Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel

Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi: Seni Melapangkan Hati di Tengah Kesempitan

WAKAFDT.OR.IDPernahkah Anda berdiri di depan kotak amal, tangan sudah merogoh saku, namun tiba-tiba terhenti? Sebuah suara halus di kepala berbisik, “Nanti saja kalau gaji sudah naik,” atau “Tabungan belum aman, bulan depan saja.” Kita pun berlalu dengan dompet tertutup, membawa perasaan ganjil yang sulit didefinisikan.

Fenomena ini sering terjadi. Di era saat kesuksesan diukur dari saldo ATM dan aset properti, berbagi sering kali dianggap sebagai “hak istimewa” bagi mereka yang sudah mapan. Padahal, dalam Islam, kedermawanan bukanlah puncak dari kemapanan, melainkan fondasi utama keimanan.

Melampaui Hitungan Logika

Rasulullah SAW tidak pernah meminta umatnya menunggu kaya untuk memberi. Sebaliknya, beliau memuji mereka yang tetap bersedekah di masa sulit. Di sanalah letak ujian keimanan yang sesungguhnya: keberanian untuk melepas sesuatu di tengah rasa takut akan kekurangan.

Al-Qur’an menggambarkan sedekah seperti butiran benih (QS Al-Baqarah: 261). Satu benih menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji.

Ini adalah Hukum Pertumbuhan Ilahiah: apa yang kita lepaskan dengan ikhlas demi kebaikan, tidak pernah benar-benar berkurang, melainkan bertransformasi menjadi keberkahan yang berlipat ganda.

Dari Sedekah Menuju Wakaf: Mengabadikan Kebaikan

Jika sedekah sering kali bersifat insidental dan habis pakai, Islam menawarkan instrumen yang lebih dahsyat untuk melatih jiwa kaya: Wakaf.

Jika sedekah adalah memberi ikan, dan infak adalah memberi kail, maka wakaf adalah membangun kolamnya. Wakaf mengajarkan kita untuk tidak hanya memberi secara konsumtif, tetapi menginvestasikan harta di jalan Allah agar manfaatnya abadi.

“Sedekah membersihkan harta hari ini, namun Wakaf mengalirkan pahala hingga hari akhir, meski raga tak lagi bernyawa.”

Melalui wakaf, kita belajar bahwa kecukupan bukan tentang seberapa banyak yang kita makan, tapi seberapa luas manfaat yang kita tanam. Aset wakaf berupa sekolah, rumah sakit, hingga sumur air adalah bukti bahwa kedermawanan kolektif bisa mengubah peradaban.

Teladan dari Masa Lalu hingga Kini

Sejarah mencatat Abu Bakar Ash-Shiddiq membawa seluruh hartanya untuk perjuangan umat. Ketika ditanya apa yang tersisa, ia menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.” Di sisi lain, ada sahabat yang hanya mampu menyumbang segenggam kurma. Di mata Allah, nilainya tidak kalah besar karena ia memberi dari apa yang ia punya, bukan dari sisa kebutuhan.

Hari ini, kita melihat teladan serupa pada pengemudi ojek daring yang konsisten menyisihkan dua ribu rupiah setiap hari ke kotak amal masjid. “Agar hati saya tidak merasa paling susah,” ujarnya. Ada pula pedagang pasar yang membagikan nasi bungkus tiap Jumat meski usahanya sedang sepi. Mereka adalah sosok yang tidak kaya secara angka, tetapi sangat mewah secara mental.

Membentuk Mentalitas “Cukup”

Menunggu “cukup” untuk berbagi adalah jebakan tanpa ujung. Definisi cukup selalu bergeser; saat penghasilan naik, keinginan pun biasanya ikut melonjak. Berbagi justru menjadi cara untuk memutus rantai ketamakan tersebut.

Membiasakan diri (dan anak-anak) berbagi sejak dini akan membentuk jiwa yang stabil. Ia tidak akan mudah cemas saat melihat keberhasilan orang lain, dan tidak mudah goyah saat rezekinya sedang diuji.

Kaya yang Sesungguhnya

Kekayaan sejati bukanlah tentang tumpukan harta yang digenggam erat, melainkan tentang hati yang merasa lapang dan tangan yang ringan untuk memberi. Sedekah dan wakaf adalah latihan terbaik untuk mencapai level tersebut.

Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, tapi bersedekahlah agar hidup terasa kaya. Jangan menunggu mapan untuk berwakaf, tapi berwakafah agar manfaat hidupmu menjadi abadi.

Sebab pada akhirnya, yang benar-benar menjadi milik kita bukanlah apa yang kita simpan, melainkan apa yang telah kita berikan di jalan-Nya. Wallahu a’lam bishowab.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi: Seni Melapangkan Hati di Tengah Kesempitan Read More »

Transformasi Wakaf Uang: Menuju Kemandirian Pendidikan Pesantren di Indonesia

WAKAFDT.OR.IDSebuah babak baru dalam dunia filantropi Islam segera dimulai. Sejak tahun 2025, Badan Wakaf Indonesia (BWI) bersiap menggelar perhelatan strategis bertajuk “Waqf Goes to Pesantren (WGTP)”.

Bertempat di Pesantren Cipasung yang legendaris, acara ini mengusung misi besar: “Menggerakkan Wakaf Uang untuk Kemandirian dan Kemajuan Pendidikan Pesantren”.

Agenda ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah gerakan nyata untuk merevolusi tata kelola ekonomi di jantung pendidikan Islam Indonesia.

Evolusi Wakaf: Dari Aset Diam Menjadi Modal Produktif

Secara historis, wakaf di Indonesia identik dengan aset fisik (wakaf khairi) seperti tanah makam, masjid, atau bangunan sekolah.

Padahal, jika merujuk pada akar syariatnya, wakaf adalah instrumen “dana abadi” di mana pokok hartanya dijaga ketat, sementara hasil pengelolaannya dialokasikan untuk kemaslahatan umum.

Kini, konsep wakaf uang (cash waqf) muncul sebagai solusi kontemporer yang lebih inklusif. Berdasarkan Fatwa MUI (2002) dan UU No. 41 Tahun 2004, wakaf uang memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk berderma tanpa harus memiliki tanah luas.

Cukup dengan nominal yang terjangkau, seseorang sudah bisa berinvestasi akhirat sekaligus memperkuat ekonomi umat.

WGTP BWI: Jembatan Perubahan

Program Waqf Goes to Pesantren (WGTP) oleh BWI dirancang sebagai katalisator untuk mempercepat transformasi ini. Terdapat empat fokus utama dalam gerakan ini:

  • Edukasi & Literasi: Membangun pemahaman komprehensif mengenai potensi wakaf tunai di lingkungan pesantren.
  • Penguatan Nazhir: Mendorong lahirnya pengelola wakaf (nazhir) yang profesional, transparan, dan akuntabel di tiap institusi.
  • Mobilisasi Alumni: Menggerakkan potensi jaringan alumni yang masif sebagai basis wakif (pemberi wakaf).
  • Model Bisnis Produktif: Merumuskan strategi investasi dana wakaf agar menghasilkan surplus yang berkelanjutan.

Sebuah Panggilan Peradaban

Kemandirian pesantren bukan lagi sekadar wacana. Melalui optimalisasi wakaf uang, pesantren dapat berdiri tegak di atas kaki sendiri, bebas dari ketergantungan donasi yang tidak menentu.

WGTP adalah langkah awal untuk menyatukan visi antara pemerintah, ulama, dan umat guna menjadikan wakaf sebagai motor penggerak pendidikan Islam yang modern dan berdaya saing global. (H. Anas Nasikhin, M.Si/BWI)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Transformasi Wakaf Uang: Menuju Kemandirian Pendidikan Pesantren di Indonesia Read More »

Menjaga Pola Tidur Tetap Sehat Saat Ramadan

WAKAFDT.OR.IDSetelah menjalani rutinitas di bulan Ramadan, banyak orang menghadapi tantangan dalam menormalkan kembali pola tidurnya. Dominik, dalam wawancaranya dengan Esquire Middle East, menekankan bahwa menjaga kualitas serta kuantitas istirahat sangat krusial untuk memulihkan produktivitas harian.

Berikut adalah langkah-langkah strategis untuk menciptakan tidur yang lebih berkualitas:

1. Ciptakan “Sanctuari” Tidur yang Tenang

Kondisi lingkungan sangat menentukan seberapa cepat Anda terlelap. Dominik menyarankan agar kamar tidur tetap dalam kondisi senyap dan tanpa cahaya (gelap total).

Alat Bantu: Penggunaan penutup mata (eye mask) dan penyumbat telinga (earplugs) bisa menjadi solusi efektif bagi Anda yang sensitif terhadap gangguan eksternal agar bisa tidur lebih dalam.

2. Investasi pada Kenyamanan Ergonomis

Kasur dan bantal bukan sekadar perlengkapan, melainkan instrumen kesehatan. Kasur yang ideal adalah yang mampu mendistribusikan tekanan secara merata pada area punggung, leher, dan persendian. Pilihlah perlengkapan tidur yang tidak menimbulkan rasa kaku atau nyeri saat bangun di pagi hari.

3. Tips Khusus untuk Pasangan

Bagi Anda yang berbagi tempat tidur dengan pasangan, Washington Post membagikan beberapa kiat agar tidak saling mengganggu:

Gunakan Dua Selimut: Strategi ini efektif mencegah Anda terbangun saat pasangan menarik selimut atau bergerak di malam hari.

Ukuran Tempat Tidur: Riset menyarankan ukuran ideal tempat tidur untuk dua orang adalah sekitar 71 inci. Jarak ini memberikan ruang gerak setidaknya satu lengan antar individu.

Material Memory Foam: Jika pasangan Anda tipe yang sering bergerak saat tidur, kasur jenis memory foam sangat direkomendasikan karena kemampuannya meredam getaran dan gerakan.

4. Ritual Pagi dan Persiapan Malam

Kebiasaan kecil ternyata berdampak besar pada psikologi tidur:

Merapikan Kasur: Menurut National Sleep Foundation, kebiasaan merapikan tempat tidur di pagi hari secara tidak sadar membuat Anda lebih tenang saat akan tidur di malam hari. Hal ini juga mencegah penggunaan tempat tidur untuk aktivitas lain seperti bekerja atau menonton TV.

Aturan 30 Menit: Matikan atau redupkan lampu setidaknya setengah jam sebelum naik ke tempat tidur. Pastikan suhu ruangan tetap sejuk dan pasang tirai tebal untuk mencegah sinar matahari membangunkan Anda terlalu dini secara paksa.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjaga Pola Tidur Tetap Sehat Saat Ramadan Read More »

Menyelami Makna Hakiki Puasa: Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga

WAKAFDT.OR.IDKedatangan bulan suci Ramadan selalu disambut dengan kegembiraan oleh umat Muslim. Momentum ini menjadi waktu terbaik untuk meningkatkan intensitas ibadah, baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Namun, agar nilai ibadah kita tidak kosong, sangat penting untuk memahami esensi mendalam dari puasa itu sendiri.

Dalam khazanah bahasa Arab, puasa disebut dengan istilah Shaum. Secara harfiah, kata ini merujuk pada al-imsak, yang berarti tindakan mengekang atau menahan diri dari sesuatu.

Makna ini mencakup spektrum yang luas, bahkan dalam Al-Qur’an (Surah Maryam: 26), shaum juga digunakan untuk menggambarkan kondisi menahan diri dari berbicara.

Secara syariat, puasa Ramadan adalah ibadah menahan diri dari dua dorongan syahwat utama—yaitu perut dan kemaluan—serta menjauhi segala hal yang membatalkan pahala maupun sahnya puasa, terhitung sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam.

Kewajiban menjalankan puasa Ramadan didasarkan pada dalil yang kuat, yakni Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183, yang menegaskan bahwa tujuan akhir dari ibadah ini adalah membentuk pribadi yang bertakwa.

Selain itu, Rasulullah SAW menetapkan puasa sebagai salah satu dari lima pilar utama (Rukun Islam) yang menyokong tegaknya agama.

Dalam praktiknya, kita mengenal waktu Imsak, yakni periode sekitar 10 menit sebelum azan Subuh. Imsak berfungsi sebagai alarm bagi umat agar lebih berhati-hati dan mulai menghentikan aktivitas makan atau minum sebelum waktu subuh benar-benar tiba.

Syarat dan Ketentuan Puasa

Agar ibadah ini diterima dan sesuai dengan tuntunan, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi:

1. Syarat Wajib (Siapa yang harus berpuasa?):

  • Beragama Islam: Puasa adalah ibadah khusus bagi Muslim.
  • Baligh: Telah mencapai usia dewasa (ditandai dengan mimpi basah bagi laki-laki atau menstruasi bagi perempuan).
  • Berakal Sehat: Tidak diwajibkan bagi mereka yang hilang ingatan atau gila.
  • Mampu secara Fisik: Bagi lansia atau orang sakit yang tidak sanggup berpuasa, kewajiban ini digantikan dengan membayar fidyah.

2. Syarat Sah (Kapan puasa dianggap sah?):

  • Suci dari haid dan nifas bagi perempuan.
  • Dilaksanakan pada waktu yang tepat (telah masuk bulan Ramadan berdasarkan rukyat atau hisab).

Tips Puasa Berkualitas ala Imam al-Ghazali

Agar puasa tidak sekadar menjadi ritual menahan lapar, Imam al-Ghazali memberikan enam panduan agar ibadah kita mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah:

  • Menjaga Pandangan: Menghindarkan mata dari hal-hal yang dilarang atau dapat mengotori hati.
  • Menjaga Lisan: Menjauhi ghibah (gosip), dusta, caci maki, dan perdebatan yang tidak berguna. Disunnahkan memperbanyak zikir dan tadarus.
  • Menjaga Pendengaran: Tidak mendengarkan pembicaraan buruk atau maksiat, karena pendengar dianggap berserikat dengan orang yang bergunjing.
  • Menjaga Anggota Tubuh: Menjauhkan tangan, kaki, dan perut dari aktivitas serta konsumsi makanan yang bersifat syubhat atau haram, terutama saat berbuka.
  • Berbuka Secukupnya: Menghindari perilaku konsumtif dan berlebihan saat waktu berbuka tiba. Hakikat puasa adalah mengendalikan nafsu, bukan memindahkannya ke waktu malam.
  • Keseimbangan Hati (Khawf & Raja’): Menghadirkan rasa khawatir (khawf) jika amalan kita tidak diterima, sekaligus menanamkan harapan besar (raja’) agar Allah meridhai setiap peluh ibadah kita.

Dengan memahami dan menerapkan poin-poin di atas, semoga Ramadan kita tahun ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan sarana transformasi diri menuju ketakwaan yang sejati.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menyelami Makna Hakiki Puasa: Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga Read More »

Al-Qur’an sebagai Arsitektur Ketahanan Jiwa di Era Disrupsi

WAKAFDT.OR.IDKrisis di zaman modern tidak lagi selalu identik dengan dentuman meriam atau bencana kelaparan. Hari ini, krisis hadir dalam bentuk yang lebih senyap namun mematikan: kecemasan yang tak berujung, beban ekonomi yang menghimpit, hingga persaingan sosial yang melelahkan. Di tengah banjir informasi, manusia justru sering kali mengalami kekeringan ketenangan batin.

Dalam hiruk-pikuk ini, Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai kitab suci, tetapi juga sebagai fondasi ketahanan mental. Tiga konsep dari ayat-ayat pilihan berikut menawarkan kerangka bagi kita untuk tetap tegak berdiri.

1. Prinsip Kapasitas: Beban yang Terukur

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 286, Allah menegaskan prinsip keadilan-Nya:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

Syekh Ath-Tabari menjelaskan bahwa frasa “illa wus’aha” merupakan jaminan bahwa beban hidup tidak akan pernah melebihi batas kekuatan riil manusia. Menariknya, Imam Fakhr al-Din al-Razi dalam tafsir Mafatih al-Ghayb memandang ayat ini sebagai bukti keadilan Ilahi.

Sering kali, rasa “berat” yang kita rasakan hanyalah persepsi mental yang rapuh. Ayat ini mengajak kita menata ulang pola pikir: jika sebuah ujian mampir dalam hidup, artinya perangkat kekuatan untuk menghadapinya sudah tertanam di dalam diri kita. Kesulitan bukanlah tanda keruntuhan, melainkan proses perluasan kapasitas jiwa.

2. Paradoks Kemudahan: Hadir di Tengah Kesulitan

Melalui Surah Al-Insyirah ayat 5-6, kita diajak melihat sisi lain dari sebuah cobaan:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan…”

Penafsiran klasik menyoroti penggunaan kata “ma’a” (bersama/beserta). Allah tidak menjanjikan kemudahan datang setelah masalah selesai, melainkan hadir berdampingan dengan masalah tersebut. Ath-Tabari mencatat bahwa pengulangan ayat ini adalah penegasan bahwa satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan.

Bagi kita yang hidup di dunia yang serba instan, ayat ini adalah pengingat untuk bersabar secara aktif. Di dalam setiap lapisan ujian, selalu ada benih kedewasaan dan hikmah yang sedang tumbuh. Kemudahan sering kali tersembunyi di balik lelahnya sebuah proses.

3. Tawakal: Kekuatan di Balik Ketidakpastian

Ketahanan jiwa mencapai puncaknya melalui tawakal, sebagaimana tercermin dalam Surah Ali ‘Imran ayat 173. Kalimat “Hasbunallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah menjadi penolong kami) lahir saat kaum Muslimin berada di bawah tekanan intimidasi pasca-Perang Uhud.

Tawakal bukanlah kepasrahan buta atau sikap diam. Menurut Al-Razi, tawakal adalah kondisi batin yang tetap stabil di atas keyakinan penuh kepada Allah, sementara fisik tetap berikhtiar secara maksimal di bumi. Di era yang penuh ketidakpastian ekonomi dan sosial, tawakal menjadi energi cadangan yang membuat seseorang tidak mudah goyah oleh ancaman zaman.

Menyusun Kembali Kekuatan Batin

Tiga prinsip di atas membentuk sebuah arsitektur ketahanan diri:

  • Kesadaran bahwa beban kita telah diukur dengan sangat presisi.
  • Keyakinan bahwa kemudahan adalah paket yang menyertai setiap kesulitan.
  • Keteguhan untuk bersandar pada Yang Maha Kuat saat segala variabel duniawi terasa rapuh.

Ketakutan terbesar manusia bukanlah kegagalan, melainkan perasaan kehilangan kendali. Al-Qur’an menghapus ilusi ketidakberdayaan tersebut dengan satu pesan kuat: daya itu tersedia, harapan itu nyata, dan Allah senantiasa mendampingi setiap langkah hamba-Nya. Di tengah badai krisis, Al-Qur’an adalah kompas yang tidak pernah keliru menunjukkan arah pulang.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Al-Qur’an sebagai Arsitektur Ketahanan Jiwa di Era Disrupsi Read More »

Perbuatan yang Mengeraskan Hati

WAKAFDT.OR.IDJika kita membiarkan hati ini terus dalam keadaan kotor dan terus dikotori oleh perbuatan maksiat maka pasti akan mengeras, bahkan tidak hanya mengeras tetapi akan mati seiring dengan waktunya.

Ada beberapa perbuatan yang menyebabkan mengerasnya hati, di antaranya ialah:

Pertama, perbuatan dosa. Nabi pernah menyampaikan, ketika seorang mukmin berbuat dosa, maka akan timbul noda hitam di hatinya.

Jika dia bersungguh-sungguh untuk bertobat dan meninggalkan dosa-dosanya serta memohon ampun, maka hatinya akan terpoles. Tetapi kalau dosanya bertambah, maka titik hitamnya juga akan bertambah.

Semakin banyak dosa yang diperbuat, maka semakin keras hati, dan semakin sulit rasanya untuk menghentikannya juga.

Kita harus segera bertobat setiap kesalahan yang kita lakukan dan berdoa memohon petunjuk agar tidak terjatuh dalam dosa yang sama.

Kedua, tertawa berlebihan. Dalam Islam, seorang muslim tidak dilarang untuk bercanda dan tertawa, akan tetapi dianjurkan agar menjaga sikap untuk tidak terlalu berlebihan.

Nabi pernah menyampaikan, tertawalah sedikit. Banyak tawa mengeraskan hati (Al Adab Al Mufrad).

Terlalu banyak bercanda juga membuat hati kita menjauh dari kesadaran akan sesuatu yang gaib, dari realitas kematian dan kehidupan setelahnya.

Nabi menyampaikan bahwa: “Seandainya kamu mengetahui apa yang Aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis,” (HR. Bukhari).

Ketiga, ghibah. Jangan terlalu banyak bicara kecuali saat mengingat Allah Ta’ala.]

“Berbicara berlebihan tanpa mengingat Allah akan hati semakin keras dan orang-orang yang paling jauh dari Allah adalah orang-orang yang hatinya keras,” (HR. At Tirmidzi).

Keempat, makan berlebihan. Nabi menyampaikan bahwa, orang beriman makan dalam satu usus, akan puas jika dengan sedikit makanan juga, dan orang kafir atau munafik makan dalam tujuh usus (makan terlalu banyak) (HR. Bukhari).

Ketika perut kita terlalu banyak bekerja, maka tubuh akan sulit untuk berkonsentrasi pada hati kita. Ini juga merupakan wujud keserakahan dan kecintaan terhadap dunia.

Terlalu banyak makan melemahkan metabolisme tubuh kita, membuat kita malas dan juga merupakan awal dari berbagai macam penyakit fisik.

Kelima, terlalu cinta dunia. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munafiqun: 9).

Semoga kita mampu menghindari perbuatan yang mengeraskan hati. Karena jikahati seseorang sudah keras, maka akan sulit untuk menerima hidayah.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Perbuatan yang Mengeraskan Hati Read More »

Kemandirian Ekonomi Para Nabi: Teladan Kerja Keras dan Marwah dalam Berdakwah

WAKAFDT.OR.IDDalam sejarah kenabian, Allah SWT tidak hanya membekali para utusan-Nya dengan wahyu, tetapi juga dengan keahlian khusus dan kecerdasan praktis.

Hal ini memungkinkan para nabi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka secara mandiri, sehingga mereka memiliki posisi tawar yang kuat dan terbebas dari intervensi finansial kaum yang mereka ajak berdakwah.

Kemandirian ini merupakan prinsip fundamental agar dakwah tetap murni. Melalui kemandirian, para nabi dapat dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak mengharapkan imbalan materi dari manusia. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui perkataan Nabi Nuh AS:

“Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah.” (QS Hud: 29).

Spektrum Profesi Para Nabi

Para nabi adalah sosok pekerja keras yang menjunjung tinggi martabat melalui profesi yang mereka tekuni. Beberapa di antaranya yang tercatat dalam riwayat adalah:

  • Nabi Adam AS: Sejak diturunkan ke bumi, beliau diajarkan keterampilan mengolah alam dan membuat alat-alat kebutuhan dasar.
  • Nabi Nuh AS: Seorang ahli perkayuan yang membangun bahtera besar dengan tangannya sendiri di tengah cemoohan kaumnya.
  • Nabi Idris AS: Dikenal sebagai pelopor dalam keterampilan menjahit dan membuat pakaian.
  • Nabi Daud AS: Seorang pakar metalurgi atau pandai besi yang mampu melunakkan besi untuk dijadikan baju zirah.
  • Nabi Zakaria AS: Menghidupi diri dengan bekerja sebagai tukang kayu.
  • Nabi Yusuf AS: Seorang pakar manajemen publik, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan yang mumpuni.
  • Nabi Syuaib AS: Seorang saudagar atau pedagang sukses yang sangat menjunjung tinggi keadilan dalam timbangan.

Marwah Nabi dan Pembebasan dari Zakat

Kemuliaan posisi nabi membuat sebagian besar ulama berpendapat bahwa mustahil seorang Nabi berada dalam kondisi fakir yang menghinakan. Ibnu Baththal dalam Syarh al-Bukhari menjelaskan bahwa nabi terbebas dari menerima zakat. Sebab, zakat secara filosofis adalah “pembersih harta” yang tidak layak dikonsumsi oleh mereka yang memiliki kedudukan suci.

Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Hal ini dilakukan agar dakwah beliau tidak memiliki celah untuk dituduh sebagai upaya mencari kekayaan pribadi dari umatnya.

Melawan “Filosofi Kemiskinan” dalam Beragama

Terdapat miskonsepsi di sebagian kalangan Muslim bahwa menjadi saleh berarti harus hidup dalam kefakiran. Syekh Muhammad al-Ghazali pernah mengkritik pandangan ini sebagai “filosofi yang lemah.” Beliau berargumen bahwa pandangan yang terlalu mengagungkan kemiskinan justru membuat umat Islam kehilangan kunci-kunci kesejahteraan di bumi.

Redaktur: Wahid Ikhwan

Logikanya sangat sederhana: rukun Islam seperti Zakat dan Ibadah Haji mustahil dapat ditunaikan dengan sempurna tanpa adanya kepemilikan harta yang cukup. Perintah shalat yang sering bersanding dengan zakat di dalam Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa seorang Muslim diharapkan memiliki kemandirian finansial agar bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Rasulullah SAW memang memilih hidup bersahaja, namun beliau adalah pribadi yang mandiri dan berdaya secara ekonomi. Beliau mengajarkan kita bahwa kesalehan tidak bertentangan dengan kemakmuran, selama harta tersebut menjadi alat untuk meraih rida-Nya, bukan menjadi tujuan utama yang membelenggu hati. Wallahu a’lam.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Kemandirian Ekonomi Para Nabi: Teladan Kerja Keras dan Marwah dalam Berdakwah Read More »

Bahaya Laten “Hubbud-Dunya”: 6 Sanksi Bagi Pemuja Dunia Menurut Para Ulama

WAKAFDT.OR.ID | Obsesi berlebihan terhadap materi dan kemewahan sering kali dianggap sebagai ambisi hidup yang wajar di era modern ini. Namun, di balik topeng produktivitas tersebut, para ulama memperingatkan adanya risiko spiritual yang fatal.

Dalam kitab Nashaihul Ibad, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani mengutip peringatan keras dari Hasan al-Basri mengenai konsekuensi bagi mereka yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat.

Seseorang yang terjebak dalam cinta dunia biasanya terobsesi pada harta dan jabatan, yang kemudian memicu lahirnya sifat-sifat buruk seperti kikir, egois, hingga menghalalkan segala cara demi kepuasan sesaat.

Tiga Siksaan di Alam Dunia

Menurut Hasan al-Basri, Allah SWT akan memberikan tiga bentuk hukuman langsung saat pelakunya masih menjalani kehidupan di dunia:

  • Angan-angan Tanpa Batas: Terjebak dalam lamunan panjang tentang masa depan hingga melupakan kematian yang bisa datang kapan saja. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa ajal sering kali menerkam manusia di saat mereka tengah sibuk mengejar angan-angannya.
  • Ketidakpuasan yang Rakus: Munculnya rasa haus akan materi yang tidak pernah padam. Kerakusan ini justru akan mengikis kemuliaan jiwa dan mendorong seseorang pada hal-hal yang tidak jelas hukumnya (syubhat).
  • Hilangnya Kenikmatan Ibadah: Karena hati dan pikiran terlalu penuh dengan urusan duniawi, seseorang tidak lagi mampu merasakan manisnya berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam setiap sujud dan doanya.

Tiga Siksaan di Alam Akhirat

  • Setelah kehidupan dunia usai, masih ada tiga penderitaan berat yang menanti para pemuja dunia di pengadilan akhirat:
  • Ketakutan Luar Biasa di Hari Kiamat: Menghadapi situasi yang mencekam dan mengejutkan pada saat kebangkitan.
  • Hisab (Perhitungan) yang Sangat Berat: Setiap sen harta dan setiap detik waktu yang digunakan untuk mengejar dunia akan diperhitungkan secara detail dan dahsyat.
  • Penyesalan Abadi: Munculnya duka dan kesedihan panjang karena menyadari bahwa apa yang dikejarnya selama di dunia tidak memberikan manfaat apa pun bagi keselamatannya di keabadian.

Waspadai Tipu Daya Angan-angan

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Dailami, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa jika manusia benar-benar bisa melihat betapa dekatnya ajal, maka ia akan membenci segala tipu daya angan-angannya yang melalaikan. Menyeimbangkan antara ambisi hidup dengan persiapan kepulangan ke akhirat adalah kunci agar kita terhindar dari enam siksaan tersebut.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Bahaya Laten “Hubbud-Dunya”: 6 Sanksi Bagi Pemuja Dunia Menurut Para Ulama Read More »

Aa Gym: Al-Quran Adalah Jalan Kehidupan Maka Pahami Artinya

WAKAFDT.OR.IDSalah satu kunci istiqomah adalah terus belajar mencari ilmu, dan salah satu sumber ilmu adalah Al-Qur’an.

Oleh karenanya kita harus berupaya meluangkan waktu membaca Al-Quran dan memahami artinya. Sambil juga kita mempelajari bahasa arab agar kita memahami setiap bacaan Al-Quran.

Al-Quran merupakan sumber utama dalam belajar yang diturunkan oleh Alloh melalui malaikat Jibril kepada Rosullulah Shallallahu ‘alaihi wassalam, selain mendapat pahala dari membaca Al-Qura, kita juga akan mendapatkan hidayah dan petunjuk karena memahami isi Al-Quran.

Mendengarkan lantunan bacaan Al Quran merupakan amal sholeh dan akan diberikan hidayah juga taufik, sebagaimana yang pernah dialami sahabat Nabi Umar bin Khattab. Alloh Ta’ala berfirman yang berbunyi: 

“Sungguh, Alquran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (QS. Al Isra: 9).

Dengan Al Quran, kita bisa mengerti dan memahami hakekat kebatilan serta kejahatan. Pemahaman itu mengantar kepada kita untuk mau dan mampu membersihkan jalan yang akan kita lalui agar terhindar dari kejahatan dan kebatilan tadi.

Dengan demikian, Al Quran menjadi pengontrol pribadi agar selalu mawas diri ketika menjalani kehidupan ini.

Maka penting dalam hidup kita, sehari-harinya selalu diisi bersama Al Quran. Supaya kita istiqomah bersama Al Quran maka berkumpullah dengan orang-orang baik, orang yang punya kesukaan juga dalam membaca Al Quran.

Ibarat bergaul dengan penjual minyak wangi, maka kita juga akan kebagian wanginya, begitu juga kalau bergaul dengan tukang penempa besi maka kita akan mendapatkan percikan apinya.

Maka marilah kita menjadi orang yang senantiasa haus akan ilmu, terutama ilmu Al Quran yang isinya sangat luas dan penuh dengan petunjuk kehidupan. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Al-Quran Adalah Jalan Kehidupan Maka Pahami Artinya Read More »

Marak Pinjol, Hati-Hati Terjerat!

WAKAFDT.OR.IDSaat ini sedang marak pinjaman online (pinjol) yang dilakukan oleh banyak orang, bahkan ada yang lalai atau terlena hingga tidak mampu membayar tagihannya.

Ada banyak juga di kalangan masyarakat yang belum memahami hukum pinjaman online menurut Islam. Lantas bagaimana hukum pinjol dalam Islam?

Merujuk pada putusan dalam Ijtima Ulama Tahun 2021, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan bahwa hukum pinjaman online adalah haram.

Hal ini diputuskan karena menurut para ulama, dalam aktivitas pinjaman online ada unsur riba.

Selain itu, seperti diketahui bahwa rata-rata dari pihak pinjol menagih dengan cara memberi ancaman, sekaligus membuka dan menyebarkan rahasia/aib orang yang berutang kepada orang-orang terdekatnya.

Oleh karena itu pinjol lebih banyak mudharatnya dibandingkan kebaikannya, maka diputuskanlah bahwa pinjol haram.

Hukum ini tidak hanya berlaku pada pinjol saja, tetapi juga berlaku pada seluruh layanan pinjaman baik itu offline maupun online.

MUI menegaskan bahwa apabila layanan pinjaman mengandung riba, maka hukumnya adalah haram, meskipun dilakukan atas dasar kerelaan.

Karena pada dasarnya, aktivitas pinjam-meminjam atau utang-piutang merupakan bentuk akad tabarru’, yakni bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan hanya untuk tujuan komersial atau sumbangan.

Seluruh aktivitas layanan pinjaman baik offline maupun online hukumnya halal, dengan syarat tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

Namun, jika dalam praktiknya penagihan piutang dilakukan dengan melayangkan ancaman fisik atau membuka aib orang yang tidak mampu membayar utang, maka hukumnya adalah haram.

Sementara bagi pihak yang meminjam, apabila ia sengaja menunda membayar utangnya padahal ia mampu, maka hukumnya juga haram.

Ada unsur riba dalam proses pinjol. Riba sendiri adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab yang berarti kelebihan atau tambahan, namun dalam konteks syariat Islam, riba artinya mengerucut pada kelebihan dari pokok utang.

Kelebihan dari pokok utang itu lah yang membedakan riba dengan transaksi jual beli yang dikenal dengan ribhun atau laba, di mana kelebihan uang berasal dari selisih dalam jual beli.

Sederhananya, riba adalah tambahan yang disyaratkan dan diterima pemberi pinjaman sebagai imbalan dari peminjam utang.

Islam sendiri sudah dengan tegas melarang umatnya melakukan transaksi jual-beli dan utang piutang yang di dalamnya terdapat riba. Larangan ini juga tertulis dalam ayat Al-Qur’an maupun hadits.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Marak Pinjol, Hati-Hati Terjerat! Read More »