Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Pembangunan Pujasera Cilimus Capai 70 Persen, Target Rampung Agustus 2025

Pembangunan Pujasera Cilimus yang berlokasi di Jalan Raya Kuningan–Cirebon kini telah mencapai progres 70 persen. Berada di atas tanah wakaf seluas 960 meter persegi milik Daarut Tauhiid, pusat kuliner dan ruang kreatif ini dirancang untuk menjadi ruang publik yang menggabungkan nilai kewirausahaan, sosial, dan spiritual dalam satu kawasan terpadu.

Direncanakan sebagai sentra UMKM sekaligus ruang kolaborasi komunitas, Pujasera Cilimus merupakan bagian dari inisiatif wakaf produktif yang digerakkan Daarut Tauhiid. Proyek ini mengedepankan konsep pembangunan berkelanjutan yang membawa manfaat bagi masyarakat sekitar dalam jangka panjang.

Memasuki pekan kedua Juli 2025, berbagai tahap pengerjaan fisik telah diselesaikan. Menurut Riyadi Suryana, Manajer Wakaf Produktif Daarut Tauhiid, pekerjaan terus dipercepat sambil tetap menjaga kualitas konstruksi.

“Progres pengerjaan per 5 hingga 10 Juli ini meliputi penyemenan area storage dan bar, pemasangan asbes untuk atap belakang, pengecatan bangunan utama, serta instalasi listrik. Beberapa pekerjaan estetika seperti bata ekspos dan taman UMKM juga mulai dirapikan,” jelas Riyadi.

Secara rinci, pada 5 Juli dilakukan penyemenan dinding dan lantai area storage, pembuatan rangka kanopi belakang, dan pembangunan saluran air di area bar. Kemudian 6 Juli, tim melanjutkan dengan pemasangan rangka wastafel bar, finishing bata ekspos area rak buku, serta pembersihan taman UMKM.

Pada 7 Juli, dilakukan pemasangan asbes untuk atap belakang bangunan dan pengecatan tembok mushola. Lalu 8 Juli, difokuskan pada penyemenan dinding meja bar serta pemasangan rak kayu bawah dapur.

Pekerjaan pada 9 Juli mencakup penyemenan ulang storage, pengecatan pintu kamar mandi dapur, penyempurnaan bata ekspos dapur, pengecatan bangunan utama, dan instalasi listrik. Sedangkan pada 10 Juli, tim melanjutkan dengan pemasangan kran wudu, penyemenan lanjutan area bar, pemasangan wastafel bar, dan pengecatan dinding luar.

“Secara keseluruhan, progres pembangunan saat ini telah mencapai 70 persen. Kami menargetkan grand opening Pujasera Cilimus bisa dilakukan pada bulan Agustus mendatang,” ungkap Riyadi.

Dengan struktur yang mengedepankan fungsi, estetika, dan kebermanfaatan, Pujasera Cilimus diharapkan menjadi tempat tumbuhnya ekonomi lokal sekaligus ruang inspiratif yang ramah bagi generasi muda dan masyarakat sekitar. (wakafdt)

Pembangunan Pujasera Cilimus Capai 70 Persen, Target Rampung Agustus 2025 Read More »

Spirit Kajian Al-Hikam Bersama Aa Gym di Masjid Daarut Tauhiid

Setiap Kamis sore, selepas Ashar hingga menjelang Magrib, lantai utama Masjid Daarut Tauhiid senantiasa dipenuhi oleh jemaah yang datang bukan sekadar untuk duduk atau mengisi waktu luang. Mereka datang dengan hati yang ingin dibersihkan, jiwa yang ingin dituntun, dan hidup yang ingin diarahkan kembali pada hakikatnya: mengenal Allah.

Kajian rutin kitab Al-Hikam bersama KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, menjadi oase rohani yang menenangkan bagi siapa pun yang hadir. Di tengah riuhnya kehidupan modern dan beratnya beban pikiran, pesan-pesan hikmah dari ulama sufi Ibnu Athaillah yang disampaikan Aa Gym menjelma menjadi cermin, penuntun, sekaligus obat bagi jiwa.

“Apa sih persoalan hidup yang sebenarnya? Kurang zikir. Kenapa kita berbuat maksiat? Karena tidak ingat Allah.”

Begitulah Aa Gym membuka kajian dengan lugas namun lembut. Sebuah pernyataan sederhana yang menyentuh akar dari segala problematika manusia modern: lupa akan Tuhannya.

Di masjid wakaf yang penuh keberkahan ini—yang berdiri atas semangat kolektif umat dan menjadi simbol kebangkitan spiritual—pesan-pesan Al-Hikam dibumikan. Tak hanya menjadi bahan renungan, tapi juga penggerak perubahan. Sebab menurut Aa Gym, masalah terbesar dalam hidup bukanlah kurang harta, kurang jabatan, atau kurang pengakuan, melainkan kurangnya pengenalan kepada Allah.

“Tugas utama hidup ini bukan mencari kedudukan, bukan mengejar popularitas. Tapi mengenal Allah. Dari mengenal Allah, hidup kita akan berubah. Kita akan malu untuk maksiat, takut untuk zalim, dan ringan untuk taat,” tegasnya.

Kajian Al-Hikam ini mengajak setiap jemaah untuk melihat kembali relasi batin mereka dengan Allah. Diingatkan bahwa takbir “Allahu Akbar” bukan sekadar ucapan, tapi deklarasi bahwa tiada yang lebih besar dari Allah. Maka, kekaguman kepada manusia, harta, atau jabatan pun sirna, karena semua hanyalah makhluk—bukan sumber kekuatan sejati.

“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa. Bukan yang paling viral, bukan yang paling kaya,” tambah Aa Gym, mengutip Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 13.

Masjid Daarut Tauhiid sebagai tempat berlangsungnya kajian ini, bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah ruang bertumbuhnya jiwa, tempat bertemunya kerinduan akan kebenaran, dan saksi bisu lahirnya tekad-tekad baru untuk menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah. Masjid ini adalah wakaf—hadiah abadi dari umat, untuk umat, demi menanam pahala yang terus mengalir.

Kajian Al-Hikam bukan hanya tentang mendengar. Ia adalah perjalanan batin—mengendapkan makna, memurnikan niat, dan menguatkan langkah di tengah hiruk-pikuk dunia. Dan bagi banyak jemaah, Kamis sore bukan lagi sekadar hari, tapi ruang waktu yang mereka tunggu untuk kembali mengingat, mengenal, dan mencintai Allah. (wakafdt)

Spirit Kajian Al-Hikam Bersama Aa Gym di Masjid Daarut Tauhiid Read More »

Kolaborasi dan Keberkahan di IHT SMP DTBS Putra

Pada 8–9 Juli 2025 lalu, ruang kelas Gedung SMP Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putra yang berada di jantung Kawasan Eco Pesantren 1, menjadi saksi berlangsungnya In House Training (IHT) civitas menjelang tahun ajaran baru. Kegiatan ini tak hanya menghidupkan semangat belajar para pendidik, tetapi juga mempererat jalinan ukhuwah dan kolaborasi dalam nuansa keberkahan tanah wakaf.

Dengan mengusung tema “Internalisasi Disiplin Positif”, kegiatan IHT berlangsung selama dua hari dan diisi dengan beragam materi yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pengajaran, pengasuhan, serta pengelolaan lembaga. Sejak hari pertama, semangat kebersamaan begitu terasa—dimulai dari pemaparan roadmap pendidikan tahun ajaran 2025–2026 oleh manajemen sekolah, hingga sesi-sesi pemantapan peran strategis setiap elemen civitas.

Hari kedua menjadi momen reflektif sekaligus inspiratif. Dibuka dengan pemaparan bertema “Mendidik ala Rasul” oleh Dr. Maman Surahman, Lc., M.Ag., para peserta diajak menyelami kembali nilai-nilai mendidik yang bersumber dari keteladanan Nabi. Sesi berikutnya diisi dengan paparan teknis yang membumi: penyusunan modul berbasis AI oleh Enung Sumarni, M.Pd., M.T., peran tenaga TU dalam menjaga kredibilitas lembaga oleh Popon Kurniasih, S.Pd.I., M.Pd., serta pengelolaan asrama oleh Kol. ARH. M. Desi Ariyanto.

“Alhamdulillah di IHT kali ini, kami mendapatkan ilmu yang sangat aplikatif dan penuh makna,” ujar Jafar, Humas SMP DTBS Putra. “Cara mendidik ala Rasul benar-benar menyentuh dan insya Allah bisa diterapkan langsung dalam mendampingi santri,” imbuhnya.

Suasana kegiatan tidak hanya dipenuhi diskusi dan pelatihan, tetapi juga penuh senyum dan tawa kehangatan setelah melewati masa libur panjang. Dalam lingkaran ukhuwah ini, semangat untuk menyambut tahun ajaran baru dibangun dengan fondasi nilai-nilai Islam yang kuat.

