Wakaf Daarut Tauhiid

Taktik Asimetris Hamas di Gaza: Sebuah Analisis Perbandingan dengan Strategi Perang Nabi Muhammad ﷺ

WAKAFDT.OR.IDPasca konflik berkepanjangan, wilayah Gaza kini memasuki fase pemulihan. Seiring dengan pembebasan tahanan dan pemulangan sandera, upaya untuk menstabilkan situasi keamanan sedang berlangsung. Keberhasilan dalam mencapai kondisi ini tidak lepas dari ketahanan gerakan perlawanan, terutama Hamas, yang konsisten dalam mempertahankan wilayah Palestina.

Analisis militer dan sejarah sering mengaitkan strategi perang Hamas dengan beberapa prinsip taktis yang diterapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana didokumentasikan dalam studi sejarah Islam (Sirah Nabawiyah). Tinjauan berikut mengulas kemiripan pendekatan militer tersebut:

1. Kecerdasan Taktis dan Perang Asimetris

Strategi Sirah: Pada periode awal di Madinah, di mana kaum Muslimin masih minoritas, Nabi Muhammad ﷺ (sebagaimana dicatat dalam Sirah Ibn Ishaq) mengedepankan kecerdasan taktis, manajemen psikologis, dan mobilitas tinggi sebagai kunci pertahanan. Contohnya, dalam Perang Badar, jumlah pasukan Muslim dan persenjataannya jauh lebih sedikit, namun kemenangan diraih berkat penguasaan medan yang superior.

Penerapan Hamas: Menghadapi kekuatan militer Israel yang jauh lebih unggul (disparity of power), Hamas secara efektif menggunakan konsep perang asimetris. Mereka memanfaatkan topografi medan, khususnya jaringan terowongan bawah tanah yang dikenal sebagai “Gaza Metro,” serta menggunakan roket rakitan dan jarak pendek untuk menetralkan keunggulan teknologi musuh.

2. Pemanfaatan Medan dan Geografi

Strategi Sirah: Perang Khandaq (Ahzab) adalah contoh nyata bagaimana Nabi ﷺ memodifikasi geografi dengan menggali parit besar untuk pertahanan. Taktik ini berhasil mengubah pertarungan frontal menjadi pengepungan yang menguntungkan pihak Muslim.

Penerapan Hamas: Hamas mengolah wilayah perkotaan padat di Gaza menjadi semacam benteng pertahanan alami. Jaringan terowongan tidak hanya berfungsi untuk pergerakan logistik dan personel secara rahasia, tetapi juga sebagai lapisan perlindungan geografi yang memperlambat dan mempersulit operasi darat pasukan Israel.

3. Taktik Gerilya dan Mobilitas Cepat

Strategi Sirah: Eksperimen militer kecil seperti Perang Dzat al-Riqa’ menunjukkan taktik serangan mendadak (raid) dan pergerakan cepat untuk melemahkan musuh tanpa perlu konfrontasi besar-besaran. Dalam kasus Dzat al-Riqa’, kehadiran pasukan Muslim sudah cukup untuk menghancurkan moral musuh sehingga mereka melarikan diri, menunjukkan kemenangan taktis tanpa pertumpahan darah.

Penerapan Hamas: Organisasi ini menggunakan pendekatan serupa melalui operasi gerilya skala kecil, serangan roket tak terduga, dan infiltrasi yang dilakukan oleh sel-sel kecil yang sulit dilacak oleh sistem militer konvensional Israel.

4. Perang Psikologis dan Propaganda

Strategi Sirah: Nabi Muhammad ﷺ dikenal ahli dalam strategi psikologis. Dalam kasus Perang Khandaq, selain parit, ide untuk menggoyahkan mental musuh dengan negosiasi terpisah dan menunjukkan keteguhan iman (seperti pelaksanaan Salat Khauf) berhasil menekan moral musuh.

Penerapan Hamas: Serangan roket yang dilakukan Hamas, selain bertujuan militer, juga memiliki fungsi utama sebagai alat tekanan psikologis. Aksi ini bertujuan menciptakan rasa waspada, mengganggu kehidupan normal, dan merusak citra keamanan total yang diklaim oleh Israel.

5. Intelijen dan Kerahasiaan

Strategi Sirah: Pentingnya pengumpulan informasi dan kerahasiaan ditekankan oleh Nabi ﷺ, seperti pengiriman mata-mata sebelum Perang Badar.

Penerapan Hamas: Gerakan ini sangat bergantung pada sistem intelijen internal yang ketat, komunikasi tertutup, dan penggunaan teknologi sederhana untuk menghindari penyadapan. Kerahasiaan ini menjadi faktor yang sering kali menyulitkan lembaga intelijen Israel dalam memetakan keseluruhan struktur organisasi mereka.

6. Ketahanan Moral dan Legitimasi

Strategi Sirah: Ketahanan luar biasa dan keteguhan yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ, misalnya dalam Perang Uhud, menjadi modal moral utama umat Islam. Selain itu, peperangan selalu dilandaskan pada legitimasi wahyu, yaitu sebagai perlawanan terhadap penindasan (seperti Surah Al-Hajj ayat 39).

Penerapan Hamas: Anggota Hamas menanamkan nilai ketahanan dan semangat perjuangan yang kuat, didukung oleh narasi keagamaan dan semangat syahid (istisyhad). Pembingkaian perjuangan ini memberikan legitimasi moral di mata pendukung lokal dan meraih simpati luas di dunia Islam, menjadi kunci ketahanan psikologis menghadapi blokade dan tekanan militer.

Redaktur: Wahid Ikhwan

Sumber: Republika


WAKAFDT.OR.ID