Yayasan Daarut Tauhiid

Search
Close this search box.

Kepemimpinan dalam Islam

kepemimpinan khalifah

Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin Pasca Wafatnya Rasulullah

WAKAFDT.OR.ID | Khulafaur Rasyidin merupakan 4 sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Khulafaur Rasyidin memiliki arti pemimpin yang mendapatkan petunjuk. Khulafaur Rasyidin juga dikenal sebagai 4 khalifah yang dipercaya oleh umat Islam untuk meneruskan kepemimpinan pasca Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, Khulafaur Rasyidin menjadi kepala negara dan agama. Masa kepemimpinan 4 sahabat tersebut menjadi masa-masa penting dalam perjalanan Islam. 

Keempat Khulafaur Rasyidin tersebut juga berhasil memperluas syiar agama Islam ke beberapa wilayah ke luar Jazirah Arab. Berikut Peran Khulafaur Rasyidin terhadap Kemajuan Islam:

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq termasuk sahabat As-Sabiqunal Awwalun, yakni orang yang pertama kali memeluk Islam. Di mata Rasulullah, Abu Bakar telah dianggap seperti saudaranya sendiri.

Di masa kepemimpinannya kebenaran Islam terus bersinar. Abu Bakar  berhasil menumpas kaum murtad setelah Rasulullah wafat. Ia memerintahkan tentara untuk memerangi kaum murtad dan penguasa yang zdalim.

Abu Bakar juga menginstruksikan Khalid bin Walid bersama pasukannya berangkat ke Irak dan Syam untuk menarik hati masyarakat dan mengajak mereka memeluk agama Islam.

Tak sampai disitu, di masa kepemimpinannya, Abu Bakar juga berhasil mengumpulkan mushaf Al-Qur’an dalam bentuk tulisan. Mulai dari dedaunan, kulit-kulit, serta ayat-ayat yang dihafal oleh kaum muslim.

2. Umar bin Khattab

Setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Umar bin Khattab. Ia lahir di Mekah pada tahun 582 M dan menjadi khalifah pada tahun 634 M.

Proses pemilihan Umar bin Khatab dilakukan melalui proses musyawarah dengan Abu Bakar, kemudian mengusulkan agar bersedia mengganti dirinya.

Di masa kepemimpinannya, Umar bin Khattab melakukan perluasan wilayah kekuasaan. Pasukan Islam berhasil menaklukan wilayah Suriah pada tahun 636 M, termasuk Hamah, Qinnasrin, Laziqiyah, Aleppo, dan beberapa wilayah lainnya. 

Umar bin Khattab juga mendirikan baitul mal, mencetak uang, membentuk kesatuan tentara untuk melindungi perbatasan, mengangkat para hakim, mengatur gaji, dan sistem pengawasan pasar.

3. Utsman bin Affan

Khulafaur Rasyidin yang menggantikan Umar bin Khattab adalah Utsman bin Affan. Ia lahir pada tahun 579 M di Thaif.

Utsman dijuluki dengan sebutan Dzun Nurain, yang memiliki arti dua cahaya karena menikahi dua putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam secara berurutan setelah salah satunya meninggal.

Pada masa kekhalifahannya, Utsman bin Affan berhasil menyusun pembukuan Al-Qur’an untuk mengakhiri perbedaan-perbedaan bacaan Al-Qur’an. Selain itu, Ia juga melakukan perluasan wilayah, seperti Mesir, Irak, dan beberapa wilayah lainnya. 

4 Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib melanjutkan kepemimpinan pasca terbunuhnya Utsman bin Affan. Ali adalah keponakan sekaligus menantu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Ia lahir di Mekah pada 13 Rajab.

Ali dilantik oleh Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash yang diikuti oleh sahabat lainnya, baik dari kalangan Anshar maupun Muhajirin.

Pada masa kepemimpinannya, Ali bin Abi Thalib mempunyai kebiasaan berjalan ke pasar seorang diri, menolong orang yang lemah, hingga menasihati para pedagang dan penjual sayur.

Salah satu peranan Ali semasa kekhalifahannya adalah menarik kembali tanah hibah yang dibagikan Utsman bin Affan kepada kerabatnya untuk menjadi milik negara.Demikian uraian mengenai 4  Khulafaur Rasyidin yang menggantikan kepemimpinan pasca wafatnya Nabi Muhammad. Semoga penjelasan di atas dapat memberikan pelajaran bagaimana kepemimpinan yang baik dalam menjalankan sebagai pemimpin.

Sumber: daaruttauhiid.org

Baca juga: Bolehkan Berdonasi Menggunakan Harta Riba?

kepemimpinan dalam islam

Kepemimpinan dalam Pandangan Islam

WAKAFDT.OR.ID | Kepemimpinan dalam Islam memiliki kedudukan yang penting untuk menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang kondusif. Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dalam mempengaruhi seseorang atau kelompok lain untuk mencapai sebuah tujuan yang lebih baik.

Dari Ibnu Umar RadiyaAllahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda yang artinya: 

“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan tiap tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban.” (HR. Bukhari)

Dalam memahami sabda Rasulullah tersebut, sangat jelas bahwa setiap individu manusia adalah pemimpin, dan pada waktunya pasti setiap kepemimpinan itu akan dimintai pertanggungjawaban. 

Ada beberapa hal  yang harus diperhatikan dari sebuah kepemimpinan, di antaranya adalah: 

Pertama, seorang pemimpin harus mempunyai kesamaan antara ucapan dan perbuatannya, dan kesamaan antara nasihat dan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan. Allah sangat tidak menyukai ciri pemimpin yang suka berbicara, akan tetapi tidak ada hasil dari apa yang diucapkannya.

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran sebagai berikut:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 61)

Kedua, Ia mampu menepati janji. Karakter kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ialah punya komitmen menepati janji, sebagai wujud keimanan seorang pemimpin kepada Allah Ta’ala, sehingga dapat melahirkan kepercayaan dan penghormatan dari masyarakat.

Kepemimpinan dalam Islam harus mampu mencontoh kepemimpinan yang pernah ditampilkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau mampu menunjukan dan menerapkan manajemen kepemimpinan yang paripurna. Beliau menerapkankan teori kepemimpinan berdasarkan nilai-nilai shiddiq, tabligh, amanah dan fathanah.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 8)

Jika nilai amanah tidak diimplementasikan dalam proses kepemimpinan, maka akan menciptakan situasi buruk dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menekankan dalam sabdanya, yaitu:

“Tidak beriman orang yang tidak dapat menjaga amanah dan tidak beragama orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad)Oleh karenanya, bagi siapa saja di antara kaum muslimin yang mendapat amanah kepemimpinan dalam level apapun, maka harus memperkuat karakter dan komitmennya dalam mengabdikan diri untuk kemaslahatan orang banyak.

Sumber: daaruttauhiid.org

Baca juga: Tokoh Islam yang Berperan dalam Kemerdekaan Indonesia