WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Bank Indonesia (BI) Jambi memimpin rombongan perwakilan sejumlah pesantren di Kota Jambi dalam sebuah kunjungan studi banding ke Pesantren Daarut Tauhiid (DT) pada hari Kamis (2/10/2025).
Kunjungan ini berfokus pada studi dan replikasi model pengelolaan ekonomi pesantren yang telah berhasil dikembangkan oleh DT.
Studi Banding Pengelolaan Ekonomi Pesantren
Para peserta disambut hangat dan menjalani audiensi khusus bersama jajaran Koperasi Pesantren DT.
Diskusi mendalam ini membahas sistem operasional, tata kelola, dan strategi pengembangan ekonomi yang memberdayakan komunitas pesantren sekaligus mandiri secara finansial.

Setelah sesi audiensi, delegasi BI Jambi dan perwakilan pesantren berkesempatan berkeliling langsung di lingkungan DT.
Mereka meninjau berbagai unit usaha yang dikelola oleh pesantren, mulai dari ritel, jasa, hingga sektor produksi, yang menjadi tulang punggung bagi kemandirian ekonomi lembaga pendidikan tersebut.
Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan wawasan praktis bagi pesantren di Jambi untuk mengadopsi praktik terbaik dalam mengelola sumber daya ekonomi mereka.
Peran Kunci Aset Wakaf Produktif DT
Model kemandirian ekonomi DT tidak terlepas dari pengelolaan aset wakaf produktif yang dikelola secara profesional.
Selain unit usaha berbasis koperasi, DT mengandalkan aset wakaf untuk menopang keberlangsungan lembaga dan program sosialnya.
Beberapa contoh pemanfaatan aset wakaf di DT meliputi:
- Pengelolaan Properti Komersil: Aset wakaf berupa bangunan atau tanah yang dikembangkan menjadi unit usaha (seperti toko, guest house, atau tempat pertemuan) yang menghasilkan pendapatan. Keuntungan ini digunakan untuk membiayai operasional pendidikan dan dakwah.
- Pemberdayaan Umat: Hasil dari wakaf produktif disalurkan untuk beasiswa santri dari kalangan dhuafa, layanan kesehatan gratis, dan program sosial lainnya, memastikan manfaat aset tersebut kembali kepada mauquf alaih.
- Infrastruktur Pendidikan: Pembangunan dan pemeliharaan fasilitas pesantren, seperti asrama dan ruang kelas, seringkali didanai dari hasil investasi wakaf produktif, memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga tanpa hanya mengandalkan SPP.
Dengan pendekatan ini, aset wakaf tidak hanya diam, melainkan berputar dan menghasilkan nilai tambah yang mendukung ekosistem ekonomi pesantren.
Keberhasilan DT dalam mengintegrasikan koperasi dan pengelolaan wakaf produktif inilah yang menarik perhatian BI Jambi sebagai percontohan bagi pesantren lain. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
