WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Selasa (16/12/2025) siang, suasana tenang menyelimuti Masjid Daarut Tauhiid (DT) Gegerkalong, Bandung, sesaat setelah shalat Dzuhur berjamaah usai.
Di antara jamaah yang mulai beranjak, tampak seorang wanita paruh baya yang masih terpaku dalam kekhusyukan.
Ia adalah Uwi (49), atau yang akrab disapa Teh Uwi. Bagi tim Wakaf DT, sosoknya sudah tidak asing karena hampir selalu terlihat di setiap waktu shalat.
Ibu dari lima anak penghafal Al-Qur’an ini telah menjadikan masjid sebagai pusat kehidupannya—mulai dari shalat berjamaah, menjaga hafalan (murojaah), hingga menyimak kajian ilmu.
Rindu yang Melampaui Jarak
Asal Sumedang, Teh Uwi memutuskan menetap di Bandung demi satu tujuan: agar lebih dekat dengan Masjid DT.
Meski harus menempuh perjalanan beberapa menit dari kosannya, langkah kakinya tak pernah terasa berat. Baginya, setiap langkah menuju masjid adalah wujud syukur yang dirawat dengan keistiqomahan.
“Saya masih belajar, dan ingin selamanya belajar. Tidak ada kata cukup untuk mencari ilmu agama,” ucapnya lirih. Di masjid ini, ia mengaku merasa bertumbuh, baik secara ilmu maupun ketenangan batin.
Al-Qur’an sebagai Jawaban Hidup
Al-Qur’an telah menjadi teman setia Teh Uwi dalam menautkan hati kepada Sang Pencipta. Ia menceritakan bagaimana kedekatan dengan kalam-Mu’jizat tersebut memberinya kekuatan saat menghadapi persoalan hidup.
“Kalau sedang ada masalah, saat membaca Al-Qur’an, tiba-tiba ada ayat yang terasa sangat relevan dengan hidup saya. Padahal terkadang membukanya secara acak, tapi rasanya seperti Allah langsung menenangkan lewat ayat itu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Masjid sebagai Tempat Menata Hati
Sebagai manusia biasa, Teh Uwi tak menampik jika rasa jenuh atau malas terkadang menghampiri. Namun, ia selalu mengingatkan diri bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Pesan-pesan dari kajian di Masjid DT menjadi penguat yang selalu memanggilnya kembali.
Dukungan fasilitas masjid yang nyaman, udara yang sejuk, dan suasana teduh di Masjid DT membuatnya betah untuk berlama-lama beriktikaf. Baginya, masjid bukan sekadar bangunan fisik untuk ibadah, melainkan tempat di mana hati kembali ditata.
Memakmurkan Melalui Kehadiran
Kisah Teh Uwi mengajarkan bahwa memakmurkan masjid tidak selalu harus dimulai dengan hal-hal besar. Kehadiran yang setia dan niat yang terjaga setiap hari adalah bentuk kemakmuran yang nyata.
Melalui Wakaf Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, semangat yang dibawa oleh jamaah seperti Teh Uwi diharapkan terus hidup.
Dukungan wakaf memastikan masjid tetap menjadi ruang tumbuh bagi siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah, menjadi tempat lahirnya ketenangan, ilmu, serta generasi Qur’ani yang lahir dari cinta dan istiqomah. (SSP/WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
