Wakaf Daarut Tauhiid

Alur Jambu: Desa yang Hanyut dan Perjuangan Menjemput Harapan di Tengah Debu

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Desa Alur Jambu kini hanyalah sebuah nama di atas peta. Saat tim Wakaf DT dan relawan kemanusiaan tiba untuk melakukan asesmen pada Kamis (22/1/2026), kesunyian yang mencekam langsung menyambut.

Tak ada lagi suara anak-anak berlarian atau kepul asap dari dapur warga. Desa ini telah dikosongkan, menjadi “desa mati” atas saran pemerintah setempat demi keselamatan jiwa.

Jejak 10 Meter yang Menghancurkan

Sulit membayangkan bahwa beberapa waktu lalu, lokasi tempat berdiri ini tenggelam dalam amukan air sedalam 10 meter. Ketinggian itu setara dengan gedung tiga lantai. Banjir bandang tidak hanya membawa air, tapi juga membawa kehancuran total. Seluruh rumah tinggal, fasilitas umum, hingga masjid, rata dengan tanah atau rusak hingga tak mungkin lagi ditinggali.

Pemerintah setempat telah menetapkan wilayah ini sebagai zona merah yang tidak layak huni. Kenangan warga Alur Jambu kini terkubur di bawah sisa-sisa reruntuhan dan lapisan lumpur yang mulai mengeras.

Dari Banjir Menuju Kekeringan yang Berdebu

Kini, warga Alur Jambu bertahan hidup di desa tetangga. Mereka menempati tenda-tenda darurat dan hunian sementara (Huntara) yang dibangun seadanya. Ironisnya, setelah dihantam air yang melimpah, kini mereka harus berhadapan dengan ekstremnya musim kemarau.

Panas terik yang menyengat membuat tanah-tanah bekas banjir pecah dan berdebu. Setiap embusan angin membawa partikel debu yang menyesakkan napas. Kondisi semakin sulit dengan terbatasnya akses air bersih dan hilangnya sinyal komunikasi sama sekali. Di sini, dunia terasa begitu jauh.

“Dulu kami hanyut karena air, sekarang kami kehausan dan sesak karena debu. Tapi kami harus bertahan,” ujar salah satu warga di sana sambil mencari puing-puing barang dari bekas rumahnya.

“Melihat Alur Jambu yang kini kosong adalah pemandangan yang menyedihkan. Namun, melihat warga yang masih memiliki semangat untuk bangkit di tenda-tenda ini adalah alasan mengapa kami di sini,” ungkap salah satu relawan Wakaf DT di lokasi.

Di tengah keterbatasan sinyal dan kepungan debu, tim terus mendata setiap kebutuhan. Kehadiran tim bukan sekadar membawa bantuan logistik, tetapi membawa pesan bahwa warga Alur Jambu tidak berjuang sendirian.

Perjalanan menuju pemulihan memang masih panjang dan terjal seperti jalanan menuju Aceh Tamiang, namun melalui sinergi wakaf, sebuah “Alur Jambu yang baru” diharapkan dapat segera tegak kembali, membawa kehidupan yang lebih aman dan berkah bagi para penyintasnya. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID