Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Daarut Tauhiid Galang Aksi Kemanusiaan untuk Palestina, Aa Gym: “Minimal Ajak 5 Orang!”

Di tengah derita panjang yang dialami rakyat Palestina, Pesantren Daarut Tauhiid kembali menunjukkan komitmen dan kepedulian kemanusiaannya. Pada Ahad, 20 April 2025 mendatang, Daarut Tauhiid akan menggelar sebuah aksi solidaritas besar-besaran sebagai wujud empati dan dukungan nyata untuk Palestina.

Aksi ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan hati. Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, KH Abdullah Gymnastiar atau akrab disapa Aa Gym, dengan penuh semangat mengimbau seluruh santri, jemaah, dan masyarakat luas untuk turut serta dalam aksi tersebut.

“Minimal satu orang bisa mengajak lima orang lainnya,” tegas Aa Gym dalam salah satu tausiyahnya. Himbauan ini menjadi pemantik semangat bagi para jemaah yang selama ini telah terbiasa bergerak bersama dalam kebaikan.

Menjelang hari pelaksanaan, Daarut Tauhiid tak tinggal diam. Berbagai elemen masyarakat telah diundang untuk duduk bersama, mematangkan persiapan, dan memastikan bahwa aksi ini tak hanya menyentuh emosi, tetapi juga membuahkan langkah konkret. Kolaborasi lintas komunitas ini menjadi bukti bahwa kepedulian tak mengenal sekat.

Salah satu program unggulan yang turut diusung dalam aksi solidaritas ini adalah Cash Wakaf for Humanity — sebuah inisiatif dari Wakaf Daarut Tauhiid yang dirancang sebagai solusi jangka panjang. Program ini bukan hanya menyuplai bantuan kemanusiaan untuk Palestina, tapi juga menjadi bagian dari ikhtiar besar untuk mengakhiri penjajahan Israel dengan cara yang beradab dan bermartabat.

“Ini adalah perjuangan yang harus terus kita hidupkan. Bukan sekadar reaksi sesaat, tapi gerakan kemanusiaan yang berkelanjutan,” ujar salah seorang pengurus Wakaf Daarut Tauhiid.

Aksi yang akan digelar ini diharapkan bukan hanya menjadi ajang unjuk rasa kepedulian, melainkan momentum menyatukan kekuatan umat dalam doa, aksi nyata, dan keberpihakan kepada mereka yang terzalimi.

Saat dunia terus menyaksikan penderitaan Palestina, Daarut Tauhiid memilih untuk tidak tinggal diam. Ahad nanti, suara dari Bandung akan menggema. Membawa pesan damai dan harapan dari Indonesia untuk bumi para nabi. (Cahya)

Daarut Tauhiid Galang Aksi Kemanusiaan untuk Palestina, Aa Gym: “Minimal Ajak 5 Orang!” Read More »

Pengorbanan Orang Tua, Doa untuk Masa Depan Anak di Tanah Wakaf

Akhir pekan ini, Sabtu dan Ahad, 12–13 April 2025, kawasan Daarut Tauhiid kembali ramai. Namun bukan karena kegiatan rutin pesantren, melainkan oleh rombongan kendaraan yang datang dari berbagai penjuru. Para orang tua dengan mata berbinar dan hati yang berat, satu per satu mengantarkan kembali anak-anak mereka untuk melanjutkan pendidikan di Daarut Tauhiid setelah libur Lebaran.

Ada tawa, pelukan, dan tak jarang, isak tangis yang ditahan. Momen ini bukan sekadar perpisahan sementara. Bagi sebagian besar orang tua, terutama yang datang dari luar kota Bandung, ini adalah bentuk nyata pengorbanan dan cinta yang tulus. Mereka rela berpisah lagi setelah hanya beberapa pekan bertemu saat liburan — demi sebuah harapan: masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka.

“Rasanya baru kemarin kami berkumpul di rumah. Sekarang harus berpisah lagi. Tapi saya tahu, ini jalan terbaik untuk anak saya,” ujar Sandi, orang tua dari salah satu siswa yang datang dari Tasikmalaya.

Ada hal yang membuat perpisahan ini terasa lebih bermakna, yakni kesadaran bahwa anak-anak mereka sedang menuntut ilmu di tempat yang luar biasa — di atas tanah wakaf yang penuh keberkahan. Di lingkungan Daarut Tauhiid, para siswa tak hanya diajarkan ilmu dunia, tapi juga nilai-nilai tauhid, adab, dan akhlak mulia yang menjadi bekal sejati dalam kehidupan.

“Anak saya sekolah di tempat yang berkah. Bukan hanya tentang pendidikan, tapi juga menanamkan nilai hidup yang benar,” ungkap Ningsih dari Cirebon, sambil menahan air mata setelah memeluk anaknya erat.

Di balik gedung-gedung sekolah, asrama, dan sarana pendidikan yang berdiri megah di Daarut Tauhiid, tersimpan kisah wakaf yang menjadi fondasi kuat lembaga ini. Orang tua tahu, setiap langkah anak-anak mereka di lingkungan ini tak hanya berpijak di tanah biasa, melainkan di tanah amal jariyah. Tempat di mana kebaikan mengalir tanpa henti.

Momen akhir pekan itu bukan sekadar rutinitas kembali ke sekolah. Ia adalah cermin keikhlasan orang tua yang menanam benih masa depan. Berharap anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa, berilmu, dan bermanfaat bagi umat.

Meski berat berpisah, mereka tahu: doa selalu menyertai. Dan Daarut Tauhiid, dengan seluruh keberkahannya, menjadi ladang tempat doa-doa itu bertumbuh dan bermekaran. (Cahya)

Pengorbanan Orang Tua, Doa untuk Masa Depan Anak di Tanah Wakaf Read More »

Langkah Menuju Tanah Suci dari Tanah Wakaf

Suasana haru dan semangat memenuhi Aula Daarul Hajj, sebuah gedung megah yang berdiri kokoh di atas tanah wakaf milik Daarut Tauhiid. Di sinilah, 70 calon jemaah haji mengikuti bimbingan manasik secara offline dan 8 secara online dengan penuh kekhusyukan, Sabtu (12/4/2025). Setiap gerakan, setiap pembekalan, bukan sekadar ritual latihan — tapi sebuah perjalanan batin menuju panggilan suci dari Allah SWT.

Gedung Daarul Hajj bukan gedung biasa. Ia adalah simbol nyata dari keberkahan wakaf. Berdiri gagah di lingkungan pesantren Daarut Tauhiid, bangunan ini menjadi tempat persiapan spiritual yang tak ternilai bagi para tamu Allah. Tak hanya menyediakan fasilitas fisik yang nyaman dan representatif, tetapi juga menghadirkan suasana yang menumbuhkan rasa syukur dan ketenangan.

“Masya Allah, saya benar-benar merasakan keberkahan wakaf ini. Belum sampai ke Tanah Suci, tapi rasanya hati sudah terangkat ke sana,” tutur Rohimah, salah satu calon jemaah dengan mata berkaca-kaca.

Manasik yang berlangsung bukan hanya berisi tata cara ibadah haji, tapi juga pembinaan akhlak, penguatan niat, dan bekal ruhiyah. Para pembimbing dari Daarut Tauhiid menyampaikan materi dengan pendekatan yang menyentuh hati. Membimbing bukan hanya dengan ilmu, tapi juga dengan keteladanan.

“Bimbingan ini luar biasa. Kita tidak hanya diajarkan bagaimana melontar jumrah atau tawaf, tapi juga bagaimana membersihkan hati, memperbaiki niat, dan menguatkan tauhid,” ujar Asep, peserta manasik lainnya.

Tak sedikit peserta yang baru menyadari bahwa tempat mereka duduk dan belajar saat ini, gedung Daarul Hajj adalah hasil dari wakaf. Dari kepedulian umat, berdirilah fasilitas yang mampu membimbing ribuan calon jemaah haji dari masa ke masa.

“Ini salah satu bukti betapa hebatnya wakaf produktif,” jelas salah seorang pengurus Daarut Tauhiid. “Dengan wakaf, kita bisa menyiapkan generasi yang berangkat haji dengan persiapan matang, baik secara ilmu maupun mental,” lanjutnya.

Keberadaan Daarul Hajj menjadi bukti hidup bahwa aset wakaf bisa tumbuh menjadi bangunan yang tak hanya bermanfaat secara fisik, tapi juga menyuburkan nilai-nilai spiritual. Di sinilah wakaf bertransformasi menjadi jalan menuju surga — membantu umat menyempurnakan rukun Islam kelima.

Para calon jemaah yang hadir di aula ini bukan hanya mempersiapkan raga untuk perjalanan panjang ke Makkah dan Madinah. Mereka juga sedang melangkahkan hati, dengan penuh keyakinan, dari tanah wakaf Daarut Tauhiid menuju tanah haram yang suci. Dan dalam setiap langkah itu, ada jejak wakaf yang mengiringi. (Cahya)

Langkah Menuju Tanah Suci dari Tanah Wakaf Read More »

Langkah yang Terlambat, Hati yang Terpanggil: Ismail dan Rindu yang Terjawab di Dome Central V

Pagi itu, langit belum sepenuhnya cerah ketika Ismail, seorang santri karya Daarut Tauhiid (DT), melaju terburu-buru dari Kiaracondong, Bandung. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.35, lima menit terlambat dari jadwal dimulainya Tausiyah Santri Karya, pada Jumat (11/4/2025).

Macet yang tak terhindarkan tidak mampu menyurutkan semangat Ismail. Baginya, hari itu bukan sekadar Jumat biasa. Tapi hari ketika ia kembali menemukan atmosfer yang begitu ia rindukan: kebersamaan dalam dakwah dengan keluarga besar DT.

Setibanya di Dome Central V, Ismail langsung bergabung di antara ratusan santri karya lain yang telah duduk rapi menyimak tausiyah dari KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Suasana penuh khidmat dan kekeluargaan terasa mengalir hangat di udara.

Tausiyah kali ini terasa istimewa. Bukan hanya karena momen setelah Ramadhan, tapi karena acara juga menjadi ajang halal bihalal yang mempererat ukhuwah dan cinta sesama santri karya.

“Telat sedikit, tapi alhamdulillah masih kebagian energi kebaikan yang luar biasa,” ujar Ismail sambil tersenyum. “Suasana seperti ini sangat saya rindukan,” lanjutnya.

Adapun yang membuat acara ini semakin bermakna adalah tempat di mana semuanya berlangsung: Dome Central V. Salah satu bangunan megah dan multifungsi di kawasan DT.

Tak banyak yang tahu bahwa bangunan ini adalah aset wakaf. Berdiri di atas tanah wakaf yang dikelola dengan penuh amanah dan profesional oleh Wakaf DT. Bangunan ini bukan hanya memiliki fisik yang kokoh, tetapi juga representasi nyata dari kemakmuran dan keberkahan wakaf. Di sinilah ribuan aktivitas dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan terus berlangsung, membawa manfaat luas bagi umat.

Aa Gym menyampaikan pesan-pesan yang menyejukkan hati tentang menjadikan setiap aktivitas di tanah wakaf ini sebagai bagian dari ibadah. Setiap kata yang terucap bukan hanya menambah ilmu, tapi juga menguatkan semangat para santri karya yang sehari-harinya menjadi tulang punggung berbagai lini di DT.

Setelah tausiyah berakhir sekitar pukul 09.00 pagi, acara dilanjutkan dengan musafahah — saling bersalaman, bermaafan, dan menyatukan hati dalam bingkai ukhuwah islamiyah. Tangan-tangan bersambut, senyum-senyum mengembang, dan suasana menjadi hangat seperti keluarga yang lama tak bertemu.

DT juga menyediakan aneka kue lebaran yang menambah keakraban dalam obrolan ringan dan tawa yang mengalir tanpa dibuat-buat. Bagi Ismail, momen ini bukan sekadar rutinitas pasca-Ramadhan, tapi sebuah ruang untuk mengisi kembali energi batin, menguatkan niat, dan merajut kembali rasa memiliki terhadap misi besar Daarut Tauhiid.

“Ini bukan sekadar tausiyah. Ini seperti oase di tengah padatnya aktivitas. Saya bersyukur bisa hadir, meski harus berjuang dari Kiaracondong. Semua terbayar lunas,” kata Ismail, menatap langit yang kini lebih cerah dari saat ia berangkat.

Dari Dome Central V — bangunan penuh keberkahan yang lahir dari semangat wakaf — ratusan santri karya tak hanya belajar ilmu, tapi juga meneguhkan cinta dan komitmen pada jalan dakwah. Dan di DT, kebersamaan seperti ini bukan hanya kenangan, tapi tradisi yang terus dirawat dengan cinta. (Cahya)

Langkah yang Terlambat, Hati yang Terpanggil: Ismail dan Rindu yang Terjawab di Dome Central V Read More »

Hening Malam, Hangatnya Hati: Kisah Jemaah DT dalam Kajian Ma’rifatullah di Masjid Wakaf Gegerkalong

Malam itu, Kamis (10/5/2025), langit Bandung masih menyisakan jejak hujan yang mengguyur deras sejak sore hari. Udara dingin merayap pelan, menusuk hingga ke tulang.

Kabut tipis menggantung di udara, menambah kesan sejuk yang mencengkeram. Namun, di balik suasana yang mengajak orang untuk tetap tinggal di rumah, Masjid Daarut Tauhiid (DT) Gegerkalong justru tampak hidup dan bersinar.

