Wakaf Daarut Tauhiid

Banjir Sumatera

Sambut Ramadan 2026, Wakaf DT Luncurkan W-RUN: Misi Kemanusiaan untuk Sumatra hingga Palestina

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Menyambut bulan suci Ramadan 1447 H/2026 M, lembaga Wakaf Daarut Tauhiid (DT) resmi meluncurkan program unggulan bertajuk Wakaf Ramadhan Untuk Negeri (W-RUN).

Mengusung tagline “Lipat Gandakan Manfaat Jariyah Hingga Akhirat”, program ini hadir sebagai jembatan bagi masyarakat yang ingin memaksimalkan ibadah melalui wakaf yang berdampak luas.

Tahun ini, W-RUN memfokuskan sebagian besar energinya untuk membantu pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatra serta aksi kemanusiaan global.

Membangun Kembali Spirit Spiritual di Wilayah Bencana

Data dari Kementerian Agama menyebutkan sebanyak 1.137 masjid mengalami kerusakan akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menanggapi hal tersebut, Wakaf DT menghadirkan dua pilar utama dalam W-RUN:

Wakaf Bangun Kembali Masjid: Program ini tidak hanya sekadar renovasi fisik, tetapi mencakup pembersihan area hingga pembangunan kembali masjid yang roboh. Tujuannya jelas: mengembalikan pusat peradaban dan ibadah bagi penyintas bencana.

Wakaf Mushaf Al-Qur’an: Dikhususkan bagi masyarakat di titik banjir Sumatra. Wakaf ini diharapkan menjadi penguat spiritual bagi para pengungsi untuk bangkit dari masa sulit. “Lewat wakaf ini, kebaikan kita tak berhenti di satu waktu, tapi terus mengalir menguatkan mereka,” tulis pernyataan resmi Wakaf DT.

Wakaf BISA (Bersama Untuk Sesama): Menghapus Sekat, Memperluas Akses Jariyah

Salah satu terobosan dalam W-RUN 2026 adalah program Wakaf BISA (Bersama untuk Sesama). Program ini dirancang untuk meruntuhkan stigma bahwa wakaf harus berupa tanah ribuan meter atau nominal yang fantastis.

Melalui Wakaf BISA, masyarakat dapat berkontribusi mulai dari nominal kecil untuk berbagai sektor, antara lain:

  • Bantuan Wilayah Bencana di dalam negeri.
  • Solidaritas Palestina sebagai wujud kepedulian internasional.
  • Wakaf Produktif untuk pemberdayaan ekonomi umat jangka panjang.

“Kini, wakaf bukan lagi soal aset raksasa, tapi soal niat tulus yang diwujudkan dengan nyata. Kami ingin memastikan setiap orang punya kesempatan yang sama untuk memiliki investasi akhirat,” ungkap perwakilan Wakaf DT.

Investasi Terbaik di Bulan Suci

Ramadan dikenal sebagai bulan di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan. Melalui W-RUN, Wakaf DT mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak hanya mengejar pahala personal, tetapi juga menciptakan manfaat kolektif yang abadi (jariyah).

Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi, informasi lengkap mengenai mekanisme penyaluran dapat diakses melalui kanal resmi Wakaf Daarut Tauhiid. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Sambut Ramadan 2026, Wakaf DT Luncurkan W-RUN: Misi Kemanusiaan untuk Sumatra hingga Palestina Read More »

Mushaf Baru untuk Zahrani, Calon Dokter Penghafal Al-Qur’an

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI – Sisa-sisa lumpur mungkin masih membekas di sudut-sudut Desa Huta Godang, Tapanuli, Sumatera Utara, namun binar di mata Zahrani Sitompul seolah menghapus duka yang sempat menyelimuti tanah kelahirannya.

Banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu tidak hanya menghanyutkan harta benda, tetapi juga membawa pergi suara riuh mengaji yang biasanya terdengar setiap sore.

