Teriknya siang menyapu kawasan Wakaf Eco Pesantren 2, saat suara mesin pengeboran sumur terdengar nyaring memecah keheningan. Percikan air pertama keluar dari dalam tanah, menandai awal kehidupan baru bagi santri dan warga sekitar. Namun, di balik proyek ini, ada sebuah kisah yang jarang terungkap—kisah tentang seorang dermawan yang memilih untuk tetap berada di balik layar.
Bagi warga, sosok ini dikenal sederhana. Ia enggan disebut namanya, apalagi diabadikan di depan kamera. Baginya, yang terpenting adalah manfaat yang bisa dirasakan banyak orang. “Rezeki ini dari Allah, semua cuma titipan. Hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk memberi manfaat bagi banyak orang,” ucapnya singkat.
Motivasinya sederhana namun dalam: wakaf sumur ini adalah wujud syukur atas karunia yang ia terima, sekaligus doa agar hidupnya bermanfaat hingga akhir hayat.
“Mudah-mudahan sumur ini bisa menjadi sumber kehidupan, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat,” tambahnya.

Panitia sebenarnya sempat ragu mengundangnya hadir saat peresmian, mengingat ia tak suka diekspos. Namun, kehadirannya akhirnya memberikan kesan membekas bagi semua yang hadir.
“Beliau tidak ingin terlihat, tapi kami ajak supaya banyak hikmah yang bisa diambil,” kata salah satu panitia.
Seperti air yang mengalir, kebaikan sejati memang tak selalu perlu terlihat. Ia cukup dirasakan, dinikmati, dan menjadi sumber kehidupan bagi banyak jiwa di Wakaf Eco Pesantren 2 dan sekitarnya. (wakafdt)