Sejak ba’da Isya, satu per satu jemaah mulai berdatangan. Mereka datang dengan langkah mantap. Sebagian mengenakan jaket tebal, lainnya membawa payung basah yang masih meneteskan sisa hujan. Wajah-wajah itu terlihat lelah oleh aktivitas seharian, namun berseri karena harapan akan ilmu yang hendak diserap malam ini.

Kajian rutin Ma’rifatullah—kajian tentang mengenal Allah secara lebih dalam—kembali digelar dan diisi oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym. Dengan ketenangan khasnya, Aa Gym menyampaikan tausiyah yang mengajak setiap hati untuk kembali merapat pada Sang Pencipta.

“Kalau kita benar-benar kenal Allah, hati kita akan tenang. Masalah tak akan membuat kita takut, justru semakin mendekatkan kita pada-Nya,” ujar Aa Gym.

Suasana di dalam masjid begitu khusyuk. Tak ada suara bising, hanya gelegar suara mikrofon yang menggetarkan hati. Di sela-sela kajian, sesekali terdengar isak haru dari jemaah yang tersentuh. Beberapa mencatat, lainnya diam menunduk, merenung, menyerap setiap hikmah.

Meskipun malam semakin larut dan suhu kian menusuk, tak satu pun jemaah terlihat gelisah ingin pulang. Mereka betah duduk bersila di atas karpet tebal masjid wakaf ini, seolah tak ingin kehilangan sepotong pun hikmah yang dituturkan.

“Masjid ini berdiri dari wakaf umat, dan kita datang ke sini bukan hanya untuk menimba ilmu, tapi juga merawat amanah itu. Wakaf bukan sekadar menyumbang, tapi mewakafkan hati untuk Allah,” ujar Rahmat, jemaah yang mengaku rutin hadir sejak awal tahun.

Sementara itu, Nani, seorang jemaah asal Cimahi yang malam itu datang bersama putrinya, menyampaikan kekagumannya pada sistem wakaf produktif di Daarut Tauhiid. “Saya lihat DT ini serius mengelola wakaf. Nggak cuma bangun masjid, tapi juga ada wakaf produktif, ekonomi, sampai pendidikan. Jadi manfaatnya luas, bukan hanya untuk ibadah tapi juga kesejahteraan umat,” katanya.

Menurutnya, kepercayaan kepada lembaga wakaf seperti DT sangat penting di zaman ini, di mana banyak umat ingin berkontribusi tapi butuh wadah yang amanah dan transparan. “Wakaf itu investasi akhirat. Dan saya percaya di sini bisa tersalurkan dengan baik,” tambahnya sambil tersenyum.

Tepat pukul 21.30, kajian berakhir dengan doa yang lirih namun mendalam. Para jemaah pun perlahan meninggalkan masjid, namun kehangatan tausiyah malam itu seakan terus melekat di hati mereka—menjadi pelita dalam dingin dan gelapnya zaman.

Dalam sejuknya udara Bandung malam itu, Masjid DT kembali membuktikan dirinya bukan sekadar bangunan fisik, melainkan rumah bagi jiwa-jiwa yang merindukan kedekatan dengan Allah. Dan setiap Kamis malam, rumah itu tak pernah sepi. (Cahya)

Hening Malam, Hangatnya Hati: Kisah Jemaah DT dalam Kajian Ma’rifatullah di Masjid Wakaf Gegerkalong Read More »

Mengapa Umat Islam di Indonesia Harus Peduli pada Palestina?

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, umat Islam Indonesia sering dihadapkan pada berbagai isu global yang menyentuh nurani. Salah satunya adalah penderitaan saudara-saudara kita di Palestina.

Konflik berkepanjangan, penjajahan, dan pelanggaran hak asasi manusia telah membuat rakyat Palestina hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Di sinilah, kepedulian umat Islam Indonesia bukan hanya penting—tetapi juga sangat mendesak.

Ikatan Aqidah dan Kemanusiaan

Palestina bukan sekadar tempat jauh di belahan bumi lain. Ia adalah bagian dari sejarah Islam, tempat berdirinya Masjid Al-Aqsha—masjid suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Umat Islam percaya bahwa setiap penderitaan yang dialami sesama muslim adalah penderitaan kita juga.

Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, seperti satu tubuh…” (HR Bukhari dan Muslim).

Lebih dari itu, Palestina adalah isu kemanusiaan. Siapa pun yang memiliki hati nurani akan tergerak melihat anak-anak kehilangan tempat tinggal, pendidikan, bahkan nyawa mereka karena konflik yang tak berkesudahan.

Peran Indonesia sebagai Negara Muslim Terbesar

Sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, Indonesia memiliki kekuatan yang besar, baik secara moral maupun sosial. Suara Indonesia di dunia internasional memiliki bobot yang tidak bisa diabaikan. Namun, kepedulian itu harus dimulai dari dalam, yakni dari setiap individu dan komunitas muslim yang sadar akan tanggung jawab moralnya.

Wakaf: Solusi Abadi untuk Palestina

Salah satu bentuk kepedulian yang tidak hanya bersifat sementara, tapi juga berkelanjutan adalah wakaf. Wakaf adalah harta yang diberikan untuk kepentingan umum di jalan Allah, dan manfaatnya bisa terus mengalir tanpa batas waktu.

Bayangkan jika umat Islam di Indonesia bersatu dan menggerakkan wakaf untuk Palestina:

– Wakaf pendidikan untuk membangun sekolah dan universitas di Gaza.

– Wakaf kesehatan untuk menyediakan rumah sakit dan layanan medis.

– Wakaf ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan usaha mandiri bagi warga Palestina.

– Bahkan wakaf digital untuk membangun media dan teknologi yang memperjuangkan narasi kebenaran.

Wakaf bukan hanya sedekah; ia adalah investasi abadi. Ketika dunia terus berubah, wakaf bisa menjadi pondasi ekonomi umat yang kokoh. Membantu Palestina keluar dari siklus ketergantungan dan membangun masa depannya sendiri.

Saatnya Bertindak, Bukan Hanya Simpati

Kepedulian tidak cukup hanya dengan doa atau unggahan media sosial. Saatnya bergerak. Banyak lembaga wakaf tepercaya di Indonesia, salah satunya adalah Wakaf Daarut Tauhiid yang sudah membuka jalur wakaf khusus untuk Palestina. Dengan hanya menyisihkan sebagian kecil dari rezeki kita, kita bisa menjadi bagian dari solusi.

Jadi, mengapa kita harus peduli kepada Palestina? Karena Palestina adalah cerminan hati nurani umat Islam. Peduli pada Palestina adalah bukti nyata keimanan dan kecintaan kita pada keadilan, kemanusiaan, dan masa depan peradaban Islam. Melalui wakaf, umat Islam Indonesia tidak hanya hadir sebagai penonton, tapi sebagai pelaku sejarah yang membawa harapan.

Mari jadikan kepedulian kita bukan hanya emosional, tetapi strategis dan berdampak. Wakaf adalah warisan untuk dunia dan akhirat. Dan Palestina, adalah ladang amal yang luas untuk itu. (Cahya)

Mengapa Umat Islam di Indonesia Harus Peduli pada Palestina? Read More »

Wakaf, Solusi Nyata Mengatasi Krisis Kemanusiaan di Palestina

Krisis kemanusiaan di Palestina telah berlangsung selama puluhan tahun. Di balik reruntuhan bangunan dan suara ledakan, tersimpan kisah luka yang mendalam. Anak-anak yang kehilangan keluarga, ibu-ibu yang merintih tanpa akses kesehatan, serta generasi yang tumbuh tanpa kepastian masa depan. Ini bukan hanya tragedi politik. Ini adalah panggilan nurani kemanusiaan.

Sebagai umat yang diajarkan untuk saling peduli, saatnya kita bertanya pada diri sendiri: Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka? Salah satu jawabannya ada pada konsep mulia dalam Islam, yakni wakaf.

Jalan Panjang Menuju Perubahan

Wakaf bukan sekadar amal, tapi investasi abadi. Ini adalah sedekah jariyah—amal yang terus mengalir pahalanya, bahkan setelah kita tiada. Dalam konteks Palestina, wakaf bisa menjadi solusi jangka panjang, misalnya:

– Membangun fasilitas kesehatan yang mampu bertahan di tengah krisis.

– Menyediakan pendidikan bagi anak-anak Palestina yang kehilangan akses belajar.

– Menyokong ketahanan pangan dan air bersih.

– Menyediakan tempat tinggal layak bagi korban konflik.

Wakaf adalah bentuk cinta yang berkelanjutan. Ia tidak hanya menyentuh kehidupan mereka hari ini, tetapi juga menyalakan harapan untuk esok.

Cash Wakaf for Humanity: Gerakan Nyata dari Hati untuk Palestina

Menjawab seruan kemanusiaan ini, Wakaf Daarut Tauhiid menghadirkan program Cash Wakaf for Humanity. Sebuah inovasi untuk memudahkan siapa pun yang ingin berkontribusi dalam gerakan wakaf, khususnya membantu saudara-saudara kita di Palestina.

Cash Wakaf for Humanity memungkinkan masyarakat berwakaf dengan nominal fleksibel, mulai dari jumlah kecil, secara tunai dan instan. Tidak perlu menunggu punya tanah atau aset besar. Sekarang, dengan uang tunai yang kita miliki hari ini, kita bisa ikut membangun masa depan untuk mereka yang tengah kehilangan harapan.


Dana dari Cash Wakaf for Humanity ini disalurkan untuk:

– Kesehatan mauquf’alaih di Palestina berupa bantuan medis dan kemanusiaan.

– Air bersih dan infrastruktur layanan publik, termasuk pendidikan.

– Bahan pangan dan kebutuhan dasar pengungsi Palestina.

– Serta berbagai program strategis yang berkelanjutan.

Saatnya Kita Bergerak

Banyak dari kita menangis saat melihat berita tentang Palestina. Tapi dunia tidak berubah dengan air mata. Dunia berubah dengan aksi.

Dengan ikut serta dalam program Cash Wakaf for Humanity, kita tak hanya menyalurkan bantuan, tapi juga menghidupkan nilai Islam yang sejati. Yakni berbagi, berempati, dan berwakaf untuk kemanusiaan.

Wakaf kini bukan lagi mimpi besar. Ia hadir dalam genggaman, mudah dan berdampak.

Dari Kepedulian Menjadi Harapan

Membantu Palestina bukan hanya tentang memberi, tapi tentang menyambung harapan. Dan wakaf adalah jalur paling nyata untuk itu. Mari jadikan Cash Wakaf for Humanity sebagai bagian dari gerakan kita. Gerakan kecil yang insya Allah mengubah banyak kehidupan.

Karena setiap rupiah yang kita wakafkan hari ini, bisa menjadi cahaya di tengah gelapnya duka Palestina. (Cahya)

Wakaf, Solusi Nyata Mengatasi Krisis Kemanusiaan di Palestina Read More »

Jerit Hati Badru untuk Palestina: Dari Kekesalan Menjadi Aksi Nyata

Hati siapa tak pedih melihat tayangan demi tayangan kekejaman yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap rakyat Palestina? Setiap malam sebelum tidur, Badru, seorang jemaah Daarut Tauhiid (DT), merasa dadanya sesak. Tak terhitung berapa kali ia memalingkan wajah dari layar ponsel dengan mata berkaca-kaca, menahan amarah dan duka yang menggelora.

“Kalau saja saya bisa ke sana, ikut berjihad, saya akan berangkat tanpa ragu,” ujarnya pada suatu sore setelah kajian ba’da Maghrib di Masjid DT. Suaranya tegas, tapi nadanya sendu. Badru bukan satu-satunya yang marah, tapi ia memilih tidak berhenti di amarah.

Ia sadar, pergi ke Palestina dan ikut berjuang secara fisik bukan sesuatu yang bisa ia lakukan saat ini. Tapi itu tak menghentikan langkahnya. Badru memilih menjadi pejuang dari jarak jauh dengan segala daya yang ia punya.

Setiap hari, Badru aktif di media sosial. Ia memanfaatkan akun pribadinya untuk menyuarakan fakta, menyebarkan kesadaran, dan membantah narasi-narasi keliru yang beredar di jagat maya. Ia juga konsisten dalam gerakan boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan kepentingan Zionis, meski itu berarti harus meninggalkan kenyamanan dan pilihan konsumsi yang sebelumnya biasa ia nikmati.

“Saya tahu ini kecil, mungkin tampak sepele bagi sebagian orang. Tapi kalau kita semua melakukannya, dampaknya besar. Boikot bukan cuma soal produk, tapi juga sikap,” katanya.

Tak hanya itu, Badru juga rutin turun ke jalan mengikuti aksi damai dan demonstrasi mendukung kemerdekaan Palestina. Di antara lautan manusia yang membawa spanduk dan bendera, ia merasa lebih hidup, lebih berarti. Ada kekuatan saat ia berdiri bersama orang-orang yang peduli dan berani bersuara.

Namun dari semua bentuk perjuangan itu, ada satu hal yang tak pernah ia lewatkan: berwakaf melalui program Cash Wakaf for Humanity yang digagas oleh Wakaf DT.

“Ini program luar biasa. Dana wakaf kita dikelola secara profesional, lalu hasilnya disalurkan untuk bantuan kemanusiaan—makanan, air bersih, pakaian, obat-obatan. Semua itu sangat dibutuhkan saudara-saudara kita di Palestina yang menjadi korban penjajahan brutal,” tutur Badru, matanya berkaca-kaca.

Baginya, setiap rupiah yang diwakafkan adalah bentuk perlawanan. Sebuah senjata dalam bentuk kasih dan solidaritas. Badru tak pernah absen berwakaf untuk program ini setiap bulannya, menjadikannya bagian dari rutinitas ibadah yang penuh makna.

“Setiap saya transfer wakaf, saya niatkan sebagai jihad kecil saya untuk Palestina. Mungkin saya tidak bisa angkat senjata, tapi saya tidak akan tinggal diam,” ucapnya tegas.

Perjuangan Badru adalah potret bagaimana rasa kesal yang dalam bisa berubah menjadi semangat yang membara untuk berbuat. Bukan sekadar bicara, tapi bertindak. Ia mewakili banyak hati di luar sana yang tak ingin membiarkan Palestina berjuang sendirian. (Cahya)

Jerit Hati Badru untuk Palestina: Dari Kekesalan Menjadi Aksi Nyata Read More »

Hangatnya Kebersamaan di Pujasera Sahabat: Tempat Makan, Tempat Berkah

Di tengah kesibukan aktivitas pesantren dan hiruk pikuk kota, ada sebuah tempat sederhana yang menjadi oase kehangatan dan kebersamaan bagi banyak orang. Namanya Pujasera Sahabat, sebuah tempat makan yang dikelola sebagai salah satu unit usaha produktif Wakaf Daarut Tauhiid (DT). Tidak hanya tempat makan biasa, Pujasera ini menjadi ruang berbagi, menguatkan, dan menumbuhkan nilai-nilai kebaikan.

Setiap hari, deretan meja dan bangku di Pujasera Sahabat dipenuhi oleh berbagai kalangan—dari jemaah DT, santri, hingga mahasiswa yang menimba ilmu di sekitar kawasan Gegerkalong, Bandung. Menu sederhana namun penuh cita rasa menjadi pengikat suasana kekeluargaan yang terasa hangat di sana.

“Saya hampir setiap hari makan di sini. Harganya sangat terjangkau untuk kantong mahasiswa, tapi yang paling berkesan adalah suasananya. Kita bisa duduk bareng siapa saja, ngobrol, bahkan dapat nasihat dari jemaah yang lebih tua. Rasanya seperti keluarga,” ujar Aulia, mahasiswi semester 5 yang kuliah di salah satu kampus dekat DT, pada Rabu (9/4/2025).

Tak hanya Aulia, beberapa jemaah DT pun merasakan hal serupa. Bagi mereka, Pujasera Sahabat bukan cuma tempat mengisi perut, tapi juga mengisi hati. Beberapa bahkan mengaku mendapatkan motivasi hidup hanya dari obrolan singkat sambil menyeruput minuman hangat di meja pojok.

“Kadang saya datang ke sini bukan karena lapar. Tapi karena butuh ketenangan. Melihat orang-orang yang datang dengan wajah ramah, disapa hangat oleh pelayan, dan melihat para jemaah atau santri DT yang melintas menuju masjid, itu menenangkan hati,” kata Sulaiman, jemaah senior yang rutin hadir di kajian subuh DT.

Pujasera Sahabat adalah salah satu wujud nyata dari produktivitas wakaf yang dikelola Wakaf DT. Setiap rupiah yang berputar di sana menjadi bagian dari roda kebaikan. Menghidupi operasional pesantren, mendukung program-program sosial, dan tentu saja menjadi ladang pahala bagi para wakif.

Uniknya, beberapa mahasiswa yang kesulitan secara finansial pun kerap mendapatkan makanan gratis di sana. “Ada saja rezeki dari arah yang tak disangka. Pernah saya lagi bener-bener gak punya uang, tiba-tiba ada yang mentraktir atau pelayannya bilang ‘ini dari orang baik yang ingin berbagi’. Saya terharu banget,” cerita Fajar, mahasiswa perantauan asal Kalimantan.

