Wakaf Daarut Tauhiid

Krisis Kesehatan Mental di Israel: Ancaman Ekonomi Rp 2 Kuadriliun Akibat Trauma Perang

WAKAFDT.OR.ID | TEL AVIV — Kerugian akibat konflik bersenjata ternyata jauh melampaui kerusakan bangunan dan biaya alutsista. Laporan terbaru dari Pusat Natal Israel mengungkap adanya “bom waktu” berupa trauma psikologis massal yang mengancam stabilitas ekonomi dan sosial dalam jangka panjang.

Dikutip dari Aljazeera (24/12/2025), serangan 7 Oktober 2023 dan rangkaian perang yang mengikutinya telah memicu gelombang stres pascatrauma (PTSD) yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut.

Beban Ekonomi yang Tersembunyi

Jurnalis Mayan Hoffman melalui laporan di The Media Line memproyeksikan bahwa Israel harus menanggung beban biaya hingga 500 miliar shekel (sekitar Rp 2 kuadriliun) dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Biaya fantastis ini muncul bukan hanya dari pengobatan langsung, melainkan dari dampak tidak langsung seperti:

  • Penurunan Produktivitas: Banyak pekerja profesional (seperti insinyur) kehilangan kemampuan bekerja secara efisien akibat kelelahan mental.
  • Krisis Modal Manusia: Generasi produktif usia 25–38 tahun mulai meninggalkan bidang keahlian mereka karena trauma.
  • Beban Kesehatan Masyarakat: Lonjakan penyakit jantung, stroke yang dipicu stres, hingga ketergantungan obat-obatan terlarang dan opioid.

Lonjakan Gangguan Psikologis (PTSD) Hingga 30%

Laporan tersebut memperingatkan bahwa tingkat gangguan stres pascatrauma di Israel diprediksi akan mencapai 30% dari total populasi. Angka ini jauh melampaui rata-rata global.

Sekitar 600 ribu warga diperkirakan akan mengalami gangguan fungsi dalam belajar dan bekerja, dengan puluhan ribu di antaranya membutuhkan intervensi medis kronis. Dampak sosial lainnya yang mulai terlihat meliputi:

  • Peningkatan tajam kecelakaan lalu lintas fatal.
  • Eskalasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
  • Meningkatnya tren penggunaan obat penenang.

Menariknya, laporan ini memberikan sudut pandang alternatif: Investasi dini pada kesehatan mental adalah langkah ekonomi yang rasional.

Mengacu pada studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap $1 yang diinvestasikan untuk pengobatan depresi dan kecemasan dapat menghasilkan keuntungan $4 dalam bentuk produktivitas yang meningkat.

Pusat Natal mendesak pemerintah untuk melakukan reformasi struktural, termasuk integrasi layanan psikologis di tempat kerja dan sekolah.

Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Militer

Pakar studi prediktif, Dr. Walid Abdul Hayi, dalam kajiannya di Pusat Zaytuna, menyoroti konsekuensi fatal dari gangguan psikologis ini, yakni meningkatnya angka bunuh diri.

Data menunjukkan adanya tren kenaikan kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel pasca-serangan Hamas. Hal ini menjadi perhatian serius para psikolog mengingat posisi Israel yang sebelumnya sudah memiliki tingkat bunuh diri yang signifikan di kawasan tersebut. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID