Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Buah Berkah dari Tanah Wakaf: Kelas Ter-BR3T di SMA DTBS Putri

Di atas tanah yang diwakafkan dengan penuh keikhlasan, keberkahan itu tumbuh dan bersemi. SMA Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri kembali menunjukkan bahwa lahan wakaf bukan sekadar tempat berdirinya bangunan, tetapi juga medan perjuangan untuk membentuk karakter generasi unggul. Salah satu bentuk nyata dari perjuangan ini terlihat dalam penghargaan Kelas Ter-BR3T yang kembali digelar pada pertengahan Mei lalu, di gedung sekolah SMA DTBS Putri.

Penghargaan yang diberikan secara berkala ini merupakan bagian dari pembiasaan karakter dan kedisiplinan melalui budaya BR3T: Bersih, Rapi, Tertib, Teratur, dan Terpelihara. Untuk periode April 2025, Kelas X-4 dinobatkan sebagai juara pertama, disusul oleh Kelas XI-1 dan Kelas XI-4 sebagai juara dua dan tiga. Prestasi ini bukan hanya sekadar hasil dari kerja keras, tetapi juga buah dari keteladanan dan pembiasaan yang konsisten di lingkungan yang sarat nilai keikhlasan.

“Semoga para santri tetap istiqomah dalam menjaga dan mengamalkan budaya BR3T di setiap lingkungan yang mereka tempati,” ujar Ari Febrian, Humas SMA DTBS Putri. Ia juga menyampaikan kutipan dari KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), “Tahan buang sampah sembarangan, simpan sampah pada tempatnya, pungut sampah insya Allah sedekah.”

Pesan sederhana namun dalam itu menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari ibadah, terlebih jika dilakukan di atas tanah yang disucikan melalui wakaf. Di sinilah letak keberkahan itu: saat ruang belajar menjadi tempat menempa akhlak, dan tanah yang didirikan dengan niat lillah mengalirkan kebaikan tak hanya bagi yang hadir hari ini, tetapi juga generasi yang akan datang.

Penghargaan ini tidak hanya memberi motivasi kepada para santri, tetapi juga menjadi bukti bahwa budaya disiplin dan kebersihan mampu tumbuh subur di atas lahan yang diberkahi. Dan sebagaimana sifat wakaf yang tak terputus pahalanya, semoga semangat BR3T yang ditanamkan di SMA DTBS Putri pun menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan manfaat. (Cahya)

Buah Berkah dari Tanah Wakaf: Kelas Ter-BR3T di SMA DTBS Putri Read More »

Masjid Al-Latief, Pelita Umat dari Langford, Perth

Berada di kawasan Langford, berdiri sebuah bangunan yang kini menjadi pusat spiritual dan pendidikan bagi komunitas muslim Indonesia di Perth: Masjid Al-Latief Daarut Tauhiid. Dulunya gereja, kini bangunan itu menjelma menjadi rumah cahaya yang tak hanya menampung doa dalam salat, tapi juga menumbuhkan generasi pecinta Al-Quran dari berbagai latar belakang.

Salah satu inisiatif yang lahir dari masjid ini adalah Baitul Quran Australia, cikal bakalnya berasal dari percakapan ringan para ibu selepas salat. Mereka menginginkan tempat mengaji bagi anak-anak yang mudah diakses dan menggunakan bahasa Inggris, terutama bagi keluarga campuran atau yang tumbuh dalam masyarakat multikultural Australia.

Dari keresahan sederhana itu, lahirlah kelas hafalan Al-Quran yang dipandu oleh Syekh Ahmad. Seiring meningkatnya antusiasme, kelas iqro dan tahsin pun menyusul. Melihat potensi dan semangat yang terus berkembang, Ustadz Yani, salah satu pengurus masjid, menghubungi Baitul Quran Bandung untuk meminta izin penggunaan nama. Izin dikabulkan, dan lahirlah Baitul Quran Australia secara resmi.

Kini, lebih dari 60 santri dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, hingga Palestina belajar di bawah bimbingan 15 pengajar relawan, dengan pendekatan interaktif namun tetap menjaga adab, menyesuaikan dengan budaya Australia yang terbuka.

“Harapannya, lahir generasi penghafal yang tidak hanya hafal, tapi juga memahami dan mengamalkan Al-Quran serta menjadi duta Islam yang baik,” ujar Husna, salah seorang pengurus program.

Namun, seiring pertumbuhan aktivitas keislaman dan jumlah jemaah, keterbatasan ruang menjadi tantangan baru. Maka, inisiatif Wakaf Perluasan Masjid Al-Latief Daarut Tauhiid pun diluncurkan. Program ini bukan hanya tentang menambah luas bangunan, melainkan memperluas manfaat dan keberkahan.

Setiap jengkal perluasan masjid diharapkan menjadi ruang baru untuk ilmu, doa, dan perjumpaan yang bermakna. Dari Langford, cahaya Al-Quran menyala dari ruang sederhana, dari hati-hati yang ingin terus menyalakannya. Sebuah bukti bahwa Islam bisa tumbuh di mana pun, selama ada tekad untuk terus memberi manfaat. (Cahya)

Masjid Al-Latief, Pelita Umat dari Langford, Perth Read More »

Berkah dari Pintu ke Pintu: Jejak Wakaf Produktif yang Tak Pernah Tidur

Di antara riuhnya aktivitas harian di kawasan Gegerkalong, Bandung, ada deretan kontrakan yang setiap bulan mengalirkan keberkahan. Ada lebih dari 70 pintu yang berdiri dan merupakan aset wakaf produktif Daarut Tauhiid. Setiap bulan, pintu-pintu itu membuka jalan bagi lahirnya ribuan manfaat.

“Sekitar 75 juta rupiah menjadi omset rata-rata dari kontrakan di Gegerkalong. Manfaat yang terus bergerak untuk mendukung dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat, “ ujar Riyadi Suryana, Manajer Wakaf Produktif Daarut Tauhiid.

Riyadi juga menyampaikan jika sistem pengelolaan wakaf di Daarut Tauhiid telah berjalan cukup lama dan konsisten, contohnya keberadaan kontrakan-kontrakan tersebut. Bahkan sebelum istilah “wakaf produktif” dikenal luas, Daarut Tauhiid telah mengelola aset-aset dengan cara yang tidak hanya amanah, tetapi juga berdaya guna.

Aset-aset ini bukan hanya terbatas pada kontrakan. Ada pertokoan, asrama, rumah-rumah sewa, apartemen, hingga perkantoran. Semuanya menjadi bagian dari rantai kebaikan yang tak pernah putus.

“Bukan hanya di Gegerkalong, aset wakaf produktif juga ada di berbagai kota. Di Tasikmalaya, ada aset wakaf berupa rumah yang disewakan dan menghasilkan sekitar 20 juta rupiah per tahun. Di Tangerang, ada kantor yang menyumbangkan hingga 100 juta rupiah per tahun. Lalu, apartemen yang tersebar di beberapa kota juga ikut berkontribusi, dengan rata-rata sewa mencapai 3 juta rupiah per bulan,” jelas Riyadi.

Pengelolaan wakaf produktif pun tidak seputar hanya omset, tapi manfaat yang terus berlipat. Seperti pujasera Daarut Tauhiid yang menjadi pusat kuliner dan aktivitas ekonomi umat. Omsetnya berkisar antara 60 hingga 100 juta rupiah per bulan, dikelola dengan sistem bagi hasil yang adil dan penuh keberkahan.

Ada juga Daarul Tijarah yakni kompleks kosan dua lantai, perkantoran, dan dapur produksi. Tempat ini disewa oleh unit usaha seperti MQ Cert dan Monpen dengan omset di angka 75 juta rupiah setiap bulan.

Riyadi juga menyampaikan satu hal yang membedakan aset-aset ini dari usaha biasa adalah niat dan tujuannya. Yakni bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kemaslahatan umat.

“Ada bangunan yang dulunya milik Koperasi Daarut Tauhiid, lalu diwakafkan, dan kini disewa kembali oleh koperasi. Inilah yang disebut wakaf yang terus bekerja. Harta yang tak tinggal diam, tapi terus mengalirkan pahala bagi pewakifnya,” katanya.

Kini, ketika kita melihat sebuah pintu kontrakan terbuka, mungkin di sanalah pintu surga juga terbuka bagi mereka yang ikhlas menanamkan wakafnya. Semoga dari setiap dinding, lantai, dan atap yang diwakafkan, mengalir kebaikan yang tak bertepi. Karena di Daarut Tauhiid, wakaf bukan hanya diam. Ia hidup. Ia bekerja. Dan ia menuntun langkah menuju keberkahan dunia dan akhirat. (Cahya)

Berkah dari Pintu ke Pintu: Jejak Wakaf Produktif yang Tak Pernah Tidur Read More »

Al-Qarawiyyin dan Al-Azhar: Bukti Keajaiban Wakaf dalam Membangun Ilmu

Menelusuri sejarah panjang peradaban Islam, dua nama besar selalu hadir ketika membahas pusat-pusat keilmuan dunia. Kedua nama itu adalah Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko dan Universitas Al-Azhar di Mesir. Keduanya tidak hanya dikenal sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai simbol kejayaan intelektual Islam yang telah melintasi zaman. Menariknya, keduanya tetap eksis hingga hari ini, bahkan ketika banyak lembaga pendidikan lain di dunia mengalami pasang surut.

Keberlangsungan dua universitas ini bukan semata karena kebesaran nama atau bantuan pemerintah yang berlimpah, tetapi karena mereka berdiri di atas sistem yang kokoh yakni sistem wakaf. Wakaf telah menjadi tulang punggung yang menopang aktivitas pendidikan, kesejahteraan pengajar dan pelajar, serta pengembangan fasilitas yang terus berlanjut dari generasi ke generasi. Wakaf memberikan mereka kebebasan dari ketergantungan finansial jangka pendek dan memungkinkan mereka menjaga independensi keilmuan.

Fakta ini menjadi bukti bahwa dalam Islam, pembangunan lembaga pendidikan yang unggul tidak hanya bergantung pada dana besar, tetapi juga pada kesadaran kolektif umat untuk berwakaf. Ketika harta disalurkan dengan niat ikhlas dan dikelola secara profesional, ia bisa menjelma menjadi kekuatan besar yang membangun peradaban, seperti yang terjadi di Al-Qarawiyyin dan Al-Azhar selama lebih dari seribu tahun.

Universitas Al-Qarawiyyin: Warisan Ilmu dari Seorang Perempuan Dermawan

Didirikan pada tahun 859 M oleh seorang perempuan muslimah bernama Fatima Al-Fihri, Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, tercatat sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga kini. Menariknya, universitas ini tidak dibangun dengan dana negara atau pinjaman luar negeri, tetapi sepenuhnya berasal dari wakaf pribadi sang pendirinya.

Fatima mewakafkan seluruh hartanya demi membangun masjid yang sekaligus menjadi tempat belajar, diskusi, dan penelitian. Dari sinilah kemudian tumbuh jaringan keilmuan yang luas, menarik para cendekiawan dari berbagai penjuru dunia Islam dan bahkan Eropa.

Universitas Al-Azhar: Menjaga Tradisi Ilmu Selama Lebih dari Seribu Tahun

Didirikan pada tahun 970 M di Kairo, Mesir, Universitas Al-Azhar berkembang menjadi pusat pendidikan Islam Sunni terbesar di dunia. Selama berabad-abad, Al-Azhar menjadi rujukan utama dalam bidang tafsir, hadis, fikih, dan berbagai ilmu keislaman lainnya.

Sama seperti Al-Qarawiyyin, kekuatan Al-Azhar juga terletak pada sistem wakaf. Ribuan wakaf—baik berupa tanah, toko, maupun sumber daya lainnya—telah menopang kehidupan akademik di Al-Azhar selama lebih dari seribu tahun. Para mahasiswa dapat belajar tanpa terbebani biaya karena sistem wakaf menjamin keberlangsungan pendidikan mereka.

Pelajaran Berharga bagi Umat Islam

Pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari keberhasilan Universitas Al-Qarawiyyin dan Al-Azhar adalah betapa wakaf bukan sekadar amal jariyah biasa, melainkan sebuah instrumen strategis yang sangat penting dalam pembangunan umat Islam. Wakaf yang dikelola dengan profesionalisme tinggi, penuh kepercayaan, dan dengan visi jangka panjang mampu menciptakan dampak yang luar biasa.

Melalui wakaf, lembaga-lembaga pendidikan dapat didirikan dan dipertahankan secara berkelanjutan tanpa tergantung pada sumber dana yang tidak pasti. Hal ini menjamin agar ilmu pengetahuan tetap dapat diakses oleh generasi demi generasi, sekaligus menjaga kelangsungan tradisi keilmuan Islam yang kaya dan mendalam.

Lebih dari itu, wakaf juga berperan dalam membangun peradaban yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam, sehingga setiap aspek kehidupan umat dapat berkembang sejalan dengan prinsip-prinsip agama dan moral yang luhur. Dengan demikian, wakaf bukan hanya investasi duniawi, melainkan juga warisan spiritual yang memberi manfaat abadi bagi umat manusia

Daarut Tauhiid dan Semangat Wakaf untuk Umat

Meneladani semangat wakaf Al-Qarawiyyin dan Al-Azhar, Daarut Tauhiid terus mengembangkan berbagai program wakaf produktif untuk pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat. Setiap wakaf yang dititipkan oleh para muwakif, insya Allah menjadi bagian dari pembangunan lembaga-lembaga kebaikan yang akan terus mengalirkan pahala.

Wakaf bukan hanya milik orang kaya. Bahkan dari sebagian kecil harta yang diikhlaskan, lahirlah kekuatan besar yang bisa mengubah arah peradaban. Mari menjadi bagian dari sejarah kebaikan ini karena wakaf adalah warisan yang tak lekang oleh zaman. (Cahya)

Al-Qarawiyyin dan Al-Azhar: Bukti Keajaiban Wakaf dalam Membangun Ilmu Read More »

Mengenal Wakaf Lebih Dekat

Wakaf telah menjadi bagian penting dalam sejarah Islam sejak masa Rasulullah saw. Ketika Umar bin Khattab memperoleh sebidang tanah di Khaibar, ia berkonsultasi kepada Rasulullah. Nabi pun bersabda: “Jika engkau mau, tahan pokoknya dan sedekahkan hasilnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah dasar dari wakaf, yakni menjaga harta pokok agar tetap utuh dan mengalirkan manfaatnya untuk umat. Di masa sahabat, Utsman bin Affan juga membeli sumur Raumah dan mewakafkannya untuk masyarakat Madinah agar tidak perlu membeli air dari pemilik non-muslim.

Contoh lainnya adalah Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko dan Al-Azhar di Mesir. Dua institusi besar dunia Islam yang bertahan lebih dari seribu tahun karena kekuatan sistem wakaf.

Dari Tanah Hingga Teknologi

Wakaf kini tidak hanya berupa tanah atau bangunan, melainkan juga bisa dalam bentuk wakaf uang, saham, hingga hak kekayaan intelektual. Ini sejalan dengan prinsip Islam yang dinamis dan kontekstual.

Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS Al-Baqarah [2]: 261)

Ayat ini bukan hanya bicara tentang pahala sedekah, tetapi menggambarkan bagaimana harta yang digunakan di jalan Allah bisa menghasilkan manfaat yang berlipat ganda. Mirip dengan prinsip wakaf produktif.

Contohnya, wakaf uang senilai Rp100.000 yang dihimpun dari ribuan orang bisa membangun pesantren, rumah tahfiz, atau kebun produktif yang hasilnya menopang kebutuhan pendidikan santri setiap tahun.

Daarut Tauhiid misalnya, mengelola tanah wakaf menjadi pusat pendidikan terpadu, peternakan produktif, dan pelatihan wirausaha. Harta wakaf tak dibiarkan pasif, tapi menjadi sumber daya strategis bagi pemberdayaan umat.

Jalan Menuju Umat yang Mandiri dan Berdaya

Sayangnya, banyak umat masih berpikir bahwa wakaf hanya bisa dilakukan oleh orang kaya. Padahal, wakaf adalah amal jariyah yang bisa dilakukan oleh siapa saja, selama ada niat dan harta yang sah.

Rasulullah saw bersabda:“Apabila anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Wakaf termasuk dalam sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah pewakaf meninggal dunia. Oleh karena itu, penting untuk menyebarkan literasi wakaf secara aktif.

Di Daarut Tauhiid, santri dan jemaah diajak untuk memahami bahwa wakaf bukan hanya tentang memberi harta, melainkan tentang visi jangka panjang untuk keberlangsungan kebaikan. Dari pelatihan kewirausahaan berbasis wakaf, hingga program wakaf digital, semua diarahkan agar umat tidak hanya dermawan, tapi juga strategis.

Itu artinya wakaf adalah warisan peradaban yang menyatukan spiritualitas dan strategi sosial-ekonomi. Dengan memahami esensinya, serta mengamalkannya secara cerdas dan kolektif, kita bisa membangun masyarakat Islam yang lebih kokoh, berdaya, dan penuh keberkahan. (Cahya)

Mengenal Wakaf Lebih Dekat Read More »

Qurban Hemat Multi Manfaat: Solusi Ibadah Sekaligus Pemberdayaan Masyarakat

Ibadah qurban tak hanya sekadar menyembelih hewan dan membagikan dagingnya kepada yang membutuhkan. Di Daarut Tauhiid, qurban dikemas dalam program “Qurban Hemat Multi Manfaat” yang menghadirkan pendekatan lebih luas, yakni ibadah dengan dampak sosial dan ekonomi yang nyata.

Sesuai namanya, program ini memiliki dua keunggulan utama: hemat dan multi manfaat. Dari sisi biaya, program ini menawarkan alternatif qurban yang lebih terjangkau. Hanya dengan kisaran harga mulai dari Rp2 juta, masyarakat sudah bisa berpartisipasi dalam qurban jantan dengan standar bobot di atas 20 kilogram dan usia yang sesuai syariat.

Namun, keistimewaan sebenarnya dari program ini terletak pada sisi manfaat yang berlapis. “Dengan berqurban di sini, secara tidak langsung kita juga ikut memberdayakan peternak lokal,” ujar Riyadi Suryana, Manajer Wakaf Produktif Daarut Tauhiid.

Hal ini karena hewan-hewan qurban yang disediakan merupakan hasil kerja sama dengan para peternak yang diberdayakan melalui skema wakaf produktif Daarut Tauhiid. Modal beternak yang mereka gunakan berasal dari dana wakaf, sehingga saat hewan qurban diserap, para peternak mendapatkan penghasilan layak.

Lebih jauh lagi, efek berantai dari program ini juga dirasakan oleh para petani di sekitar kandang penggemukan hewan qurban di Cijanggel, Kabupaten Bandung Barat. Sebelumnya, mereka hanya mengandalkan hasil panen yang datang dua hingga tiga bulan sekali. Kini, dengan adanya permintaan rumput untuk pakan ternak, mereka memiliki penghasilan harian tambahan.

“Kami beli rumput dari mereka seharga Rp700 per kilogram. Kalau sehari bisa ngarit 1 kuintal, mereka bisa bawa pulang Rp70 ribu,” jelas Riyadi. Angka ini cukup besar bagi petani di desa yang tetap bisa bertani sambil mendapatkan pendapatan harian.

Manfaat lain dari program ini juga dirasakan saat pendistribusian hewan qurban. Bersama LAZ Daarut Tauhiid Peduli, hewan-hewan qurban disalurkan ke wilayah-wilayah yang jarang tersentuh oleh program serupa. Masyarakat di daerah terpencil yang selama ini belum tentu setiap tahun mendapatkan daging qurban, kini bisa merasakannya.

Program “Qurban Hemat Multi Manfaat” menjadi bukti bahwa ibadah bisa menjadi jalan untuk menyentuh lebih banyak kehidupan. Tak sekadar menyembelih, tapi juga menyuburkan harapan bagi peternak, petani, dan mereka yang membutuhkan. (Cahya)

Qurban Hemat Multi Manfaat: Solusi Ibadah Sekaligus Pemberdayaan Masyarakat Read More »

Mencari Inspirasi Wakaf Produktif, Yayasan Masjid Al-Ihsan Permata Depok Studi Banding ke Daarut Tauhiid

Suasana hangat penuh semangat kolaborasi terasa di Daarut Tauhiid pada Sabtu pagi, 17 Mei 2025. Sekitar pukul 10.30 WIB, rombongan dari Yayasan Masjid Al-Ihsan Permata Depok tiba untuk melakukan kunjungan studi banding terkait pengelolaan wakaf produktif dan strategi branding lembaga wakaf.

Kunjungan disambut langsung oleh perwakilan manajemen Wakaf Daarut Tauhiid. Kunjungan ini menjadi momen istimewa karena menghadirkan lebih dari 12 orang dari Yayasan Masjid Al-Ihsan, termasuk ketua yayasan, pembina, pengawas, sekretaris, bendahara, hingga para muwakif yang selama ini berkontribusi dalam pengelolaan wakaf di lingkungan mereka.

Masjid Al-Ihsan sendiri dikenal sebagai salah satu masjid yang cukup makmur di kawasan Permata Depok. Ada sekitar 1.500 warga aktif dan lahan seluas 2.000 hingga 5.000 meter persegi yang dikelola sebagai aset wakaf. Dalam perjalanannya, yayasan ini pernah mencatat capaian yang cukup signifikan dengan pendapatan wakaf mencapai Rp60 hingga Rp100 juta per bulan. Namun, memasuki tahun keempat, tren penghimpunan dana wakaf menunjukkan penurunan.

“Dalam beberapa tahun terakhir, penghimpunan dari Yayasan Masjid Al-Ihsan mulai stagnan. Segmen yang digarap masih sama, program juga belum banyak inovasi,” ungkap Taufik Hidayat, selaku Manager Fundraising Wakaf Daarut Tauhiid menyampaikan kembali kendala yang dihadapi Yayasan Masjid Al-Ihsan.

Itulah sebabnya, mereka melakukan studi banding ke dua lembaga besar, yakni Wakaf Salman ITB dan Wakaf Daarut Tauhiid. Namun karena karakteristik Wakaf Salman lebih fokus pada lingkup kampus, kunjungan ke Daarut Tauhiid dirasa lebih relevan, terutama dalam konteks pengembangan wakaf berbasis masjid dan komunitas warga.

Selama hampir empat jam, dari pukul 10.30 hingga 14.30 WIB, diskusi berlangsung dengan penuh antusias. Doddy Ekapriades Topan, Direktur Wakaf Daarut Tauhiid berkesempatan menyampaikan materi seputar strategi pengelolaan wakaf produktif dan sosial, serta pentingnya membangun brand wakaf yang kuat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Tak hanya itu, rombongan juga diajak berdiskusi langsung dengan manajemen Wakaf Daarut Tauhiid untuk menggali lebih dalam praktik-praktik terbaik yang bisa diadopsi.

Kunjungan ditutup dengan sesi foto bersama, disertai harapan bahwa silaturahmi ini bisa berlanjut dalam bentuk kolaborasi lainnya. Pihak Yayasan Masjid Al-Ihsan juga berharap suatu hari Wakaf Daarut Tauhiid dapat berkunjung ke Permata Depok, atau mengikutsertakan mereka dalam event-event nasional bertema wakaf. 

Kehangatan, kolaborasi, dan semangat belajar menjadi penanda kunjungan berharga ini. Menjadi pengingat bahwa dalam mengelola amanah wakaf, sinergi dan saling belajar antar-lembaga adalah kunci utama untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. (Cahya)

Mencari Inspirasi Wakaf Produktif, Yayasan Masjid Al-Ihsan Permata Depok Studi Banding ke Daarut Tauhiid Read More »

Menanti Setiap Jumat di Kajian Santri Karya Bersama Aa Gym

Pagi itu, Jumat (16/5/2025), langit Bandung masih berselimut mendung ketika para santri karya (Sankar) Daarut Tauhiid mulai memadati Masjid Wakaf Daarut Tauhiid. Meski udara masih terasa sejuk, semangat mereka terasa hangat dan penuh antusiasme.

Bukan tanpa alasan karena hari ini adalah Jumat, hari yang paling ditunggu oleh para Sankar. Hanya di hari inilah mereka dapat mendengarkan secara langsung nasihat dan tausiyah dari KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid.

Masjid Wakaf Daarut Tauhiid senantiasa makmur oleh ibadah salat berjemaah, lantunan ayat suci Al-Quran yang tak pernah sepi, serta berbagai kajian keislaman yang mengalir seperti air dari mata air keberkahan. Namun ada yang istimewa pada Jumat pagi: kajian pekanan eksklusif untuk santri karya.

“Kajian ini yang paling saya tunggu-tunggu tiap minggu,” kata Agus, Sankar yang bertugas di bagian pelayanan masjid. “Soalnya cuma di hari Jumat kita bisa denger langsung nasihat dari Aa. Penyampaiannya enak banget, ngena, dan bikin hati adem. Rasanya kayak diisi ulang lagi semangatnya setelah sibuk kerja sepekan penuh.”

Kajian dimulai selepas salat Dhuha. Suasana hening penuh khidmat. Aa Gym dengan gaya penyampaiannya yang khas—tenang namun mengena—menyampaikan tausiyahnya.

Para Sankar tampak mencatat, mengangguk, bahkan sesekali meneteskan air mata ketika Aa Gym membahas tentang pentingnya memperbaiki hati dalam menjalani rutinitas. Kajian ini menjadi semacam oase di tengah kesibukan mereka. Pengingat bahwa pekerjaan mereka di lingkungan pesantren adalah bagian dari perjuangan menapaki jalan Allah.

“Setiap Jumat tuh rasanya kayak dapet ‘rem’ lagi buat hati dan pikiran,” ujar Rahmawati, santri karya di bagian pendidikan. “Aa selalu ngingetin kita buat balik lagi ke niat awal. Di sini bukan cuma kerja, tapi belajar hidup dengan nilai-nilai tauhid.”

Tak hanya tausiyah, kajian juga diisi dengan sesi tanya jawab yang penuh kehangatan. Banyak dari Sankar memanfaatkan kesempatan langka ini untuk bertanya langsung kepada Aa Gym tentang persoalan kehidupan, pekerjaan, dan amalan harian.

Menjelang pukul sembilan pagi, kajian ditutup dengan doa bersama. Sankar kembali ke unit kerja masing-masing, namun dengan wajah yang lebih segar dan hati yang kembali terisi. Jumat pagi di Masjid Daarut Tauhiid menjadi momentum untuk menata kembali langkah, niat, dan semangat pengabdian.

Dan bagi para Sankar, satu jam bersama Aa Gym setiap Jumat adalah momen langka yang mereka syukuri dalam-dalam. Sebuah kesempatan istimewa yang memperkuat ikatan hati. Bukan hanya dengan guru mereka, tetapi dengan jalan perjuangan yang mereka pilih di Daarut Tauhiid. (Cahya)

Menanti Setiap Jumat di Kajian Santri Karya Bersama Aa Gym Read More »

Menengok Cijanggel, Sentra Agro Wakaf yang Terus Bertumbuh

Di lereng sejuk Dusun Bambu, Parongpong, tersembunyi sebuah kawasan yang kini menjadi denyut nadi pertanian dan peternakan wakaf produktif. Namanya Cijanggel. Di tempat ini, semangat kemandirian ekonomi umat dirawat melalui aktivitas pertanian dan peternakan yang terintegrasi.

Program ini dikelola oleh tim Wakaf Produktif yang dipimpin oleh Riyadi Suryana. “Di Cijanggel, ada pertanian, peternakan ayam, kambing, dan domba. Saat ini sedang dipersiapkan juga kandang sapi dan lahan pertanian,” ujar Riyadi.

Cijanggel bukan satu-satunya titik kegiatan agro. Namun, yang membuatnya istimewa adalah model terintegrasi: dalam satu kawasan terdapat berbagai jenis peternakan dan lahan pertanian. Asetnya pun merupakan wakaf produktif. Mulai dari lahan, kandang, hingga hewan-hewan ternak di dalamnya.

Kandang kambing dan domba di Cijanggel memiliki kapasitas hingga 500 ekor. Hingga pertengahan Mei ini, tercatat sudah ada 220 ekor yang menghuni kandang tersebut. “Dalam waktu dekat, kami akan kirim 100 ekor lagi. Targetnya penuh 500 ekor menjelang Idul Adha,” jelas Riyadi.

Dalam dua bulan terakhir, kegiatan peternakan ini mulai menunjukkan hasil. Fokus utama saat ini memang ditujukan untuk penyediaan hewan qurban. Namun ke depannya, setelah Idul Adha, program ini akan dikembangkan menjadi sentra pengembangbiakan (breeding) untuk mendukung keberlanjutan produksi ternak.

Sementara itu, peternakan ayam broiler telah berjalan lebih dulu dan sudah masuk siklus produksi rutin. Terdapat tiga kandang ayam yang tersebar di dua lokasi: satu di Cijanggel dan dua lainnya di Ciamis. Total kapasitasnya mencapai 20 ribu ekor. Ayam-ayam tersebut dibesarkan dari DOC (day old chick) hingga mencapai bobot konsumsi sekitar dua kilogram.

“Setiap kandang rata-rata menghasilkan omzet sekitar 20 juta rupiah per siklus. Total dari tiga kandang bisa mencapai 60 juta rupiah,” ungkap Riyadi. Peternakan ayam ini sudah berlangsung sejak tiga tahun lalu, dan kini pihaknya sedang mempersiapkan ekspansi besar-besaran. “Target kami, ingin menambah 16 hingga 17 kandang baru dalam waktu dekat,” tambahnya dengan semangat.

Program agro yang dijalankan ini bukan semata bisnis. Ia adalah bagian dari visi besar untuk menggerakkan ekonomi umat berbasis wakaf produktif. Dengan optimalisasi aset-aset wakaf, masyarakat tidak hanya menerima manfaat spiritual, tetapi juga keuntungan ekonomi nyata.

Melalui pengelolaan yang profesional, program ini membuktikan bahwa wakaf tak harus diam menjadi prasasti. Ia bisa hidup, tumbuh, dan terus memberi manfaat. Dan di Cijanggel, semangat itu sedang bertunas di antara kandang, ladang, dan impian. (Cahya)

Menengok Cijanggel, Sentra Agro Wakaf yang Terus Bertumbuh Read More »

Lapangan Wakaf Jadi Pusat Inspirasi: Coaching Klinik Bersama Coach Markus Horison

Rabu (14/5/2025) terasa berbeda di Sekolah Daarut Tauhiid (DT) Indonesia. Suara sorak sorai dan hentakan kaki para santri menggema di lapangan hijau yang selama ini menjadi pusat aktivitas olahraga. Namun kali ini, lapangan itu menjadi panggung inspirasi dan pembinaan karakter, ketika sosok legendaris Coach Markus Horison Maulana hadir memberikan Coaching Klinik Sepak Bola bagi santri dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK.

Coach Markus yang dikenal sebagai eks kiper Tim Nasional Indonesia sekaligus pemilik MH Soccer Akademi, tak hanya datang dengan segudang pengalaman profesional. Ia datang membawa pesan moral dan motivasi, menanamkan nilai-nilai sportivitas, kedisiplinan, dan akhlak mulia dalam olahraga.

“Sepak bola bukan hanya soal teknik, tapi tentang mental dan sikap di dalam maupun luar lapangan,” ujar Coach Markus di sela-sela sesi pelatihan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengembangan minat dan bakat yang digagas oleh Sekolah DT Indonesia sebagai bentuk pembinaan holistik bagi para santri. Apa yang tampak sebagai latihan teknik dasar hingga lanjutan, sejatinya adalah proses membentuk generasi unggul yang tangguh secara fisik, cerdas secara intelektual, dan kuat secara spiritual.

Namun ada satu elemen penting yang diam-diam menopang seluruh kegiatan hari itu. Lapangan tempat para santri berlari, menendang bola, dan menyerap inspirasi adalah aset wakaf produktif milik Daarut Tauhiid. Aset yang dahulu hanyalah lahan kosong, kini menjadi pusat aktivitas pembinaan generasi. Wakaf, dalam konteks ini, bukan hanya sebidang tanah tetapi lahan amal jariyah yang terus tumbuh dan memberi manfaat luas bagi umat.

Melalui kolaborasi antara pendidikan, inspirasi tokoh, dan pemanfaatan aset wakaf secara produktif, Sekolah DT Indonesia membuktikan bahwa mencetak generasi unggul bukanlah impian. Melainkan proses nyata yang bisa diwujudkan, langkah demi langkah di lapangan yang penuh berkah itu. (Cahya)

Lapangan Wakaf Jadi Pusat Inspirasi: Coaching Klinik Bersama Coach Markus Horison Read More »