Wakaf Daarut Tauhiid

Bayang-Bayang Mobil Hijau di Huta Godang: Kesaksian Memilukan dari Balik Banjir Bandang

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI SELATAN – (24/1/2026) Bagi seorang pria paruh baya di Desa Huta Godang, Tapanuli Selatan, hujan bukan lagi sekadar fenomena alam. Setiap tetesnya kini membawa kembali memori kelam tentang suara gemuruh, hantaman kayu, dan satu teriakan yang terus terngiang di telinganya.

Sebut saja namanya Pak Usman. Sambil menatap reruntuhan desanya yang kini rata dengan tanah, ia menceritakan kengerian banjir bandang yang melanda wilayah dekat Sibolga, Sumatera Utara tersebut. Namun, ada satu fragmen kejadian yang menurutnya tidak akan pernah bisa ia hapus dari ingatan seumur hidupnya.

Tragedi Mobil Hijau yang Terhapus

Sore itu, air sungai meluap dengan kecepatan yang tak masuk akal. Di tengah kekacauan, Pak Usman melihat sebuah mobil berwarna hijau melaju ke arahnya. Mobil itu tampak berusaha keras menerjang arus yang mulai meninggi, mencari jalan keluar dari kepungan maut.

“Mobil itu sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi dari posisi saya,” kenang Pak Usman dengan suara bergetar. “Tapi tiba-tiba, dari arah hulu, gelondongan kayu raksasa menghantam sisi mobil itu. Seketika, mobil itu terseret, hanyut, dan hilang ditelan arus.”

Detik-detik sebelum mobil itu hilang dari pandangan, Pak Usman mendengar suara yang menyayat hati. Suara teriakan minta tolong dari dalam mobil—suara satu keluarga yang tak berdaya melawan kekuatan alam.

“Sampai sekarang, suara itu masih sering muncul kalau suasana sepi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kayu-kayu itu seperti peluru yang menghancurkan apa saja,” lirihnya.

Tiga Hari Mencari Nyawa

Bencana tersebut tidak hanya menyisakan trauma visual. Huta Godang luluh lantak; rumah-rumah warga rata dengan tanah. Di tengah duka melihat desanya hancur, Pak Usman harus menghadapi kenyataan pahit lainnya: ia kehilangan kontak dengan anak dan istrinya.

Selama tiga hari, ia hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa. Putrinya, seorang guru honorer yang bertugas di desa sebelah, ikut terjebak karena akses jalan yang terputus total akibat longsor dan banjir. Tanpa sinyal telepon dan tanpa akses jalan, Pak Usman hanya bisa berdoa di tengah puing-puing rumahnya.

“Tiga hari itu rasanya seperti bertahun-tahun. Saya hanya memikirkan, apakah mereka juga terseret kayu seperti keluarga di mobil hijau itu?” ungkapnya.

Keajaiban di Pengungsian

Takdir berkata lain bagi keluarga Pak Usman. Pada hari ketiga, saat tim evakuasi mulai berhasil menembus desa sebelah, ia akhirnya dipertemukan kembali dengan anak dan istrinya di sebuah posko pengungsian darurat.

Tangis haru pecah saat ia melihat wajah anak perempuannya yang selamat meski sempat terjebak di tengah kepungan banjir saat pulang mengajar. Meski harta benda mereka habis tak bersisa, kehadiran keluarga dalam kondisi selamat menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah duka kolektif warga Huta Godang.

Kini, Pak Usman dan ratusan warga lainnya harus memulai hidup dari nol di tenda-tenda pengungsian dan rumah saudaranya di desa sebelah yang tidak terdampak. Namun, trauma tentang mobil hijau dan hantaman kayu raksasa tetap menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara hidup dan mati dalam sebuah tragedi. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID