Wakaf Daarut Tauhiid

April 2025

Hangatnya Kebersamaan di Pujasera Sahabat: Tempat Makan, Tempat Berkah

Di tengah kesibukan aktivitas pesantren dan hiruk pikuk kota, ada sebuah tempat sederhana yang menjadi oase kehangatan dan kebersamaan bagi banyak orang. Namanya Pujasera Sahabat, sebuah tempat makan yang dikelola sebagai salah satu unit usaha produktif Wakaf Daarut Tauhiid (DT). Tidak hanya tempat makan biasa, Pujasera ini menjadi ruang berbagi, menguatkan, dan menumbuhkan nilai-nilai kebaikan.

Setiap hari, deretan meja dan bangku di Pujasera Sahabat dipenuhi oleh berbagai kalangan—dari jemaah DT, santri, hingga mahasiswa yang menimba ilmu di sekitar kawasan Gegerkalong, Bandung. Menu sederhana namun penuh cita rasa menjadi pengikat suasana kekeluargaan yang terasa hangat di sana.

“Saya hampir setiap hari makan di sini. Harganya sangat terjangkau untuk kantong mahasiswa, tapi yang paling berkesan adalah suasananya. Kita bisa duduk bareng siapa saja, ngobrol, bahkan dapat nasihat dari jemaah yang lebih tua. Rasanya seperti keluarga,” ujar Aulia, mahasiswi semester 5 yang kuliah di salah satu kampus dekat DT, pada Rabu (9/4/2025).

Tak hanya Aulia, beberapa jemaah DT pun merasakan hal serupa. Bagi mereka, Pujasera Sahabat bukan cuma tempat mengisi perut, tapi juga mengisi hati. Beberapa bahkan mengaku mendapatkan motivasi hidup hanya dari obrolan singkat sambil menyeruput minuman hangat di meja pojok.

“Kadang saya datang ke sini bukan karena lapar. Tapi karena butuh ketenangan. Melihat orang-orang yang datang dengan wajah ramah, disapa hangat oleh pelayan, dan melihat para jemaah atau santri DT yang melintas menuju masjid, itu menenangkan hati,” kata Sulaiman, jemaah senior yang rutin hadir di kajian subuh DT.

Pujasera Sahabat adalah salah satu wujud nyata dari produktivitas wakaf yang dikelola Wakaf DT. Setiap rupiah yang berputar di sana menjadi bagian dari roda kebaikan. Menghidupi operasional pesantren, mendukung program-program sosial, dan tentu saja menjadi ladang pahala bagi para wakif.

Uniknya, beberapa mahasiswa yang kesulitan secara finansial pun kerap mendapatkan makanan gratis di sana. “Ada saja rezeki dari arah yang tak disangka. Pernah saya lagi bener-bener gak punya uang, tiba-tiba ada yang mentraktir atau pelayannya bilang ‘ini dari orang baik yang ingin berbagi’. Saya terharu banget,” cerita Fajar, mahasiswa perantauan asal Kalimantan.

Lebih dari sekadar tempat makan, Pujasera Sahabat telah menjadi titik temu antar jiwa. Tempat di mana makanan disajikan dengan cinta, dan setiap sendok yang disantap membawa berkah bagi yang memberi dan menerima. (Cahya)

Hangatnya Kebersamaan di Pujasera Sahabat: Tempat Makan, Tempat Berkah Read More »

Wakaf Mushaf Al-Quran yang Tak Lekang oleh Waktu

Dua tahun telah berlalu sejak puluhan mushaf Al-Quran diwakafkan ke Masjid Jami Assiroj yang berdiri sederhana di tengah pemukiman penduduk di Ciwaruga, Kabupaten Bandung Barat. Meski waktu terus berjalan, mushaf-mushaf itu tetap tampak terjaga, bersih, dan rapi. Seolah baru kemarin tiba di rak kayu masjid yang mengeluarkan aroma wangi khas kayu jati.

Dari luar, Masjid Jami Assiroj tampak bersahaja. Berdinding abu-abu dengan dua menara yang mengapit ke dua sisi masjid, kontras dengan langit biru Ciwaruga. Saat memasuki masjid, suasana teduh langsung menyambut. Di sisi depan ruang utama, rak mushaf berdiri kokoh dengan puluhan Al-Quran tersusun rapi. Sampulnya masih utuh, tidak pudar warnanya, dan halaman-halamannya tak satu pun yang sobek.

“Alhamdulillah, mushaf ini benar-benar memberi manfaat luar biasa,” ujar Asep, pengurus masjid yang mengenakan peci hitam dan sarung garis-garis biru. Tangannya lembut saat membalik satu per satu mushaf, seolah menyentuh sesuatu yang sangat ia jaga.

Asep memang sangat merawat mushaf-mushaf Al-Quran tersebut. Ia mengagumi tampilan mushaf dari Wakaf Daarut Tauhiid (DT) yang didesain secara khusus untuk mempermudah mempelajari dan mendalami Al-Quran. Mushaf terbitan DT itu dilengkapi dengan tajwid warna, blok warna untuk menghafal, terjemah, tafsir, dan hikmah dari KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).

“Dari subuh sampai isya, selalu saja ada yang membaca. Anak-anak juga sering duduk bersila di sini sepulang sekolah, mengaji sambil menunggu waktu maghrib,” lanjutnya.

Suasana masjid memang terasa hidup. Di pojok ruangan, tampak tiga anak kecil berseragam sekolah dasar sedang mengaji dengan suara pelan tapi mantap. Mereka duduk bersila di atas karpet hijau daun, mushaf terbuka di depan mereka dengan alas rehal kayu. Sesekali, lantunan ayat suci terdengar bergema dari pengeras suara saat pengajian ibu-ibu dimulai di lantai dua masjid.

Nani, salah seorang jemaah yang hampir setiap hari datang ke masjid, tampak duduk tenang dengan mushaf di pangkuannya. “Saya selalu duduk di tempat ini setelah salat Dzuhur,” katanya sambil tersenyum. “Cukup baca satu-dua halaman, hati rasanya lebih ringan. Ini nikmat dari Allah lewat wakaf orang-orang baik,” ujarnya.

Tak hanya ibu-ibu dan anak-anak, kaum bapak juga memanfaatkan mushaf wakaf ini untuk kegiatan tadarus pekanan. Setiap malam Jumat selepas magrib hingga menjelang isya, suara lantunan ayat bergema dari para jemaah dewasa yang duduk melingkar. Menandai betapa wakaf mushaf ini telah menyatu dalam denyut kehidupan spiritual masjid.

Masjid Jami Assiroj telah menjadi rumah cahaya bagi warga sekitar. Mushaf-mushaf itu pun menjadi sumber keberkahan yang hidup, jembatan amal jariyah yang terus mengalirkan pahala bagi si pewakaf.

“Semoga semakin banyak orang yang tergerak untuk berwakaf mushaf seperti ini,” ujar Asep seraya menatap jendela masjid yang memantulkan cahaya sore. “Karena manfaatnya bukan hanya dirasa sekarang, tapi insya Allah akan terus dirasakan hingga akhir zaman,” pungkasnya.

Di bawah sinar senja yang menembus kisi-kisi jendela, lembar-lembar Al-Quran itu terus dibaca. Doa-doa terus dipanjatkan. Pahala terus mengalir. Dan wakaf itu tetap hidup dalam setiap ayat yang dilafazkan. 

Wakaf DT memberikan kesempatan bagi setiap muslim untuk ikut berpartisipasi memenuhi kebutuhan mushaf Al-Quran di Indonesia dan memberantas buta huruf Al-Quran, sekaligus meraih pahala mengalir abadi dengan program Wakaf Mushaf Al-Quran. (Cahya)

Wakaf Mushaf Al-Quran yang Tak Lekang oleh Waktu Read More »

Silaturahmi Lebaran yang Menghangatkan Hati di Daarut Tauhiid

Hari pertama masuk kerja setelah libur panjang Idul Fitri menjadi momen istimewa bagi para santri karya di Kawasan Wakaf Terpadu Daarut Tauhiid (DT), Gegerkalong Girang, Bandung. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini suasana silaturahmi terasa lebih hidup, lebih hangat, dan lebih bermakna.

Pada Selasa (8/4/2025), sejak pukul 08.00 pagi, para santri karya dari berbagai unit dan lembaga di lingkungan DT saling berkunjung dari satu kantor ke kantor lainnya. Senyum mengembang, tangan berjabat, dan maaf saling terucap di setiap pertemuan. Kebiasaan baru ini membawa semangat baru yang begitu menggugah.

Ramdan, salah seorang santri karya, mengaku sangat mengapresiasi inisiatif ini. “Biasanya kami bersilaturahmi saat kajian pekanan di Masjid DT, tapi kali ini berbeda. Kami benar-benar menyapa langsung rekan-rekan lintas lembaga. Saya jadi lebih merasakan nuansa Lebaran yang penuh kebersamaan,” ujarnya dengan mata berbinar.

Kegiatan ini menjadi simbol kuatnya ukhuwah dan rasa memiliki terhadap lingkungan kerja yang dibangun di atas tanah wakaf. “Di tanah wakaf ini, setiap jabat tangan terasa lebih berkah. Ini bukan hanya soal kebiasaan baru, tapi energi spiritual yang tumbuh dari nilai-nilai tauhid,” tambah Ramdan.

Silaturahmi berlangsung hingga menjelang waktu Dzuhur. Para santri karya tampak antusias dan menyambut hangat rekan-rekan yang datang, meski harus berpindah dari satu gedung ke gedung lain. Tawa riang, obrolan ringan, dan harapan-harapan positif mengalir begitu saja, memperkuat ikatan hati dalam bingkai ibadah.

Banyak di antara santri karya yang berharap kebiasaan ini menjadi tradisi baru di setiap Lebaran mendatang. “Semoga ini jadi awal yang baik. Bukan hanya mempererat hubungan kerja, tapi juga memperkuat nilai-nilai silaturahmi yang selama ini diajarkan di Daarut Tauhiid,” ujar salah seorang santri dari unit pesantren.

Lebaran kali ini bukan hanya perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Di Daarut Tauhiid, ini adalah momentum untuk menumbuhkan kembali semangat kebersamaan, melangkah bersama dalam keberkahan, dan merawat silaturahmi sebagai bagian dari ibadah yang menghidupkan hati. (Cahya)

Silaturahmi Lebaran yang Menghangatkan Hati di Daarut Tauhiid Read More »

Damainya Libur Lebaran di Jantung Wakaf Daarut Tauhiid

Di tengah hiruk-pikuk liburan Lebaran yang identik dengan keramaian dan destinasi wisata padat, ada satu tempat yang justru menawarkan ketenangan menggugah jiwa. Tempat ini adalah Kawasan Wakaf Terpadu Daarut Tauhiid (DT) di Gegerkalong Girang, Bandung.

Langit biru membentang di atas Masjid DT yang megah namun hening. Suara azan yang menggema dari pengeras suara masjid menjadi pemanggil hati. Bukan hanya bagi jemaah dan warga setempat, tapi juga para pengunjung yang tak sengaja mampir saat berlibur di kota kembang ini.

“Memang tak seramai biasanya, tapi setiap waktu salat, selalu ada yang datang. Ada yang singgah hanya untuk salat, ada pula yang sekadar zikir dan tilawah,” ujar Acep, salah seorang jemaah yang biasa salat di Masjid DT. Ia menyebutkan, momen sepi ini justru menjadi berkah tersendiri. “Ada ketenangan yang tidak bisa dibeli di tempat lain,” ujarnya.

Di sisi lain masjid, geliat ekonomi berbasis wakaf justru tampak hidup. Super Mini Market (SMM), sebuah minimarket wakaf yang dikelola dengan semangat profesionalisme dan amanah, menjadi titik pertemuan para pengunjung. Di sampingnya, berderet kios-kios yang juga hasil dari pengelolaan wakaf produktif. Ada banyak jenis barang yang dijual di kios-kios ini. Mulai dari buku-buku karya Aa Gym, Al-Quran dan suvenir khas DT, hingga beragam busana muslim serta perlengkapan salat.

Masyarakat umum pun merasa nyaman berlama-lama di kawasan ini. Ada yang sekadar duduk-duduk di kursi pelataran SMM dan Masjid DT, ada pula keluarga yang menyempatkan berfoto dengan latar masjid dan kawasan sekitarnya. Anak-anak berlarian, sementara orang tua mereka berbincang tentang kajian yang dulu sering mereka hadiri di sini.

“Awalnya cuma mau salat, tapi malah betah. Beli camilan di SMM, terus beli gantungan kunci lucu di sini. Rasanya beda aja, ada nilai yang dibawa pulang,” kata Rika, wisatawan asal Jakarta.

Selain sebagai tempat ibadah, Kawasan Wakaf Terpadu DT juga merupakan ekosistem keimanan dan kemandirian. Di saat tempat lain berlomba menawarkan hiburan lahiriah, DT dengan tenang mengajak setiap jiwa untuk liburan batiniah.

Dan saat mentari sore mulai condong, udara sejuk Bandung memeluk pelataran masjid. Jemaah kembali berdatangan. Bukan untuk sekadar salat, tapi untuk meresapi bahwa di tengah dunia yang penuh godaan, ada satu tempat yang mengingatkan tentang makna hidup: Daarut Tauhiid. (Cahya)

Damainya Libur Lebaran di Jantung Wakaf Daarut Tauhiid Read More »

Mendobrak Pemikiran Wakaf: Bukan Hanya Masjid, Makam, dan Madrasah

Selama ini, banyak masyarakat yang berpikir bahwa wakaf hanya sebatas tanah untuk masjid, makam, atau madrasah (3M). Padahal, konsep wakaf dalam Islam jauh lebih luas dan fleksibel. Wakaf bisa mencakup berbagai aset yang memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat, seperti rumah sakit, infrastruktur publik, teknologi, bahkan usaha produktif yang hasilnya digunakan untuk kepentingan sosial.

Pemikiran bahwa wakaf hanya terbatas pada tempat ibadah dan pendidikan tradisional perlu diubah. Tujuannya agar lebih banyak umat muslim yang terlibat dalam wakaf dengan cara lebih inovatif dan sesuai kebutuhan zaman.

Wakaf: Konsep Fleksibel dalam Islam

Secara sederhana, wakaf adalah penyerahan hak milik suatu aset agar manfaatnya dapat digunakan oleh masyarakat luas secara terus-menerus. Rasulullah saw dan para sahabat telah mencontohkan berbagai bentuk wakaf yang tidak terbatas pada masjid, seperti:

– Umar bin Khattab mewakafkan kebun kurma di Khaibar untuk kemaslahatan umat.

– Utsman bin Affan mewakafkan Sumur Raumah agar bisa digunakan oleh seluruh penduduk Madinah.

Dari contoh ini, jelas bahwa wakaf dalam Islam bersifat luas dan tidak hanya terbatas pada tempat ibadah.

Objek Wakaf yang Beragam dan Modern

Ada banyak objek wakaf yang bisa digunakan untuk kemashalatan umat. Jadi, tidak hanya masjid, makam, atau madrasah sebagaimana pemahaman sebagian masyarakat. Berikut ini berbagai wakaf yang kini bisa menjadi pilihan:

a. Wakaf Produktif

Wakaf tidak harus berupa bangunan ibadah atau pendidikan, tetapi juga bisa berupa aset produktif yang menghasilkan keuntungan dan digunakan untuk kepentingan sosial. Contohnya:

– Perkebunan dan pertanian: Hasil panennya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan atau membantu kaum dhuafa.

– Gedung komersial: Keuntungan dari penyewaan gedung bisa dikelola untuk kepentingan umat.

– Usaha atau bisnis: Keuntungan dari usaha yang dikelola berbasis wakaf dapat disalurkan ke program sosial dan kemanusiaan.

b. Wakaf Teknologi dan Digital

Pada era digital, wakaf juga bisa berbentuk teknologi yang membantu masyarakat, seperti:

– Aplikasi atau platform edukasi gratis untuk anak-anak kurang mampu.

– Wakaf server atau pusat data untuk penyimpanan informasi keislaman dan pendidikan.

– Wakaf website atau media online yang menyebarkan ilmu dan dakwah secara luas.

c. Wakaf Infrastruktur Publik

Selain tempat ibadah, wakaf juga bisa digunakan untuk membangun infrastruktur publik yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti:

– Rumah sakit dan klinik wakaf yang memberikan layanan kesehatan gratis atau murah.

– Sumur atau jaringan air bersih untuk daerah yang mengalami krisis air.

– Jembatan, jalan, atau transportasi umum berbasis wakaf untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat.

d. Wakaf Uang dan Investasi

Wakaf juga bisa berupa uang yang dikelola secara profesional dalam bentuk investasi yang keuntungannya digunakan untuk berbagai kegiatan sosial. Contohnya:

– Dana wakaf yang diinvestasikan dalam proyek ekonomi, lalu hasilnya digunakan untuk membangun sekolah atau rumah sakit.

– Wakaf saham di perusahaan yang mana penerimaan dividen dialokasikan untuk membantu fakir miskin.

Mengapa Perlu Mengembangkan Wakaf di Luar Masjid, Makam, dan Madrasah?

Berikut ini beberapa alasan wakaf sebaiknya tidak terbatas pada objek-objek seperti masjid, makam, dan madrasah, yakni:

– Menjawab Kebutuhan Umat Modern

Umat Islam saat ini membutuhkan lebih dari sekadar tempat ibadah. Akses kesehatan, pendidikan, teknologi, dan ekonomi juga sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

– Memaksimalkan Manfaat Wakaf

Dengan diversifikasi wakaf, manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak orang dan tidak terbatas pada komunitas tertentu saja.

– Meningkatkan Kemandirian Ekonomi Umat

Wakaf produktif dan wakaf investasi bisa menjadi sumber dana berkelanjutan yang membantu berbagai program sosial tanpa harus bergantung pada donasi yang sifatnya sesaat.

Semoga dengan memahami konsep wakaf yang lebih luas, umat Islam dapat berkontribusi lebih besar dalam membangun peradaban yang lebih maju dan sejahtera. Saatnya kita mendobrak pemikiran lama dan memanfaatkan wakaf sebagai solusi modern untuk kesejahteraan umat! (Cahya)

Mendobrak Pemikiran Wakaf: Bukan Hanya Masjid, Makam, dan Madrasah Read More »

Pentingnya Literasi Wakaf di Indonesia

Wakaf merupakan salah satu instrumen penting dalam ajaran Islam yang memiliki potensi besar untuk mendukung kemajuan sosial, ekonomi, dan keagamaan umat. Meskipun wakaf telah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw, penerapan dan pengelolaan wakaf di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal literasi atau pemahaman masyarakat tentang wakaf itu sendiri.

Untuk itu, pembahasan pentingnya literasi wakaf di Indonesia menjadi relevan. Peningkatan pemahaman tentang wakaf dapat memberikan dampak positif bagi umat dan bangsa.

Mengoptimalkan Potensi Wakaf sebagai Instrumen Ekonomi

Wakaf bukan hanya tentang pemberian tanah atau bangunan untuk kegiatan sosial atau keagamaan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya ekonomi yang dapat menggerakkan kesejahteraan umat. Di Indonesia, potensi wakaf sangat besar, namun pengelolaannya masih perlu perbaikan. Literasi wakaf yang rendah di kalangan masyarakat menghambat optimalisasi potensi tersebut.

Dengan meningkatkan literasi wakaf, masyarakat akan lebih memahami bagaimana wakaf dapat dikelola secara produktif untuk menghasilkan manfaat ekonomi. Sebagai contoh, wakaf uang yang saat ini mulai diperkenalkan di Indonesia, memiliki potensi besar untuk dikelola menjadi dana yang dapat mendukung berbagai proyek sosial, pendidikan, dan kesehatan yang bermanfaat bagi umat.

Jika masyarakat memahami cara berwakaf uang dan cara pengelolaannya, maka akan banyak proyek produktif yang dapat dibiayai dari dana wakaf, seperti pembangunan sekolah, rumah sakit, atau fasilitas umum lainnya.

Meningkatkan Kesadaran Sosial dan Kepedulian Masyarakat

Salah satu aspek penting dari wakaf adalah memberi manfaat jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat. Wakaf bukan hanya memberikan sumbangan sesaat, tetapi memberikan manfaat berkelanjutan bagi umat, seperti yang terdapat pada wakaf untuk pembangunan masjid, panti asuhan, atau lembaga pendidikan. Namun, untuk dapat memahami konsep ini secara mendalam, masyarakat perlu memiliki literasi yang baik tentang wakaf.

Literasi wakaf yang tinggi akan meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk berwakaf secara sadar dan terencana. Masyarakat yang memahami pentingnya wakaf akan lebih aktif dalam melakukan amal jariyah ini, bukan hanya sebagai kewajiban agama, tetapi sebagai bentuk kontribusi nyata untuk kemajuan bersama. Selain itu, masyarakat akan lebih percaya bahwa wakaf mereka akan dikelola dengan transparan dan profesional sehingga meningkatkan partisipasi mereka dalam kegiatan wakaf.

Menghindari Penyalahgunaan dan Pengelolaan Wakaf

Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan wakaf di Indonesia adalah masih banyaknya kasus penyalahgunaan atau pengelolaan wakaf yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Hal ini seringkali disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang mekanisme dan tujuan wakaf yang sebenarnya. Tanpa pemahaman yang cukup, wakaf bisa saja disalahgunakan atau tidak dikelola secara maksimal.

Dengan meningkatkan literasi wakaf, masyarakat dan pengelola wakaf dapat lebih memahami hak dan kewajiban mereka dalam mengelola wakaf. Pengetahuan yang baik tentang wakaf akan memastikan aset wakaf digunakan untuk tujuan yang benar dan memberikan manfaat jangka panjang bagi umat. Selain itu, pengelolaan yang transparan dan profesional akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga yang mengelola wakaf.

Menumbuhkan Semangat Berwakaf di Kalangan Generasi Muda

Generasi muda merupakan aset penting dalam pembangunan bangsa. Untuk itu, penting bagi mereka untuk memahami peran wakaf dalam membangun masa depan yang lebih baik. Literasi wakaf yang baik akan mendorong generasi muda untuk lebih sadar akan potensi wakaf sebagai instrumen sosial dan ekonomi yang bermanfaat.

Melalui literasi wakaf, generasi muda tidak hanya akan terlibat dalam kegiatan amal, tetapi juga akan memahami bagaimana wakaf dapat menjadi jalan untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam menciptakan kesejahteraan umat. Selain itu, mereka juga dapat berperan aktif dalam mengelola dan mengembangkan wakaf agar lebih produktif dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Membantu Mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, memiliki peluang besar untuk memanfaatkan wakaf dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Salah satu tujuan SDGs adalah mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Wakaf dapat menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan tujuan tersebut, asalkan pengelolaannya dilakukan secara efektif.

Melalui literasi wakaf, masyarakat akan memahami bahwa wakaf dapat digunakan untuk membiayai berbagai program pembangunan, seperti penyediaan akses pendidikan, fasilitas kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Dengan mengoptimalkan potensi wakaf, Indonesia dapat mendekati pencapaian SDGs, terutama dalam hal pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Peran Pemerintah dan Lembaga Keagamaan

Pemerintah dan lembaga-lembaga keagamaan memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi wakaf di Indonesia. Mereka dapat menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan sosialisasi yang bertujuan untuk mengenalkan konsep dan manfaat wakaf kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan regulasi yang jelas dan mendukung pengelolaan wakaf yang transparan dan efisien.

Lembaga-lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah juga dapat berperan aktif dalam mengedukasi umat mengenai pentingnya wakaf dan bagaimana cara berwakaf dengan baik dan benar. Kerja sama antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mewujudkan literasi wakaf yang lebih baik di Indonesia. (Cahya)

Pentingnya Literasi Wakaf di Indonesia Read More »

Membawa Berkah Wakaf ke Rumah: Pengalaman Siswa SMA DTBS saat Libur Lebaran

Libur Lebaran bagi para siswa SMA Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) tak hanya dimaknai momen pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga. Bagi mereka, ini adalah kesempatan untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah tertanam selama menempuh pendidikan di sekolah boarding berbasis wakaf tersebut.

Meski berada di rumah masing-masing, kedisiplinan dalam beribadah dan aktivitas sehari-hari tetap mereka jaga. Seolah ritme kehidupan di asrama tetap berjalan dalam diri mereka.

Salah satu siswa, Arfan (17), mengungkapkan bahwa kebiasaan yang sudah terbangun selama bersekolah di Daarut Tauhiid secara alami terbawa hingga ke rumah. Mulai dari bangun sebelum subuh, menjalankan tahajud, tilawah, hingga membiasakan diri untuk tetap produktif sepanjang hari.

“Di sekolah, kami sudah terbiasa menjalani hari dengan disiplin, terutama dalam ibadah. Jadi, saat pulang ke rumah, pola itu tetap terbawa. Orang tua saya juga senang melihat saya tetap teratur meskipun sedang libur,” tutur Arfan yang berasal dari Tasikmalaya.

Hal serupa dirasakan oleh Nabila (16) yang merasa keberkahan bersekolah di atas tanah wakaf memberikan dampak besar dalam kehidupannya. Ia percaya bahwa lingkungan yang dikelola dengan niat ibadah membuat kebiasaan baik lebih mudah melekat.

“Saya merasa ada keberkahan tersendiri saat bersekolah di Daarut Tauhiid. Di rumah pun saya tetap merasa tenang dan nyaman menjalankan kebiasaan yang saya pelajari di sekolah. Bangun subuh tepat waktu, menjaga adab dengan orang tua, dan mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat,” ujar Nabila yang menghabiskan libur Lebaran di Bogor.

Selain menjaga ibadah, para siswa juga tetap menjalankan kebiasaan hidup mandiri yang mereka pelajari di asrama. Mulai dari membersihkan rumah, membantu orang tua, hingga menyusun jadwal harian agar waktu tidak terbuang sia-sia. Bagi mereka, disiplin bukan sekadar aturan sekolah, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Libur Lebaran bagi para siswa SMA DTBS bukan berarti jeda dari kedisiplinan dan nilai-nilai kebaikan. Justru, ini menjadi ajang pembuktian bahwa apa yang mereka pelajari selama ini bukan hanya teori di sekolah, tetapi telah menjadi bagian dari diri mereka. Dengan keyakinan bahwa keberkahan tanah wakaf turut membentuk karakter mereka, para siswa menjalani liburan dengan tetap menjaga nilai-nilai yang telah tertanam.

“Saya berharap bisa terus menjaga kebiasaan ini. Bukan hanya saat di sekolah atau di rumah, tapi juga di mana pun saya berada nanti,” tutup Arfan dengan penuh keyakinan. (Cahya)

Membawa Berkah Wakaf ke Rumah: Pengalaman Siswa SMA DTBS saat Libur Lebaran Read More »

Mimpi Besar di Pesantren Daarut Tauhiid, Harapan Warga Karyawangi

Di tengah hamparan perbukitan hijau dan udara sejuk Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, ada harapan besar tumbuh di hati warga. Kehadiran Pesantren Daarut Tauhiid kini berdiri di dekat tempat tinggal mereka.

Bukan sekadar bangunan, tetapi juga simbol masa depan cerah bagi generasi mendatang. Pesantren ini didirikan di atas tanah wakaf, dan seluruh pembangunannya pun berasal dari dana wakaf umat.

Saat ini, fasilitas pesantren masih sederhana. Belum ada bangunan permanen untuk asrama maupun ruang belajar. Para santri sementara waktu menggunakan ruang di bawah Blue Mosque Daarut Tauhiid, masjid megah yang juga berdiri atas wakaf dan baru diresmikan pada akhir Februari lalu. Namun, keterbatasan ini tidak menyurutkan semangat santri yang telah memulai kegiatan pendidikan di sana, termasuk juga bagi para warga sekitar.

“Kami sangat bersyukur dan bangga ada pesantren khusus mencetak ulama dan penghafal Al-Quran di desa kami. Ini kesempatan besar bagi anak-anak kami untuk menimba ilmu agama lebih dekat dari rumah,” ujar Asep Rahman, salah seorang warga Karyawangi. Ia berharap suatu saat nanti, putranya bisa menjadi bagian dari para santri di pesantren tersebut.

Senada dengan Asep, Siti Mariam, seorang ibu dua anak, juga menyimpan harapan besar. “Dulu kami harus mencari pesantren jauh ke luar daerah. Sekarang, dengan adanya pesantren ini, kami berharap bisa melihat anak-anak kami tumbuh menjadi penghafal Al-Quran dan ulama yang membimbing umat,” katanya penuh haru.

Meski kondisi pesantren masih sederhana, warga yakin bahwa perlahan-lahan pembangunan akan berjalan seiring dengan semangat gotong royong dan kepedulian umat. Mereka berharap lebih banyak lagi dana wakaf yang masuk untuk mendirikan fasilitas agar lebih layak bagi para santri. Mereka percaya, ketika ilmu agama berkembang di tengah masyarakat, keberkahan pun akan mengalir ke seluruh desa.

Tidak sekadar tempat belajar, Pesantren Daarut Tauhiid di Desa Karyawangi juga membawa harapan dan investasi akhirat bagi warga sekitar. Dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan, mereka yakin pesantren ini akan menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi ulama dan hafiz terbaik. Kini, mereka hanya bisa berdoa dan terus berjuang agar harapan ini segera terwujud. (Cahya)

Mimpi Besar di Pesantren Daarut Tauhiid, Harapan Warga Karyawangi Read More »

Kenangan Tak Terlupakan selama I’tikaf 10 Hari di Masjid Wakaf Daarut Tauhiid

Malam-malam terakhir Ramadhan selalu menjadi momentum istimewa bagi umat muslim yang ingin meraih keutamaan Lailatul Qadar. Di antara mereka, para jemaah yang memilih untuk beri’tikaf di masjid wakaf Daarut Tauhiid, baik di Gerlong Girang, Kota Bandung, maupun di Eco Pesantren, Cigugur, Parongpong, merasakan pengalaman spiritual yang tak terlupakan.

Selama sepuluh hari terakhir Ramadhan, para jemaah menyibukkan diri dengan ibadah. Mulai dari salat malam, tilawah Al-Quran, zikir, hingga kajian-kajian keislaman. Suasana masjid yang nyaman dan penuh ketenangan membuat mereka semakin khusyuk dalam mendekatkan diri kepada Allah.

“Saya sangat terkesan dengan pengelolaan masjid ini. Semua fasilitas tersedia dengan baik, dari tempat wudu yang bersih, konsumsi yang cukup, hingga pengaturan jadwal ibadah yang tertib,” ujar Anton, salah seorang jemaah i’tikaf di Masjid Daarut Tauhiid Gerlong Girang.

Hal senada disampaikan oleh Leni, jemaah lainnya yang beri’tikaf di Masjid Eco Pesantren. “Saya bersyukur bisa beri’tikaf di masjid ini. Suasananya sangat mendukung untuk beribadah, dan pengelolaannya pun luar biasa. Semua ini berkat wakaf dari umat yang dikelola dengan baik oleh Daarut Tauhiid,” katanya.

Namun, di balik kebahagiaan mendapatkan pengalaman spiritual yang mendalam, ada perasaan haru yang menyelimuti hati mereka saat hari terakhir i’tikaf tiba. Kebersamaan selama sepuluh hari terasa begitu berharga, hingga perpisahan menjadi momen penuh dengan doa dan harapan.

“Rasanya sedih harus berpisah dengan suasana ini. Saya berharap Allah memberikan kesempatan dan umur panjang agar tahun depan bisa kembali i’tikaf di sini,” kata Ridwan, jemaah asal Cimahi.

Bagi mereka, i’tikaf ini adalah sebentuk perjalanan spiritual yang mendekatkan hati kepada Allah dan mempererat ukhuwah islamiyah. Mereka pun berharap semakin banyak umat yang bisa merasakan keberkahan i’tikaf di masjid-masjid wakaf Daarut Tauhiid pada tahun-tahun mendatang. (Cahya)

Kenangan Tak Terlupakan selama I’tikaf 10 Hari di Masjid Wakaf Daarut Tauhiid Read More »

Merajut Rindu dalam Sujud: Pengalaman Salat Idul Fitri di Kawasan Wakaf Daarut Tauhiid

Udara pagi di Gegerkalong Girang terasa sejuk, diiringi lantunan takbir yang menggema dari pengeras suara Dome Central V, Bandung. Pagi ini, ribuan jemaah berbondong-bondong memenuhi kawasan wakaf Daarut Tauhiid untuk menunaikan salat Idul Fitri. Suasana syahdu dan penuh kekhusyukan terasa di antara saf-saf yang tersusun rapi, menandakan kebersamaan yang telah lama dirindukan.

Bagi sebagian jemaah, salat Ied kali ini bukan sekadar ritual ibadah tahunan, melainkan momen yang membawa mereka kembali ke kenangan lama. Salah satu jemaah, Rizal (45), mengungkapkan betapa mendalamnya perasaannya saat kembali sujud di tempat yang pernah menjadi bagian dari rutinitas ibadahnya.

“Sudah beberapa tahun saya tidak salat Ied di sini karena berbagai kesibukan. Begitu kembali, rasanya seperti pulang ke rumah. Suasananya masih sama—hangat, damai, dan penuh keberkahan,” tutur Rizal dengan mata berbinar.

Di sekelilingnya, wajah-wajah penuh kebahagiaan terlihat di antara jemaah. Banyak yang datang bersama keluarga, beberapa bahkan membawa anak-anak kecil yang tertawa ceria setelah prosesi salat usai. Kawasan wakaf Daarut Tauhiid yang selama ini menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam, kembali menjadi saksi perayaan Idul Fitri nan penuh makna.

Walau salat Ied kali ini tanpa kehadiran KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang memberikan khutbah, suasana khidmat tetap terasa. Para jemaah mendengarkan khutbah Ied dengan penuh khusyuk.

Setelah salat dan khutbah, jemaah saling bersalaman, melebur dalam kehangatan ukhuwah. Beberapa mengambil kesempatan untuk berfoto bersama, mengabadikan momen penuh kebersamaan ini. Di sudut lain, relawan Daarut Tauhiid sibuk mengatur para jemaah yang hendak meninggalkan area salat. Tak lupa mereka menebar 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) kepada setiap jemaah. Menambah nuansa kebersamaan yang khas di tempat ini.

Bagi Rizal dan banyak jemaah lainnya, salat Ied di Daarut Tauhiid punya makna mendalam. Layaknya sebuah perjalanan spiritual yang membawa mereka lebih dekat dengan Allah dan sesama.

“Saya berharap bisa kembali setiap tahun, merasakan kembali ketenangan yang hanya bisa ditemukan di tempat ini,” ujar Rizal sebelum akhirnya beranjak pulang dengan hati yang lapang dan penuh syukur.

Idul Fitri di Daarut Tauhiid bukan hanya tentang hari kemenangan. Tetapi juga tentang merajut kembali kebersamaan yang sempat terpisah, dalam sujud penuh makna dan doa yang mengangkasa. (Cahya)

Merajut Rindu dalam Sujud: Pengalaman Salat Idul Fitri di Kawasan Wakaf Daarut Tauhiid Read More »