Masjid tempat anak-anak berkumpul runtuh, dan mushaf-mushaf yang biasa mereka dekap kini terkubur atau hanyut terbawa arus deras.

Namun, harapan itu kembali hadir pada periode 23-25 Januari 2026. Tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) hadir di tengah puing-puing sisa bencana untuk mendistribusikan mushaf Al-Qur’an baru bagi para penyintas, salah satunya adalah Zahrani.

Cita-Cita Mulia dari Desa Huta Godang

Zahrani, seorang siswi kelas 6 SD Garoga, bukanlah anak yang mudah menyerah. Di usianya yang masih belia, ia telah menanamkan cita-cita yang luhur: menjadi seorang dokter.

“Saya ingin jadi dokter karena ingin menolong orang lain,” ucapnya dengan nada yakin. Baginya, melihat penderitaan warga saat bencana banjir terjadi semakin menguatkan tekadnya untuk bisa memberikan manfaat bagi sesama di masa depan.

Tak hanya akademis, Zahrani juga seorang pejuang Al-Qur’an. Hingga saat ini, ia telah berhasil menjaga hafalan enam surat pendek di luar kepala. Namun, proses hafalannya sempat terhenti total sejak bencana melanda. Tanpa mushaf dan tempat mengaji, hari-harinya terasa ada yang kurang.

Kembali Mengaji Setelah Sekian Lama Senyap

Saat jemari kecilnya menyentuh sampul mushaf baru dari Wakaf DT, senyum Zahrani merekah. Baginya, ini bukan sekadar buku, melainkan jembatan untuk kembali menyambung hafalannya yang sempat terputus.

“Senang sekali rasanya. Sejak awal bencana sampai sekarang, saya dan teman-teman belum bisa mengaji lagi. Masjid dan Al-Qur’an kami semuanya hanyut dan rusak karena banjir,” ungkap Zahrani dengan mata berkaca-kaca.

Kehadiran Al-Qur’an ini seolah menjadi simbol dimulainya kembali kehidupan spiritual di desa mereka. Suara lantunan ayat suci yang sempat senyap, kini siap menggema kembali dari rumah-rumah darurat dan tenda pengungsian.

Titipan Doa untuk Para Muwakif

Dalam momen penuh haru tersebut, Zahrani tak lupa menitipkan pesan mendalam bagi para donatur atau muwakif yang telah menyisihkan sebagian rezekinya melalui program Wakaf DT.

“Terima kasih banyak kepada orang-orang baik (muwakif) yang sudah memberi Al-Qur’an ini. Terima kasih sudah membantu kami supaya bisa mengaji lagi. Semoga Allah membalas kebaikan semuanya,” pungkasnya.

Distribusi mushaf ini menjadi pengingat bahwa di tengah duka bencana, dukungan spiritual adalah fondasi penting untuk bangkit.

Melalui setiap ayat yang nantinya dibaca oleh Zahrani dan kawan-kawannya, mengalirlah pahala jariyah bagi mereka yang peduli, sekaligus merajut kembali mimpi sang calon dokter dari Tapanuli ini. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Mushaf Baru untuk Zahrani, Calon Dokter Penghafal Al-Qur’an Read More »

Sampai Hari Ini Sebanyak 105.842 Jiwa Masih Mengungsi Akibat Banjir Sumatera

WAKAFDT.OR.ID | MEDAN — Memasuki awal Februari 2026, duka mendalam masih menyelimuti wilayah terdampak bencana. Berdasarkan laporan terbaru hingga Senin (2/2), tercatat sebanyak 1.204 jiwa meninggal dunia, sementara 140 orang lainnya masih dinyatakan hilang dalam pencarian.

Di tengah masa sulit ini, upaya pemulihan terus digenjot oleh pemerintah melalui BNPB, dengan fokus utama pada penyediaan tempat tinggal dan fasilitas publik:

Penyediaan Hunian Sementara (Huntara): Dari total target 17.332 unit yang direncanakan, sebanyak 5.039 unit kini telah rampung dikerjakan dan sudah bisa langsung ditempati oleh para pengungsi.

Akselerasi Infrastruktur: Selain hunian, perbaikan fasilitas umum menjadi prioritas utama. Langkah ini diambil sebagai fondasi penting untuk membangkitkan kembali denyut ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat yang sempat lumpuh.

Pemerintah menekankan bahwa kecepatan perbaikan fisik di lapangan berbanding lurus dengan kecepatan pemulihan mental dan finansial warga terdampak. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Sampai Hari Ini Sebanyak 105.842 Jiwa Masih Mengungsi Akibat Banjir Sumatera Read More »

Bagaimana Wakaf Produktif Bisa Membangun Kembali Sumatera Pasca Bencana?

WAKAFDT.OR.ID | SUMATERA — Bagi para penyintas di pengungsian, kabar mengenai pembangunan kembali masjid memberikan energi baru. Kehadiran program ini memastikan bahwa rekonstruksi fasilitas ibadah tidak akan terhenti di tengah jalan karena kekurangan dana.

Satu kali berwakaf, pahalanya terus mengalir seiring berputarnya roda bisnis produktif, dan manfaatnya dirasakan nyata oleh para korban banjir dalam bentuk fisik masjid yang lebih kokoh dan nyaman.

Mekanisme “Investasi Akhirat” yang Berkelanjutan

Skema yang dijalankan Wakaf DT untuk Sumatera ini terbilang unik dan visioner:

  • Penghimpunan Dana: Wakaf tunai dikumpulkan dari masyarakat melalui kampanye Cash Wakaf for Humanity.
  • Produktivitas Modal: Dana tersebut dikelola sebagai modal kerja di sektor riil produktif milik DT, seperti peternakan, perkebunan, atau unit ritel lainnya yang dikelola secara profesional.
  • Alokasi Surplus: Hasil keuntungan (surplus) dari pengelolaan bisnis produktif inilah yang kemudian dialokasikan secara rutin untuk pemulihan Sumatera.
  • Fokus Pembangunan: Prioritas utama adalah pembangunan kembali dan perbaikan fasilitas ibadah yang rusak agar masyarakat bisa kembali bersujud dengan layak.

Dengan model ini, nilai pokok wakaf tetap utuh dan terus berputar di sektor ekonomi, sementara “buah” atau keuntungan dari bisnis tersebut menjadi sumber dana abadi untuk membangun masjid-masjid di pelosok Sumatera yang terdampak banjir.

Banjir mungkin telah melenyapkan harta benda, namun melalui sinergi wakaf produktif, masyarakat Sumatera diingatkan bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Harapan itu kini sedang dibangun kembali—pelan namun pasti—lewat tiap rupiah wakaf yang diproduktifkan untuk kemanusiaan. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Bagaimana Wakaf Produktif Bisa Membangun Kembali Sumatera Pasca Bencana? Read More »

Menembus “Lautan Kayu” Sekumur: Perjuangan Wakaf DT Antarkan Mushaf dengan Perahu Kecil

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Masih lekat dalam ingatan publik sebuah video viral yang memperlihatkan Desa Sekumur tertutup hamparan ribuan batang pohon kayu yang hanyut dari gunung.

Desa di pelosok Aceh Tamiang ini sempat menyerupai “lautan kayu” pasca-banjir bandang yang meluluhlantakkan infrastruktur. Namun, di balik tumpukan material alam tersebut, ada warga yang sedang berjuang menyambung hidup dan menjaga iman.

Pada 21-22 Januari 2026, tim Wakaf DT (Daarut Tauhiid) bersama para relawan kemanusiaan melakukan misi yang tak biasa. Mereka bergerak membawa amanah para muwakif: mendistribusikan mushaf Al-Qur’an ke jantung wilayah yang terisolasi tersebut.

Perjalanan di Atas Air dan Terjalnya Jalur Darat

Mencapai Desa Sekumur bukanlah perkara mudah. Sejak jembatan utama runtuh diterjang arus banjir yang dahsyat, akses logistik lumpuh total. Perjalanan tim dimulai dengan menempuh jalur darat yang terjal dan licin, sebelum akhirnya tiba di pinggir sungai yang memisahkan mereka dengan desa tujuan.

Tanpa jembatan, satu-satunya cara adalah dengan memindahkan tumpukan kardus mushaf ke atas perahu kayu kecil.

“Kami harus memastikan setiap mushaf tetap kering dan aman. Perahu kecil ini adalah satu-satunya penyambung asa kami untuk sampai ke seberang,” ungkap salah satu relawan di lokasi.

Ayunkan dayung dan deru mesin perahu kecil membelah arus sungai yang masih tampak keruh, membawa beban yang jauh lebih berharga dari sekadar kertas: yakni bimbingan spiritual bagi warga yang sedang berduka.

Menata Harapan di Tengah Puing-Puing

Setibanya di Desa Sekumur, pemandangan memilukan menyambut tim. Batang-batang pohon raksasa masih berserakan di sela-sela rumah warga yang rusak. Desa yang dulunya asri, kini tampak seperti medan tempur melawan alam.

Meski kondisi fisik desa porak-poranda, kedatangan tim Wakaf DT membawa atmosfer yang berbeda. Penyaluran mushaf Al-Qur’an ini disambut haru oleh warga. Bagi mereka, kehilangan harta benda memang berat, namun kehilangan sarana untuk beribadah dan mengaji terasa lebih menyesakkan.

Misi distribusi ini mencakup:

  • Penyaluran mushaf Al-Qur’an baru untuk mengganti yang rusak/hanyut.
  • Pendataan kebutuhan fasilitas ibadah darurat.
  • Pemberian dukungan moral bagi warga di wilayah terisolasi.

Iman yang Tetap Kokoh

Banjir boleh saja meruntuhkan jembatan dan menghanyutkan rumah, namun semangat warga Sekumur untuk tetap dekat dengan Al-Qur’an terbukti tak tergoyahkan.

Kehadiran relawan di tanggal 21-22 Januari tersebut menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dari para donatur mampu menembus hambatan geografis seberat apa pun.

Kini, meski harus menyeberang sungai dengan perahu dan berjalan di antara batang pohon yang berserakan, warga Desa Sekumur memiliki kawan baru dalam kesunyian mereka: ayat-ayat suci yang baru saja mendarat di tangan mereka. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menembus “Lautan Kayu” Sekumur: Perjuangan Wakaf DT Antarkan Mushaf dengan Perahu Kecil Read More »

Masjid Hanyut Tak Menyurutkan Iman: Cahaya Mushaf Baru di Desa Alur Jambu

WAKAFDT.OR ID | ACEH TAMIANG – Di Desa Alur Jambu, bentang alam yang biasanya hijau kini berganti rupa menjadi hamparan sisa kayu dan endapan lumpur yang mengering. Suara aliran sungai yang biasanya menenangkan, kini menyisakan trauma mendalam bagi warga.

Di desa ini, banjir bandang bukan sekadar datang dan pergi; ia membawa serta nadi kehidupan warga: Masjid desa mereka.

Pada 21-22 Januari 2026, tim Wakaf DT (Daarut Tauhiid) bersama gabungan relawan menembus medan yang sulit untuk mencapai desa ini. Mereka datang membawa lebih dari sekadar logistik, melainkan membawa harapan dalam bentuk makanan, pakaian, dan tumpukan mushaf Al-Qur’an yang baru.

Saat Rumah Allah Raib Diterjang Arus

Bapak Hasan, salah satu tokoh warga Desa Alur Jambu, berdiri di sebuah lahan kosong yang kini hanya menyisakan beberapa bongkah semen. Dengan tatapan nanar, ia menunjuk ke arah aliran sungai.

“Masjid kami habis, hancur, dan hanyut terbawa banjir. Tidak ada yang tersisa,” kenang Pak Hasan dengan suara berat.

Bagi warga, kehilangan masjid berarti kehilangan segalanya. Selama berhari-hari pascabencana, mereka tidak hanya berjuang melawan rasa lapar karena sulitnya akses pangan dan papan, tetapi juga kehilangan tempat bernaung untuk mengadu kepada Sang Pencipta. Aktivitas mengaji yang biasanya meramaikan sore hari seketika senyap.

Semangat yang Tak Bisa Dihanyutkan

Namun, di tengah puing-puing kehancuran, ada sesuatu yang tidak bisa disapu oleh banjir bandang: Semangat.

Pak Hasan menceritakan bahwa meski masjid sudah rata dengan tanah dan mereka hidup dalam keterbatasan di pengungsian, anak-anak dan ibu-ibu di Desa Alur Jambu tetap memendam kerinduan untuk mengaji. Mereka ingin kembali melantunkan ayat suci, meski harus beralaskan terpal dan beratapkan langit.

Kehadiran tim Wakaf DT yang membawa mushaf Al-Qur’an baru seolah menjadi jawaban atas doa-doa mereka. Wajah-wajah letih itu seketika cerah saat jemari mereka menyentuh lembaran mushaf yang bersih dan harum.

“Kami sangat bersyukur. Dengan mushaf baru ini, anak-anak dan ibu-ibu di sini pasti akan lebih semangat lagi belajar Qur’an. Ini adalah awal bagi kami untuk membangun kembali jiwa kami yang sempat terpuruk,” ungkap Pak Hasan.

Doa dari Ujung Aceh Tamiang

Pak Hasan menitipkan pesan mendalam untuk para muwakif (pewakaf) yang telah mengulurkan tangan. Baginya, bantuan ini datang di saat yang paling krusial, di mana kebutuhan batin sama mendesaknya dengan kebutuhan perut.

“Semoga rejeki para muwakif terus melimpah. Terima kasih telah membantu kami di saat kami benar-benar terjepit. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan ini,” tutupnya dengan tulus.

Matahari mulai terbenam di Alur Jambu. Masjid mereka mungkin memang sudah hanyut, namun di balik tenda-tenda darurat malam ini, suara lantunan Al-Qur’an akan kembali terdengar—lebih kencang dan lebih bersemangat dari sebelumnya. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR ID

Masjid Hanyut Tak Menyurutkan Iman: Cahaya Mushaf Baru di Desa Alur Jambu Read More »

Menjemput Harapan di Balik Lumpur: Syukur Warga Batang Ara Atas Mushaf Wakaf DT

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Sisa-sisa lumpur masih membekas di dinding bangunan yang bertahan, namun duka yang lebih dalam tertinggal di tanah lapang tempat rumah-rumah warga dulunya berdiri.

Di Kampung Batang Ara, Desa Damai, Kecamatan Bandar Pusaka, banjir bandang bukan sekadar air yang lewat; ia adalah kekuatan besar yang menyapu bersih harta benda, tempat tinggal, hingga fasilitas ibadah ke dalam aliran arus yang dingin.

Di tengah puing-puing itu, pada tanggal 21-22 Januari 2026, secercah harapan datang. Tim Wakaf DT (Daarut Tauhiid) bersama para relawan menembus akses yang sulit untuk menyalurkan bantuan berupa mushaf Al-Qur’an dan alat shalat bagi warga yang kini tak lagi memiliki apa-apa.

Kehilangan yang Tak Terlukiskan

Bagi warga setempat, banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu adalah mimpi buruk yang nyata. Rumah-rumah hanyut tersapu air, menyisakan fondasi yang kosong.

Mushalla dan masjid yang menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual mereka tak luput dari terjangan air, merusak fasilitas ibadah serta menghanyutkan alat-alat shalat milik warga.

Muhammad Rafli, salah seorang warga asli Kampung Batang Ara, berdiri di antara sisa-sisa desanya dengan mata yang berkaca-kaca. Mewakili warga lainnya, ia menceritakan betapa berartinya kehadiran bantuan di saat mereka merasa kehilangan segalanya.

“Kami kehilangan tempat bernaung, pakaian, dan harta benda. Bahkan untuk shalat dan mengaji pun kami kesulitan karena alat shalat dan Al-Qur’an kami semua hanyut terbawa banjir,” ujar Rafli dengan suara bergetar.

Cahaya di Tengah Ujian

Kehadiran Tim Wakaf DT di lokasi bencana menjadi pelipur lara. Penyaluran mushaf Al-Qur’an baru ini bukan sekadar pemberian barang fisik, melainkan simbol bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi ujian ini. Bagi warga Batang Ara, membaca Al-Qur’an adalah cara mereka untuk tetap teguh dan tenang di tengah bencana.

“Kami sangat berterima kasih kepada Wakaf DT dan para donatur. Bantuan mushaf ini sangat berarti bagi kami untuk kembali menghidupkan kegiatan ibadah di sini. Ini memberi kami kekuatan untuk bangkit kembali,” lanjut Rafli dengan nada penuh syukur.

Selama dua hari penyaluran, para relawan tidak hanya membagikan bantuan, tetapi juga mendengarkan keluh kesah warga yang kini harus memulai hidup dari nol. Meski kondisi infrastruktur masih memprihatinkan, senyum tipis mulai terlihat di wajah para warga saat memeluk mushaf baru mereka.

Komitmen untuk Terus Mendampingi

Aksi kemanusiaan ini menjadi pengingat bahwa di balik musibah, selalu ada tangan-tangan yang siap merangkul. Wakaf DT berkomitmen untuk terus memantau perkembangan di Desa Damai, memastikan bahwa kebutuhan spiritual dan mental warga tetap terjaga di masa pemulihan pascabencana.

Kini, di bawah tenda-tenda darurat dan bangunan yang tersisa, lantunan ayat suci kembali terdengar di Kampung Batang Ara. Sebuah bukti bahwa meski rumah bisa hanyut, iman dan harapan akan tetap kokoh di hati mereka. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjemput Harapan di Balik Lumpur: Syukur Warga Batang Ara Atas Mushaf Wakaf DT Read More »

Asa Nasya di Garoga, Mimpi Baju Loreng dari Desa yang “Hilang”

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI – Peta Desa Garoga mungkin kini telah berubah total. Desa yang dulunya asri, kini nyaris rata dengan tanah setelah banjir bandang bermuatan kayu-kayu raksasa menyapu segalanya tanpa sisa.

Namun, di antara tumpukan lumpur dan batang pohon yang melintang, ada semangat yang tak ikut hanyut. Semangat itu ada dalam diri Nasya, bocah kelas 3 SDN Garoga.

Saat Tim Wakaf Darut Tauhiid (DT) menyisir lokasi pengungsian pada 23-25 Januari 2026, Nasya tampak menonjol di antara anak-anak lainnya. Di balik tubuh mungilnya, tersimpan cita-cita yang gagah.

Terinspirasi dari Penolong di Balik Lumpur

Bagi Nasya, melihat desanya hancur adalah trauma yang nyata. Namun, pemandangan sehari-hari di pengungsian justru menumbuhkan bibit baru di hatinya. Setiap hari, ia melihat para prajurit TNI berjibaku memindahkan kayu-kayu besar dan mengeruk lumpur tebal yang menimbun rumah-rumah warga.

“Nasya mau jadi Tentara Wanita (KOWAD), Kak,” ucapnya tegas. Saat ditanya mengapa, jawabannya sederhana namun menyentuh, “Karena ingin bantu banyak orang di desa-desa, seperti bapak-bapak TNI itu.”

Baginya, sosok berseragam loreng adalah pahlawan yang menghadirkan harapan di tengah duka. Ia ingin suatu saat nanti, dialah yang berdiri di sana untuk menolong orang lain yang kesusahan.

Membawa Kalam Ilahi ke Tenda Pengungsian

Kehilangan sekolah dan masjid tercinta tempatnya belajar mengaji tak membuat Nasya patah arang. Biasanya, ia dan kawan-kawannya rutin mengaji di masjid dekat rumahnya di Garoga. Kini, masjid itu tinggal kenangan.

Selama di pengungsian, Nasya terpaksa mengaji di masjid desa tetangga atau di dalam tenda-tenda darurat yang gerah. Al-Qur’an yang ia gunakan pun sudah lusuh, sebagian halamannya mungkin sempat terkena percikan air atau debu sisa bencana. Namun, keterbatasan itu tak menghalanginya menghafal surat-surat pendek.

Maka, ketika Tim Wakaf DT menyodorkan sebuah mushaf Al-Qur’an baru yang masih bersih dan harum, wajah Nasya langsung cerah. Ia memeluk erat kitab suci tersebut dengan mata yang berbinar-binar.

“Senang sekali punya Al-Qur’an baru. Nanti mau dipakai buat setoran hafalan lagi sama teman-teman,” katanya sambil tersenyum lebar.

Menjaga Hafalan, Merajut Masa Depan

Meski SDN Garoga tempatnya menuntut ilmu kini tak lagi bisa digunakan, semangat belajar Nasya tetap menyala. Di dalam tenda pengungsian, ia tetap merapal ayat-ayat pendek yang telah ia hafal, menjaga cahaya iman tetap hidup di tengah kegelapan musibah.

Distribusi Al-Qur’an yang dilakukan Tim Wakaf DT bukan sekadar memberi buku, tapi memberi “amunisi” bagi jiwa-jiwa kecil seperti Nasya untuk terus bermimpi. Di antara sisa-sisa kayu besar yang menghancurkan desanya, Nasya sedang membangun pondasi mimpinya: menjadi prajurit penjaga bangsa yang hatinya terpaut pada Al-Qur’an. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Asa Nasya di Garoga, Mimpi Baju Loreng dari Desa yang “Hilang” Read More »

Kerinduan Ibu Mela Terbayar Saat Tim Wakaf DT Datang Membawa Mushaf

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI – Di balik wajah lelah para penyintas banjir bandang di Huta Godang, Tapanuli, ada satu sosok yang sorot matanya seketika berbinar saat melihat rombongan Tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) dan relawan tiba. Bukan bantuan logistik biasa yang pertama kali ia cari, melainkan sebuah kitab suci.

Ia adalah Mela Erlina Napitupulu. Di tengah hiruk-pikuk distribusi bantuan yang berlangsung pada 23-25 Januari 2026, Mela menjadi salah satu warga yang paling antusias menyambut kedatangan tim. Namun, ada satu pertanyaan yang terus ia lontarkan dengan nada penuh harap kepada setiap relawan yang lewat.

“Ada Al-Qur’an, Dek?”

Pertanyaan sederhana itu menyimpan kerinduan yang mendalam. Bagi Mela, kehilangan harta benda akibat terjangan banjir bandang adalah ujian berat, namun kehilangan Al-Qur’an miliknya adalah kesedihan yang sulit dilukiskan.

Sahabat yang Hanyut Terbawa Arus

Sambil duduk di sudut posko pengungsian, Mela bercerita dengan suara bergetar. Al-Qur’an yang biasa ia peluk setiap hari kini telah sirna, hanyut bersama derasnya arus banjir yang menyapu rumah dan seisinya.

Bagi Mela, membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan jiwa. Sebelum musibah itu datang, tak sehari pun ia lewatkan tanpa melantunkan ayat-ayat suci.

“Sudah lama sekali rasanya rindu ingin baca Al-Qur’an lagi. Biasanya saya baca setiap hari, itu yang bikin tenang. Tapi kemarin semuanya hanyut, tidak ada yang tersisa,” ungkapnya pilu.

Dahaga Spiritual di Masa Sulit

Kehadiran Tim Wakaf DT di Huta Godang selama tiga hari tersebut memang bertujuan untuk memulihkan kondisi psikis dan spiritual warga. Selain memberikan bantuan fisik, distribusi Al-Qur’an wakaf menjadi prioritas untuk membasuh dahaga spiritual para penyintas seperti Ibu Mela.

Saat sebuah mushaf baru diletakkan di tangannya, jemari Mela gemetar. Ia mengusap sampulnya dengan takzim, seolah baru saja menemukan kembali sahabat lama yang hilang. Kerinduan yang berhari-hari ia pendam di pengungsian akhirnya terbayar tuntas.

Bagi relawan yang bertugas, antusiasme Ibu Mela adalah pengingat kuat bahwa di tengah bencana sehebat apa pun, harapan dan iman adalah dua hal yang tidak boleh ikut hanyut.

Kini, di sela riuh rendah suasana pengungsian Huta Godang, suara Mela Erlina Napitupulu akan kembali terdengar, melantunkan kalam-kalam langit yang memberinya kekuatan untuk bangkit kembali. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Kerinduan Ibu Mela Terbayar Saat Tim Wakaf DT Datang Membawa Mushaf Read More »

Mimpi Sulaiman & Hafidz Tak Surut Oleh Banjir

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG — (23/1/2026) – Di balik sisa-sisa lumpur yang mulai mengering di Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, tersimpan mimpi-mimpi besar yang menolak tenggelam.

Meski banjir bandang sempat menyapu ketenangan desa, semangat dua bocah setempat, Sulaiman dan Muhammad Hafidz, justru semakin berkobar.

Bagi Sulaiman, langit Aceh Tamiang bukan sekadar cakrawala biru. Itu adalah masa depannya. Bocah laki-laki ini bercita-cita menjadi seorang pilot. Ia ingin menerbangkan pesawat besar, melintasi awan, dan melihat desanya dari ketinggian yang tak terjangkau oleh air bah.

Di sisi lain, Muhammad Hafidz punya cara berbeda untuk menaklukkan dunia. Dengan kaki mungilnya, ia bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional.

Baginya, setiap jengkal tanah di Desa Sekumur adalah lapangan latihan, tempat ia mengasah ketangkasan demi mencetak gol di stadion impian suatu hari nanti.

Ketika “Rumah Kedua” Luluh Lantak

Keseharian Sulaiman dan Hafidz biasanya diisi dengan lantunan ayat suci. Sore hari adalah waktu favorit mereka untuk mengaji di madrasah dekat rumah. Namun, banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu mengubah segalanya dalam sekejap.

“Masjid kami rusak, Kak. Al-Quran yang biasa kami pakai juga sudah hancur kena air dan lumpur,” kenang mereka dengan nada lirih.

Bencana itu tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga merampas sarana mereka untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Madrasah yang biasanya riuh dengan suara anak-anak mengaji, sempat berubah sunyi, menyisakan tumpukan mushaf yang tak lagi bisa terbaca karena terkoyak arus.

Secercah Harapan dari Wakaf DT

Namun, mendung tak selamanya menetap. Senyum kembali merekah di wajah Sulaiman dan Hafidz saat bantuan Mushaf Al-Quran baru dari Wakaf DT tiba di tangan mereka.

Bagi mereka, ini bukan sekadar buku, melainkan simbol bahwa harapan mereka untuk terus belajar dan mengaji tidak boleh berhenti.

“Senang sekali punya Quran baru. Sekarang bisa mengaji lagi dengan tenang,” ujar mereka sambil memeluk erat mushaf tersebut.

Di tengah keterbatasan pascabencana, Sulaiman dan Hafidz membuktikan bahwa impian menjadi pilot maupun pemain bola tetap tegak berdiri, selama iman tetap tertanam di hati. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Mimpi Sulaiman & Hafidz Tak Surut Oleh Banjir Read More »