Seni Melayani di Rumah Allah: Jejak Pengabdian Santri SMP DTBS Putri dalam Program BERSAHABAT
WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Gemuruh aktivitas santri di pelataran Masjid Daarut Tauhiid, Bandung, seketika meluruh berganti hening saat kumandang azan Ashar mulai membelah udara.
Namun, bagi para siswi SMP Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri, momentum Ramadhan kali ini menawarkan dimensi ibadah yang lebih dari sekadar menahan dahaga atau melantunkan ayat suci di sudut-sudut masjid.
Mereka tengah menyelami makna pengabdian yang nyata melalui program BERSAHABAT—akronim dari Berkhidmat, Bermanfaat, Berbagi Bersama Santri Hebat. Sebuah inisiatif yang mengajak para santri terjun langsung menjadi “pelayan” di rumah Tuhan.
Tangan-Tangan Kecil, Manfaat Besar
Menjelang senja, Masjid DT Bandung menyuguhkan pemandangan yang menyentuh batin. Terlihat barisan santriwati dengan sigap menata alas kaki jamaah agar berderet rapi, memastikan setiap jengkal lantai masjid bersih mengkilap, hingga sibuk mempersiapkan paket takjil untuk berbuka puasa.
Aktivitas ini bukan sekadar tugas piket, melainkan metode pembelajaran karakter yang mendalam.
“Khidmat adalah tentang lillah. Ini adalah sarana bagi para santri untuk melatih keikhlasan hati langsung di rumah-Nya,” tutur Fitri Iswari, Staf Humas Media dan Desain SMP DTBS Putri, saat ditemui pada Senin (23/2/2026).
Belajar Rendah Hati di Balik Lelah
Bagi Fitri dan para asuhannya, setiap helai debu yang dibersihkan atau setiap butir kurma yang dihidangkan adalah butiran pahala. Tidak nampak guratan keterpaksaan di wajah mereka; yang ada hanyalah gairah untuk memuliakan para tamu Allah dengan layanan terbaik.
Melalui program ini, pesantren ingin menanamkan nilai bahwa derajat kemuliaan seseorang tidak dilihat dari posisi atau jabatan, melainkan dari seberapa besar kontribusi dan manfaatnya bagi orang lain.
“Kami menanamkan keyakinan bahwa saat kita sungguh-sungguh menjaga rumah Allah, maka Allah pulalah yang akan menjaga urusan hidup kita,” lanjut Fitri dengan penuh optimisme.
Filosofi itulah yang menjadi bahan bakar bagi para santri. Meski fisik terasa lelah karena berpuasa, langkah mereka tetap terasa ringan.
Di balik senyum tulus mereka, tersampir sebuah harapan: bahwa Ramadhan tahun ini menjadi madrasah untuk belajar tunduk, ikhlas, dan mengabdi dengan segenap jiwa. (DS/WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan










