“Setengah jam buka medsos itu sama dengan satu juz baca Quran. Kalau kita manteng medsos terus dicabut nyawa, manteng Quran terus dicabut nyawa, mana yang bagus?” Suara khas KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym terdengar mengalun dari atas mimbar.
Beliau tak berteriak. Tapi kalimat itu menampar halus hati siapa saja yang mendengarnya. Jemaah tersenyum simpul, tertunduk, atau menatap hampa ke arah sajadah. Kalimat itu, seperti doa yang tak selesai, menggantung dalam benak.
Dalam tausiyah tersebut, Aa Gym tak hanya mengingatkan, tetapi juga mengajak. “Tes saja, setengah jam itu sudah satu juz. Nggak kerasa kalau lihat medsos,” ujar beliau lagi, kali ini dengan nada yang lebih ringan namun tetap menyimpan pukulan makna.
Lalu Aa Gym mengutip ayat yang terasa seperti sindiran bagi zaman: “Wa qalar rasulu ya rabbi inna qawmittakhadzu hadzal-qur`ana mahjura”—Dan berkatalah Rasul: “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqan [25]: 30)
Namun dari keprihatinan itu, lahirlah aksi nyata. Daarut Tauhiid merancang sebuah mushaf Al-Quran yang tidak hanya indah secara visual, tapi juga fungsional dalam menumbuhkan kecintaan dan pemahaman terhadap ayat-ayat suci. Program Wakaf Mushaf Al-Quran Daarut Tauhiid hadir sebagai bentuk dakwah yang membumi, menyentuh langsung kebutuhan umat.

Mushaf ini bukan mushaf biasa. Ia dirancang dengan tajwid berwarna yang memudahkan pembaca dalam melafalkan ayat dengan benar dan tartil. Ada pula blok warna khusus untuk mempermudah proses menghafal ayat demi ayat, disertai terjemah dan tafsir ringkas yang membantu memahami makna secara utuh. Tak ketinggalan, sentuhan khas Aa Gym hadir dalam bentuk hikmah-hikmah inspiratif yang tersebar di sela halaman, menjadi teman sejiwa bagi para pembaca yang haus makna.
Program wakaf ini menjadi upaya Daarut Tauhiid untuk menyebarluaskan mushaf tersebut ke berbagai penjuru negeri. Dari pesantren kecil di lereng gunung, hingga majelis taklim di tengah padatnya perkotaan, mushaf ini dihadirkan sebagai obor. Ia bukan sekadar alat baca, melainkan jembatan antara umat dan firman-Nya. Bagi sebagian orang yang baru mengenal huruf hijaiyah, mushaf ini menjadi cahaya pertama. Bagi yang sudah lama menjauh, ia menjadi pelukan yang menenangkan.
“Kalau waktu kita datang (meninggal-red), enak mana? Lagi nonton video lucu atau lagi baca Al-Quran?” ujar Aa Gym di akhir ceramahnya. Bukan sekadar pertanyaan, tetapi sebuah undangan. Untuk kembali. Untuk memperbaiki. Untuk berbagi.
Program wakaf mushaf ini masih terus berjalan, membuka ruang bagi siapa pun yang ingin beramal jariyah. Satu mushaf mungkin terlihat kecil. Tapi bagi yang menerima, bisa jadi itulah awal dari hidup yang berubah. Sebab tidak semua dakwah disampaikan lewat ceramah. Sebagian lagi hadir dalam bentuk mushaf, diserahkan dengan ikhlas, dibaca dengan air mata, dan mengalirkan pahala tanpa putus. (wakafdt)
