WAKAFDT.OR.ID — Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah memberikan gambaran komprehensif mengenai dimensi iman. Beliau menyebutkan bahwa iman memiliki sekitar 70 cabang. Puncaknya adalah kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah, sementara manifestasi yang paling sederhana—namun sangat bermakna—adalah menyingkirkan gangguan atau duri dari jalanan.
Pesan ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar urusan privat antara hamba dengan Sang Pencipta (habluminallah), melainkan juga mencakup etika sosial terhadap sesama manusia (habluminannas). Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Keseimbangan yang Sering Terlupakan
Islam tidak mengajarkan kesalehan yang timpang. Sangat kontradiktif jika ada seseorang yang dikenal rajin beribadah di masjid, namun di saat yang sama sering menyakiti hati tetangganya. Begitu pula sebaliknya, kemurahan hati secara sosial tidaklah sempurna tanpa didasari oleh fondasi ibadah yang kokoh kepada Allah.
Refleksi iman sejati seharusnya terpancar melalui perilaku nyata. Dalam hadis tersebut, tindakan “menyingkirkan duri” memiliki makna simbolis yang luas: memudahkan urusan orang lain dan mencegah timbulnya bahaya bagi publik.
Realitas Sosial: Menjadi Solusi atau Menjadi Hambatan?
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali luput mempraktikkan hal ini. Contoh sederhana bisa kita temukan di jalanan. Banyak pengguna jalan atau pedagang yang mengokupasi ruang publik secara egois hingga memicu kemacetan. Bukannya membantu melapangkan jalan orang lain, perilaku ini justru menambah “duri” bagi masyarakat.
Ketidakmampuan kita dalam merefleksikan iman ke dalam perilaku nyata menunjukkan bahwa pemahaman agama kita masih di permukaan. Orang yang imannya benar akan selalu ringan tangan membantu, atau setidaknya, ia berusaha sekuat tenaga agar keberadaannya tidak menyusahkan orang lain.
Pemimpin sebagai “Penyingkir Duri”
Tanggung jawab ini menjadi jauh lebih besar bagi mereka yang memegang amanah sebagai pemimpin. Seorang pemimpin seharusnya menjadi sosok yang membukakan jalan kesejahteraan bagi rakyatnya. Mereka bertugas memangkas birokrasi yang sulit dan menciptakan kemudahan hidup bagi masyarakat luas.
Namun, realitas seringkali berbicara lain. Alih-alih menjadi penyingkir hambatan, tak jarang oknum pejabat, wakil rakyat, hingga aparat hukum justru menjadi “duri” dalam sistem. Mengatasnamakan kepentingan rakyat, mereka seringkali justru mengejar keuntungan pribadi atau kelompok, yang pada akhirnya memperkeruh keadaan bangsa.
Kondisi suatu bangsa sangat bergantung pada karakter individu-individunya. Jika kita ingin melihat perubahan positif, mulailah dengan menjadi pribadi yang gemar memudahkan urusan orang lain. Selaras dengan pesan Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Redaktur: Wahid Ikhwan
