Yayasan Daarut Tauhiid

Search
Close this search box.

BWI

Peta Wakaf Nasional 2024-2029

Inilah 5 Fokus Utama Pengembangan Wakaf 2024-2029

Peta Jalan Wakaf Nasional 2024 – 2029 yang telah dirumuskan menjadi kompas bagi kita dalam mengembangkan potensi wakaf dalam menggerakkan roda pembangunan nasional dan global.

Dalam peta jalan ini, kita mengidentifikasi enam poin strategis yang menjadi fokus utama pengembangan wakaf antara tahun 2024 hingga 2029.

Pertama, peningkatan literasi wakaf, sebagai pondasi utama agar masyarakat dapat memahami konsep wakaf dan manfaatnya dalam berbagai sektor. Melalui edukasi dan sosialisasi, kita akan membentuk masyarakat yang paham dan berkomitmen terhadap kegiatan wakaf.

Kedua, penguatan regulasi dan tata kelola kelembagaan wakaf. Dalam mengelola amanah wakaf, regulasi yang memadai dan tata kelola yang baik sangat diperlukan.

Transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme menjadi landasan yang akan menjamin keberlanjutan dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga wakaf.

Ketiga, peningkatan kualitas dan kinerja Sumber Daya Manusia (SDM) wakaf dan lembaga wakaf. Dengan mengembangkan program pelatihan dan pengembangan, kita akan memiliki pengelola wakaf yang kompeten dan berkualitas, mampu menjawab tantangan zaman dengan keunggulan dan inovasi.

Keempat, pengembangan proyek wakaf berdampak tinggi dan diversifikasi produk. Identifikasi proyek-proyek strategis yang memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat serta diversifikasi produk wakaf akan memperluas dampak positif dan relevansi wakaf dalam kehidupan seharihari.

Kelima, pengintegrasian ekosistem wakaf melalui akselerasi digitalisasi perwakafan nasional. Dengan memanfaatkan teknologi digital, kita akan menciptakan ekosistem yang terhubung, efisien, dan transparan, memudahkan partisipasi masyarakat dan optimalisasi pengelolaan wakaf.

Dalam implementasi roadmap ini, kita berharap mulai dari Kementerian Agama, Badan Wakaf Indonesia, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, Kementerian Keuangan RI, Kementerian ATR/ BPN, Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang, Nazhir, Wakif, Mauquf Alaihi hingga lembaga-lembaga wakaf lainnya, akan bekerja bersama-sama melalui pembagian tugas yang jelas, kekuatan sinergi, dan kolaborasi.

Upaya berbagai program pelatihan, sosialisasi, pengembangan produk, dan pemanfaatan teknologi digital akan dijalankan secara bertahap, mengikuti tahapan yang telah ditetapkan melalui roadmap.(Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, S.Ag., M.Ag, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama dalam Kata Pengantar Peta Jalan Pengembangan Wakaf Nasional 2024-2029)

BWI Rilis Nazhir per Januari 2024

BWI Rilis Daftar Nazhir Wakaf Uang Januari 2024

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA-Badan Wakaf Indonesia (BWI) merilis daftar nazhir wakaf uang per Januari 2024 di web resminya, Selasa (6/2). Dalam file berbentuk Pdf, BWI mencatat sebanyak 432 nazhir terdaftar di seluruh Indonesia, termasuk Yayasan Daarut Tauhiid (DT) yang lembaga wakafnya adalah Wakaf DT.

Yayasan DT sudah terdaftar menjadi nazhir wakaf sejak Juni 2015, dengan Nomor Surat Tanda Bukti Pendaftran Nazhir (STBPN) 3.3.00101.

BWI menjelaskan bahwa, nazhir adalah pihak yang menerima amanah harta wakaf dari wakif (orang yang berwakaf) dan berkewajiban menjaganya, mengelolanya sesuai dengan peruntukannya, dan menyalurkan manfaatnya kepada masyarakat yang berhak (mauquf alaih).

Calon Nazhir Wakaf Uang wajib mendaftarkan diri kepada BWI dan memenuhi persyaratan Nazhir sesuai Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.

Pendaftaran Nazhir Wakaf telah diatur dalam Peraturan Badan Wakaf Indonesia No. 2 Tahun 2010.(Aid)

Baca juga: BWI Terbitkan Peta Jalan Wakaf Nasional 2024-2029

Lantik BWI Jawa Timur

Lantik Pengurus Perwakilan Jawa Timur, Ketua BWI Beri Arahan Galakkan Wakaf Catin

WAKAFDT.OR.ID | SURABAYA-Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI)  Prof. Mohammad NUH. DEA melantik Pengurus perwakilan BWI Jawa Timur periode 2024-2027 di Kantor Wilayah kementerian Agama Provinsi Jawa Timur pada Senin (22/1).

Dalam sambutannya, Ketua BWI Prof. NUH memberikan beberapa arahan kepada pengurus baru Perwakilan BWI Jawa Timur, yaitu:

  1. Menata niat, rukun dan kompak. Jangan Tengkar karena akan kehilangan 3 sekaligus (Kehilangan Energi, Kesempatan dan Keberkahan).
  2. Menjadikan wakaf sebagai lifestyle melalui sosialisasi, literasi dan Gerakan wakaf uang serta wakaf melalui uang.
  3. Amankan (sertifikasi) dan berdayakan (produktif) aset wakaf-tanah.
  4. Fokus pada program yang achievable-realistic (project-based).
  5. Perkuat sinergi dengan Kemenag, Pemerintah Daerah dan ATR/BPN serta lembaga pengelola aset umat dengan menjadi bagian dari solusi persoalan di khususnya kemiskinan, pendidikan dan kesehatan.
  6. Perbanyak Nadzir Profesional (Sertifikasi Kompetensi Nadzir).
  7. Supaya bisa terus semangat dalam mengurusi wakaf.

Selain itu, Prof Nuh juga mengatakan agar pengurus Perwakilan BWI Jawa Timur menggalakkan program wakaf calon pengantin (catin) karena potensinya dalam satu bulan bisa mencapai ratusan ribu pasangan yang menikah di jawa Timur. Ia menegaskan, bila wakaf catin dimaksimalkan, potensinya luar biasa digunakan untuk membantu membiayai anak-anak yatim dan pendidikan anak-anak korban perceraian.

“Dalam satu bulan ada sekitar 400.000 pasangan yang menikah di Jawa Timur ini potensinya sungguh luar biasa,” ujarnya.

Di samping potensinya, wakaf juga merupakan simbol keabadian, sebagaimana cinta pasangan calon pengantin.

Kegiatan ini dihadiri oleh Asisten 3, Administrasi Umum Pemkab Jawa Timur, Dr. K.H.Ahmad Jazuli; ormas islam; dan baznas provinsi.

Sumber: bwi.go.id

Baca juga: BWI Terbitkan Peta Jalan Wakaf Nasional 2024-2029

Peta Wakaf Nasional 2024-2029

BWI Terbitkan Peta Jalan Wakaf Nasional 2024-2029

WAKAFDT.OR.ID|Jakarta-Badan Wakaf Indonesia (BWI) menerbitkan Peta Jalan Wakaf Nasional 2024-2029. BWI menerbitkan Materi Peta Jalan Wakaf Nasional 2024-2029 pada Kamis (4/1) di laman resmi bwi.go.id.

Profesor Muhammd Nuh, Ketua Pelakasana BWI menegaskan Peta Jalan Wakaf Nasional ini dimaksudkan sebagai panduan transformasi dari Wakaf 1.0 menuju Wakaf 4.0.

Tahapan transformasi tersebut, jelas Prof Nuh, adalah Wakaf 1.0, yaitu wakaf yang pengelolaannya masih berbasis menaikkan jumlah wakif dan harta wakaf menjadi Wakaf 2.0 yaitu meningkatkan produktifitas pengelolaan asset wakaf agar semakin besar manfaat yang diterima mauquf alaih.

Wakaf 2.0, lanjutnya, kemudian bertansformasi menjadi Wakaf 3.0, yaitu peningkatan nilai wakaf melalui pemilihan sistem distribusi manfaat kepada mauquf alaih yang berdampak maksimum. Puncaknya Wakaf 4.0, yaitu puncaknya adalah ketika mauquf alaih sebagai wakif baru.

“Dengan diterbitkannya Peta Jalan Wakaf Nasional 2024-2029 yang dalam penyusunannya melibatkan seluruh stakeholder perwakafan, InsyaAllah pengembangan perwakafan nasional semakin terarah, terstruktur, terukur dan sistemik,” harapnya.

Prof Nuh menegaskan untuk memperkuat terwujudnya transformasi sampai Wakaf 4.0, tidak ada cara lain kecuali dengan memperkuat nadzir dan menjadikan mereka semakin kompeten. Karena nadzir adalah pengelola harta wakaf. (Aid)

Baca juga: Rakornas BWI, Wakil Presiden: Wakaf Uang Capai Rp 2,361 Triliun dan Tanah Wakaf 57.263 Hektare

Rakornas BWI, Wakil Presiden: Wakaf Uang Capai Rp 2,361 Triliun dan Tanah Wakaf 57.263 Hektare

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA — Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin menyebut angka fantastis yang terkait wakaf di Indonesia. Berdasarkan catatan Badan Wakaf Indonesia (BWI),

Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyampaikan apresiasi atas pencapaian dan pengembangan wakaf yang cukup signifikan.

Wakaf tanah seluas 57.263 hektare dan 440.512 bidang, rata-rata pertumbuhannya delapan persen dalam tiga tahun terakhir. Di samping itu sertifikasi tanah wakaf telah mencapai 236.511 ribu sampai dengan tahun 2023.

“Juga telah terhimpun wakaf uang yang dilaporkan ke BWI senilai Rp2,361 triliun di tahun 2023, naik dari posisi tahun 2021 senilai Rp1,04 triliun,” kata Ma’ruf saat membuka Rakornas BWI pada Senin 4 Malam Desember 2023.

Wapres menjelaskan kemajuan dan pencapaian di bidang wakaf juga ditandai dengan terbentuknya standar kompetensi nadzir, dengan jumlah nadzir serta stakeholder perwakafan yang telah tersertifikasi sebanyak 3.855 orang asesi dengan pilihan 10 skema kompetensi yang diujikan.

Selain itu, terbentuknya 113 asesor, dan 83 batch pelaksanaan sertifikasi yang diselenggarakan di 64 tempat uji kompetensi di seluruh Indonesia sampai bulan November 2023.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

(Sumber: BWI)

Alhamdulillah, Wakaf DT Raih Predikat ‘Sangat Baik’ Dari BWI

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA – Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid, sebagai salah satu lembaga penghimpunan dan pengelola aset wakaf telah terdaftar secara resmi di BWI.

BWI sendiri merupakan badan yang secara resmi ditunjuk oleh pemerintah untuk mengawasi dan mengatur tentang wakaf dan juga wakaf di Indonesia tentu memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengawasan dan penilaian terhadap lembaga wakaf yang ada di Indonesia.

Salah satu lembaga wakaf yang baru saja mendapatkan pengawasan dan juga hasil evaluasi untuk periode 2022 adalah Wakaf Daarut Tauhiid. Hasil dari evaluasi BWI terhadap Wakaf Daarut Tauhiid berisi sebagaimana dibawah ini.

Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Administrasi Pendaftaran Wakaf Uang mengatur bahwa Badan Wakaf Indonesia (BWI) melakukan pengawasan pengelolaan dan pengembangan wakaf uang yang dilakukan oleh Nazhir melalui laporan tahunan, monitoring dan evaluasi pengelolaan dan pengembangan wakaf uang yang dilakukan oleh Nazhir.

Hasil pengawasan BWI tersebut digunakan sebagai dasar penilaian kinerja dan sebagai bahan pembinaan terhadap Nazhir. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka BWI cq Divisi Pengawasan dan Tata Kelola telah melakukan evaluasi atas pengelolaan wakaf uang dan wakaf melalui uang di Wakaf Daarut Tauhiid periode tahun 2022.

Tujuan evaluasi atas pengelolaan wakaf uang dan wakaf melalui uang di Wakaf Daarut Tauhiid periode tahun 2022 adalah:

  1. Memastikan bahwa kegiatan Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf Uang oleh Wakaf Daarut Tauhiid telah dilaksanakan secara efektif, transparan, dan akuntabel sesuai dengan ketentuan, standar, rencana, atau norma yang telah ditetapkan.
  2. Memberikan saran jika dijumpai ketidaksesuaian pelaksanaan Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf Uang dengan ketentuan, standar, rencana, atau norma yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hasil evaluasi dapat disimpulkan bahwa Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf Uang di Wakaf Daarut Tauhiid (DT) mencapai predikat kategori “SANGAT BAIK”, dengan skor 82.40 dari Total 100 atau mencapai 82.40%.

“Alhamdulillah, Wakaf Daarut Tauhiid mendapatkan predikat kategori sangat baik, pencapaian tersebut tentunya tidak lepas dari pertolongan Allah. Semoga melalui kabar baik ini Wakaf Daarut Tauhiid bisa semakin amanah dalam menjalankan amanah ummat dalam mengelola wakaf,” ungkap salah satu perwakilan dari tim Wakaf Daarut Tauhiid. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Dirzawa Sampaikan Lima Pesan Kepada Jajaran Pengelola Zakat dan Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA – Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Dirzawa) telah menggelar koordinasi dan konsolidasi secara daring dengan jajaran pengelola zakat dan wakaf pusat dan daerah, pada (4/9/2023).

Sebanyak 500 peserta bergabung dalam rapat online yang dipimpin Dirzawa Waryono Abdul Gafur. Seluruh peserta merupakan pengelola zakat dan wakaf di Kanwil Kementerian Agama Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Waryono menekankan pentingnya koordinasi, kolaborasi dan sinergi dalam pengelolaan zakat dan wakaf agar dapat menghadirkan kemaslahatan umat yang lebih besar dan mampu memperkuat ekosistem.

Ada lima pesan yang disampaikan Waryono dalam pembinaannya. Pertama, masing-masing Kanwil agar dibuat per zona.

“Ini penting dilakukan agar setiap permasalahan dapat diselesaikan dahulu dengan zona masing-masing, dan jangan langsung disampaikan ke pusat,” ujarnya di Jakarta.

“Kedua, Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf sesuai dengan namanya yaitu pemberdayaan, setiap pegawainya harus memiliki tekad untuk menguatkan selain dirinya sendiri tapi juga organisasi di bawah,” sambungnya.

Pesan ketiga, kata Waryono, setiap pegawai harus merajut dengan baik hubungan dengan lembaga amil zakat yang didirikan oleh masyarakat.

Mereka adalah stakeholder strategis, selain Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) dan BWI (Badan Wakaf Indonesia). “Di sinilah perlunya hubungan internal dan eksternal yang kuat,” tambahnya.

Keempat, lanjut Waryono, para pengelola zakat dan wakaf juga harus memiliki program-program yang inovatif agar dapat menciptakan orang yang bodoh menjadi pintar, yang lemah menjadi kuat, yang kurang mampu menjadi lebih mampu, yang belum memiliki jejaring memiliki jaringan.

“Kelima, seluruh Kanwil Provinsi dan Kabupaten/ Kota agar mulai menginventarisir masalah di daerahnya dan tentu solusinya seperti apa. Sehingga, dapat dipetakan untuk anggaran tahun 2024, tentunya agar program dapat berjalan dengan baik,” sebutnya.

Waryono berharap koordinasi dan kolaborasi yang dilakukan dapat membawa perubahan positif dalam pengelolaan zakat dan wakaf di Indonesia sehingga memberikan kontribusi nyata dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat yang membutuhkan. (Noviana)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

(Sumber: Kemenag)

Hal yang Dilarang dalam Berwakaf

WAKAFDT.OR.IDWakaf bisa dipahami sebagai sebuah upaya menyerahkan sebagian harta benda untuk dimanfaatkan, baik sementara atau selamanya, sesuai kepentingan guna keperluan ibadah atau kesejahteraan umum menurut syariat.

Harta benda yang diwakafkan tidak hanya berkutat pada wakaf tanah, namun kini sudah berkembang ke wakaf tunai seperti uang, logam mulia, dan saham.

Perkembangan itulah yang harus dipahami wakif, pihak pengelola wakaf, dan masyarakat umum yang ingin berwakaf supaya nantinya bisa meminimalisir permasalahan wakaf.

Potensi permasalahan wakaf bisa muncul jika syarat-syarat wakaf dilanggar, semisal tidak ada ikrar wakaf.

Ikrar wakaf bukan hanya wajib dihadiri saksi yang memenuhi syarat, tetapi juga harus dituangkan dalam dokumen hukum bernama Akta Ikrar Wakaf.

Dalam ketentuan UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Ada sejumlah perbuatan hukum yang dilarang. Pasal 40 UU Wakaf mengatur secara khusus perubahan status harta benda wakaf.

Ada tujuh perbuatan hukum yang dilarang dilakukan di antaranya ialah: dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, diwariskan, ditukar, atau dialihkan dalam bentuk pengalihan lainnya.

Beberapa pengecualian diatur dalam Pasal 41 UU Wakaf dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.

Misalnya, perbuatan menukar harta benda wakaf dapat dikecualikan jika harta benda wakaf yang telah diwakafkan digunakan untuk kepentingan umum, sesuai peraturan perundang-undangan dan tidak bertentangan dengan syariah.

Setidaknya ada dua syarat yang ditentukan jika terjadi penukaran harta benda wakaf. Pertama, penukaran hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin tertulis dari Menteri Agama atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia.

Kedua, harta benda pengganti harus punya manfaat dan nilai lebih atau setidak-tidaknya sama dengan harta benda wakaf yang ditukar.

Pasal 67 UU Wakaf memuat ancaman pidana bagi siapapun yang melakukan perbuatan terlarang sebagaimana dimaksud Pasal 40 UU Wakaf.

Tidak hanya mengancam warga, orang yang mengelola harta benda wakaf (nadzir) pun dapat dihukum jika melakukan perubahan peruntukan harta wakaf tanpa izin.

Mengingat persoalan hukum yang mungkin timbul, maka perubahan status harta benda wakaf juga dibuat ketat. Menteri Agama pun tidak dapat sembarangan memberikan izin perubahan status.

Setidaknya ada tiga hal yang harus dipertimbangkan Menteri Agama, selain pandangan Badan Wakaf Indonesia.

Pertama, Menteri harus bisa memastikan bahwa perubahan harta benda wakaf digunakan untuk kepentingan umum sesuai Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) sesuai peraturan perundang-undangan dan tidak bertentangan dengan syariah.

Kedua, apakah harta benda wakaf tidak dapat dipergunakan sesuai dengan ikrar wakaf. Ketiga, memastikan bahwa pertukaran dilakukan untuk keperluan keagamaan secara langsung dan mendesak.

Ini berarti bahwa perbuatan hukum yang mengakibatkan perubahan status hukum harta benda wakaf tidak bisa sembarangan dilakukan. Ada implikasi hukum perdata, agama, dan pidana jika larangan yang disebut dalam UU Wakaf diterobos. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

(Sumber: BWI)

Jadi Narasumber MQ Pagi, Emmy (BWI): Banyak Hal yang Diwariskan Islam kepada Dunia

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Wakil Sekretaris Badan Wakaf Indonesia (BWI) drh. Emmy Hamidiyah, M.E. sampaikan tentang peran wakaf dalam peradaban Islam, pada Kajian MQ Pagi (23/8/2023).

Dalam kajian spesial tersebut, Emmy mengatakan bahwa wakaf termasuk ke dalam penggerak masa kejayaan Islam, hal ini didukung oleh antusiasme para sahabat dan umat terdahulu dalam berwakaf.

“Begitu banyak hal yang diwariskan umat Islam kepada dunia yang berjalan saat ini, dan yang bisa menggerakkan kejayaan Islam dahulu antara lain adalah wakaf,” ujar Emmy.

Wakaf merupakan gerakan filantropi terbesar umat Islam. Wakaf terlebih dahulu dilakukan oleh Rasulullah, ketika mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid.

Sedangkan wakaf produktif, pertama kali dilakukan oleh sabat Umar r.a ketika mewakafkan tanahnya di Khaibar.

Di kesempatan itu, Emmy menyampaikan kisah wakaf Umar dalam sebuah hadits, Dari Ibnu Umar ra, ia berkata:

“Bahwa sahabat Umar ra, memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian Umar ra, menghadap Rasulullah SAW untuk meminta petunjuk, Umar  berkata: “Hai Rasulullah SAW, saya mendapat sebidang tanah di Khaibar, saya belum mendapat harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Rasulullah SAW bersabda: “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan.

Ibnu Umar berkata: “Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah Ibnu sabil, dan tamu, dan tidak dilarang bagi yang mengelola (nazhir) wakaf makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau member makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta.”

Emmy menambahkan, contoh lain seperti wakaf Utsman bin Affan yang terus menerus mengalir hingga saat ini, berupa hotel Usman bin Affan yang berawal dari sumur yang ia beli dari Yahudi.

“Sahabat Usman pasti tersenyum di alam kuburnya, dikarenakan pahala jariyah yang ia tuai terus menerus mengalir,” tutur Emmy.

Emmy menambahkan, wakaf berperan dalam segala sektor termasuk sektor pendidikan.

Contoh saja Universitas Al-Azhar Mesir, universitas tertua ke-2 di dunia yang sangat berkaitan dengan wakaf.

Universitas ini telah mampu mendidik ratusan ribu mahasiswa dengan gratis dari berbagai belahan dunia.

“Tidak ada satupun universitas didunia yang memberikan beasiswa sebanyak Al-Azhar yang dilakukan selama bertahun-tahun,” ungkap Emmy.

Hal ini dikarenakan Al-Azhar mampu mengelola dana wakaf yang sangat luar biasa, tidak hanya pendidikan, Al-Azhar juga mampu mengelola ribuan lahan produktif dan berbagai sektor lainnya.

Selain itu, gerakan wakaf umat Islam juga telah menyumbangkan berbagai fasilitas di dunia, seperti halnya rumah sakit gratis di Baghdad, jalur kereta api di Hejaz, dan masih banyak lagi.

“Di Indonesia, Ormas Muhammadiyah telah mengelola 400 triliun aset wakaf, sedangkan dikalangan NU dan lain-lain telah memiliki sebanyak 26 ribu ponpes,” terang Emmy.

Dalam kesempatan tersebut, Emmy mengajak umat Islam untuk mengindahkan gerakan wakaf, dikarenakan kebermanfaatan wakaf yang menjangkau masyarakat luas dan sifatnya yang abadi.

Sehingga menjadikan pewakaf dan pengelolanya memiliki amal jariyah yang pahalanya tak terputus walau telah wafat. (Noviana)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Pertama Kali Digelar, FWI Diharapkan Mampu Mendongkrak Pengembangan Wakaf Indonesia

WAKAFDT.OR.ID | SURABAYA – Gerakan Wakaf Indonesia (GWI) gelar Festival Wakaf Indonesia (FWI) 2023 pada (12/8/2023). Festival ini berlangsung di Convention Hall Grand City Surabaya.

Hal ini merupakan kali pertama GWI menggelar Festival Wakaf Indonesia (FWI) 2023.

Susi Susiatin, Ketua umum GWI mengatakan, FWI diselenggarakan pada moment tahun baru hijriah agar dapat menjadi spirit baru dan tahun kebangkitan dalan sejarah pengembangan wakaf kedepannya.

Festival ini berkolaborasi dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa TImur.

Festival tersebut telah sukses diselenggarakan, dimeriahkan oleh berbagai acara, diantaranya; Focus Group Discussion (FGD), Business Matching, Sertifikasi Kompetensi Nazhir Wakaf, Seminar Wakaf Produktif UMKM, berbagai lomba, pameran dan Wakif Gathering.

“Tujuan diselenggarakannya FWI adalah untuk menggali potensi dan mengembangkan pemberdayaan wakaf di Indonesia agar lebih memiliki nilai manfaat,” terang Susi.

Susi mengutarakan, potensi wakaf di Indonesia sangatlah besar, mengutip dari BWI, potensi wakaf uang di Indonesia mencapai 180 triliun, namun kenyataan di lapangan membuktikan dana wakaf yang terkumpul masih jauh dari potensi yang ada.

“Kami menyelenggarakan FWI ini secara makro bertujuan untuk pengembangan wakaf secara menyeluruh dan berkesinambungan sehingga bisa menyiapkan strategi untuk menjawab tantangan wakaf yang cukup besar didepan kita,” tambahnya.

Menurut Susi, secara mikro bisa mengajak seluruh stakeholder untuk mengkampanyekan wakaf produktif dengan masif, baik bagi usia produktif juga kaum milenial.

Ia beranggapan, wakaf tidak hanya menyerahkan kepemilikan kepada Allah, namun juga bisa berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Wakaf produktif menjadikan wakaf sebagai sebuah ekosistem baru yang sangat bermanfaat bagi banyak orang.

Susi berharap, adanya FWI tersebut dapat menjadi milestone dan menjadikan adanya kemajuan dalam proses pengembangan wakaf ke depannya.

Ia menambahkan, acara business matching yang pertama kali diselenggarakan ini diharapkan bisa membangun kepercayaan diri dan memotivasi para nazhir untuk optimis dalam pengelolaan harta benda wakaf.

Para pengusaha dan pelaku UMKM memiliki cara baru dalam mengembangkan usaha, yakni dengan membangun sinergi bersama nazhir sehingga akan terbentuk ekosistem baru dalam pengembangan wakaf,

“Kami ingin menjadikan event FWI 2023 ini sebagai event tahunan sehingga keberlanjutannya bisa memperkuat positioning wakaf sebagai penguat ekonomi syariah dan menjadikan wakaf sebagai life style,” tutur Susi.

“Jadikan wakaf sebagai life style, wakaf bukan karena mampu tapi karena mau,” pungkasnya. (Noviana)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

(sumber: SurabayaPost.id)