Wakaf Daarut Tauhiid

Menjawab Jeritan Aksara di Tengah Keterbatasan: Aksi Nyata Wakaf DT Melawan Buta Huruf Al-Qur’an

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Isu buta huruf Al-Qur’an masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Data menunjukkan, jutaan Muslim Indonesia belum lancar membaca Kitab Suci mereka.

Di sisi lain, lembaga pendidikan Islam di pelosok daerah menghadapi kebutuhan mushaf yang sangat mendesak, menjadi hambatan ganda bagi upaya pemberantasan buta aksara Qur’an.

Tantangan Literasi Qur’an dan Kesenjangan Kebutuhan

Meskipun semangat belajar agama tinggi, kesenjangan akses terhadap sarana belajar—terutama mushaf yang layak—menjadi problem krusial.

Fakta: Banyak pondok pesantren dan madrasah di daerah pedesaan menggunakan mushaf yang sudah usang, robek, bahkan hilang halamannya.

Kondisi ini secara langsung menghambat efektivitas proses belajar mengajar, khususnya bagi santri yang baru mulai mengenal huruf hijaiyah.

Keterbatasan ini bukan hanya soal fisik mushaf, tetapi juga mencerminkan tantangan besar dalam mencapai target literasi Qur’an nasional. Bagaimana mungkin generasi muda dapat menguasai bacaan jika alat belajarnya sendiri tidak memadai?

Aksi Nyata Wakaf DT: Cahaya Baru di Empat Titik

Menanggapi kondisi kritis ini, Wakaf Daarut Tauhiid (DT) mengambil langkah nyata. Pada Kamis, 30 Oktober 2025, Wakaf DT meluncurkan program distribusi mushaf Al-Qur’an ke empat titik yang menjadi sentra pembelajaran di kawasan Bandung Raya, meliputi Banjaran, Majalaya, dan Ciparay.

Penyaluran ini difokuskan pada lembaga yang mengajukan permohonan, seperti pondok pesantren, masjid, dan madrasah, yang secara faktual memiliki kebutuhan mushaf paling mendesak.

Syukron Ali, PJ Program Distribusi Wakaf Mushaf DT, menyatakan bahwa distribusi ini adalah wujud nyata amanah dari para muwakif (pewakaf) untuk membantu menutup kesenjangan literasi Qur’an.

“Kami menyadari bahwa mushaf yang layak adalah kunci utama untuk memerangi buta huruf Qur’an. Dengan adanya mushaf baru ini, kami berharap para santri dan masyarakat dapat belajar dengan lebih nyaman dan termotivasi,” ujar Syukron.

Dampak Berkelanjutan dari Wakaf Mushaf

Aksi distribusi ini membuktikan bahwa wakaf bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga investasi spiritual dan edukasi.

Satu mushaf yang diwakafkan hari ini dapat digunakan oleh puluhan santri selama bertahun-tahun, menjadikan amal kebaikan ini terus mengalir (jariyah) seiring setiap huruf yang dibaca.

Program ini menjadi pengingat bahwa upaya memberantas buta huruf Al-Qur’an di Indonesia membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara lembaga sosial, pemerintah, dan partisipasi aktif masyarakat melalui program kedermawanan seperti wakaf. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID