Wakaf Daarut Tauhiid

Berita Terbaru

Membawa Berkah Wakaf ke Rumah: Pengalaman Siswa SMA DTBS saat Libur Lebaran

Libur Lebaran bagi para siswa SMA Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) tak hanya dimaknai momen pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga. Bagi mereka, ini adalah kesempatan untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah tertanam selama menempuh pendidikan di sekolah boarding berbasis wakaf tersebut.

Meski berada di rumah masing-masing, kedisiplinan dalam beribadah dan aktivitas sehari-hari tetap mereka jaga. Seolah ritme kehidupan di asrama tetap berjalan dalam diri mereka.

Salah satu siswa, Arfan (17), mengungkapkan bahwa kebiasaan yang sudah terbangun selama bersekolah di Daarut Tauhiid secara alami terbawa hingga ke rumah. Mulai dari bangun sebelum subuh, menjalankan tahajud, tilawah, hingga membiasakan diri untuk tetap produktif sepanjang hari.

“Di sekolah, kami sudah terbiasa menjalani hari dengan disiplin, terutama dalam ibadah. Jadi, saat pulang ke rumah, pola itu tetap terbawa. Orang tua saya juga senang melihat saya tetap teratur meskipun sedang libur,” tutur Arfan yang berasal dari Tasikmalaya.

Hal serupa dirasakan oleh Nabila (16) yang merasa keberkahan bersekolah di atas tanah wakaf memberikan dampak besar dalam kehidupannya. Ia percaya bahwa lingkungan yang dikelola dengan niat ibadah membuat kebiasaan baik lebih mudah melekat.

“Saya merasa ada keberkahan tersendiri saat bersekolah di Daarut Tauhiid. Di rumah pun saya tetap merasa tenang dan nyaman menjalankan kebiasaan yang saya pelajari di sekolah. Bangun subuh tepat waktu, menjaga adab dengan orang tua, dan mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat,” ujar Nabila yang menghabiskan libur Lebaran di Bogor.

Selain menjaga ibadah, para siswa juga tetap menjalankan kebiasaan hidup mandiri yang mereka pelajari di asrama. Mulai dari membersihkan rumah, membantu orang tua, hingga menyusun jadwal harian agar waktu tidak terbuang sia-sia. Bagi mereka, disiplin bukan sekadar aturan sekolah, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Libur Lebaran bagi para siswa SMA DTBS bukan berarti jeda dari kedisiplinan dan nilai-nilai kebaikan. Justru, ini menjadi ajang pembuktian bahwa apa yang mereka pelajari selama ini bukan hanya teori di sekolah, tetapi telah menjadi bagian dari diri mereka. Dengan keyakinan bahwa keberkahan tanah wakaf turut membentuk karakter mereka, para siswa menjalani liburan dengan tetap menjaga nilai-nilai yang telah tertanam.

“Saya berharap bisa terus menjaga kebiasaan ini. Bukan hanya saat di sekolah atau di rumah, tapi juga di mana pun saya berada nanti,” tutup Arfan dengan penuh keyakinan. (Cahya)

Membawa Berkah Wakaf ke Rumah: Pengalaman Siswa SMA DTBS saat Libur Lebaran Read More »

Mimpi Besar di Pesantren Daarut Tauhiid, Harapan Warga Karyawangi

Di tengah hamparan perbukitan hijau dan udara sejuk Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, ada harapan besar tumbuh di hati warga. Kehadiran Pesantren Daarut Tauhiid kini berdiri di dekat tempat tinggal mereka.

Bukan sekadar bangunan, tetapi juga simbol masa depan cerah bagi generasi mendatang. Pesantren ini didirikan di atas tanah wakaf, dan seluruh pembangunannya pun berasal dari dana wakaf umat.

Saat ini, fasilitas pesantren masih sederhana. Belum ada bangunan permanen untuk asrama maupun ruang belajar. Para santri sementara waktu menggunakan ruang di bawah Blue Mosque Daarut Tauhiid, masjid megah yang juga berdiri atas wakaf dan baru diresmikan pada akhir Februari lalu. Namun, keterbatasan ini tidak menyurutkan semangat santri yang telah memulai kegiatan pendidikan di sana, termasuk juga bagi para warga sekitar.

“Kami sangat bersyukur dan bangga ada pesantren khusus mencetak ulama dan penghafal Al-Quran di desa kami. Ini kesempatan besar bagi anak-anak kami untuk menimba ilmu agama lebih dekat dari rumah,” ujar Asep Rahman, salah seorang warga Karyawangi. Ia berharap suatu saat nanti, putranya bisa menjadi bagian dari para santri di pesantren tersebut.

Senada dengan Asep, Siti Mariam, seorang ibu dua anak, juga menyimpan harapan besar. “Dulu kami harus mencari pesantren jauh ke luar daerah. Sekarang, dengan adanya pesantren ini, kami berharap bisa melihat anak-anak kami tumbuh menjadi penghafal Al-Quran dan ulama yang membimbing umat,” katanya penuh haru.

Meski kondisi pesantren masih sederhana, warga yakin bahwa perlahan-lahan pembangunan akan berjalan seiring dengan semangat gotong royong dan kepedulian umat. Mereka berharap lebih banyak lagi dana wakaf yang masuk untuk mendirikan fasilitas agar lebih layak bagi para santri. Mereka percaya, ketika ilmu agama berkembang di tengah masyarakat, keberkahan pun akan mengalir ke seluruh desa.

Tidak sekadar tempat belajar, Pesantren Daarut Tauhiid di Desa Karyawangi juga membawa harapan dan investasi akhirat bagi warga sekitar. Dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan, mereka yakin pesantren ini akan menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi ulama dan hafiz terbaik. Kini, mereka hanya bisa berdoa dan terus berjuang agar harapan ini segera terwujud. (Cahya)

Mimpi Besar di Pesantren Daarut Tauhiid, Harapan Warga Karyawangi Read More »

Kenangan Tak Terlupakan selama I’tikaf 10 Hari di Masjid Wakaf Daarut Tauhiid

Malam-malam terakhir Ramadhan selalu menjadi momentum istimewa bagi umat muslim yang ingin meraih keutamaan Lailatul Qadar. Di antara mereka, para jemaah yang memilih untuk beri’tikaf di masjid wakaf Daarut Tauhiid, baik di Gerlong Girang, Kota Bandung, maupun di Eco Pesantren, Cigugur, Parongpong, merasakan pengalaman spiritual yang tak terlupakan.

Selama sepuluh hari terakhir Ramadhan, para jemaah menyibukkan diri dengan ibadah. Mulai dari salat malam, tilawah Al-Quran, zikir, hingga kajian-kajian keislaman. Suasana masjid yang nyaman dan penuh ketenangan membuat mereka semakin khusyuk dalam mendekatkan diri kepada Allah.

“Saya sangat terkesan dengan pengelolaan masjid ini. Semua fasilitas tersedia dengan baik, dari tempat wudu yang bersih, konsumsi yang cukup, hingga pengaturan jadwal ibadah yang tertib,” ujar Anton, salah seorang jemaah i’tikaf di Masjid Daarut Tauhiid Gerlong Girang.

Hal senada disampaikan oleh Leni, jemaah lainnya yang beri’tikaf di Masjid Eco Pesantren. “Saya bersyukur bisa beri’tikaf di masjid ini. Suasananya sangat mendukung untuk beribadah, dan pengelolaannya pun luar biasa. Semua ini berkat wakaf dari umat yang dikelola dengan baik oleh Daarut Tauhiid,” katanya.

Namun, di balik kebahagiaan mendapatkan pengalaman spiritual yang mendalam, ada perasaan haru yang menyelimuti hati mereka saat hari terakhir i’tikaf tiba. Kebersamaan selama sepuluh hari terasa begitu berharga, hingga perpisahan menjadi momen penuh dengan doa dan harapan.

“Rasanya sedih harus berpisah dengan suasana ini. Saya berharap Allah memberikan kesempatan dan umur panjang agar tahun depan bisa kembali i’tikaf di sini,” kata Ridwan, jemaah asal Cimahi.

Bagi mereka, i’tikaf ini adalah sebentuk perjalanan spiritual yang mendekatkan hati kepada Allah dan mempererat ukhuwah islamiyah. Mereka pun berharap semakin banyak umat yang bisa merasakan keberkahan i’tikaf di masjid-masjid wakaf Daarut Tauhiid pada tahun-tahun mendatang. (Cahya)

Kenangan Tak Terlupakan selama I’tikaf 10 Hari di Masjid Wakaf Daarut Tauhiid Read More »

Merajut Rindu dalam Sujud: Pengalaman Salat Idul Fitri di Kawasan Wakaf Daarut Tauhiid

Udara pagi di Gegerkalong Girang terasa sejuk, diiringi lantunan takbir yang menggema dari pengeras suara Dome Central V, Bandung. Pagi ini, ribuan jemaah berbondong-bondong memenuhi kawasan wakaf Daarut Tauhiid untuk menunaikan salat Idul Fitri. Suasana syahdu dan penuh kekhusyukan terasa di antara saf-saf yang tersusun rapi, menandakan kebersamaan yang telah lama dirindukan.

Bagi sebagian jemaah, salat Ied kali ini bukan sekadar ritual ibadah tahunan, melainkan momen yang membawa mereka kembali ke kenangan lama. Salah satu jemaah, Rizal (45), mengungkapkan betapa mendalamnya perasaannya saat kembali sujud di tempat yang pernah menjadi bagian dari rutinitas ibadahnya.

“Sudah beberapa tahun saya tidak salat Ied di sini karena berbagai kesibukan. Begitu kembali, rasanya seperti pulang ke rumah. Suasananya masih sama—hangat, damai, dan penuh keberkahan,” tutur Rizal dengan mata berbinar.

Di sekelilingnya, wajah-wajah penuh kebahagiaan terlihat di antara jemaah. Banyak yang datang bersama keluarga, beberapa bahkan membawa anak-anak kecil yang tertawa ceria setelah prosesi salat usai. Kawasan wakaf Daarut Tauhiid yang selama ini menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam, kembali menjadi saksi perayaan Idul Fitri nan penuh makna.

Walau salat Ied kali ini tanpa kehadiran KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang memberikan khutbah, suasana khidmat tetap terasa. Para jemaah mendengarkan khutbah Ied dengan penuh khusyuk.

Setelah salat dan khutbah, jemaah saling bersalaman, melebur dalam kehangatan ukhuwah. Beberapa mengambil kesempatan untuk berfoto bersama, mengabadikan momen penuh kebersamaan ini. Di sudut lain, relawan Daarut Tauhiid sibuk mengatur para jemaah yang hendak meninggalkan area salat. Tak lupa mereka menebar 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) kepada setiap jemaah. Menambah nuansa kebersamaan yang khas di tempat ini.

Bagi Rizal dan banyak jemaah lainnya, salat Ied di Daarut Tauhiid punya makna mendalam. Layaknya sebuah perjalanan spiritual yang membawa mereka lebih dekat dengan Allah dan sesama.

“Saya berharap bisa kembali setiap tahun, merasakan kembali ketenangan yang hanya bisa ditemukan di tempat ini,” ujar Rizal sebelum akhirnya beranjak pulang dengan hati yang lapang dan penuh syukur.

Idul Fitri di Daarut Tauhiid bukan hanya tentang hari kemenangan. Tetapi juga tentang merajut kembali kebersamaan yang sempat terpisah, dalam sujud penuh makna dan doa yang mengangkasa. (Cahya)

Merajut Rindu dalam Sujud: Pengalaman Salat Idul Fitri di Kawasan Wakaf Daarut Tauhiid Read More »

Salat Ied Perdana di Blue Mosque Daarut Tauhiid

Pagi itu, langit Parongpong terlihat cerah, seolah menyambut sukacita yang memenuhi hati para jemaah. Untuk pertama kalinya, Blue Mosque Daarut Tauhiid menggelar salat Idul Fitri setelah diresmikan pada akhir Februari lalu. Ratusan warga sekitar dan jemaah dari berbagai daerah datang, memenuhi halaman dan ruang utama masjid wakaf yang kini menjadi ikon baru untuk destinasi wisata religi di Kota Bandung.

Sejak subuh, jemaah sudah berdatangan, membawa sajadah dan hati yang penuh harapan. Suasana haru begitu terasa, terutama bagi warga yang selama ini menantikan momen ini. Salah satu jemaah, Fathur (52), mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya bisa melaksanakan salat Ied di masjid baru ini.

“Saya sudah sering salat di masjid ini sejak diresmikan, tapi hari ini terasa sangat spesial. Ini salat Ied pertama, dan melihat begitu banyak jemaah berkumpul di sini membuat saya terharu,” ujarnya dengan senyum bahagia, Senin (31/3/2025).

Takbir menggema dari pengeras suara, menyatu dengan lantunan doa yang dipanjatkan dalam hati para jemaah. Saat salat Ied dimulai tepat pukul 06.30 WIB. Suasana hening dalam kekhusyukan. Saf-saf jemaah membentang rapi di dalam masjid, menciptakan pemandangan yang menggetarkan hati.

Setelah rangkaian salat selesai, momen yang paling ditunggu pun tiba: ceramah dari KH Abdullah Gymnastiar atau akrab disapa Aa Gym. Dengan suara lembut dan penuh kehangatan, beliau menyampaikan hakikat Idul Fitri yang menyejukkan jiwa.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mendengar, yang Maha Menyaksikan, yang menciptakan kita, yang mengurus kita setiap saat, yang mengislamkan kita, dan menakdirkan kita bisa ibadah saat ini. Benar-benar rida kepada kita semua sehingga apa yang dilakukan membawa banyak kebaikan bagi sisa umur kita,” ujar Aa Gym.

Jemaah menyimak dengan khusyuk, beberapa terlihat menyeka air mata haru. Setelah ceramah selesai, suasana berubah menjadi penuh keakraban. Jemaah saling bersalaman, mengucapkan selamat Idul Fitri dengan senyum yang merekah. Anak-anak berlarian di pelataran masjid, sementara para orang tua berbincang santai, meresapi kebahagiaan hari raya. Ada juga yang mengantri makanan khusus bagi jemaah salat Ied.

Bagi banyak warga, salat Ied perdana di Blue Mosque Daarut Tauhiid menjadi pengalaman tak terlupakan. Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan dan harapan baru bagi masyarakat sekitar.

“Semoga masjid ini terus makmur dan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang mencari ilmu dan keberkahan,” harap Fathur sebelum meninggalkan masjid dengan hati yang penuh syukur.

Idul Fitri di Blue Mosque Daarut Tauhiid tahun ini terasa lebih istimewa, bukan hanya karena kehadiran Aa Gym, tetapi juga karena kebersamaan yang terjalin dalam suasana penuh berkah di tanah wakaf. (Cahya)

Salat Ied Perdana di Blue Mosque Daarut Tauhiid Read More »

Pembangunan Ruang Kelas dan Asrama Pesantren di Kawasan Wakaf Terpadu Eco 2, Insya Allah Dimulai Akhir 2026

Sebuah langkah besar dalam mencetak generasi ulama dan penghafal Al-Quran segera terwujud di Kawasan Wakaf Terpadu Eco 2, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid (DT) saat ini bersiap membangun ruang kelas dan asrama pesantren yang dibiayai dari dana wakaf umat.

Menurut Taufik Hidayat, Manager Fundraising Wakaf DT, proyek pembangunan ini akan berjalan dalam tiga tahap, dengan tahap pertama diperkirakan mulai pada akhir tahun 2026.

“Untuk tahap pertama seluas 1.470 m2 dengan dana kebutuhan biaya konstruksi diperkirakan mencapai 2,1 miliar sampai 2,2 miliar,” ujarnya pada Selasa (18/3/2025).

“Adapun tahap selanjutnya yakni tahap kedua seluas 2.365 m2 dengan estimasi biaya sekitar 1,83 miliar, dan tahap ketiga seluas 3.520 m2 dengan biaya konstruksi sekitar 2,6 miliar,” lanjutnya.

Taufik menambahkan jika pembangunan ruang kelas dan asrama pesantren untuk calon ulama ini termasuk hal penting. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang memerintahkan sebagian umatnya untuk mempelajari Al-Quran atau menjadi ulama.    

“Upaya menghasilkan kader ulama itu harus ditopang sarana yang kondusif. Dan membangun sarana menjadi wajib karena menghasilkan kader ulama adalah sesuatu yang diperintahkan Nabi saw. Harapannya lahir ulama-ulama yang ikhlas, yang menjadi penerus para nabi dan mereka memiliki ilmu mumpuni,” ujarnya.

Kawasan Wakaf Terpadu Eco 2 dirancang sebagai lingkungan yang mendukung pendidikan berbasis tauhid. Dengan pembangunan ruang kelas dan asrama, para santri akan mendapatkan fasilitas yang nyaman untuk belajar dan menghafal Al-Quran.

Taufik mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut berkontribusi dalam amal jariyah yang manfaatnya akan terus mengalir. “Ruang kelas akan digunakan para santri untuk mengkaji dan mempelajari Al-Quran serta ilmu agama lainnya. Insya Allah menjadi saksi dunia akhirat. Maka, kalau kita turut serta menjadi peletak dasar dengan berwakaf dalam proyek pembangunan ini, mudah-mudahan pahalanya mengalir abadi,” pungkasnya.

Pembangunan ini menjadi bagian dari komitmen Wakaf DT dalam menghadirkan pendidikan berkualitas bagi calon ulama masa depan. Dengan dukungan dari umat, proses pembangunan diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat luas bagi dunia Islam. (Cahya)

Pembangunan Ruang Kelas dan Asrama Pesantren di Kawasan Wakaf Terpadu Eco 2, Insya Allah Dimulai Akhir 2026 Read More »

Khusyuknya I’tikaf di Masjid Eco Daarut Tauhiid: Hangatnya Spiritualitas di Tengah Dingin Malam

Udara malam yang menusuk kulit di kawasan Eco Pesantren, Cigugur Girang, Kabupaten Bandung Barat, tak menyurutkan semangat para jemaah yang tengah menjalani i’tikaf di Masjid Eco Daarut Tauhiid. Meski hawa dingin terasa begitu menusuk, suasana masjid yang berdiri di atas tanah wakaf ini justru semakin menambah kekhusyukan mereka dalam beribadah.

“Saat malam, dinginnya luar biasa. Tapi entah kenapa, suasana di dalam masjid justru bikin nyaman. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan,” ujar Fajar (31), salah satu jemaah yang sudah beberapa kali mengikuti i’tikaf di masjid ini.

Masjid Eco Daarut Tauhiid memang memiliki daya tarik tersendiri. Selain arsitekturnya yang unik dan ramah lingkungan, nilai spiritual yang melekat pada bangunan ini membuat jemaah merasa semakin dekat dengan Allah. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol dari kekuatan wakaf umat. Setiap orang yang ikut berwakaf turut mengalirkan pahala jariyah tak terputus.

“Rasanya senang sekali bisa i’tikaf di sini. Selain menenangkan, saya merasa turut memakmurkan masjid yang berasal dari hasil wakaf umat. Bayangkan, ada pahala jariyah yang terus mengalir bagi mereka yang sudah berwakaf,” kata Siti (24), jemaah lainnya.

Selain salat dan zikir, jemaah yang i’tikaf juga mengisi malam-malam mereka dengan membaca Al-Qur’an dan mendengarkan kajian keislaman. Suasana khidmat semakin terasa menjelang waktu sahur, di mana jemaah berbagi makanan sederhana dengan penuh kebersamaan.

“Saya merasa seperti mendapat keluarga baru di sini. Kami sama-sama ingin mendekatkan diri kepada Allah, dan masjid ini memberikan kenyamanan luar biasa,” tambah Ahmad (38), jemaah asal Jakarta yang sengaja datang ke Bandung untuk merasakan pengalaman i’tikaf di Masjid Eco Daarut Tauhiid.

Bagi banyak jemaah, i’tikaf di masjid ini bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga momen untuk meneguhkan niat dan memperkuat spiritualitas. Masjid yang berdiri di atas wakaf ini bukan hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga menjadi saksi perjalanan ruhani mereka dalam mencari ketenangan dan keberkahan.

Di tengah dinginnya malam, Masjid Eco Daarut Tauhiid justru menghadirkan kehangatan. Bukan dari suhu udara, tetapi dari kedekatan hati kepada Allah, kebersamaan sesama jemaah, dan keberkahan dari wakaf yang terus mengalir. (Cahya)

Khusyuknya I’tikaf di Masjid Eco Daarut Tauhiid: Hangatnya Spiritualitas di Tengah Dingin Malam Read More »

Perjalanan I’tikaf Walid: Niat yang Tertunda, Berkah yang Mengalir

Di sudut Masjid Daarut Tauhiid, seorang pria tampak khusyuk dalam doa dan dzikirnya. Namanya Walid, seorang karyawan swasta asal Salatiga, Jawa Tengah, yang akhirnya bisa mewujudkan impian lamanya: beri’tikaf di Masjid Daarut Tauhiid Bandung.

Bagi Walid, ini bukan sekadar perjalanan spiritual biasa. Sudah sejak lama ia ingin merasakan suasana i’tikaf di masjid yang didirikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) ini. Namun, berbagai kesibukan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga membuat niat itu terus tertunda.

“Saya sudah lama ingin beri’tikaf di sini, tapi baru sekarang Allah izinkan,” ujarnya dengan wajah penuh syukur.

Sebagai seorang karyawan di perusahaan konveksi di Salatiga, Walid harus mengatur waktu dengan baik. Setelah berdiskusi dengan istrinya, ia akhirnya memutuskan mengambil cuti khusus selama 10 hari terakhir Ramadan. Baginya, cuti ini adalah kesempatan langka untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa gangguan pekerjaan.

“Kalau hanya mengandalkan libur Lebaran, waktunya terlalu singkat. Jadi saya ambil cuti lebih awal supaya bisa fokus i’tikaf,” kata pria berusia 41 tahun ini.

Ibadah, Doa, dan Wakaf Setiap Hari

Selama i’tikaf, Walid mengisi waktunya dengan berbagai ibadah, mulai dari shalat tahajud, membaca Al-Qur’an, zikir, hingga berdoa panjang untuk keluarganya. Ada satu amalan yang tak pernah ia tinggalkan: berwakaf tunai setiap hari untuk almarhum kedua orang tuanya.

“Saya ingin terus berbakti kepada orang tua meskipun mereka sudah tiada. Salah satu caranya adalah dengan wakaf jariyah, karena pahalanya terus mengalir,” tutur Walid.

Menariknya, Walid memilih cara yang praktis. Ia memanfaatkan gawai (smartphone)-nya untuk berwakaf tunai secara digital. Baginya, teknologi ini sangat memudahkan—tak perlu repot datang ke tempat tertentu, cukup dengan beberapa sentuhan jari, ia sudah bisa berbagi kebaikan.

“Alhamdulillah, sekarang wakaf jadi lebih mudah. Setiap hari saya sisihkan sebagian rezeki untuk wakaf, dan niatkan untuk orang tua saya. Semoga Allah menerima dan menjadikannya pahala yang terus mengalir untuk mereka,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Pengalaman Berharga yang Akan Dikenang

Selama di Masjid Daarut Tauhiid, Walid merasakan ketenangan yang sulit ia temukan di tempat lain. Suasana masjid yang berdiri di atas tanah wakaf umat membuatnya semakin bersyukur karena bisa menjadi bagian dari amal jariyah yang lebih besar.

“Di sini saya merasa benar-benar dekat dengan Allah. Semoga saya bisa kembali lagi tahun depan,” ucapnya penuh harap.

Bagi Walid, perjalanan i’tikaf ini bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang bagaimana ia bisa berbagi keberkahan dengan orang lain—terutama orang tuanya yang telah berpulang. Ia pulang ke Salatiga dengan hati yang lebih tenang, iman yang lebih kuat, dan tekad untuk terus menebar kebaikan, baik lewat ibadah maupun wakaf.

Sebuah niat yang tertunda, akhirnya terlaksana. Dan dari Masjid Daarut Tauhiid, berkah itu terus mengalir. (Cahya)

Perjalanan I’tikaf Walid: Niat yang Tertunda, Berkah yang Mengalir Read More »

Kebahagiaan Orang Tua Membersamai Buah Hati di PG & TK Khas Daarut Tauhiid

Tawa riang anak-anak menggema di halaman PG & TK Khas Daarut Tauhiid. Di sela-sela keceriaan itu, para orang tua—khususnya ibu-ibu—tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Bisa melihat langsung buah hati mereka bermain dan belajar dengan penuh kegembiraan adalah kebahagiaan tersendiri yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Saya senang sekali melihat anak saya begitu menikmati sekolahnya. Setiap pulang, dia selalu bercerita tentang apa yang dipelajari dan teman-temannya. Rasanya, saya tenang karena tahu dia berada di lingkungan yang baik,” ujar Indah, salah satu orang tua murid.

Para ibu ini juga tak henti-hentinya mengagumi kesabaran dan profesionalitas guru-guru yang mengajar di sekolah ini. Menghadapi anak-anak usia dini tentu bukan hal mudah, tetapi para guru tetap penuh kelembutan dan ketelatenan dalam membimbing mereka.

“Saya kagum dengan para guru di sini. Mengajar anak-anak kecil butuh kesabaran luar biasa, dan mereka melakukannya dengan penuh kasih sayang. Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak didampingi dalam setiap aktivitasnya, baik saat belajar maupun bermain,” kata Rina, orang tua lainnya.

Tak hanya soal pendidikan, para orang tua juga merasa tenang karena PG & TK Khas Daarut Tauhiid berdiri di atas tanah wakaf. Kesadaran ini membuat mereka semakin bersyukur, karena dengan menyekolahkan anak mereka di sini, mereka turut berkontribusi dalam memakmurkan aset wakaf yang bernilai jariyah.

“Ini yang membuat saya semakin mantap menyekolahkan anak di sini. Saya tahu bahwa sekolah ini ada karena wakaf dari para muwakif yang ingin mendukung pendidikan anak-anak Muslim. Secara tidak langsung, kami juga ikut berpartisipasi dalam menjaga keberlangsungan wakaf ini,” ungkap Arie, seorang ibu dari anak usia PG.

Bagi para orang tua, menyekolahkan anak di PG & TK Khas Daarut Tauhiid bukan sekadar mencari tempat belajar terbaik, tetapi juga bagian dari upaya mendidik anak-anak mereka dengan nilai-nilai Islami sejak dini. Mereka berharap, kelak anak-anak mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan kesadaran untuk terus berbagi kebaikan.

Di sekolah yang berdiri di atas tanah wakaf ini, bukan hanya anak-anak yang belajar, tetapi juga para orang tua yang semakin memahami makna pendidikan dan keberkahan. Bersama, mereka menikmati perjalanan indah dalam membersamai tumbuh kembang buah hati, sambil turut menjaga amanah wakaf yang bernilai abadi. (Cahya)

Kebahagiaan Orang Tua Membersamai Buah Hati di PG & TK Khas Daarut Tauhiid Read More »

Kemudahan Berwakaf di Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid: Yuni, Santri Karya yang Istiqomah Berwakaf Lewat Gawai

Berwakaf kini semakin mudah dengan hadirnya teknologi digital. Hal ini dirasakan langsung oleh Yuni, seorang santri karya yang mengajar di salah satu sekolah Daarut Tauhiid.

Kesibukannya mengajar setiap hari nyaris membuatnya tak memiliki waktu untuk datang langsung ke kantor pelayanan wakaf. Namun, dengan hanya menggunakan gawainya, ia bisa berwakaf kapan saja dan di mana saja melalui aplikasi wakaf yang disediakan oleh Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid.

“Saya sangat bersyukur karena sekarang berwakaf bisa dilakukan dengan sangat mudah. Tinggal buka aplikasi, pilih nominal yang ingin diwakafkan, dan dalam hitungan menit, prosesnya selesai. Ini sangat membantu saya yang punya jadwal padat,” ujar Yuni dengan penuh semangat.

Baginya, kemudahan ini semakin memotivasinya untuk istiqomah dalam berwakaf. Setiap bulan, Yuni menyisihkan sebagian dari gajinya untuk berwakaf sebagai bentuk kepedulian terhadap aset wakaf yang dikelola oleh Daarut Tauhiid. Ia percaya bahwa wakaf bukan hanya sekadar amal kebaikan, tetapi juga investasi untuk kehidupan setelah mati.

“Saya yakin bahwa wakaf ini menjadi investasi bagi kehidupan akhirat saya kelak. Setiap rupiah yang diwakafkan, insya Allah akan terus mengalir manfaatnya, baik untuk saya maupun untuk orang lain,” tambahnya.

Selain manfaat spiritual, Yuni juga merasakan keberkahan dalam hidupnya sejak rutin berwakaf. Ia merasa lebih tenang, rezekinya terasa lebih berkah, dan kehidupannya semakin dipenuhi dengan kemudahan.

Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid terus berinovasi dalam memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berwakaf. Saat ini, Wakaf Daarut Tauhiid memiliki sembilan platform digital yang memudahkan masyarakat untuk berwakaf, yakni Amalsholeh.com, Bigamal.com, Socialbanking.id, Sedekahjariyah.id, Atapkita.com, Launchgood.com, BMT DT Mobile, Wakaf melalui Whatsapp, dan web wakafdt.or.id.

Dengan adanya aplikasi dan layanan digital tersebut, siapa pun kini bisa berwakaf tanpa harus terhalang jarak dan waktu. Kemudahan ini diharapkan dapat semakin meningkatkan kesadaran umat untuk berkontribusi dalam memakmurkan aset wakaf demi kemaslahatan bersama.

“Wakaf itu bukan hanya untuk orang kaya. Siapa pun bisa berwakaf, sekecil apa pun nilainya. Yang terpenting adalah niat dan keistiqomahan kita dalam berbagi keberkahan,” pungkas Yuni. (Cahya)

Kemudahan Berwakaf di Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid: Yuni, Santri Karya yang Istiqomah Berwakaf Lewat Gawai Read More »