf untuk mengembangkan sektor pendidikan secara efektif menunjukkan bagaimana aset ini menjadi pilar peradaban yang kokoh.

Inisiatif pembangunan sekolah melalui wakaf tidak berhenti pada masa Salahuddin, namun juga dilanjutkan oleh para amir Dinasti Ayyubiyah berikutnya.

Bukti keberlanjutan wakaf ini terlihat dari catatan sejarah tentang:

  • Madrasah Al Adiliyyah di Damaskus (didirikan oleh Al Malik Al Adil).
  • Darul Hadith Al Asyrafiyyah (didirikan oleh Al Kamil Muhammad bin Ahmad bin Ayyub).
  • Madrasah Ash Shalihiyyah (didirikan oleh Al Malik Ash Shalih Nazmuddin Ayyub).

Upaya berkelanjutan ini berkontribusi signifikan pada pelestarian Dinasti Ayyubiyah selama setidaknya satu abad. Sampai saat ini, manfaat dari aset wakaf yang didirikan oleh para pendiri dinasti tersebut terus mengalir, menjadi bukti nyata amal jariyah yang abadi. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Wakaf Sebagai Pilar Abadi Peradaban Islam dan Kontribusi Sultan Salahuddin al-Ayyubi Read More »

Menggali Potensi Wakaf Produktif: Dari Sejarah Kenabian hingga Kontribusi Nyata Aset DT

WAKAFDT.OR.IDWakaf telah lama dipandang sekadar donasi untuk pembangunan tiga bidang utama: masjid, madrasah, dan pemakaman (3M).

Padahal, dengan inovasi dan pengelolaan yang strategis, wakaf bertransformasi menjadi aset produktif yang dapat menghasilkan keuntungan berkelanjutan, yang manfaatnya kembali digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan dan fasilitas publik.

Konsep wakaf produktif ini termasuk dalam kategori sedekah jariyah, di mana pahalanya terus mengalir kepada pemberi wakaf (wakif) selama aset tersebut terus memberikan manfaat kepada penerima (mauquf alaih).

Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap untuk mengembangkan wakaf produktif, menyusul keberhasilan praktik di negara-negara Islam lain seperti Turki, Singapura, dan Malaysia.

Apa Itu Wakaf Produktif?

Wakaf produktif adalah metode pengelolaan wakaf yang bertujuan utama memastikan aset wakaf – baik berupa benda bergerak (uang, logam) maupun tidak bergerak (tanah, bangunan) – menghasilkan surplus atau keuntungan finansial secara berkesinambungan.

Keuntungan yang dihasilkan dari aset produktif ini kemudian dialokasikan untuk membiayai berbagai program sosial dan kebutuhan masyarakat, seperti:

  • Peningkatan Akses Pendidikan (beasiswa, pembangunan sekolah).
  • Layanan Kesehatan Berkualitas bagi masyarakat kurang mampu.
  • Pengembangan Aset Ekonomi lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan umum.

Secara esensi, tujuan utama wakaf produktif adalah meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui kemandirian finansial aset wakaf itu sendiri.

Jejak Sejarah dan Implementasi Nyata di DT

Konsep wakaf produktif bukanlah hal baru. Ia telah dipraktikkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Sebuah riwayat dari Umar bin Khattab menjadi landasan utamanya.

Ketika Umar mewakafkan sebidang tanah berharga di Khaibar, Nabi SAW bersabda, “Wakafkanlah tanahnya dan sedekahlah buah-buahannya.”

Ini mengajarkan prinsip dasar: aset pokok (tanah) dipertahankan, sementara hasil atau keuntungannya (buah-buahan) dibagikan kepada yang membutuhkan (fakir, miskin, yatim, dan sebagainya).

Penerapan prinsip ini kini terlihat jelas dalam pengelolaan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga seperti Pesantren Daarut Tauhiid (DT).

Kaitan dengan Aset Wakaf DT, Daarut Tauhiid secara aktif mengelola berbagai aset wakaf produktif, seperti:

  • Pusat Bisnis dan Ritel: Toko-toko atau unit usaha yang berada di bawah naungan DT.
  • Properti Komersil: Bangunan atau properti yang disewakan atau dioperasikan secara komersil.
  • Pertanian/Peternakan: Aset yang dikelola untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

Hasil keuntungan atau surplus dari aset-aset produktif DT ini tidak hanya dikembalikan untuk pemeliharaan aset, tetapi juga secara rutin dialokasikan untuk membiayai operasional pesantren, beasiswa pendidikan, layanan kesehatan gratis, dan program pemberdayaan masyarakat.

Dengan demikian, pengelolaan wakaf di DT menjadi contoh nyata bagaimana warisan ibadah dari zaman Nabi dapat bertransformasi menjadi mesin kesejahteraan ekonomi umat yang berkelanjutan di era modern. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menggali Potensi Wakaf Produktif: Dari Sejarah Kenabian hingga Kontribusi Nyata Aset DT Read More »

Mau Berwakaf? Pilih Nazhir yang Terpercaya

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Dalam Islam, wakaf merupakan salah satu amalan jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun pewakaf (wakif) telah meninggal dunia.

Agar wakaf dapat dikelola dengan baik dan memberikan manfaat berkelanjutan, dibutuhkan pihak pengelola yang disebut dengan nazhir.

Secara sederhana, nazhir adalah individu, kelompok, atau lembaga yang bertugas menerima, mengelola, mengembangkan, dan menyalurkan harta wakaf sesuai dengan tujuan syariah.

Tugas utama nazhir bukan hanya menjaga aset wakaf agar tidak hilang, tetapi juga memastikan hasil pengelolaan wakaf benar-benar memberi manfaat bagi umat.

Peran nazhir sangat vital karena baik-buruknya manfaat wakaf sangat bergantung pada kemampuan dan amanah pengelolaannya. Karena itu, memilih nazhir yang tepat adalah langkah penting bagi seorang wakif.

Tips dalam memilih lembaga nazhir wakaf yang terpercaya, di antaranya ialah:

Legalitas dan Pengakuan Resmi

Pastikan lembaga nazhir telah memiliki izin resmi dari Badan Wakaf Indonesia (BWI) atau instansi terkait. Legalitas ini menjadi bukti bahwa lembaga tersebut diawasi dan diakui secara hukum.

Transparansi dan Akuntabilitas

Lembaga nazhir yang baik akan selalu memberikan laporan terbuka terkait pengelolaan wakaf. Laporan keuangan, perkembangan aset wakaf, hingga penyaluran manfaat harus mudah diakses oleh wakif maupun masyarakat.

Program yang Jelas dan Bermanfaat

Nazhir terpercaya biasanya memiliki program pengembangan wakaf yang jelas, seperti wakaf produktif (usaha, pertanian, properti), wakaf pendidikan, kesehatan, hingga sosial kemanusiaan. Semakin konkret dan terukur programnya, semakin besar manfaat yang dirasakan umat.

Kredibilitas Pengurus

Lihat latar belakang para pengurus lembaga nazhir. Integritas, kompetensi, serta kepedulian sosial mereka menjadi modal penting dalam menjaga amanah umat.

Pilih lembaga yang memiliki rekam jejak positif, terbukti amanah, dan profesional dalam mengelola wakaf. Testimoni dari wakif sebelumnya atau publikasi laporan kinerja bisa menjadi bahan pertimbangan.

Inovasi dan Kemampuan Beradaptasi

Di era digital, lembaga nazhir terpercaya juga mampu beradaptasi dengan teknologi, misalnya menyediakan layanan wakaf online, laporan digital, dan program-program wakaf yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Nazhir adalah ujung tombak dalam menjaga amanah wakaf. Dengan memilih lembaga nazhir yang terpercaya, wakif dapat merasa tenang bahwa hartanya benar-benar bermanfaat dan berkelanjutan sesuai syariat Islam.

Wakaf bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang memastikan manfaat itu terus mengalir untuk umat dan menjadi bekal amal jariyah hingga akhirat.

Redaktur: Wahid Ikhwan


Mau Berwakaf? Pilih Nazhir yang Terpercaya Read More »

Aa Gym: Hati-Hati, Inilah Penyakit Hati yang Membinasakan

WAKAFDT.OR.IDKemunafikan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia lahir dari sikap menyekutukan Allah, takut kepada selain-Nya, serta menggantungkan harapan kepada makhluk, bukan kepada Sang Pencipta.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam telah mengingatkan kita melalui sabdanya:

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang munafik ibarat musang berbulu domba. Penampilannya tampak baik dan manis, tetapi hatinya penuh kebusukan. Justru karena itulah, kemunafikan jauh lebih berbahaya dibandingkan keburukan yang ditampakkan secara terang-terangan.

Orang yang jelas-jelas jahat mudah dikenali, tetapi orang munafik menyembunyikan niat buruknya di balik wajah yang terlihat manis.

Hakikatnya, mereka adalah penipu: berdusta adalah bentuk penipuan, ingkar janji juga penipuan, demikian pula berkhianat terhadap amanah. Kemunafikan terbagi dalam dua jenis.]

Pertama, kemunafikan dalam akidah, yakni seseorang yang hatinya tidak beriman kepada Allah, namun secara lahiriah menampakkan diri sebagai seorang muslim.

Contoh klasiknya adalah Abdullah bin Ubay, yang membenci Islam tetapi berpura-pura mencintainya. Inilah bentuk kemunafikan paling berat.

Kedua, kemunafikan dalam amal perbuatan. Tipe ini bisa menimpa siapa saja, meski ia beriman kepada Allah. Wujudnya tampak dalam perilaku sehari-hari: berjanji tanpa kesungguhan untuk menepati, mengabaikan amanah, atau berbeda antara ucapan dan tindakan.

Seseorang bisa bermuka manis di depan, namun di belakangnya ia berghibah, mencela, bahkan merendahkan. Sikap semacam ini tidak hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga menimbulkan ketidaknyamanan dan perpecahan dalam masyarakat, keluarga, bahkan bangsa.

Kemunafikan juga menjadi akar dari banyak persoalan yang tidak kunjung selesai. Contohnya dalam kasus narkoba: meski banyak pengedar ditangkap, masalah tidak akan pernah tuntas jika para penegak hukumnya sendiri masih mempraktikkan kemunafikan.

Oleh karena itu, kemunafikan adalah sifat yang sangat tercela dan dibenci Allah Ta’ala. Ia adalah sumber kerusakan yang menghancurkan tatanan hidup.

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk membersihkan hati, menjaga ucapan dan perbuatan, serta dijauhkan dari sifat munafik, baik dalam akidah maupun dalam amal.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Hati-Hati, Inilah Penyakit Hati yang Membinasakan Read More »

Aa Gym: Jika Ingin Allah Perbaiki Hidupmu, Maka Perbaiki Sholatmu

WAKAFDT.OR.IDSalah satu amalan yang paling baik dibulan di bulan Ramadhan yang perlu ditingkatkan adalah sholat. Kita menyakini bahwa dengan mengerjakan sholat kita akan memperoleh pertolongan dari Allah Ta’ala.

Kita juga yakin bahwa dengan sholat yang dikerjakan dapat mencegah dari perbuat keji dan mungkar. Namun sholat itu hanya akan berdampak apabila sholat kita bagus kualitasnya.

Perbaiki sholat maka Allah juga akan memperbaiki diri kita. oleh karena itu kita perlu hati-hati, menjaga kualitas sholat kita, kerap menunaikan sholat seadanya dan tidak semangat. Kalau sholatnya asal-asalan pasti mengingat Allah jadi tidak ada.

Dibluan ramadan ini juga tidak hanya memperbaiki kualiitasnya, tetapi meningkatkan kuantitasnya. Melakukan sholat-sholat sunah dibulan ramadan seperti sholat tarawih yang hanya ada dibulan ramadan, witir, tahajud, dhuha, dan sholat sunah yang lainnya.

Untuk mengetahui seberapa berkualitas kita, maka bisa diukur dari nat, cara, dan seberapa banyak ia mengingat Allah dalam sholatnya. Kalau kita lebih banyak mengingat selain Allah, itu tandanya kualitas sholat kita masih belum baik, karena kita sholat untuk Allah maka harus kita hadapkan pikiran dan hati kita kepada Allah ta’ala.

Agar kita bersemangat dalam beribadah sholat maka kuatkan motifnya, yaitu balasan yang akan diberikan kepada orang yang mengerjakan sholat dan tujuan tersebut harus kita Imani dengan seyakin-yakinnya.

Keimanan merupakan kekuatan kita dalam melaksanakan sholat dibulan ramadan, tanpa keimanan kita tidak akan bisa melakukan melakukannya.

Kemudian kita juga harus menyadari dan dapat merasakan atas kehadirannya Allah Ta’ala ketika sholat, karena bagi seorang muslim menyadari bahwa seluruh pekerjaan dan perbuatan akan selalu dalam pengawasan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Sallahu ‘alaihi wassalam:

”Ikhsan yaitu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya, walaupun engkau tidak melihatnya tetapi sesungguhnya Dia (Allah) melihatmu”.

Sholat adalah perintah Allah Ta’ala yang wajib dijalankan oleh umat Islam yang telah memenuhi syarat secara syar’i. Mengerjakan sholat tidak boleh asal-asalan atau dibuat main-main.

Selain karena perintah langsung dari Allah, sholat adalah cara manusia ‘bercakap-cakap’ dengan-Nya. Dengan sholat, manusia meminta rejeki, memohon ampun, mendoakan orang lain, mengharap ridho, dan berbagai hal lainnya.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahdi Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Jika Ingin Allah Perbaiki Hidupmu, Maka Perbaiki Sholatmu Read More »

4 Sumber Hukum Dalam Islam

WAKAFDT.OR.IDSebagai seorang muslim tentu membutuhkan tuntunan sebagai sumber hukum untuk menjalankan hidup dan memutuskan sesuatu suatu hukum dalam sebuah perkara.

Ada 4 sumber hukum dalam Islam yang harus diketahui, di antaranya ialah:

Al-Qur’an, sumber hukum Islam yang pertama ialah Al-Qur’anul Karim. Al-Qur’an merupakan kalam atau firman Allah Ta’ala.

Firman Allah yang dihimpun menjadi sebuah kitab suci dan diyakini sebagai wahyu langsung dari Allah melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang mengatur berbagai aspek kehidupan, seperti ibadah, muamalah, sejarah, akhlak, dan hukum pidana.

Dalam surat Al-Isra ayat 88, Allah Ta’ala berfirman:

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.”

Hadits, sumber hukum Islam selanjutnya hadits. Hadits adalah perkataan Nabi yang juga menjadi tuntunan dalam beribadah dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Dalam hadits terdapat tindakan, ucapan, dan persetujuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Hadist memberikan gambaran bagaimana Rasullullah Ta’ala mengimplementasikan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Allah Ta’ala dalam Surat Ali-Imran ayat 32 yang artinya:

Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Ijma, ijma merupakan kesepakatan para ulama tentang masalah dan hukumnya dalam Islam. Ijma terbentuk melalui diskusi di antara para ulama yang berdasarkan pada analisis Al-Qur’an dan hadis. Untuk menjawab sebuah persoalan yang belum ada status hukumnya.

Qiyas, qiyas ialah metode penalaran analogi yang dipakai untuk memutuskan sebuah hukum baru dengan membandingkan dengan hukum yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis.

Namun, qiyas harus berdasarkan pada kesamaan dasar (illat) antara situasi lama dengan yang baru.

Semoga dengan memahami 4 sumber hukum dalam Islam dapat menjadi tuntunan bagi kita dalam menjalani persoalan hidup dan menjadi acuan dalam memutuskan sebuah perkara yang harus diputuskan.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

4 Sumber Hukum Dalam Islam Read More »

Aa Gym: Tujuan Hidup Kita Adalah Alloh

WAKAFDT.OR.IDSebuah keberuntungan besar bagi orang-orang yang memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Setiap keyakinan yang kuat merupakan awal dari kesuksesan. Karena keraguan adalah sumber dari malapetaka.

Pergi dari rumah tanpa tujuan hanya akan membuang banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya saja, bahkan juga bisa mendekatkan diri kepada petaka.

Sebaliknya jika ada tujuan yang jelas, maka akan ada persiapan yang matang, memiliki tekad yang kuat dan bulat, tujuannya untuk sesuatu yang benar, maka waktu yang terlewati akan sangat efektif.

Lantas, untuk apa tujuan hidup seseorang di dunia ini? Hidup hanya sebentar dan sekali di dunia ini. Kalau tidak jelas tujuannya, maka jangan heran kalau kita merasa bosan, lelah dan capek ketika menjalani hidup.

Tetapi bagi orang yang sudah jelas tujuannya, insyaAlloh setiap detik waktunya akan terisi dengan hal-hal yang positif. Tidak ada waktu baginya untuk berkeluh kesah yang tidak ada guna.

Coba kita lihat siapa diri kita. Kita makhluk bernama manusia, makhluk yang Alloh ciptakan, yang tinggal di bumi milik Alloh, yang hidup di dalam alam semesta yang berada dalam kekuasaan Alloh.

Kita adalah hamba Alloh. Maka sebaik-baik cita-cita adalah bagaimana agar kita sebagai hamba dicintai oleh Penciptanya.

Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasalam mengajarkan kita untuk berdoa:

اللَّهُمَّ إنَّا نَسألُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

“Allohumma inni as aluka ridhoka wal jannah wa a’uzubika min sakhothika wannaar”

Artinya: “Ya Alloh, aku memohon daripada-Mu keridhoan-Mu dan surga, dan aku memohon perlindungan daripada kemurkaan-Mu dan dari azab api neraka”.  (HR.  Tirmidzi)

Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasalam mengajarkan bahwa ridho Alloh adalah sebaik-baik cita-citanya. Kita lihat seekor induk ayam, yang tidak diberikan akal, sayang kepada anak-anaknya.

Sang induk akan memberi perlindungan dan mencarikan makan untuk anaknya. Padahal itu hanyalah sekelompok hewan yang oleh Alloh diberikan sifat kasih sayang tanpa diberi akal layaknya manusia.

Lalu kita lihat manusia, bagaimana orangtua pasang badan untuk anaknya, rela membanting tulang bekerja keras untuk anaknya.

Padahal jika diperhatikan, itu hanyalah setetes dari sifat rahman dan rahim Alloh, yang ditebarkan kepada sekian banyak makhluk-Nya di atas muka bumi ini. Setetes sifat kasih sayang saja mampu membuat induk ayam menyayangi anak-anaknya.

Lalu, bagaimana jika kita dicintai Alloh dengan kasih sayang-Nya? Apa yang akan kita rasakan? Maka sungguh sempurna kenikmatan yang akan kita dapatkan.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Alloh yang senantiasa berjalan menuju-Nya dan mendapat limpahan kasih sayang-Nya. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Tujuan Hidup Kita Adalah Alloh Read More »

Aa Gym

Aa Gym: Akhlak Mulia Seseorang Berbanding Lurus dengan Dzikirnya

WAKAFDT.OR.IDSaudaraku, kita pasti selalu mendambakan bisa menjadi pribadi yang berakhlak mulia mengikuti baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam.

Nah, akhlak mulia itu sangat dipengaruhi oleh dzikrullah, semakin baik kualitas ddzikir seseorang, semakin banyak dzikir seseorang, maka akan semakin sempurna akhlaknya.

Orang yang ddzikir secara ala kadarnya paling hanya akan berakhlak saja, tidak mencapai kesempurnaan dan kemuliaan akhlaknya.

Dzikrullah akan membuat akhlak menjadi ikhlas. Ada yang berbuat baik supaya dianggap orang baik. Ada yang berbuat baik supaya orang lain membalas kebaikannya. Ada yang berbuat baik supaya orang lain tidak berbuat jelek kepadanya.

Ada yang berbuat baik supaya orang lain merasa berutang budi karena kebaikannya. Semua ini tidak termasuk akhlak mulia, karena akhlak mulia itu berkaitan dengan dzikrullah yaitu ikhlas.

Sulit sekali orang menjadi ahli syukur kalau tidak dzikir, karena sesungguhnya segala nikmat berasal dari Alloh Ta’ala.

Sulit sekali orang bisa sabar jikalau tidak dzikir, karena sesungguhnya orang yang sabar itu adalah orang yang bisa menahan diri dan memilih yang Alloh sukai.

Jadi, orang yang kurang dzikir maka akan kurang sempurna akhlaknya. Meskipun dia bisa berbuat baik, tapi pasti tidak mencapai pada kemuliaan akhlak. Alloh Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ahzab: 41-43)

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mendawamkan dzikir dan istiqomah menjadikan dzikir sebagai bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas kita sehari-hari.

Semoga kita menjadi orang-orang yang berakhlak mulia dan istiqomah dalam kesempurnaan akhlak. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin. Wallahu a’lam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Akhlak Mulia Seseorang Berbanding Lurus dengan Dzikirnya Read More »

Perbedaan Infaq Terikat & Wakaf

WAKAFDT.OR.IDInfaq terikat adalah infaq yang dikhususkan untuk aktivitas tertentu atau untuk tempat tertentu. Misalkan seperti infaq untuk membantu Palestina, itu terikat, maka yang menerima infaq itu atau yang dititipinya harus menyalurkan sesuai dengan niat dari orang yang berinfaq.

Contohnya, saya mau infaq buat Palestina maka tidak boleh digunakan untuk infaq masjid atau infaq yang lain di luar dari kepentingan Palestina karena sudah terikat dengan akad si orang yang berinfaq.

Atau misalkan saya infaq untuk membiayai anak-anak yang ingin sekolah atau pendidikan, maka hal itu telah terikat untuk pendidikan dan tidak boleh digunakan untuk ekonomi atau kesehatan dan yang lainnya.

Sementara wakaf itu lebih spesifik, dari perspektif barang atau produknya, harta benda wakaf harus dijaga, dipelihara, diabadikan, dan dikelola untuk menghasilkan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Manfaat dari pengelolaan harta wakaf tidak ekslusif untuk umat Islam. Wakaf tidak memandang agama. Dampak kesejahteraan sosial dari wakaf bisa dinikmati seluas-luasnya oleh semua kalangan. Intinya wakaf tersebut tidak boleh dialokasikan, tidak boleh berkurang dan tidak boleh berpindah kepemilikannya.

Adapun ayat mengenai wakaf tercantum pada Al Quran surat Ali Imran ayat 92:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)

Wakaf dalam bahasa arab berarti habs (menahan) artinya menahan harta yang memberikan manfaatnya di jalan Allah Ta’ala. Dari pengertian itu kemudian dibuatlah rumusan pengertian wakaf menurut istilah.

Secara istilah ialah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya, guna kepentingan ibadat atau kerpeluan umum lainnya, sesuai dengan ajaran Islam berdasarkan Madzab Syafi’i.

Firman Allah dalam Al Quran:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)

Dalam hadits juga disebutkan:

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga, yaitu: Sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akan kepadanya.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, II: 14)

Seseorang yang berwakaf disebut dengan wakif, yakni orang yang mewakafkan harta benda miliknya. Syarat utama untuk menjadi wakif yaitu sudah akil baligh, berakal sehat, sukarela dan merdeka.

Barang atau benda yang diwakafkan tidak dapat diperjualbelikan. Umumnya diterapkan dalam bentuk madrasah, mushola atau makam.

Namun sekarang sudah lebih dioptimalkan yaitu melalui wakaf rumah sakit, kebun, sumur, ladang atau tempat pengembangan diri.

Pada umumnya, zaman Rasulullah wakaf itu berupa tanah, tapi kemudian juga berkembang tidak hanya tanah. Bisa berupa bangunan, bisa berupa Pesantren, lahan pertanian, perkebunan, kolam dan seterusnya.

Bahkan sekarang berkembang dengan kondisi temporer dengan istilah wakaf Uang, para ulama membolehkan hal ini tentunya tanpa menghilangkan esensi dari wakaf itu.

Ketika sudah diwakafkan berarti sudah menjadi kepemilikan Allah, yang artinya tidak dijual belikan, tidak diwariskan, tidak dihadiahkan, tapi itu dikelola oleh Nazir untuk diambil kemanfaatannya bagi umat. Wallahu a’lam bishowab.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Perbedaan Infaq Terikat & Wakaf Read More »

Gelar Dunia Bukan Jaminan Lulus di Surga

WAKAFDT.OR.IDPernahkah kita merasa, ada orang yang menganggap diri kita baik, cerdas, berguna, dan hal hal baik lainnya? Mungkin ada, gelar orang yang menyebut kita ‘Si Sholeh’.

Karena anak ustadz misal, lalu semasa sekolah nilai agama selalu baik, tidak pernah berbuat onar dan di kampung halaman rajin mengaji. Pasti ada, diantara kita yang mendapat gelaran tersebut. Lalu kita tersadar dan malu, karena tahu diri kita yang sebenarnya, yang mereka tidak tahu.

Seiring berjalannya waktu, kita dialirkan pada tempat dan suasana yang baru. Bisa dibilang, lebih baik dari lingkungan sebelumnya. Dan ketika kita masuk dalam lingkungan yang lebih baik tersebut, kita merasa tidak ada apa-apanya.

Gelar-gelar dunia yang orang-orang bilang dulu di lingkungan yang lama, tak terdengar lagi di tempat yang lebih baik ini.

Kenapa bisa? Karena kita lihat sendiri orang-orang yang betul-betul pantas mendapat gelaran tersebut begitu terlihat di lingkungan yang betul-betul baik. Sedangkan gelaran kita dahulu, hanya diberikan oleh orang-orang yang tidak mengenal kita sama sekali.

Ketika masuk lingkungan baru, banyak hal yang baru kita tahu. Sehingga kita akan lebih banyak berkata, baik dikatakan dalam hati, ‘Oh ternyata ini seharusnya seperti ini, Oh ternyata hal itu asal usulnya seperti itu’, dan masih banyak ‘Oh’ lagi yang baru kita ketahui.

Hafalan juz 30 yang kita banggakan selama ini, menciut ketika orang-orang disekelilingmu sudah hapal 30 juz. Bacaan qur’an yang kita anggap lancar, menjadi belajar lagi dari awal dengan tahsin, karena ternyata ilmu makharijul huruf itu luas. Ah dan masih banyak lagi yang kita semua mulai dari nol.

Lalu kenapa, dulu orang-orang menyebut kita dengan gelaran yang baik? Ibaratkan juara kelas, dulu kita mungkin diberikan gelaran tersebut pada tingkat RT. Sedangkan orang lain mendapat gelaran tersebut sudah pada tingkat Internasional yang sudah diakui oleh dunia.

Kalau ibaratkan tingkat RT sampai Internasional adalah tingkatan dari tidak baik menuju baik bahkan sangat baik, bisa jadi kita mendapat gelaran tersebut bukan karena kita benar-benar sudah baik, namun kita dianggap baik di lingkungan yang belum baik.

Bisa dibilang, ‘Aga mending dibandingkan dengan yang lain’, tentu aga mending ini bukan patokan sudah baik, namun tidak ada lagi.

Allah menaikkan kita ke tempat yang lebih baik untuk menyadarkan kita. Jangan sombong dengan kedudukannu saat ini yang digelarkan orang-orang. Di atas kita pasti ada yang lebih, lebih, bahkan lebih baik lagi.

Dan terpenting, kita harus sadar bahwa karena kasih sayang Allah lah kita mendapat gelaran tersebut. Allah telah menutup aib-aib kita yang harus kita syukuri, sehingga sampai saat ini masih ada yang mau bersikap tulus untuk menjadi teman kita.

Sedikit saja Allah buka aib kita, tentu kita sudah dianggap tidak ada harganya lagi. Kalau kata guru Aagym, jika dosa itu bau, sekali saja kita berbuat dosa tentu badan kita akan bau, tapi kita telah berbuat dosa banyak sekali, bukan sekali, dan pasti badan ini sangat bau.

Terkadang, manusia biasa seperti kita, ketika dipuji merasa mulia dan seolah-olah pujian itu memang untuk kita, seolah-olah kita lupa bahwa hakikatnya pujian itu hanya untuk Allah semata.

Dan ketika dihina, kita tidak terima. Padahal, keadaan kita lebih buruk dari yang mereka katakan. Astaghfirulloohal’adziim.

Berbeda dengan Abu Bakr, yang ketika dipuji, beliau berkata,

”Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka”

Itulah perbedaan jauh kita dengan sahabat Rasulullah SAW. tercinta, sangat berbeda. Dan tentu kita sudah sering mendengar 3 golongan yang terlihat meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah, namun ternyata Su’ul Khatimah, Naudzubillaah.

Kenapa bisa? Amalannya sudah sangat banyak, bahkan sampai berkorban nyawa. Salahnya hanya satu, tapi Fatal, Niat.

Ia meninggal dalam kondisi berperang melawan musuh Allah, namun ‘ingin dilihat syahid’. Ia tersungkur ke bara api yang menyala padahal banyak mengeluarkan harta, ‘ingin dilihat dermawan’.

Dan ia diseret oleh Malaikat penjaga neraka padahal banyak ilmunya, ‘ingin dilihat ahli agama. Iya begitulah kesombongan dan berharap pujian dari makhluk yang telah membakar semua pengorbanannya. Nauudzubillaah.

Semoga Allah karuniakan kepada kita hati yang ikhlas dalam melakukan ibadah apapun. Sehingga kita melakukan dan tidak melakukan sesuatu bukan karena penilaian dari makhluk, tapi kita kembali bertanya pada diri, “Apakah Allah Ridha?”

Kita semua pendosa dan Allah adalah sebaik-baik penerima Taubat. Semoga kita mengenal Allah dengan sebaik-baikinya pengenalan dan Allah wafatkan kita dalam keadaan Husnul Khatimah. Aamiin Yaa Allah, Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Gelar Dunia Bukan Jaminan Lulus di Surga Read More »