WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Bagi seorang santri, ilmu sejati tidak hanya ditemukan di dalam tumpukan kitab, tetapi juga dalam jejak langkah pengabdian kepada sesama.
Hal inilah yang menjadi refleksi mendalam bagi Muhammad Abdul Nurais saat menjalankan Program Khidmat Masyarakat (PKM), sebuah inisiatif yang dirancang untuk mengasah kepekaan sosial para santri di lapangan.
Belajar di Atas Tanah Wakaf, Mengabdi untuk Umat
Sebelum terjun ke tengah masyarakat, Muhammad dan rekan-rekannya telah lebih dulu ditempa di kawasan Pesantren Daarut Tauhiid (DT).
Penting untuk diketahui bahwa seluruh fasilitas yang digunakan santri untuk menuntut ilmu—mulai dari ruang kelas, masjid, hingga asrama—adalah aset wakaf produktif.
Tinggal dan belajar di atas tanah wakaf memberikan perspektif unik bagi para santri:
- Amanah Muwakif: Mereka menyadari bahwa setiap fasilitas yang mereka gunakan adalah titipan dari para pewakaf (muwakif).
- Memakmurkan Wakaf: Setiap detik yang digunakan untuk menghafal Al-Qur’an dan mengkaji ilmu di sana adalah bentuk nyata dalam memakmurkan aset wakaf, yang pahalanya terus mengalir kepada mereka yang telah berwakaf.
- Kawah Candradimuka: Lingkungan wakaf DT yang asri dan sarat nilai islami menjadi “laboratorium” karakter sebelum mereka benar-benar dilepas ke masyarakat luas.
PKM: Ujian Nyata Kepedulian Sosial
Bagi Muhammad, PKM adalah ruang untuk mempraktikkan “tauhid aplikatif”. Ia merasa program ini memaksa santri untuk keluar dari zona nyaman dan belajar memahami beragam dinamika kehidupan masyarakat.
“Di PKM, kami belajar untuk tidak egois. Kami diajak untuk peka terhadap kesulitan orang lain dan belajar memberikan solusi nyata,” ungkap Muhammad.
Melalui program ini, beberapa nilai inti yang berhasil diserap adalah:
- Keikhlasan: Melayani tanpa mengharap imbalan selain keridaan Allah.
- Adaptasi: Belajar berkomunikasi dengan warga dari berbagai latar belakang usia dan sosial.
- Kerja Tim: Menghilangkan ego pribadi demi tercapainya kemaslahatan bersama di lokasi pengabdian.
Harapan Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
Pengalaman berinteraksi langsung dengan warga memberikan kesan yang tak terlupakan. Muhammad berharap, bekal yang ia dapatkan selama belajar di atas tanah wakaf DT serta pengalaman selama PKM, dapat membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih mandiri, rendah hati, dan dewasa.
“PKM bukan sekadar tugas pesantren, tapi bekal krusial untuk kehidupan kami di masa depan. Ilmu yang kami pelajari tidak boleh berhenti di catatan, tapi harus menjelma menjadi manfaat bagi umat dan bangsa,” pungkasnya.
Kisah Muhammad Abdul Nurais ini menegaskan bahwa pendidikan di Daarut Tauhiid adalah sebuah siklus kebaikan: dari manfaat wakaf yang diterima santri, hingga manfaat pengabdian yang kembali disalurkan kepada masyarakat. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