Lebih dari sekadar tempat makan, Pujasera Sahabat telah menjadi titik temu antar jiwa. Tempat di mana makanan disajikan dengan cinta, dan setiap sendok yang disantap membawa berkah bagi yang memberi dan menerima. (Cahya)

Hangatnya Kebersamaan di Pujasera Sahabat: Tempat Makan, Tempat Berkah Read More »

Wakaf Mushaf Al-Quran yang Tak Lekang oleh Waktu

Dua tahun telah berlalu sejak puluhan mushaf Al-Quran diwakafkan ke Masjid Jami Assiroj yang berdiri sederhana di tengah pemukiman penduduk di Ciwaruga, Kabupaten Bandung Barat. Meski waktu terus berjalan, mushaf-mushaf itu tetap tampak terjaga, bersih, dan rapi. Seolah baru kemarin tiba di rak kayu masjid yang mengeluarkan aroma wangi khas kayu jati.

Dari luar, Masjid Jami Assiroj tampak bersahaja. Berdinding abu-abu dengan dua menara yang mengapit ke dua sisi masjid, kontras dengan langit biru Ciwaruga. Saat memasuki masjid, suasana teduh langsung menyambut. Di sisi depan ruang utama, rak mushaf berdiri kokoh dengan puluhan Al-Quran tersusun rapi. Sampulnya masih utuh, tidak pudar warnanya, dan halaman-halamannya tak satu pun yang sobek.

“Alhamdulillah, mushaf ini benar-benar memberi manfaat luar biasa,” ujar Asep, pengurus masjid yang mengenakan peci hitam dan sarung garis-garis biru. Tangannya lembut saat membalik satu per satu mushaf, seolah menyentuh sesuatu yang sangat ia jaga.

Asep memang sangat merawat mushaf-mushaf Al-Quran tersebut. Ia mengagumi tampilan mushaf dari Wakaf Daarut Tauhiid (DT) yang didesain secara khusus untuk mempermudah mempelajari dan mendalami Al-Quran. Mushaf terbitan DT itu dilengkapi dengan tajwid warna, blok warna untuk menghafal, terjemah, tafsir, dan hikmah dari KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).

“Dari subuh sampai isya, selalu saja ada yang membaca. Anak-anak juga sering duduk bersila di sini sepulang sekolah, mengaji sambil menunggu waktu maghrib,” lanjutnya.

Suasana masjid memang terasa hidup. Di pojok ruangan, tampak tiga anak kecil berseragam sekolah dasar sedang mengaji dengan suara pelan tapi mantap. Mereka duduk bersila di atas karpet hijau daun, mushaf terbuka di depan mereka dengan alas rehal kayu. Sesekali, lantunan ayat suci terdengar bergema dari pengeras suara saat pengajian ibu-ibu dimulai di lantai dua masjid.

Nani, salah seorang jemaah yang hampir setiap hari datang ke masjid, tampak duduk tenang dengan mushaf di pangkuannya. “Saya selalu duduk di tempat ini setelah salat Dzuhur,” katanya sambil tersenyum. “Cukup baca satu-dua halaman, hati rasanya lebih ringan. Ini nikmat dari Allah lewat wakaf orang-orang baik,” ujarnya.

Tak hanya ibu-ibu dan anak-anak, kaum bapak juga memanfaatkan mushaf wakaf ini untuk kegiatan tadarus pekanan. Setiap malam Jumat selepas magrib hingga menjelang isya, suara lantunan ayat bergema dari para jemaah dewasa yang duduk melingkar. Menandai betapa wakaf mushaf ini telah menyatu dalam denyut kehidupan spiritual masjid.

Masjid Jami Assiroj telah menjadi rumah cahaya bagi warga sekitar. Mushaf-mushaf itu pun menjadi sumber keberkahan yang hidup, jembatan amal jariyah yang terus mengalirkan pahala bagi si pewakaf.

“Semoga semakin banyak orang yang tergerak untuk berwakaf mushaf seperti ini,” ujar Asep seraya menatap jendela masjid yang memantulkan cahaya sore. “Karena manfaatnya bukan hanya dirasa sekarang, tapi insya Allah akan terus dirasakan hingga akhir zaman,” pungkasnya.

Di bawah sinar senja yang menembus kisi-kisi jendela, lembar-lembar Al-Quran itu terus dibaca. Doa-doa terus dipanjatkan. Pahala terus mengalir. Dan wakaf itu tetap hidup dalam setiap ayat yang dilafazkan. 

Wakaf DT memberikan kesempatan bagi setiap muslim untuk ikut berpartisipasi memenuhi kebutuhan mushaf Al-Quran di Indonesia dan memberantas buta huruf Al-Quran, sekaligus meraih pahala mengalir abadi dengan program Wakaf Mushaf Al-Quran. (Cahya)

Wakaf Mushaf Al-Quran yang Tak Lekang oleh Waktu Read More »