Hamdani, Kepala Sekolah SMP DTBS Putra, menegaskan harapan besarnya dari pelaksanaan IHT ini. “Diharapkan kegiatan ini menjadi bekal dalam menjalankan amanah di tahun ajaran 2025–2026, dan menjadikan kita sebagai pendidik yang terus bertumbuh, baik secara keilmuan maupun spiritual,” ujarnya.

Yang menjadikan kegiatan ini semakin istimewa adalah tempat penyelenggaraannya—Kawasan Eco Pesantren 1 Daarut Tauhiid. Kawasan ini bukan sekadar kompleks pendidikan, melainkan juga kawasan wakaf produktif yang menjadi bukti nyata bagaimana harta wakaf dikelola dan dimanfaatkan untuk kemajuan umat. Di atas tanah yang diwakafkan oleh para muhsinin inilah, lembaga pendidikan seperti SMP DTBS Putra tumbuh dan berkembang, menyemai ilmu dan nilai-nilai kebaikan dari generasi ke generasi.

IHT kali ini tidak hanya menjadi penguatan profesionalisme, tetapi juga pengingat akan amanah besar yang diemban oleh setiap civitas—menjadi bagian dari perjuangan membangun peradaban melalui pendidikan yang dilandasi nilai-nilai Islam dan keberkahan wakaf. (wakafdt)

Kolaborasi dan Keberkahan di IHT SMP DTBS Putra Read More »

Zakir Naik & Aa Gym: Ukhuwah di Daarut Tauhiid

Udara pada Jumat sore (11/7/2025) di kawasan Gegerkalong terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya karena sinar matahari yang enggan segera tenggelam di ufuk barat, tapi karena hadirnya dua sosok dai besar yang menorehkan jejak dalam sejarah dakwah dunia: Dr. Zakir Naik dan KH. Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym.

Pertemuan yang berlangsung di Masjid Daarut Tauhiid Bandung ini menjadi saksi, ukhuwah dan dakwah masih menjadi denyut nadi umat Islam di tengah tantangan zaman. Kedua ulama saling menyapa dengan hangat, bertukar senyum, dan duduk berdampingan di serambi masjid yang dibangun dari amal jariyah dan semangat wakaf umat.

Dalam tausiyah singkatnya, dengan Dr. Zakir Naik duduk di sampingnya, Aa Gym mengingatkan tentang identitas dan tugas mulia umat Islam.

“Jadi kalau kita tidak mengajak orang jadi baik, mencegah dari mungkar, maka kita kehilangan kehormatan, jadi khairul ummah,” ujar Aa Gym, suaranya tegas namun teduh, disambut anggukan sepakat dari Dr. Zakir Naik.

Keheningan sesaat terasa. Tidak ada kata-kata lain yang lebih kuat dari pesan itu. Kalimat khairul ummah bukan hanya menjadi pengingat, tetapi juga refleksi: apakah kita telah menjadi umat terbaik dengan peran aktif dalam kebaikan?

Tak hanya berhenti di sana, Aa Gym juga menyampaikan undangan terbuka kepada Dr. Zakir Naik untuk memberikan ceramah di Masjid Daarut Tauhiid. Sebuah ajakan yang disambut dengan senyum cerah dan anggukan penuh semangat dari dai internasional asal India tersebut. “Insya Allah,” jawab Dr. Zakir singkat, namun penuh makna.

Masjid Daarut Tauhiid bukanlah sekadar tempat ibadah. Ia adalah poros dari kawasan pendidikan, ekonomi, dan sosial yang tumbuh dari tanah wakaf. Sejak awal didirikan, kawasan ini dibangun atas dasar amanah umat dan semangat untuk menghadirkan kebermanfaatan sepanjang masa.

Wakaf yang dikelola dengan amanah telah menjadikan Masjid Daarut Tauhiid dan seluruh kawasannya sebagai ekosistem dakwah yang hidup. Di sinilah ribuan orang datang setiap pekan: untuk belajar, berdagang, berbagi, bahkan sekadar menemukan ketenangan batin. Setiap langkah kaki di atasnya menjadi saksi amal jariyah yang terus mengalir, bahkan saat pewakafnya telah tiada.

Pertemuan antara Dr. Zakir Naik dan Aa Gym di tempat ini menjadi pengingat nyata: bahwa tanah wakaf bukan hanya aset fisik, tetapi juga ladang keberkahan yang melahirkan perjumpaan ide, semangat ukhuwah, dan gelombang dakwah lintas bangsa.

Sore itu, gema adzan Maghrib menggantung lembut di udara. Jemaah pun bersiap menunaikan salat, menyatukan barisan di atas sajadah yang terbentang dari shaf ke shaf. Di antara mereka, ada yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Daarut Tauhiid, dan ada pula yang telah bertahun-tahun menjadikannya rumah kedua.

Namun hari itu, semua menjadi saksi akan pertemuan dua cahaya dakwah, di tempat yang telah lama menjadi mercusuar kebaikan. Semoga keberkahan dari tanah wakaf ini terus menyinari langkah umat. Karena dari wakaf, lahir bukan hanya bangunan, tetapi peradaban. (wakafdt)

Zakir Naik & Aa Gym: Ukhuwah di Daarut Tauhiid Read More »

Kisah Fir’aun: Ketika Kuasa Tak Lagi Berguna

Bulan Muharram tak hanya menjadi awal tahun Hijriah, tetapi juga menjadi momen penuh makna spiritual bagi kaum muslimin. Di antara banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan ini, tenggelamnya Fir’aun di Laut Merah adalah salah satu yang paling menggugah hati. Fir’aun bukan sekadar raja Mesir, ia adalah simbol kesombongan manusia yang melampaui batas. Ia mengaku sebagai tuhan, memaksa rakyat menyembahnya, dan menganiaya kaum yang beriman kepada Allah SWT.

Namun, sehebat apapun kuasanya, kekuasaan Fir’aun runtuh dalam sekejap ketika ia mengejar Nabi Musa as dan Bani Israil ke tengah laut. Saat laut terbelah karena mukjizat Allah untuk menyelamatkan kaum yang tertindas, Fir’aun justru menyusul dengan pasukan penuh kesombongan. Ia mengira masih punya kuasa untuk mengalahkan takdir. Tapi takdir berkata lain. Ketika laut kembali menyatu, ombak menelan tubuh dan ambisinya sekaligus. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, Fir’aun akhirnya mengakui keesaan Allah. Tapi penyesalan yang datang terlambat tak menyelamatkan siapa pun.

“Sekarang kamu beriman, padahal sebelumnya kamu durhaka dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?” (QS Yunus [10]: 91)

Fir’aun akhirnya tenggelam. Tapi bukan hanya tubuhnya yang ditelan laut, melainkan juga jiwanya yang dihukum dalam siksa abadi. Kematian Fir’aun menjadi pengingat bahwa menunda iman bisa berarti mengabaikan keselamatan abadi.

Waktu untuk Tidak Menunda Iman

Setiap Muharram datang, umat Islam diingatkan pada pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang sabar dan beriman, seperti Nabi Musa as. Peristiwa ini bukan sekadar kisah sejarah. Ia adalah cermin yang memantulkan pertanyaan ke dalam hati kita: Apakah kita akan menunggu seperti Fir’aun—menunda iman hingga terlambat?

Banyak dari kita mungkin tidak secara terang-terangan mengaku sebagai tuhan seperti Fir’aun. Tapi bukankah sering kita merasa cukup kuat tanpa Allah? Menunda tobat, menunda beramal, menunda berserah sepenuh hati—itu semua bisa jadi bentuk kesombongan yang halus. Dan kesombongan, sekecil apa pun, bisa menjadi jerat yang menenggelamkan kita dari dalam.

Muharram mengajarkan bahwa iman bukan untuk ditunda. Iman adalah keputusan yang harus hadir sebelum laut terbelah, bukan sesudah ombak menutup kepala. Iman yang sejati adalah keyakinan yang hadir dalam tenang maupun badai—yang tidak menunggu ajal datang untuk bersaksi.

Wujud Iman Sebelum Terlambat

Di tengah refleksi Muharram ini, kita diajak untuk tidak hanya mengingat nasib Fir’aun, tetapi juga mengambil langkah nyata agar tidak menjadi seperti dirinya. Salah satu bentuk nyata dari iman yang tidak ditunda adalah wakaf. Wakaf bukan sekadar amal, ia adalah pernyataan keimanan yang terus mengalir bahkan setelah kita tiada.

Wakaf adalah pilihan sadar untuk menanam kebaikan sebelum ajal menutup pintu. Saat kita berwakaf, kita sejatinya sedang menyiapkan bekal yang tak akan tenggelam bersama tubuh. Kita menanam pohon pahala yang akan terus berbuah, meski kita telah lama dikubur tanah.

Berwakaf hari ini adalah cara untuk berkata, “Aku beriman,” tanpa harus menunggu badai hidup menghantam. Ia adalah pilihan untuk percaya pada janji Allah sebelum laut terbelah atau bumi menyumpal mulut.

Muharram adalah waktu yang tepat untuk memulai—atau kembali—menjalani hidup dalam iman yang sungguh-sungguh. Iman yang hadir sebelum gelap, sebelum telat.

Jangan tunggu akhir untuk memulai. Jangan tunggu ombak menutup kepala untuk baru beriman. Wakaf hari ini adalah iman yang tak menunggu badai.

Fir’aun telah memberi pelajaran yang terlalu mahal untuk diulang. Maka jadilah Musa dalam hidup ini—yakni hamba yang berserah, bukan tiran yang terlambat sadar. Dan jadikan Muharram sebagai titik tolak untuk meneguhkan iman… sebelum semuanya terlambat. (wakafdt)

Kisah Fir’aun: Ketika Kuasa Tak Lagi Berguna Read More »

Mengalirkan Cahaya dari Muharram

Bulan Muharram menandai awal tahun baru dalam kalender Hijriah. Ia bukan sekadar pergantian waktu, melainkan juga momentum spiritual untuk memperbarui niat, memperkuat ibadah, dan menanam amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Rasulullah saw menyebut Muharram sebagai salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah (Al-Ashhurul Hurum), sehingga sangat tepat jika kita mengisi awal tahun ini dengan amalan yang bernilai panjang, seperti wakaf.

Salah satu bentuk wakaf yang memberi dampak luas dan berkelanjutan adalah Wakaf Mushaf Al-Quran. Program ini bukan sekadar distribusi kitab suci, melainkan sebuah gerakan literasi Qurani yang menembus batas geografis. Masih banyak lembaga pendidikan Islam, madrasah kecil, masjid dan mushala di pelosok Indonesia yang kekurangan mushaf. Tak sedikit pula masyarakat di daerah tersebut yang belum bisa membaca Al-Quran dengan baik karena keterbatasan akses dan fasilitas belajar.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan melaksanakan salat serta menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” (QS Fathir [35]: 29)

Ayat ini menegaskan bahwa membaca Al-Quran dan membelanjakan harta di jalan Allah—termasuk melalui wakaf—adalah amal yang akan mendatangkan keuntungan kekal. Wakaf Mushaf Al-Quran menggabungkan keduanya: menghidupkan bacaan Kitabullah sekaligus berbagi rezeki dalam bentuk yang paling mulia.

Mushaf Istimewa untuk Generasi Qurani

Yang membedakan Program Wakaf Mushaf Al-Quran dari Daarut Tauhiid bukan hanya pada tujuannya, tetapi juga kualitas mushaf yang disalurkan. Setiap mushaf dirancang khusus untuk memudahkan pembelajaran dan mempercepat pemahaman bagi para pembacanya, terutama pemula dan santri di daerah pelosok.

Beberapa keistimewaannya antara lain:

– Tajwid berwarna: Membantu pelafalan yang benar sesuai kaidah bacaan.

– Blok warna hafalan: Mempermudah proses menghafal ayat demi ayat.

– Terjemah dan tafsir ringkas: Memfasilitasi pemahaman makna ayat secara praktis.

– Hikmah Aa Gym: Menyisipkan nilai-nilai kehidupan yang menyentuh hati.

Dengan tampilan dan fitur yang mudah digunakan, mushaf ini bukan hanya kitab suci, tapi juga sarana belajar dan pengasuh jiwa. Membantu masyarakat tak hanya membaca, tetapi juga mencintai Al-Quran, memahami isinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nabi Muhammad saw bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Wakaf mushaf adalah bentuk nyata dari sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Selama mushaf itu dibaca, selama ayatnya dihafal dan diamalkan, pahala terus mengalir meski sang pewakaf telah tiada.

Mari mulai tahun baru Hijriah dengan langkah yang berdampak panjang. Melalui Wakaf Mushaf Al-Quran, Sahabat Wakaf bisa jadi bagian dari perubahan yang nyata—menyebar cahaya Al-Quran dari kota ke pelosok, dari satu mushaf ke sejuta pahala. (wakafdt)

Mengalirkan Cahaya dari Muharram Read More »

Dari Gedung Wakaf ke Jaringan Global

Di balik megah dan teduhnya gedung Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Daarut Tauhiid di kawasan Gegerkalong, Bandung, tersimpan kisah panjang tentang dedikasi, ilmu, dan sebuah cita-cita yang terus bertumbuh dari tanah wakaf. Gedung ini menjadi saksi diam dari semangat kolaborasi dan keilmuan yang kini menjangkau lintas batas negara.

Beberapa waktu lalu, gedung STAI Daarut Tauhiid menjadi tuan rumah bagi konferensi internasional yang diikuti oleh para akademisi dari berbagai belahan dunia. Di sinilah Ahmad Yusdi Gozaly, dosen Hukum Ekonomi Syariah STAI Daarut Tauhiid, membagikan pemikirannya tentang integrasi teknologi dalam pendidikan Islam dan tantangan global yang terus berubah. Melalui sesi paralel dan diskusi akademik, ia tak hanya menyerap ilmu baru, tetapi juga meneguhkan pandangannya bahwa Islam perlu hadir sebagai solusi yang inklusif di era digital dan globalisasi.

“Pengalaman ini membuka cakrawala baru bagi saya. Kita tidak bisa hanya bicara Islam di ruang lokal, kita harus hadir di forum global dengan pemikiran yang adaptif dan berbasis nilai,” ujarnya.

Tak lama berselang, suasana hangat kembali terasa di ruang-ruang diskusi gedung yang sama saat Focus Group Discussion (FGD) digelar bersama University Kebangsaan Malaysia (UKM). Mahasiswa dan dosen dari dua negara itu duduk berdampingan, berbagi kisah dan sistem pengajaran yang mereka jalani. Perbedaan budaya bukan menjadi jarak, tapi justru jembatan yang mempererat kolaborasi.

Irwina, salah satu mahasiswa STAI DT yang ikut dalam FGD itu, masih mengingat betul perasaan saat pertemuan berlangsung. “Rasanya seperti bertemu sahabat lama. Hangat, terbuka, dan penuh semangat untuk saling belajar. Ini lebih dari diskusi ilmiah, ini membangun persahabatan lintas budaya,” ungkapnya.

Gedung STAI Daarut Tauhiid yang dibangun atas dasar wakaf kini tak hanya menjadi pusat pembelajaran formal, tetapi juga ruang terbuka untuk dialog, jejaring, dan pertukaran ide antarbangsa. Aset wakaf ini hidup bukan hanya karena fisiknya yang terus dirawat, tetapi karena ruh keilmuan dan dakwah yang terus mengalir di dalamnya.

Di sinilah makna wakaf menemukan bentuknya yang paling utuh—bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang untuk peradaban. Gedung ini bukan hanya milik STAI Daarut Tauhiid, tapi milik umat yang percaya bahwa ilmu, jika dibagikan, akan menembus batas ruang dan waktu. (wakafdt)

Dari Gedung Wakaf ke Jaringan Global Read More »

Setengah Jam Satu Juz: Mushaf yang Menyentuh Jiwa

“Setengah jam buka medsos itu sama dengan satu juz baca Quran. Kalau kita manteng medsos terus dicabut nyawa, manteng Quran terus dicabut nyawa, mana yang bagus?” Suara khas KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym terdengar mengalun dari atas mimbar.

Beliau tak berteriak. Tapi kalimat itu menampar halus hati siapa saja yang mendengarnya. Jemaah tersenyum simpul, tertunduk, atau menatap hampa ke arah sajadah. Kalimat itu, seperti doa yang tak selesai, menggantung dalam benak.

Dalam tausiyah tersebut, Aa Gym tak hanya mengingatkan, tetapi juga mengajak. “Tes saja, setengah jam itu sudah satu juz. Nggak kerasa kalau lihat medsos,” ujar beliau lagi, kali ini dengan nada yang lebih ringan namun tetap menyimpan pukulan makna.

Lalu Aa Gym mengutip ayat yang terasa seperti sindiran bagi zaman: “Wa qalar rasulu ya rabbi inna qawmittakhadzu hadzal-qur`ana mahjuraDan berkatalah Rasul: “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqan [25]: 30)

Namun dari keprihatinan itu, lahirlah aksi nyata. Daarut Tauhiid merancang sebuah mushaf Al-Quran yang tidak hanya indah secara visual, tapi juga fungsional dalam menumbuhkan kecintaan dan pemahaman terhadap ayat-ayat suci. Program Wakaf Mushaf Al-Quran Daarut Tauhiid hadir sebagai bentuk dakwah yang membumi, menyentuh langsung kebutuhan umat.

Mushaf ini bukan mushaf biasa. Ia dirancang dengan tajwid berwarna yang memudahkan pembaca dalam melafalkan ayat dengan benar dan tartil. Ada pula blok warna khusus untuk mempermudah proses menghafal ayat demi ayat, disertai terjemah dan tafsir ringkas yang membantu memahami makna secara utuh. Tak ketinggalan, sentuhan khas Aa Gym hadir dalam bentuk hikmah-hikmah inspiratif yang tersebar di sela halaman, menjadi teman sejiwa bagi para pembaca yang haus makna.

Program wakaf ini menjadi upaya Daarut Tauhiid untuk menyebarluaskan mushaf tersebut ke berbagai penjuru negeri. Dari pesantren kecil di lereng gunung, hingga majelis taklim di tengah padatnya perkotaan, mushaf ini dihadirkan sebagai obor. Ia bukan sekadar alat baca, melainkan jembatan antara umat dan firman-Nya. Bagi sebagian orang yang baru mengenal huruf hijaiyah, mushaf ini menjadi cahaya pertama. Bagi yang sudah lama menjauh, ia menjadi pelukan yang menenangkan.

“Kalau waktu kita datang (meninggal-red), enak mana? Lagi nonton video lucu atau lagi baca Al-Quran?” ujar Aa Gym di akhir ceramahnya. Bukan sekadar pertanyaan, tetapi sebuah undangan. Untuk kembali. Untuk memperbaiki. Untuk berbagi.

Program wakaf mushaf ini masih terus berjalan, membuka ruang bagi siapa pun yang ingin beramal jariyah. Satu mushaf mungkin terlihat kecil. Tapi bagi yang menerima, bisa jadi itulah awal dari hidup yang berubah. Sebab tidak semua dakwah disampaikan lewat ceramah. Sebagian lagi hadir dalam bentuk mushaf, diserahkan dengan ikhlas, dibaca dengan air mata, dan mengalirkan pahala tanpa putus. (wakafdt)

Setengah Jam Satu Juz: Mushaf yang Menyentuh Jiwa Read More »

Menyusuri Progres RKB Eco Pesantren 2

Di tengah udara pagi yang sejuk di kawasan Eco Pesantren 2 Daarut Tauhiid, dentuman ringan alat berat terdengar bersahutan. Di sana, sekelompok pekerja mengenakan helm proyek dan rompi keselamatan tampak fokus—mengangkat, menyusun, dan menegakkan struktur demi struktur. Mereka bukan sekadar membangun gedung. Mereka sedang membangun harapan.

Ruang Kelas dan Asrama (RKB) PDF Daarut Tauhiid menjadi salah satu proyek penting dalam ikhtiar melahirkan generasi Qurani: para calon ulama dan penghafal Al-Quran. Proyek ini telah berjalan selama satu bulan dan kini telah mencapai progres sekitar 32–35 persen.

“Alhamdulillah, fondasi sudah selesai, termasuk strap foundation, pile cap, dan tie beam,” jelas Sofian, Project Manager pembangunan RKB. Ia ditemani oleh Gunawan, selaku Site Manager, saat memberikan laporan langsung dari lokasi. Selanjutnya, pembangunan akan masuk ke tahap struktur vertikal seperti kolom dan dinding penahan tanah, yang akan menopang lantai satu gedung.

RKB ini dirancang satu lantai dengan total 6 ruang kelas, 1 ruang tangga, dan toilet. Pada tahap awal, 3 kelas akan dibangun lebih dahulu, lengkap dengan area tangga dan fasilitas dasar. Menariknya, bagian rooftop direncanakan menjadi ruang terbuka untuk aktivitas belajar dan pembinaan.

Namun proyek ini bukan sekadar konstruksi bangunan. Ia adalah bagian dari cita-cita besar Daarut Tauhiid: mencetak generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga kuat secara spiritual. Generasi yang menjadikan Al-Quran sebagai kompas hidupnya.

“Target kami, insya Allah, rampung di bulan September. Mohon doanya dari semua pihak,” tutur Sofian sambil menatap struktur yang mulai menjulang. Ia menyadari, pembangunan fisik ini hanya bisa selesai dengan kekuatan spiritual yang menyertainya—doa dan dukungan umat.

Seiring bata demi bata disusun, RKB ini kelak akan menjadi saksi lahirnya para penjaga Kalamullah. Di ruang-ruang kelas yang kini masih berupa kerangka, kelak akan terdengar lantunan ayat-ayat suci, tadarus pagi, dan diskusi ilmu yang menumbuhkan iman.

Wakaf yang disalurkan untuk proyek ini bukan hanya mengalir ke semen dan besi, tapi menjelma menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Jika manusia mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR Muslim)

Dan di sinilah wakaf itu hidup—dalam bentuk ruang, ilmu, dan harapan. (wakafdt)

Menyusuri Progres RKB Eco Pesantren 2 Read More »

Menyemai Keberkahan, Menata Amanah: Pelantikan Empat Yayasan Baru di Daarut Tauhiid

Langit cerah menyambut langkah sejarah baru di kawasan Pesantren Daarut Tauhiid yang kini berusia 34 tahun. Di tengah deru pembangunan fisik yang semakin pesat dan berkembang, pesantren yang didirikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym ini kembali mencatat babak baru dalam penguatan struktur organisasinya.

Melalui pelantikan pengurus empat yayasan pada Jumat (4/7/2025), Daarut Tauhiid mempertegas semangat optimalisasi lahan wakaf dan keberkahan kepemimpinan berbasis amanah. Empat yayasan tersebut adalah: Yayasan Daarut Tauhiid, Yayasan Daarut Tauhiid Peduli, Yayasan Daarut Tauhiid Rahmatan Lil ’Alamin, dan yang terbaru, Yayasan Pesantren Daarut Tauhiid.

Langkah ini bukan hanya perubahan administratif, melainkan representasi dari visi yang terus tumbuh: memaksimalkan potensi wakaf dan sumber daya umat demi kemaslahatan bersama. Pemekaran yayasan menandakan bahwa Daarut Tauhiid tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dinamis, menyesuaikan tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai pesantren tauhid.

Dalam sambutannya, Aa Gym menegaskan bahwa jabatan adalah amanah besar, bukan sekadar kedudukan. “Bagi pengurus yang tidak bisa menjalankan amanah dengan baik, silakan mundur. Menjadi pemimpin bukanlah perkara ringan. Pemimpin sejati adalah yang mampu memimpin dirinya sendiri—terutama hatinya,” pesan Aa Gym penuh ketegasan sekaligus kelembutan.

Lebih dari sekadar pelantikan, momen ini adalah peneguhan nilai. Pesantren Daarut Tauhiid sejak awal berdiri memang dibangun di atas semangat wakaf produktif—menjadikan tanah, bangunan, dan manusia sebagai bagian dari ekosistem amal jariyah. Setiap lahan yang dikelola, setiap struktur yang dibangun, dan setiap ide yang dijalankan adalah upaya menghidupkan nilai keberkahan dalam kehidupan umat.

Dengan adanya struktur empat yayasan, diharapkan pengelolaan pesantren dan seluruh aset wakaf dapat lebih fokus, optimal, dan terintegrasi. Yayasan DT Peduli, misalnya, berperan dalam penguatan aksi sosial dan kemanusiaan. Yayasan DT Rahmatan Lil ’Alamin membidik penguatan dakwah dan pendidikan global. Sementara Yayasan Pesantren Daarut Tauhiid kini difokuskan untuk membina proses kaderisasi dan pendidikan formal dalam lingkungan pesantren.

Pelantikan hari ini bukan akhir, tetapi awal dari tanggung jawab besar. Di penghujung acara, seluruh santri karya—sebutan bagi karyawan di lingkungan Daarut Tauhiid—diajak untuk mendoakan para pemimpin yang baru. Sebuah isyarat bahwa keberhasilan kepemimpinan bukan hanya bergantung pada kecakapan manajerial, tetapi juga keberkahan spiritual.

Dalam usia 34 tahun, Daarut Tauhiid telah tumbuh dari satu langkah kecil menjadi jejaring kontribusi besar. Dengan fondasi wakaf yang terus diperluas dan diperkuat, Daarut Tauhiid tak sekadar membangun bangunan, tapi juga membangun peradaban. Semoga pelantikan ini menjadi titik awal arah baru menuju Daarut Tauhiid yang semakin kuat, amanah, dan penuh keberkahan. (wakafdt)

Menyemai Keberkahan, Menata Amanah: Pelantikan Empat Yayasan Baru di Daarut Tauhiid Read More »