Derap langkah para tamu Allah menuju Baitullah tak hanya dibekali dengan niat dan semangat, tetapi juga ilmu dan bimbingan yang terstruktur. Itulah yang diupayakan KBIHU Daarut Tauhiid (KBIHU-DT) Bandung melalui rangkaian panjang kegiatan bimbingan haji yang resmi berakhir pada Senin (12/5), dengan terselenggaranya Bimbingan Manasik Haji Susulan Gelombang II.
Bertempat di ruang kelas basement Masjid Daarut Tauhiid, 10 dari 12 peserta mengikuti kegiatan sejak pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Mereka merupakan jemaah yang belum sempat mengikuti kegiatan sebelumnya, dan kini mendapatkan kesempatan terakhir untuk memantapkan ilmu dan kesiapan sebelum keberangkatan ke tanah suci.
Menurut Fredy Rizaldy, Kepala Tata Usaha KBIHU-DT Bandung, kegiatan ini menjadi penutup dari keseluruhan rangkaian bimbingan yang telah dimulai sejak Desember 2024. “Mulai dari Bimbingan Pra Manasik pada 8 Desember, kegiatan olahraga kebersamaan setiap akhir pekan, hingga Simulasi Manasik Kubro pada 19-20 April lalu, semua kami rancang untuk memberikan bekal menyeluruh kepada para jemaah,” ujarnya.

Kegiatan puncak menjelang keberangkatan dilaksanakan pada Ahad (11/5) lalu dalam bentuk Pembekalan Pra Keberangkatan, bertempat di Aula Daarul Hajj, kompleks Daarut Tauhiid. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 16.30 WIB ini mempertemukan para jemaah dengan petugas kloter JKS-45 dan JKS-50, sekaligus menyosialisasikan informasi teknis terbaru seputar keberangkatan, termasuk kemungkinan perubahan komposisi kloter berdasarkan kebijakan layanan dari syarikah.
Menariknya, seluruh kegiatan ini tidak terlepas dari peran besar keberkahan aset wakaf yang dikelola Daarut Tauhiid. Aula Daarul Hajj yang representatif, ruang-ruang kelas yang nyaman, hingga area masjid yang menjadi pusat aktivitas, semuanya berdiri tegak di atas tanah wakaf yang dikelola dengan amanah.
Keberangkatan fisik ke tanah suci memang masih menunggu waktu, namun keberangkatan hati dan jiwa para jemaah telah dimulai sejak mereka menjejakkan kaki di tempat ini. Tempat yang diberkahi karena dibangun atas dasar cinta, amanah, dan keikhlasan umat melalui wakaf. (Cahya)
