Wakaf Daarut Tauhiid

Wakaf Daarut Tauhiid

Seni Melayani di Rumah Allah: Jejak Pengabdian Santri SMP DTBS Putri dalam Program BERSAHABAT

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Gemuruh aktivitas santri di pelataran Masjid Daarut Tauhiid, Bandung, seketika meluruh berganti hening saat kumandang azan Ashar mulai membelah udara.

Namun, bagi para siswi SMP Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri, momentum Ramadhan kali ini menawarkan dimensi ibadah yang lebih dari sekadar menahan dahaga atau melantunkan ayat suci di sudut-sudut masjid.

Mereka tengah menyelami makna pengabdian yang nyata melalui program BERSAHABAT—akronim dari Berkhidmat, Bermanfaat, Berbagi Bersama Santri Hebat. Sebuah inisiatif yang mengajak para santri terjun langsung menjadi “pelayan” di rumah Tuhan.

Tangan-Tangan Kecil, Manfaat Besar

Menjelang senja, Masjid DT Bandung menyuguhkan pemandangan yang menyentuh batin. Terlihat barisan santriwati dengan sigap menata alas kaki jamaah agar berderet rapi, memastikan setiap jengkal lantai masjid bersih mengkilap, hingga sibuk mempersiapkan paket takjil untuk berbuka puasa.

Aktivitas ini bukan sekadar tugas piket, melainkan metode pembelajaran karakter yang mendalam.

“Khidmat adalah tentang lillah. Ini adalah sarana bagi para santri untuk melatih keikhlasan hati langsung di rumah-Nya,” tutur Fitri Iswari, Staf Humas Media dan Desain SMP DTBS Putri, saat ditemui pada Senin (23/2/2026).

Belajar Rendah Hati di Balik Lelah

Bagi Fitri dan para asuhannya, setiap helai debu yang dibersihkan atau setiap butir kurma yang dihidangkan adalah butiran pahala. Tidak nampak guratan keterpaksaan di wajah mereka; yang ada hanyalah gairah untuk memuliakan para tamu Allah dengan layanan terbaik.

Melalui program ini, pesantren ingin menanamkan nilai bahwa derajat kemuliaan seseorang tidak dilihat dari posisi atau jabatan, melainkan dari seberapa besar kontribusi dan manfaatnya bagi orang lain.

“Kami menanamkan keyakinan bahwa saat kita sungguh-sungguh menjaga rumah Allah, maka Allah pulalah yang akan menjaga urusan hidup kita,” lanjut Fitri dengan penuh optimisme.

Filosofi itulah yang menjadi bahan bakar bagi para santri. Meski fisik terasa lelah karena berpuasa, langkah mereka tetap terasa ringan.

Di balik senyum tulus mereka, tersampir sebuah harapan: bahwa Ramadhan tahun ini menjadi madrasah untuk belajar tunduk, ikhlas, dan mengabdi dengan segenap jiwa. (DS/WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Seni Melayani di Rumah Allah: Jejak Pengabdian Santri SMP DTBS Putri dalam Program BERSAHABAT Read More »

Menelusuri Jejak Perjuangan Masjid Rahmatan Lil’alamin DT Batam

WAKAFDT.OR.ID | BATAM — Di sebuah sudut Kota Batam, deru mesin konstruksi dan tumpukan material bangunan bukan sekadar pemandangan proyek biasa.

Di sana, sedang berdiri sebuah cita-cita besar bernama Masjid Rahmatan Lil’alamin Daarut Tauhiid (DT) Batam. Meski fisiknya baru mencapai 55%, masjid ini telah memancarkan energi spiritual yang kuat bagi masyarakat sekitarnya.

Perjalanan menghadirkan rumah Allah ini bukanlah perkara singkat. Butuh waktu 12 tahun perjuangan sabar hanya untuk proses pembebasan lahan, hingga akhirnya peletakan batu pertama berhasil dilaksanakan pada tahun 2019 silam.

Kini, lima tahun berselang, bangunan tersebut terus tumbuh di bawah naungan pengelolaan Wakaf Daarut Tauhiid.

Bangunan Belum Usai, Manfaat Sudah Sampai

Uniknya, Masjid Rahmatan Lil’alamin tidak menunggu kata “selesai” untuk mulai melayani umat. Di balik dinding yang belum terpoles sempurna dan perancah yang masih berdiri, denyut aktivitas keislaman sudah sangat hidup. Masjid ini telah menjadi oase bagi santri dan jamaah meski konstruksi masih berjalan.

Beberapa aktivitas yang rutin menghidupkan suasana masjid antara lain:

  • Pusat Syiar Ramadhan: Menjadi lokasi Tarhib Ramadhan yang mempertemukan jamaah luar, para santri, hingga wali santri dalam balutan ukhuwah.
  • Ibadah Formal: Shalat Jumat telah aktif dilaksanakan, menjadi pilihan utama bagi warga sekitar untuk menunaikan kewajiban mingguan.
  • Pemberdayaan Ibu-ibu: Majelis taklim kaum ibu rutin digelar, menjadikan masjid sebagai madrasah bagi keluarga.
  • Pusat Filantropi: Area masjid juga difungsikan sebagai kantor operasional DT Peduli Cabang Batam, memastikan aliran bantuan sosial bagi warga Batam tetap berjalan lancar.

Menghidupkan Spirit Wakaf

Keberadaan masjid ini menjadi bukti nyata bagaimana aset wakaf dikelola dengan produktif. Prinsipnya sederhana namun mendalam: aset Allah harus memberikan manfaat seluas-luasnya bagi umat, bahkan saat proses pembangunannya masih diperjuangkan.

“Masjid ini adalah bukti cinta jamaah melalui wakaf. Walaupun pembangunan fisik baru separuh jalan, namun fungsi masjid sebagai pusat peradaban dan pelayanan sosial sudah harus dirasakan manfaatnya sekarang juga,” ungkap salah satu pengelola kawasan.

Menjemput Kesempurnaan

Setiap bata yang tersusun dan setiap sak semen yang mengering adalah titipan dari para pewakaf (muwakif). Saat ini, pembangunan terus dilanjutkan untuk mengejar sisa 45% progres fisik agar fasilitas pendukung lainnya dapat segera digunakan secara optimal.

Harapannya, Masjid Rahmatan Lil’alamin DT Batam tidak hanya berdiri megah secara arsitektur, tetapi juga menjadi mercusuar kebaikan yang cahayanya menjangkau seluruh pelosok Batam. Sebuah aset wakaf yang dikelola dengan hati, insyaAllah akan menjadi pahala jariyah yang terus mengalir abadi. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menelusuri Jejak Perjuangan Masjid Rahmatan Lil’alamin DT Batam Read More »

Spiritualitas Tanpa Batas: 4.000 Jamaah Padati Mabit di Masjid Daarut Tauhiid

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Gelombang spiritualitas menyelimuti Masjid Daarut Tauhiid pada penghujung Februari lalu. Sebanyak 4.000 jamaah berkumpul dalam agenda Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) yang berlangsung mulai Sabtu (28/2) hingga Minggu (1/3).

Kegiatan ini menjadi momentum krusial bagi masyarakat untuk memperkokoh pondasi iman sekaligus mempererat tali persaudaraan sesama Muslim.

Acara utama dalam Mabit kali ini menghadirkan tokoh sentral Pesantren DT, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), serta ulama terkemuka Dr. Aam Amiruddin, M.Si.

Keduanya memberikan suntikan rohani dan pemahaman Islam mendalam yang memikat antusiasme jamaah sejak awal dimulainya kegiatan.

Sebagai agenda rutin Pesantren Daarut Tauhiid, Mabit dirancang untuk menyediakan ruang ibadah yang lebih privat dan intensif, menjauhkan sejenak jamaah dari hiruk-pikuk duniawi demi fokus pada perbaikan diri.

Perjalanan Ruhiyah: Dari Kajian Hingga Muhasabah

Rangkaian kegiatan disusun secara sistematis untuk memaksimalkan pengalaman spiritual peserta. Alur ibadah dimulai dengan sesi kajian interaktif, diikuti prosesi buka puasa bersama, dan pelaksanaan shalat tarawih berjamaah yang khusyuk di area masjid.

Memasuki keheningan malam, atmosfer masjid berubah menjadi lebih syahdu saat jamaah melaksanakan qiyamul lail.

Sesi ini diperkuat dengan dzikir, doa kolektif, serta muhasabah sebagai sarana refleksi batin bagi setiap individu. Seluruh rangkaian ditutup dengan santap sahur bersama dan dituntaskan melalui Kajian MQ Pagi yang mencerahkan.

Tujuan utama dari skema ibadah ini adalah mendorong jamaah meningkatkan kualitas penghambaan serta menanamkan kesadaran untuk terus bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.

Sinergi Puluhan Relawan dan Ribuan Jamuan

Kelancaran acara berskala besar ini merupakan buah kerja keras 78 personil Tim Khidmat. Tim yang terdiri dari santri dan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Daarut Tauhiid (GAMADA) ini menjadi tulang punggung operasional di lapangan.

Para relawan sigap mengelola berbagai aspek teknis, mulai dari alur mobilisasi jamaah di area masjid hingga memastikan kenyamanan logistik.

Dari sisi konsumsi, panitia mengelola distribusi yang luar biasa dengan menyiapkan total 8.790 porsi makanan untuk melayani kebutuhan jamaah saat waktu berbuka hingga sahur.

Lebih dari sekadar ritual rutin, Mabit Daarut Tauhiid berfungsi sebagai “kawah candradimuka” bagi pembinaan jiwa. Melalui kebersamaan dalam ibadah, para peserta tidak hanya pulang membawa ilmu, tetapi juga membawa semangat persaudaraan yang lebih kuat.

Antusiasme ribuan orang yang hadir menjadi sinyal positif bahwa di tengah kepungan gaya hidup modern, kerinduan masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan berkumpul dalam majelis ilmu tetap menyala dengan hebat. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Spiritualitas Tanpa Batas: 4.000 Jamaah Padati Mabit di Masjid Daarut Tauhiid Read More »

Menanti Cahaya di Batam: Geliat Pembangunan Masjid Rahmatan Lil’alamin yang Tak Henti Memberi Manfaat

WAKAFDT.OR.ID | BATAM — Di tengah hiruk-pukuk Kota Batam yang dinamis, sebuah bangunan megah mulai menampakkan identitasnya. Dinding-dinding yang masih menampakkan guratan semen dan deretan tiang kokoh menjadi saksi bisu perjuangan mewujudkan rumah Allah.

Itulah Masjid Rahmatan Lil’alamin Daarut Tauhiid (DT) Batam, yang hingga saat ini progres pembangunannya telah menyentuh angka 55%.

Perjalanan menuju 100% memang tidak selalu mulus. Berbagai kendala teknis hingga tantangan pendanaan sempat membuat ritme pembangunan melambat. Namun, di balik tumpukan material dan perancah yang masih berdiri, ada denyut spiritual yang tak pernah padam.

Bangunan Belum Usai, Ibadah Tetap Terjaga

Meski belum mencapai bentuk sempurnanya, Masjid DT Batam menolak untuk menjadi gedung kosong yang sunyi. Sebaliknya, masjid ini telah menjadi jantung kegiatan bagi banyak orang:

  • Santri: Menjadikan area yang tersedia sebagai tempat menghafal Al-Qur’an dan menimba ilmu agama.
  • Jamaah & Warga Sekitar: Rutin melaksanakan salat berjamaah meski di tengah keterbatasan fasilitas.
  • Kegiatan Keislaman: Kajian rutin dan pembinaan umat terus berjalan, membuktikan bahwa keberkahan masjid dimulai sejak batu pertama diletakkan.

“Masjid ini bukan sekadar bangunan fisik, tapi pusat peradaban. Walaupun belum jadi seutuhnya, manfaatnya sudah dirasakan langsung oleh warga dan santri setiap hari,” ujar Bhekti, Ketua Monitoring Pembangunan.

Babak Baru: Memulai Kembali dengan Doa

Kabar baiknya, kini deru mesin dan aktivitas tukang mulai kembali terdengar. Pembangunan telah dilanjutkan kembali dengan semangat baru. Fokus pengerjaan diarahkan untuk menyelesaikan tahap-tahap krusial agar area masjid menjadi lebih nyaman dan fungsional bagi para jamaah.

Targetnya jelas: menyelesaikan amanah umat ini sesegera mungkin. Dengan selesainya masjid ini nanti, diharapkan manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh warga sekitar, tetapi juga menjadi oase dakwah bagi umat Islam di Batam secara luas.

Mencapai angka 100% adalah ikhtiar kolektif. Doa dan dukungan dari berbagai pihak menjadi energi utama bagi para relawan dan pekerja di lapangan. Semoga proses ini dimudahkan oleh Allah SWT, sehingga Masjid Rahmatan Lil’alamin segera berdiri tegak sebagai simbol rahmat bagi semesta alam. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menanti Cahaya di Batam: Geliat Pembangunan Masjid Rahmatan Lil’alamin yang Tak Henti Memberi Manfaat Read More »

Di Balik Tenda Biru: Kerinduan Warga Pidie Jaya Akan Rumah Tuhan yang Terkubur

WAKAFDT.OR.ID | PIDIE JAYA – Suara riuh rendah zikir terdengar lamat-lamat dari sebuah bangunan kayu sederhana di sudut desa. Dindingnya hanya susunan papan seadanya, sementara atapnya berupa terpal biru yang sesekali berkibar ditiup angin kencang. Di bawah naungan darurat inilah, warga sebuah desa di Pidie Jaya, Aceh, bersujud.

Pemandangan ini kontras dengan sebuah bangunan besar di sebelahnya. Bangunan itu adalah masjid mereka—sebuah rumah ibadah yang dulunya kokoh, namun kini tampak “tenggelam”.

Pasca banjir bandang yang menerjang, masjid tersebut terkubur lumpur hingga menyisakan hanya 20% bagian atasnya yang terlihat. Delapan puluh persen sisa fisiknya tertimbun material tanah, seolah menjadi monumen bisu dari dahsyatnya bencana.

Beribadah dalam Keterbatasan

Sejak bencana itu melanda, masjid tersebut tak lagi bisa digunakan. Namun, bagi warga setempat, ibadah tidak boleh berhenti meski bangunan fisik mereka hancur. Dengan semangat gotong royong, mereka mengumpulkan sisa-sisa kayu dan tenda darurat untuk mendirikan mushola sementara.

“Kami rindu sujud di lantai masjid yang dingin dan kokoh. Sekarang kalau hujan deras, kami harus waspada karena atap tenda sering bocor,” ujar salah satu warga dengan nada getir namun penuh ketabahan.

Di dalam mushola kayu itu, tidak ada ubin yang mengilap atau dinding beton yang kedap suara. Yang ada hanyalah alas seadanya dan keikhlasan yang luar biasa. Meski kondisi serba terbatas, jamaah tetap penuh sesak, terutama saat waktu shalat lima waktu dan tarawih tiba.

Ramadhan dan Harapan yang Menggunung

Bulan Ramadhan kali ini membawa rasa haru yang lebih dalam. Biasanya, masjid adalah pusat kehidupan desa—tempat anak-anak belajar mengaji dan para orang tua beritikaf hingga fajar. Kini, semua kegiatan itu harus berdesakan di ruang sempit yang panas saat siang dan lembap saat malam.

Ada kerinduan yang mendalam di mata para warga. Kerinduan untuk melihat kubah masjid mereka kembali menjulang, membersihkan lumpur yang menyumbat ruang sujud, dan mendengar gema takbir dari pengeras suara yang layak.

Ajakan untuk Kembali Membangun

Kondisi masjid yang terkubur lumpur 80% ini bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan tentang memulihkan jantung spiritual sebuah komunitas. Pembangunan kembali rumah Allah di Pidie Jaya memerlukan uluran tangan kolektif agar warga tak lagi harus bersujud di bawah tenda yang rapuh.

Mari kita hadirkan kembali senyum dan kenyamanan bagi saudara-saudara kita di Aceh. Mengembalikan masjid mereka berarti mengembalikan harapan dan kekuatan bagi sebuah desa untuk bangkit kembali. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Di Balik Tenda Biru: Kerinduan Warga Pidie Jaya Akan Rumah Tuhan yang Terkubur Read More »

Meneladani Kejayaan Peradaban Islam: Rahasia Kekuatan Ekonomi Era Turki Utsmani Melalui Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Turki Utsmani mampu menjadi salah satu imperium terkuat dunia bukan hanya karena kekuatan militernya, melainkan karena fondasi ekonomi sosialnya yang sangat kokoh.

Kunci utama dari stabilitas tersebut adalah pengelolaan wakaf yang sangat progresif dan terintegrasi dalam kehidupan masyarakat.

Melalui unggahan edukatif terbaru di laman resminya, Wakaf Daarut Tauhiid mengajak masyarakat untuk membedah apa sebenarnya yang membuat sistem wakaf pada era tersebut mampu membangun ekonomi umat secara masif.

5 Pilar Pemerataan Ekonomi Utsmani

Setidaknya terdapat lima faktor kunci yang menjadi jawaban mengapa masyarakat pada masa itu mencapai tingkat kemakmuran yang merata:

  • Kemudahan Akses Kesehatan: Rumah sakit (Bimaristan) dibangun dan dioperasikan sepenuhnya dari hasil kelola aset wakaf, sehingga rakyat bisa berobat tanpa biaya.
  • Pendidikan Gratis dan Berkualitas: Universitas dan madrasah berkembang pesat karena didukung oleh aset wakaf produktif yang menjamin gaji pengajar dan fasilitas santri.
  • Layanan Sosial yang Humanis: Pembangunan infrastruktur publik seperti jembatan, jalan, hingga dapur umum (Imaret) untuk kaum dhuafa bersumber dari dana wakaf.
  • Struktur Ekonomi yang Mandiri: Wakaf mampu mengurangi beban APBN negara karena sektor publik sudah terbiayai secara mandiri oleh dana umat.
  • Pemberdayaan Sektor Produktif: Pengelolaan wakaf yang profesional memastikan aset tidak diam, melainkan terus berputar untuk memberi manfaat luas.

Membangun Masa Depan Melalui Wakaf

Kejayaan masa lalu tersebut menjadi bukti nyata bahwa wakaf adalah solusi sistemik untuk mewujudkan pemerataan ekonomi.

Struktur ekonomi suatu bangsa akan menjadi sangat kuat ketika akses terhadap kebutuhan dasar—seperti pendidikan dan kesehatan—dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat melalui skema kedermawanan yang abadi.

Pesantren Daarut Tauhiid melalui lembaga wakafnya terus berupaya menghidupkan kembali semangat tersebut di era modern ini.

Melalui berbagai program wakaf produktif, masyarakat kini memiliki kesempatan untuk ikut serta dalam membangun peradaban yang lebih baik.

Maka belum terlambat jika kita ingin mulai berwakaf. Mari mulai langkah baik Bersama. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, kemudahan akses kini tersedia melalui platform digital di wakafdt.id.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Meneladani Kejayaan Peradaban Islam: Rahasia Kekuatan Ekonomi Era Turki Utsmani Melalui Wakaf Read More »

Jejak Abadi Al-Kariim: Kisah Persahabatan Harry Kiss (Ayah Almarhum Vidi Aldiano), Aa Gym, dan Pesantren DT

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Di balik gemerlap dunia hiburan yang melingkupi keluarga mendiang Harry Kiss—ayahanda penyanyi Vidi Aldiano—tersimpan sebuah narasi spiritual yang membekas di tanah Parongpong, Bandung Barat.

Ini bukan sekadar cerita tentang pembangunan fisik sebuah bangunan, melainkan kisah tentang bisikan di Tanah Suci, persahabatan yang tulus, dan komitmen terhadap pemberdayaan umat melalui wakaf.

Semua bermula dari lingkaran persahabatan. KH Abdullah Gymnastiar, atau yang akrab disapa Aa Gym, memiliki tiga sahabat pengusaha yang kerap menghabiskan waktu bersama.

Salah satunya adalah Harry Kiss. Suasana sejuk Cijanggel awalnya hanya menjadi tempat bagi mereka untuk membangun vila peristirahatan, sebuah pelarian sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota.

Namun, sebuah perjalanan Umrah bersama Aa Gym mengubah segalanya.

Bisikan di Multazam

Saat berada di depan Multazam—tempat yang mustajab untuk berdoa di Masjidil Haram—Harry Kiss mengalami sebuah peristiwa spiritual yang menggetarkan batinnya.

Ia mengaku menerima “bisikan” atau ketetapan hati yang kuat: “Kalau kamu pulang ke Indonesia, bangunlah masjid bernama Al-Kariim.”

Gejolak muncul di benak Harry. Ia merasa tidak percaya diri dengan amanah tersebut. Setelah berdoa, ia mendekati Aa Gym dan menceritakan kegelisahannya.

“Aa, apakah ini tidak salah? Saya ini bukan orang sholeh,” tanya Harry ragu.

Dengan bijak, Aa Gym merespons keraguan sahabatnya itu sebagai sebuah peluang kebaikan. Aa menyampaikan bahwa ia memiliki lahan di daerah Parongpong, dekat kawasan Advent, yang dirasa sangat cocok untuk mendirikan masjid.

Lokasi tersebut dipilih dengan visi strategis untuk membentengi akidah warga sekitar sekaligus menjadi pusat syiar Islam di wilayah Cijanggel.

Perjalanan Wakaf yang Produktif

Sepulangnya ke tanah air, survei lokasi dilakukan. Kecocokan pun ditemukan. Pada tahun 2006, pembangunan Masjid Al-Kariim dimulai.

Dua tahun berselang, tepatnya pada 2008, setelah bangunan berdiri megah, Harry Kiss mengambil keputusan besar: ia mewakafkan masjid tersebut sepenuhnya kepada Pesantren Daarut Tauhiid (DT).

Keputusan tersebut menjadi titik balik bagi kawasan Parongpong. Masjid Al-Kariim tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi bertransformasi menjadi pusat peradaban kecil:

  • Pendidikan: Menjadi asrama dan tempat belajar bagi para santri Baitul Quran.
  • Sosial: Digunakan untuk pengajian ibu-ibu, Taman Kanak-kanak (TK), dan pusat literasi bagi masyarakat sekitar.
  • Ekonomi: Mengusung konsep wakaf produktif, kini di area tersebut terdapat peternakan domba, ayam, serta lahan perkebunan yang hasilnya memberi manfaat langsung bagi warga.

Warisan yang Terus Mengalir

Hingga saat ini, area Masjid Al-Kariim tetap menjadi aset wakaf yang dikelola secara profesional oleh Yayasan Daarut Tauhiid. Keberadaan masjid ini menjadi saksi bisu bahwa niat tulus, meski diawali dengan keraguan diri, bisa berbuah menjadi manfaat yang abadi.

Bagi keluarga almarhum Harry Kiss, Al-Kariim adalah amal jariyah yang tak terputus. Bagi warga Parongpong, ia adalah benteng akidah dan sumber kehidupan.

Dan bagi kita semua, kisah ini adalah pengingat bahwa panggilan untuk berbuat baik bisa datang kepada siapa saja, di mana saja—terutama di tempat yang paling suci di bumi. (MS/WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Jejak Abadi Al-Kariim: Kisah Persahabatan Harry Kiss (Ayah Almarhum Vidi Aldiano), Aa Gym, dan Pesantren DT Read More »

Perbaiki Fondasi Ibadah, Baitul Quran DT Gelar Dauroh Al-Fatihah secara Hybrid

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Mengawali agenda ilmiah di penghujung Februari, Baitul Quran Pesantren Daarut Tauhiid (DT) Indonesia sukses menyelenggarakan Dauroh Al-Fatihah pada Rabu (25/2).

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dilaksanakan secara hybrid, berpusat di Masjid Rahmatan Lil’alamiin Eco Pesantren 1 dan menjangkau peserta lebih luas melalui platform Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan Ustaz Sidik Amirullah sebagai narasumber utama. Beliau merupakan alumni berprestasi dari STQ Takhassus Baitul Quran DT Angkatan 15 yang kini tengah mendalami studi di STIU Wadi Mubarak.

Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang program pembinaan, mulai dari santri STQ Mukim dan Non-Mukim, hingga peserta program musiman seperti Halaqah Quran Ramadhan (HQR) dan Bimbingan Baca Quran (BBQ).

Al-Fatihah sebagai Akar Kesempurnaan Shalat

Fokus utama dauroh ini adalah memantapkan kualitas bacaan Surah Al-Fatihah. Sebagai Ummul Kitab yang wajib dibaca di setiap rakaat shalat, ketepatan tajwid dan makhraj dalam surah ini menjadi penentu sah atau tidaknya ibadah seseorang.

Dalam pemaparannya, Ustaz Sidik menekankan bahwa memperbaiki bacaan Al-Fatihah bukan sekadar teknis bunyi, melainkan bentuk ikhtiar seorang hamba untuk membangun kedekatan yang lebih dalam dengan Allah SWT.

Materi yang disampaikan pun dirancang secara sistematis sehingga para santri bisa langsung mempraktikkan dan mengevaluasi bacaan mereka secara mandiri.

Antusiasme dan Harapan Peserta

Respons positif mengalir dari para peserta yang merasa mendapatkan pencerahan baru. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa kegiatan ini menyadarkannya akan detail-detail kecil yang selama ini sering terlewatkan dalam membaca Al-Fatihah.

“Alhamdulillah, melalui dauroh ini saya jadi lebih percaya diri dan tenang saat melaksanakan shalat karena tahu bacaan saya sudah sesuai kaidah,” ujarnya.

Melalui konsistensi dalam menggelar agenda seperti ini, Baitul Quran DT Indonesia berkomitmen untuk terus membina umat dari akar ibadah yang paling mendasar.

Harapannya, dari lisan yang fasih membaca Al-Fatihah, akan lahir kualitas shalat yang kokoh dan pribadi yang senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai napas kehidupan sehari-hari. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Perbaiki Fondasi Ibadah, Baitul Quran DT Gelar Dauroh Al-Fatihah secara Hybrid Read More »

Aa Gym: Menjaga Hati di Riuhnya Media Sosial

WAKAFDT.OR.IDDi era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian kita. Namun, di balik kemudahannya, terdapat tantangan besar bagi setiap Muslim: menjaga kebersihan pikiran dan hati.

Seringkali, kegelisahan hati dan tumpukan pikiran negatif muncul karena kita terlalu banyak menyerap informasi yang sebenarnya tidak perlu.

Rumus Menjaga Pikiran

Cara terbaik agar tidak terjebak dalam pikiran negatif adalah dengan tidak memberinya ruang. Sederhananya: jangan dipikirkan, jangan diikuti, dan jangan diladeni. Kita harus sangat selektif terhadap apa yang dilihat, dibaca, dan didengar, karena setiap informasi yang masuk akan langsung memengaruhi kondisi mental serta spiritual kita.

Setiap kali membuka media sosial, cobalah ajukan dua pertanyaan kritis pada diri sendiri:

  • Apakah informasi ini menambah iman saya?
  • Apakah aktivitas ini akan menjadi amal saleh?

Jika jawabannya “tidak”, lebih baik tinggalkan. Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk memuaskan rasa penasaran terhadap urusan orang lain. Kita tidak perlu tahu segalanya.

Mari kita gunakan waktu dengan bijak. Ingatlah bahwa waktu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Kebahagiaan sejati hadir dari kekuatan iman dan amal saleh, bukan dari banyaknya informasi yang kita konsumsi setiap hari.

Menghindari Penyakit Hati

Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits:

“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Al-Bukhari)

Pesan ini sangat mendalam karena prasangka buruk adalah kemaksiatan hati yang seringkali samar dan dianggap remeh. Tanpa sadar, jempol dan pikiran kita bisa tergelincir pada dosa hanya karena asumsi yang tidak berdasar.

Mari kita mulai membatasi konsumsi informasi yang sia-sia. Fokuslah pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Dengan menjaga apa yang masuk ke dalam pikiran, insya Allah hati akan jauh lebih tenang dan terjaga. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Menjaga Hati di Riuhnya Media Sosial Read More »

Aa Gym: Hidup Ringan Tanpa Belenggu Penilaian Manusia

WAKAFDT.OR.IDDalam riuhnya kehidupan modern yang penuh tuntutan dan pencitraan, banyak orang terjebak dalam perlombaan untuk terlihat “berhasil”. Tak jarang, seseorang memaksakan diri mencicil barang mewah hanya demi satu tujuan: dianggap mampu oleh orang lain.

Padahal, hidup akan terasa jauh lebih ringan jika kita berhenti terikat pada pandangan manusia. Kebebasan sejati lahir saat hati kita tak lagi haus pujian, tak mengejar pengakuan, dan tak menuntut perlakuan istimewa. Di situlah jiwa menemukan kemerdekaannya.

Menjadikan Allah sebagai Pusat Perhatian

Salah satu puncak kebahagiaan adalah ketika kita menggeser pusat perhatian kita; dari manusia, kembali kepada Allah Ta’ala semata. Meningkatkan kualitas diri bukan untuk mencari tepuk tangan, melainkan sebagai bentuk ibadah.

Saat kita berbuat baik lalu orang lain tidak peduli atau bahkan meremehkan, kita tidak akan jatuh dalam kekecewaan. Mengapa? Karena penilaian manusia bukanlah tujuan akhir kita.

Fokus pada Proses, Bukan Hasil

Prinsip ini juga berlaku dalam hubungan antarmanusia. Saat kita menasihati pasangan, mendidik anak, atau mengajak orang lain pada kebaikan, lalu mereka belum menggubrisnya, itu bukanlah sebuah kegagalan.

Selama niat kita lurus, cara kita baik, dan dilakukan ikhlas karena Allah, tugas kita sudah selesai. Kita tidak bertanggung jawab atas hasil atau perubahan orang lain, melainkan bertanggung jawab atas kemurnian niat dan kesungguhan usaha kita sendiri.

Ketenangan di Balik Keikhlasan

Sikap ini akan melahirkan ketenangan yang kokoh. Kita tidak lagi mudah kecewa dan tidak terseret arus validasi sosial. Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, karena yang paling utama adalah bagaimana Allah menilai niat di balik setiap amal kita.

Hidup menjadi ringan saat kita berhenti berharap kepada makhluk dan mulai bersandar sepenuhnya kepada Khalik. Mari kita tata kembali hati, bersihkan niat, dan jalani hidup sebagai ibadah, bukan sebagai pertunjukan. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Hidup Ringan Tanpa Belenggu Penilaian Manusia Read More »